Dikit dikit kok antibiotik - antibiotik kok dikit dikit - part 1

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 

CERITA  DULU YA

drug1

 

Sebenarnya gosip utama yang menakutkan soal antibiotika bukanlah masalah  harganya yang selangit, biarpun antibiotik memang termasuk obat yang harganya melangit dibanding obat-obat lain.

Dan, masalah ini  sudah diduga oleh pak Alexander Flemming, si penemu Penicillin. Di jaman duluuu itu dia sudah bisa ngomong gini “biarpun Penicillin dapat menyelamatkan banyak nyawa(pada jaman perang dunia II dulu), tapi akan datang masanya dimana kita akan kembali ke era pra antibiotik”(maksudte era dimana antibiotik belum ditemukan), ini pak Flemming ngomongnya di tahun 1940 waktu Penicillin baru ditemukan, jadi maksudte pak Flemming piye to?

Rasanya baru saja dunia kesehatan happy dengan banyaknya nyawa yang bisa diselamatkan karena penemuan antibiotik, tapi kok rupanya era yang dimaksud pak Flemming itu mulai kelihatan di depan mata.

 

 

WHO aja sudah bilang gini; mortalitas(kematian) akibat infeksi pada tahun 2013 sudah mencapai 700.000/ tahun di seluruh dunia, nah akan mencapai angka 10.000.000/ tahun pada tahun 2050, dan 4,5 juta diantaranya terjadi di Asia.

Kalau sudah begini ceritanya, si kuman kok jauh lebih sadis dibanding Hitler ya?.

Yaaa kematian sebanyak ini akibat infeksi, nah kalau gitu apa fungsinya antibiotik dong?. Ya lama lama bisa gak berfungsi lahhh karena mikroba sangat pintar merubah diri alias bermutasi menjadi bentuk-bentuk yang resisten/ kebal terhadap antibiotik.

Apakah kita akan kembali ke era kelabu itu…
dimana banyakkk kasus kematian yang mengharu biru…
karena duluuu antibiotik memang belum ketemu...

Hanya kita yang tahu

 

Faktanya saat ini penemuan antibiotik jenis baru sudah sangat sedikit, jadi jelaslah kalah dengan pertumbuhan mikroba yang terus muncul strain/tipe baru. Kita menjadi penyumbang timbulnya mikroba yang ganas, gak percaya? Coba deh, diantara yang dibawah ini pasti pernah kita lakukan?

  • Pasti banyakkk dari kita-kita yang jika sakit gigi, terus minum ampicillin, bener kan? Pasti minumnya gak sesuai dosis dan lama pemberian juga gak bener. Orang awam pada umumnya keliru karena berpikir ampicillin itu obat nyeri, ini antibiotik, obat pembunuh mikroba. Trus mereka bilang kalau nyerinya hilang dengan ampicillin. Weee ya iyalah, la wong ada kuman yang nongkrong di gigi busuknya itu. jadi mati kan, tapi penggunaan harus dengan dosis yang benar, baca terus artikel ini ya, nanti diterangkan akibat minum antibiotik sembarangan.
  • Kalau lagi flu, pasti pada minum antibiotik, hayo ngaku…wkwkwk. Padahal flu itu disebabkan virus yang gak ngefek blazzz pake antibiotik, antibiotik hanya bisa membunuh kuman/ bakteri, tidak bisa membunuh virus. Virus itu beda dengan bakteri lo saudara-saudara, ehmmm.
  • Kalau timbul klanjer(kata orang jawa), itu lo timbulnya benjolan nyeri yang suka ada di ketiak, di bawah dagu atau lipatan paha, pastiiiii langsung minum tetra lahhh, ampicillin lahhh, ehmmm.
  • Kalau ada luka kecil saja, yang seharusnya gak perlu minum antibiotik karena daya tahan tubuh mampu melawan infeksi, tapi langsung aja kan pada minum amoxicillin dsb dsb.
  • Kalau lagi sakit hati, pasti deh pada suka nyinyir, nahhhh penyakit ini perlu lebih dari sekedar antibiotik, njirrr.

Akibat kebiasaan yang salah ini, mikroba jadi kenal terhadap banyak antibiotik, kalau kita mengkonsumsi dalam dosis yang tidak benar atau bahkan sebenarnya tidak diperlukan antibiotik,  mikroba ini jadi pinter bagaimana caranya melawan antibiotik, sehingga kalau jenis antibiotik yang sama diminum lagi suatu hari nanti, jadi sudah gak mempan lagi.

Beberapa masalah yang sudah jelas sebagai penyebab resistensi dari bakteri terhadap antibiotik, ini dia:
  1. Kalangan medis; seharusnya tidak masuk dalam daftar ini, karena pakem pemberian antibiotik sangat jelas waktu cikolah dulu. Jadi sangat tergantung integritas para dokter.  Selain itu, sebenarnya ada faktor ketidak pede’an dokter karena seringkali juga pasien tidak mengerti kalau penyakitnya tidak perlu antibiotik tapi menuntut obat yang cespleng.
  2. Paramedis; seharusnya juga tidak boleh memberikan obat-obatan apalagi antibiotik. Tapi ada banyakkkk pasien berobat ke paramedis karena alasan berobat ke dokter mahal.
  3. Farmasist; setahu saya farmasi memberikan obat hanya jika ada resep dari dokter, apa saya salah?.
  4. Kebiasaan yang salah di masyarakat: dikit dikit antibiotik, antibotik kok dikit dikit.
  5. Penjualan bebas dari bermacam-macam antibibiotik, hellowww badan pengawas obat pada kemanaaa???



