BAGAIMANA JIKA VAKSIN COVID-19 GAGAL?

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 

ANTIBODI PENETRAL    

Immunologist sedang bekerja cepat untuk menemukan titer(kadar) antibodi penetral yang timbul sebagai reaksi dari sistem immun terhadap infeksi COVID-19 & berapa lama antibodi penetral ini bisa bertahan di dalam tubuh.

 ABVSVAKSIN1 ABVSVAKSIN2

 

 

George Kassiotis, immunologist dari The Francis Crick Institute London mengatakan kalau kadar antibodi penetral tinggi hanya untuk beberapa minggu & kemudian menghilang.

Penelitian dengan jumlah sampel besar saat ini sedang dilakukan untuk mengetahui kadar antibodi penetral, German melakukan 10.000 sample dari sampling populasi, di Amerika Utara diambil 10.000  sample dari pemain & pegawai Major League Baseball, pada bulan April US National Institutes of Health mengambil 10.000 sampel dari COVID-19 Pandemic Serum Sampling Study.

Peneliti Clemens Wendtner di Schwabing Hospital di Munich German menemukan jika antibodi penetral hanya bertahan antara beberapa minggu sampai 3 bulan, serupa penelitian yang dilakukan di China pada 37 pasien asimptomatik & 37 pasien simptomatik yang hasilnya menunjukkan penurunan signifikan dari antibodi penetral & mereka belum menemukan alasannya.  Ini sangat berbeda dengan SARS-COV yang muncul tahun 2003 di China, dimana antibodi penetral bisa bertahan selama 1 tahun.

 

 ABVSVAKSIN4
 

Dan sampai detik ini para peneliti belum dapat mengidentifikasi berapa kadar antibodi penetral yang dibutuhkan tubuh untuk melawan reinfeksi(serangan kedua dst) atau paling tidak menurunkan gejala-gejala pada serangan berikutnya dari SARS-COV-2. Data yang didapat dari kelompok kecil uji klinik pada relawan diketahui vaksin COVID-19 memang cepat memicu pembentukan antibodi penetral sehingga dapat mencegah virus menginfeksi sel-sel. Tapi yang masih belum jelas apakah kadar antibodi yang terbentuk setelah divaksin cukup tinggi untuk menyetop re-infeksi atau sampai berapa lama antibodi bertahan di dalam tubuh.

 

HUBUNGAN ANTIBODI & VAKSIN

Berapa lamanya antibodi penetral bertahan di dalam tubuh ini penting karena berimplikasi pada pengembangan vaksin SARS-COV-2. Vaksin konvensional memakai versi virus yang dilemahkan/versi inaktif untuk menghasilkan respon immun & antibodi proteksi, sedangkan jenis baru dikenal sebagai vaksin DNA atau RNA, menggunakan informasi genetik virus.

Masalahnya jika kadar antibodi penetral yang timbul akibat infeksi COVID-19 menurun sangat cepat, pertanyaan berikut adalah berapa lama antibodi yang dihasilkan sebagai respon dari pemberian vaksin COVID-19 dapat bertahan?

Memang penelitian titer antibodi penetral ini baru pada kelompok kecil di banyak negara, diperlukan sampel besar & memang sekarang sedang dikerjakan, tapi gak enaknya penelitian pendahuluan ini menunjukkan tanda2  yang tidak menggembirakan alias bikin senep  & mules.

 

KALAU TUBUH SUDAH MENGHASILKAN ANTIBODI PASKA TERINFEKSI COVID-19, KENAPA MASIH PERLU VAKSIN?

Sudah tau terapi plasma kan ya, kesulitan terapi plasma itu ada beberapa. Terutama memang mencari donor dari pasien yang sudah sembuh dari COVID-19, pada umumnya pasien-pasien ini cenderung menutup diri & ini bisa dimengerti. Tapi masalah lain adalah karena kadar antibodi di dalam tubuh pasien calon donor harus cukup untuk diambil. Karena adanya tindakan terapi plasma ini juga justru diketahui kalau tidak semua pasien paska terinfeksi memiliki antibodi, artinya sudah menurun sampai menghilang dengan berjalannya waktu. Jadi susah cari donor plasma itu karena masalah antibodi ini.

Pemberian vaksin artinya menyuntikkan virus, gunanya supaya sistem immun mengenali virus sehingga dapat membentuk antibodi yang sesuai, kalau mau baca “Apa itu Vaksin” bisa baca di http://www.trensehat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=108:vaksin&catid=40:obatracun&Itemid=62

Lalu apa bedanya antibodi yang terbentuk paska terinfeksi COVID-19 & paska injeksi vaksin COVID-19? Apakah antibodi yang terbentuk lebih banyak, lebih lama, sehingga melindungi tubuh dari paparan?.  Yang jelas sih vaksin itu berisi virus yang sudah dilemahkan, dimatikan atau dari informasi genetik virus itu sendiri,sedangkan virus menyerang dengan senjata lengkap wkwkwkk.

Begini lo, nyatanya penelitian tentang kadar antibodi penetral akibat terinfeksi COVID-19 sedang berlangsung, begitu juga kadar antibodi setelah injeksi vaksin lewat uji klinik. Uji klinik fase 3 yang dilakukan banyak negara termasuk Indonesia mempunyai tujuan untuk mengetahui berapa kadar antibodi yang timbul paska injeksi vaksin sehingga nantinya dapat ditentukan berapa besar dosis yang dibutuhkan & berapa kali vaksin dalam setahun. Gampangnya begini, kalau antibodi penetral hanya bisa bertahan 3 bulan paska vaksin, berarti kita harus divaksin 4x dalam setahun, alamak janggg, ampooon.

 

ABVSVAKSIN3

KEMATIAN AKIBAT FLU TETAP TINGGI MESKIPUN VAKSINASI DILAKUKAN?

Ada 650.000 kematian/tahun akibat flu di dunia padahal vaksinasi flu rutin tiap tahun di negara-negara 4 musim. Trus bagaimana kalau akhirnya COVID-19 berakhir seperti flu yang sudah ada & yakin banget SARS-COV-2 akan jadi flu tahunan juga?.

Sepanjang sejarah  timbulnya penyakit akibat virus atau bakteri, hanya penyakit cacar saja yang dapat dilenyapkan dengan program vaksinasi, sisanya masih tetap eksis. Dan bukan sekedar eksis tapi menyebabkan kematian dengan jumlah yang besar. Bahkan melihat kecenderungan bumi yang makin rusak, kok rasanya bakal banyak virus2 atau bakteri2 lain yang bakal muncul?. Jadi memang kita cuma bisa berharp kalau vaksin COVID-19 berhasil, sementara sekarang yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga sistem immun kita siaga terhadap paparan COVID-19.

 

­­­Sumber:

Does COVID-19 affect male fertility? https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7171435/

What’s the nature of immunity & how long does it last? https://www.nature.com/articles/d41586-020-01989z

Antibodies, immunity low after COVID-19 recovery

https://www.dw.com/en/coronavirus-antibodies-immunity/a-54159332

Study raises questions over long-term COVID-19 immunity

https://www1.racgp.org.au/newsgp/clinical/study-raises-questions-over-long-term-covid-19-imm

What happens if the COVID-19 vaccines fail their trials?

https://www.fastcompany.com/90531310/what-happens-if-the-covid-vaccines-fail-their-trials 

 

Add comment

ditunggu comment nya...