KENAPA “SEMUA” JENAZAH DIPERLAKUKAN “JADI COVID-19?”

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 

Ada kasus tenggelam kok dikubur secara covid-19, jangan2 nanti korban bacokan, jatuh dari pesawat, bunuh diri juga dicovidkan, error ta iki?. Anggap ajah kasus2 ini semua hasilnya PCR (+), tapi kan matinya jelas dibacok, jelas tenggelam,  bagaimana bisa jadi covid?.

 

SOAL DIAGNOSA

Di awal wabah muncul inget kan nama virus ini masih 2019-nCoV (2019 = year first discovered; n = novel; co = coronavirus; V = virus),  pada tanggal 10 Jan’20 ilmuwan China mengumumkan sekuen genom dari SARS-CoV-2 (WH-Human_1), tanggal 23’Jan lockdown diberlakukan di Wuhan & tanggal 30’Jan WHO mendeklarasikan emergensi kesehatan. Penamaan SARS-COV-2 kemudian dicantumkan di ICD-10 (International Classification of Diseases) tentang nomenklatur penyakit. https://www.who.int/classifica…/…/COVID-19-coding-icd10.pdf…
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7098030/

Nah penamaan ini PENTING untuk pelaporan diagnosa penyakit sesuai ICD 10, lihat deh skrinsyut dibawah tentang “CODING in ICD-10”, disitu tertulis diagnosa clinnically, probable & suspected  yang sudah dipake untuk penyakit2 selain covid-19 juga.

 

 COPET1

Gampangnya tu begini: misal ada penderita dengan hasil PCR(+), dia juga sakit hipertensi tapi kemudian dia

 COPET3
 COPET4
 COPET5
kecelakaan & gak lama kemudian meninggal. Pasien ini menderita gegar otak berat & patah kaki kanan. Jadi bagaimana cara menulis diagnosanya?,  begini:

Diagnosa kerja(utama): Gegar Otak Berat, artinya diagnosa yang membawa pasien ke rumah sakit.

Diagnosa sekunder: Hipertensi & SARS-CoV2, sekunder artinya penyakit  yang sudah ada sebelumnya.

Diagnosa komplikasi: Fracture Kruris D/patah kaki kanan, komplikasi artinya akibat dari penyakit utama.

 

Sebenarnya ada lagi diagnosa etiologi, diagnosa PA & bahkan diagnosa pasti setelah otopsi, tapi 3 diagnosa diatas cukup ya.

Nah jadi diagnosa Covid tetap ada kan meskipun TIDAK MENJADI DIAGNOSA UTAMA. Terus bagaimana dengan pemakaman, kenapa pake prosedur covid, padahal virus kan cuma hidup di host yang hidup?

 

Untuk menjawab “VIRUS CUMA HIDUP DI HOST YANG HIDUP” ini, yuk melenceng dulu ke “SWAB DARI TENGGOROK”.
Rupanya selain swab dari tenggorok, virus juga bisa diisolasi dari SERUM, LIUR, URINE, FESES & sukses waktu dilakukan kultur, artinya virusnya eksis dengan rangkaian asam nukleotida sepanjang 30.000 nucleotides.(lihat skrinsyut kultur feses, urine dll).

ACE2 memang tidak hanya nemplok di paru tapi juga di oral & nasal mucosa, nasopharynx, lambung, usus halus, colon, kulit, lymph nodes, thymus, sumsum tulang, lien, liver, ginjal, vaskular & otak. Dah pada tau kan kalau ACE2 ini pintu buat virus masuk ke sel-sel tubuh & setelah masuk sel, kemudian virus ngebajak mesin sel kita/host untuk memperbanyak diri, karena inilah sample bisa diambil dari liur, serum, urine & feses. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15141377/

 

SEKARANG SOAL PEMAKAMAN.
Akreditasi tentang PPI(Program Pengendalian Infeksi) sudah berjalan di seluruh rumah sakit di Indonesia jauh sebelum ada pandemi COVID-19 & tentang pengelolaan jenazah penyakit menular menjadi perhatian serius. Sama seperti pengelolaan jenazah HIV & Hepatitis, untuk Covid-19 diberlakukan sama. Lihat gambar cara membungkus jenazah dengan penyakit menular. Pertanyaan timbul karena masalah “VIRUS HANYA DAPAT HIDUP DI HOST YANG HIDUP”, jadi tidak menularkan?, sehingga kenapa harus dengan prosedur ini?

Apa ada yang tahu banyak petugas sampai harus mengambil swab pada jenazah demi untuk memastikan penyebab kematian?. Bukankah kalau “host sudah mati” otomatis virus mati?. Tapi ini dikerjakan lo, jadi percayalah, untuk menegakkan diagnosa, tenaga medis sudah sangat berupaya.

 

Melenceng lagi……pada transplantasi organ, waktu kematian organ ini penting , jantung masih berdenyut beberapa menit setelah kematian otak. Tulang, katub jantung & kornea dapat didonorkan dalam 24 jam setelah kematian otak https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3372912/.

Bicara tentang transplantasi ini artinya setelah host mati ada beberapa waktu jaringan“MASIH HIDUP“, lagipula ingat, isolasi virus bisa diambil tidak hanya dari tenggorok, tapi juga urin, liur, feses, artinya ada virus di urine & feses. Semua tahu kan kalau virus bisa hidup di luar, di pegangan pintu, di permukaan benda-benda di sekeliling kita untuk beberapa jam & tahu kan kenapa lubang hidung dll “disumpel” setelah meninggal?. Jadi masuk akal kan kalau kita harus hati2 dalam penanganan jenazah.

 

Diskusi di Komite PPI saat ini, kemungkinan petugas tidak lagi menggunakan hazmat waktu menguburkan jenazah supaya tidak menimbulkan ketakutan masyarakat, meskipun bisa jadi malah petugas2 ini yang takut tertular jika tidak menggunakan hazmat. Apakah kita sampai perlu melakukan swab PCR pada jenazah yang sudah “dimandikan desinfektan” untuk memastikan tidak ada virus yang menempel di permukaan tubuhnya?. Bagaimana penjelasan ilmiahnya untuk sampai bisa menyimpulkan “tubuh jenazah steril” selain dengan melakukan swab?. Kalau kita yang hidup bergerak saja bisa terkontaminasi/terpapar virus yang entah kita dapatkan dimana, kenapa jenazah tidak bisa terpapar?

 

Sekali lagi, penelitian masih bergerak terus “pikirkan yang terburuk dulu sampai terbukti bukan” & kita Indonesia, juga bagian dari dunia yang menerapkan protokol yang sama untuk pengelolaan jenazah untuk kehati-hatian.

Add comment

ditunggu comment nya...