Dikit dikit kok antibiotik - antibiotik kok dikit dikit - part 2

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 

BEGINI CERITANYA MIKROBA MENYEBAR

Bayangkan disuatu pagi waktu kita berangkat kerja, dengan langkah lebay kita menyentuh dan memegang apapun di sepanjang perjalanan kita, seperti pegangan pintu, tepi meja, kunci mobil, smart phone dll deh yang mengandung Staphylococcus Aureus (ini nama bakteri lo), di dunia kesehatan dikenal sebagai si “staph”, adalah mikroba yang paling sering menyebabkan infeksi kulit pada manusia. Si “staph” ini bisa ditinggalkan oleh siapapun di pegangan pintu / tangga dan kemudian berpindah ke tangan kita – dan kemudian berpindah ke dalam aliran darah kita, looo, ya iyalah, misal kalau di kulit kita terdapat luka, kan bisa masuk tuh si kuman biarpun cuma luka kecil atau goresan.


KECEPATAN PERTUMBUHAN & MUTASI BAKTERI

Biarpun bakteri yang masuk ke dalam luka di kulit cuma 1 sel “staph” saja, hanya butuh 10 generasi untuk 1 sel itu bertumbuh menjadi lebih dari 1,000 penduduk, dan hanya butuh 10 generasi lagi untuk menjadi 1 koloni dengan jumlah penduduk lebih dari 1 juta. Jadi ini hampir sekitar 300 mutasi dalam 10 jam, wowww akeh penduduk’e lak’an. Jadi secara teori hanya butuh sehari untuk bakteri membentuk populasi penduduk dengan jumlah yang aduhai sodara-sodara.


MUTASI, RESISTENSI ANTIBIOTIK , DAN  INFEKSI SI "STAPH"
Nahhh, beberapa hari setelah kencan pertama dengan si “staph”, kamu berobat deh ke puskesmas atau rumah sakit untuk memeriksakan lukamu karena lukamu tidak sembuh, infeksi, atau karena kamu khawatir setelah membaca adanya mikroba berbahaya pada luka, dan kemudian dokter memberi resep antibiotik.

Jika terjadi dalam skenario ideal, antibiotik yang diresepkan akan membunuh semua “staph” yang bereplikasi, bermutasi dll, dan lukamu sembuh. Itulah potensi antibiotik waktu penicillin ditemukan sampai disebut “obat ajaib”, faktanya memang penicillin dan antibiotika-antibiotika lain sudah menyelamatkan nyawa dalam jumlah yang tidak terhitung selama sekitar setengah abad.
MUTATION1

 

Tetapi sssst, dunia sudah berbeda sekarang, sehingga skenario kondisi ideal tidak lagi ditemui, uhukuhukuhuk, mutan dari si “staph” dapat bertahan dari obat-obat tertentu. Masih untung di dunia nyata, dibutuhkan lebih dari 1 mutasi untuk terjadinya resisten terhadap obat-obatan, dan bakteri tidak dapat berkembang cepat jika sistem immune kita berfungsi baik.

Tapi jangan seneng dulu, baca deh selanjutnya.

 

MRSA: METHICILLIN RESISTANT STAPHYLOCOCUS AUREUS

Untung banget(ini satire maksudte), misalnya si “staph” yang kita dapat dari pegangan pintu tadi sudah resisten terhadap antibiotik, dan kenyataanya hampir semua infeksi "staph" pada manusia disebabkan oleh Methicillin-Resistant Staphylococcus Aureus (MRSA), dan hebatnya, jenis staph/MRSA ini sudah ada sejak 45 tahun yang lalu, hampir sama lamanya dengan Methicillin ditemukan, jadi lebih pinter bakterinya atau penemunya ya, hahaha deh, bikin kecut aje. Jadi begitu ditemukan Mathicillin untuk si "staph", pada waktu itu juga si "staph" ini bermutasi, melindungi diri membuat tameng sehingga resisten terhadap antibiotik yang baru ditemukan itu padahal sebelumnya si "staph" ini bisa tewas.

