I’M LEGEND (film)

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 

Emang eikeh hobi nonton, tiap libur pasti nonton deh, daripada hobi belanja, ngabisin duit tauuk wkwk.

I’m Legend, film tahun 2007, 13 tahun yang lalu ini bercerita tentang seorang ilmuwan “Dr. Krippin” yang mengutak-atik gene virus dalam usahanya menemukan obat kanker. Dia menggunakan fragmen genetik virus cacar & akhirnya berhasil untuk menyembuhkan pasien kanker. Sesuai dengan nama penemunya, virus ini dinamai VIRUS KRIPPIN(KV), dinamai virus karena memang asalnya dari virus yang berhasil diutak-atik untuk dijadikan obat melawan kanker.

 KV1 KV2

 

Nah awalnya obat baru ini berhasil menyembuhkan 10.009 pasien waktu dilakukan uji klinik, kanker dalam tubuh pasien tidak berkembang & bahkan mengecil & menghilang……..sampai kemudian engingeng….

Obat yang notabene terbuat dari gene virus ini, yang awalnya tampak menjanjikan, kemudian malah mengalami mutasi menjadi strain virus yg mematikan(lethal) di dalam tubuh host, yang menimbulkan efek hiperadrenalin pada pasien, pasien tampak seperti orang yg terserang rabies & akhirnya berubah bentuk menjadi seperti zombie eh vampir yang memiliki kekuatan super(film2 Amric kan harus begitu), & sedemikian lethalnya virus ini bahkan bisa ditularkan lewat darah, darat, laut & udara.....antimo kaleee.

Adalah Dr. Robert Neville, ilmuwan yang diperankan Will Smith, si ganteng yang mendapati dirinya kebal terhadap Virus Krippin ini sehingga dia merasa bertanggung jawab untuk membuat vaksin dengan memanfaatkan darahnya. Dia memulai pengembangan vaksin dengan melakukan uji coba pada binatang coba & akhirnya pada vampir eh zombie. Nah bagian ini keren nih, karena eikeh tukang potong jadi tau deh kalau mereka bikin film ini ga sembarangan soal medis, mereka doing the research geto.

Awalnya Dr. Neville melakukan uji coba pada tikus, tikus-tikus ini disuntik KV sampai tikus-tikus ini berubah jadi sakti, ganas pokoke. Kemudian uji coba vaksin dilakukan &  menunjukkan hasil yang berbeda pada seri vaksin yang berbeda. Ada sekelompok tikus yang sama sekali tidak menunjukkan hasil, ada kelompok tikus yang bahkan tewas, sampai akhirnya ditemukan 1 tikus yang menunjukkan hasil yang berbeda waktu menggunakan “Vaksin Compund 6” yang berasal dari darah Dr. Robert Neville. Reaksi yang diharapkan itu berupa perubahan agresifitas si tikus, makin cool gitu, pigmentasi kulit menjadi normal & reaksi pupil mata terhadap cahaya bereaksi seperti tikus normal.

Dan karena hasil yang menjanjikan ini kemudian direncanakan uji klinik pada vampir eh zombie itu. Hasilnya persis seperti pada uji coba tikus, vampir eh zombie banyak yang akhirnya MATI BENERAN karena kegagalan waktu uji klinis, ada yang tidak menunjukkan reaksi sama sekali & ada yang bahkan menunjukkan peningkatan agresifitas.

 KV3 KV4


Sampai akhirnya setelah kerja yang bukan cuma melelahkan, tapi juga MENGERIKAN, la wong musti nangkepin zombie eh vampir itu HIDUP-HIDUP kan untuk kemudian disuntik vaksin. Tau gak, bahkan vampir eh zombie yang berhasil ditangkap untuk masuk dalam peserta uji klinikpun harus melewati sejumlah tes, ampooon kan….padahal dah jelas-jelas mereka itu zombie eh vampir. Tapi sekali lagi film ini bener-bener doing the research, memang tiap orang(dalam dunia nyata ya) yang akan masuk dalam penelitian obat atau vaksin memang harus lolos dari kriteria/persyaratan tertentu. Nah untuk vampir eh zombie ini bisa masuk dalam kriteria penelitian untuk uji klinik melalui skrining tes kesensitifan kulit terhadap sinar ultra violet, dilakukan uji kulit & juga diambil jaringan kulit untuk sampel pemeriksaan laboratorium, keren kan…..gak di dunia nyata ajah rupanya yang begini…wkwkwk.