APA ITU TES KULTUR DAN SENSITIVITAS?
Tes sensitivitas adalah sebuah tes yang menggambarkan sensitivitas(kepekaan) mikroba terhadap antibiotik. Tes ini menggambarkan kemampuan dari antibiotik membunuh mikroba. Tes ini  membantu dokter mengobati infeksi bakteri, dan juga dapat diketahui sekaligus apakah bakteri-bakteri tsb resisten terhadap antibiotika tertentu. Dengan tes sensitivitas ini dokter dapat dengan tepat memberi jenis antibiotik sesuai jenis bakteri, sehingga tidak terjadi pengobatan yang lama dan tidak efisien dengan bonus bakteri yang bermutasi menjadi ganas di dalam tubuhnya.

Karena jika kuman itu sudah resisten terhadap antibiotik, tidak ada gunanya pemberian antibiotik berlama-lama, selain memang tidak berefek apapun terhadap bakteri, yang gawat, bakteri makin pintar, dan tahu caranya membuat tameng dan bisa membentuk strain yang lebih ganas.

Analisa sensitivitas dimulai dengan mengambil “sample/ contoh jaringan atau cairan tubuh”, dapat diambil dengan cara “swab”, atau sample diambil dari darah, urin, sputum, nanah, dll dan di laboratorium, dibiakkan dalam media pertumbuhan khusus. Bakteri yang bertumbuh dan bermultiplikasi membentuk koloni dalam media khusus inilah yang disebut “kultur”(lihat gambar dibawah), yang kemudian akan dipaparkan pada antibiotik yang berbeda.


APA AJA YANG DIKERJAKAN DI LABORATORIUM?
Di laboratorium, teknisi akan meneteskan sampel ke dalam glass petri yang berisi nutrisi (persis seperti agar-agar, dan terbuat dari algae), dimana dimungkinkan untuk terjadinya pertumbuhan bakteri. Setelah bakteri bertumbuh dalam populasi koloni yang cukup, kemudian dikerjakan:

1. Identifikasi bakteri ; Dikerjakan dengan beberapa teknik bervariasi:  pemeriksaan karakteristik bakteri (warna, tekstur, pola pertumbuhan kuman dll), gram-staining, dan pemeriksaan mikroskop.

2.  Menentukan sensitifitas populasi bakteri terhadap antibiotik ; Setelah bakteri hidup di dalam petri glass berisi agar(lihat gambar dibawah), kemudian sepotong kecil “filter paper” yang berisi beberapa jenis antibiotik diletakkan ke dalam petri glass. Kemudian bakteri di inkubasi selama 1 – 2 hari, kemudia petri glass diperiksa untuk melihat apakah pertumbuhan bakteri dihambat atau tidak oleh antibiotik.

  • SENSITIF : Pada kasus ini, bentukan bulatan  “halo” yang jelas(dikenal sebagai “plaque”, atau zona inhibisi) akan muncul disekitar “disk antibiotik”, yang mengindikasikan tidak adanya bakteri. Artinya antibiotik secara efektif dapat menghambat pertumbuhan bakteri atau mampu membunuh bakteri.
  • INTERMEDIET: “Plaque berkabut” mengindikasikan jika tidak semua bakteri disekitar disk mati, atau hanya sensitif dengan dosis tinggi. Artinya adalah ada beberapa populasi bakteri yang sensitif terhadap antibiotik tertentu, tetapi sisanya adalah populasi bakteri yang secara genetik kebal terhadap antibiotik.
  • RESISTEN:Pasa kasus ini, pada “filter paper” tidak terjadi “plaque”/ antibiotik tidak menghasilkan plaque, yang artinya bakteri dapat terus tumbuh secara normal bahkan dengan adanya antibiotik.
 culture1 culture2

Ket. Gambar: gambar seperti agar-agar ini ya memang betul agar-agar yang terbuat dari algae tempat pertumbuhan kuman, media khusus inilah yang disebut “kultur”

 


TES LANJUTAN
Beberapa kasus infeksi membutuhkan test lanjutan karena diperlukan kombinasi antibiotik. Selain itu test lanjutan diperlukan juga pada kasus dimana jika para klinisi terlanjur terbiasa mengobati dengan dasar “biasanya” atau secara “literature medis”/ empiris penyakit tertentu efektif terhadap antibiotik tertentu, pada kenyataannya ternyata antibiotik tersebut tidak efektif lagi dan malah terjadi infeksi sekunder sehingga perlu diketahui jenis bakteri penyebabnya. Di laboratorium modern, bakteri diidentifikasi dari karakteristik genomnya yang menunjukkan karakteristik DNA dan RNA. Test model ini lebih reliable dan nantinya akan lebih murah dibanding menumbuhkan bakteri dalam kultur dan memaparkannya pada berbagai jenis antibiotik.


KAPAN HARUS DIKERJAKAN TES KULTUR DAN SENSITIVITAS
Memang tidak semua infeksi memerlukan pemeriksaan kultur dan tes sensitifitas, karena sudah diketahui penyebab infeksi, misalnya kebanyakan penyebab infeksi tenggorokan adalah streptokokus, sehingga dapat langsung diberikan penicillin, tetapi jika kemudian ternyata bakteri ini kebal terhadap penicillin, baru kemudian dilakukan tes sensitifitas. Contoh lain adalah pada kondisi “luka infeksi”, dimana pada umumnya tidak hanya 1 jenis bakteri yang didapatkan pada luka.

Jika ada indikasi, lakukan sesegera mungkin sebelum dimulai terapi antibiotik. Memang pemeriksaan ini tidak langsung bisa didapatkan hasilnya, karena pertumbuhan bakteri perlu waktu. Tapi jika memang ada indikasi untuk melakukan pemeriksaan kultur dan sensitivitas, lakukan segera sehingga tubuh kita tidak lama terpapar oleh antibiotik yang tidak tepat.

 

to be continued

 

Add comment

ditunggu comment nya...