Ironinya adalah, methicillin sebenarnya adalah versi modifikasi dari penicillin, yang dikembangkan pada tahun 1950 sebagai alternatif terapi terhadap “staph” yang sudah resisten terhadap penicillin, dimana di masa itu ada sekitar 60% kasus sudah resisten terhadap penicillin, betul-betul ironi ye, la terus piye?. Akhirnya dokter terpaksa meresepkan vancomycin sebagai usaha terakhir(yang muahalll) atau obat lain. Tapi coba renungkan fakta ini, para ahli memperkirakan sekitar 19.000 kematian /tahun di USA disebabkan MRSA (Klevens et al., 2007), ini melebihi kematian yang disebabkan HIV/AIDS (sekitar 17.000/tahun).

Kenyataan lagi yang lebih menyeramkan, sekitar 30%-40% dari kita, di kulit kita-kita nih mengandung MRSA atau non MRSA, yang dengan nyamannya tinggal dan hidup di permukaan kulit  dan tidak bergejala, rupanya mereka diem-diem aja disitu, sampai timbul luka di permukaan kulit dan dengan riang gembira mereka kemudian nyemplung berenang di dalam aliran darah kita.

Memang awalnya si MRSA ini hanya dapat mengenai orang-orang atau pasien yang notabene ada dalam lingkungan rumah sakit, kontaminasi bisa lewat pegangan pintu rumah sakit tadi, sehingga dikenal bakteri ini yaaa bakterinya rumah sakit, tapi ini terjadi pada sekitar 20 tahun yang lalu, kemudian setelah tahun 1990’an(diteliti di Amrik), si MRSA ketahuan sudah berjalan-jalan keluar rumah sakit dan dapat menyebar diluar rumah sakit, bagaimana dengan Indonesia ya???.


FENOMENA GUNUNG ES SI MRSA

Sebenarnya cerita “si MRSA” ini hanyalah fenomena gunung es, ada buanyakkkk bakteri yang sudah resisten terhadap antibiotik, seperti Pseudomonas Aeruginosa, dan bakteri ini lebih mengerikan karena membran(lapisan) luar dari bakteri ini sangat-sangat impermeable terhadap antibiotik(dimana MRSA tidak), sehingga antibiotik sangat susah menembus sel bakteri, dan jika-pun antibiotik dapat masuk ke dalam sel/tubuh bakteri, si bakteri ini dapat menendang(efflux pumps) keluar sebelum obat beraks.

Karena kemampuan ini pula, P. Aeruginosa cepat berkembang menjadi bakteri yang resisten terhadap banyak antibiotik/ Multi Drug Resistance/MDR (lihat gambar dibawah).Tapi untungnya P. Aeruginosa ini masih hanya bisa tertular di lingkungan rumah sakit, tidak di komunitas, paling nggak sampai detik ini, hehehe. Jadi jika di dalam tubuh kita ditemukan si P. Aeruginosa ini, hampir pasti kita dapetnya dari rumah sakit, beda dengan si "staph" yang sudah bisa keluar rumah sakit dan sampai di mall segala.


Para ahli-ahli kesehatan sudah memprediksi bahwa masalah kesehatan yang paling penting pada abad 21 ini adalah kematian yang disebabkan oleh infeksi, yang disebabkan oleh timbulnya mutan-mutan mikroba yang resisten terhadap antibiotik. Kegawatan dari penyebaran dari resistensi antibiotik merupakan problem kesehatan masyarakat sehingga Departemen Kesehatan harus memberikan edukasi,  bisa dalam bentuk poster bertema kebersihan – dimana upaya ini dapat mencegah penyebaran bakteri yang resisten terhadap antibiotik dari satu individu ke individu lain. Upaya yang sudah terbukti sangat menurunkan penyebaran ini adalah dengan mencuci tangan.

 

SEBENERNYE KENAPE YE BAKTERI BISA RESISTEN?
Penyebab terjadinya resistensi adalah karena adanya perubahan genetik bakteri, dan ini terjadi melalui 2 cara:
1.    Mutasi spontan dari DNA bakteri
Banyak antibiotik bekerja dengan cara menginaktifkan protein essensial dari bakteri. Sehingga jika terjadi mutasi pada protein bakteri,  dapat mencegah antibiotik mengikat protein, atau jika terjadi pengikatanpun, inaktifasi target protein tidak terjadi. Cara lain adalah dengan memproduksi enzim inaktifasi, atau dengan mengubah permeabilitas membran sel bakteri sehingga mencegah masuknya antibiotik.
2.    Adanya transfer gen resisten antibiotik
Ternyata bakteri mempunyai kemampuan untuk mentranfer “gen resisten terhadap antibiotik”, dari 1 bakteri ke teman-temannya, gampangnya tuh gini, para bakteri ini bisa memberikan/ meminjamkan  tameng/ perisai terhadap antibiotik kepada sesama teman bakteri.  Microbiologist, DR John Turnidge mengatakan, pada dasarnya si bakteri-bakteri ini kan memang harus bertahan terhadap beratnya tekanan hidup, duhhh, nah caranya ya dengan “saling meminjamkan gen” itu tadi, sehingga mereka bisa tetap bertahan sampai milyaran tahun. Nah bakteri ajahhh bisa rukun begini supaya bertahan hidup, lah kok kita-kita gak rukun ya.


BAGAIMANA KONDISI RESISTEN INI BISA MENYEBAR?

Resistensi antibiotik merupakan konsekuensi dari penggunaan antibiotik, mau gimana lagi, makin sering kita-kita menggunakan antibiotik, kemungkinan untuk terjadinya resisten terhadap antibiotik makin besar. Jadi jika antibiotika diberikan pada seseorang, selalu saja ada kemungkinan bakteri yang resisten dari suatu populasi bakteri yang menginfeksi tubuh, dan dengan bebasnya dia berkembang tanpa ada kompetitor.



“MISUSE AND ABUSE” PENGGUNAAN ANTIBIOTIK.

Data WHO menunjukkan bahwa daerah Asia termasuk negara pengguna antibiotik yang tidak rasional. Dan akhirnya menjadi penyumbang berkembangnya bakteri-bakteri yang resisten terhadap antibiotik. Di dunia sanaaaa di barat sana, sangat tidak mudah seorang dokter meresepkan antibiotik. Dokter-dokter di rumah sakit disana itu, harus melapor ke Tim Antibiotik nya rumah sakit jika harus meresepkan antibiotik pada pasien, dan tidak hanya itu saja, dokter-dokter ini diwajibkan untuk memberikan data-data pendukung untuk sampai pada keputusan pemberian antibiotik pada pasien-pasien mereka.

Di Eropa dan Amrik sana, mereka lagi diserang ketakutan melihat data statistik dimana kematian akibat infeksi kok sudah akan menyalip kematian akibat serangan jantung, stroke, padahal tidak terjadi sebelumnya. Nahhh kita yang tinggal di Asia kok masih anteng-anteng aja ya, yahhhh gimana lagi, selama kuman di seberang lautan tak tampak, mending nggosipin tetangga deh. Salam.

 

SUMBER:

MRSA; Methicillin-resistant Staphylococcus aureus in health care setting, u.s centers for disease control (cdc) 2007

Healthline Sensitivity Analysis, Christine Case-Lo and Brian Wu, Medically Reviewed  by Steve Kim MD, 2016

Culture and Sensitivity Testing, by Dana Krempels, Ph.D. University of Miami Biology Department 

Antibiotic Resistance, Mutation Rates and MRS, By: Leslie Pray, Ph.D., 2008 Nature Education, Citation: Pray, L.(2008) 1(1):30


SUMBER GAMBAR: INTERNET(Labeled for reuse*)



 

Add comment

ditunggu comment nya...