Dan setelah melewati riset & uji klinik yang panjang, akhirnya Dr. Neville menemukan jika formula vaksin “GI series 391 compound 6”, menunjukkan hasil yang diharapkan, dimana terjadi perubahan pigmentasi kulit menjadi lebih tahan terhadap sinar ultra violet, detak jantung makin pelan mendekati detak jantung manusia normal, kecepatan pernafasan menurun, tidak terengah-engah lagi, agresifitas menurun, & ini didapat setelah kerja panjang selama 1000 hari(3 tahun bok) & sesudah memakan korban vampir eh zombie yang banyak.

 

Keren kan, biar cuma pilem, dah lama pulak, 13 tahun yang lalu, tapi yang bikin film ini ngeh banget2 kalau bikin obat/vaksin itu “PERLU WAKTU LAMA & DENGAN ANGKA KEGAGALAN YANG TINGGI PULAK”….jadi bersyukur banget kan penonton gak bisa nyinyir karena nungguin vaksin gak jadi-jadi…yeyyy.

 

Benernya, urut-urutan pembuatan obat atau vaksin itu seperti ini:

MODEL KOMPUTER

 KV5
 KV6
 KV7

Perkembangan obat dimulai sebagai suatu "PROSES DESAIN". 'TARGET OBAT" diidentifikasi & komputer digunakan untuk menggambarkan struktur molekul yang memiliki aktifitas biologi. 

 

EXPLORATORY DEVELOPMENT

Hanya beberapa obat bisa sampai tahap ini. Disini diteliti efek obat terhadap "SISTEM TUBUH" keseluruhan, bukan hanya meneliti area target organ. Menggunakan model komputer, penelitian in-vitro, dan berakhir pada binatang coba, sehingga didapat farmakokinetik & farmakodinamik obat.

 

FULL DEVELOPMENT

Tujuan fase ini untuk menemukan bagaimana obat bekerja & potensinya secara in-vitro & juga menggunakan binatang coba. Dua pendekatan ini saling melengkapi, penelitian in-vitro memberi informasi tentang efek spesifik obat pada target organ, sementara penelitian in-vivo memberi informasi efek obat terhadap keseluruhan sistem tubuh & interaksi antar organ. Juga diteliti keamanan obat, kemungkinan interaksi obat & efek samping lain.

 

UJI TOKSIKOLOGI

Uji ini dilakukan sebelum obat diujikan pada manusia. Karena respon tubuh terhadap obat tidak dapat diprediksi, digunakan "RANGE DOSE" yang diperkirakan berefek pada organ tubuh, bagaimana cara pemberian, berapa sering & lama obat diberikan, dan seberapa toksik/beracunnya obat.

 

MICRODOSING

Microdosis maksudnya pemberian obat dengan dosis kecil, kurang dari 1/100th komponen dosis aktif, diujikan pada binatang & pada sukarelawan di tahap akhir penelitian.

 

CLINICAL TRIAL

Setelah proses panjang diatas, ternyata belum cukup, obat harus diujikan dulu pada manusia....hiiii. Tapi kalau kita lagi bokek, uang sakunya lumayan lo kalau jadi sukarelawan, tapi efek sampingnya musti diterima juga dong. Mangkanya ada persetujuan dulu alias "informed consent" dari sukarelawan & tahapan ini dipayungi oleh hukum. 

Clinical Trial adalah penelitian obat pada manusia, sebagai lanjutan uji binatang dan model. Meskipun kemungkinan efek samping sudah sangat diperkecil, tapi tetap saja ada kemungkinan terjadinya efek samping yang tidak diharapkan. Percobaan pada binatang dan manusia disebut juga penelitian in-vivo & selanjutnya peneliti masih harus mengirimkannya ke Food and Drug Administration (FDA) untuk mendapat persetujuan untuk diujikan pada manusia.


Uji Klinik terdiri dari 4 fase, masing-masing dirancang untuk menjawab pemasalahan yang berbeda tentang obat baru.

Fase I

Fase ini untuk meneliti bagaimana tubuh bereaksi terhadap obat baru. DILAKUKAN PADA SEKELOMPOK SUKARELAWAN DENGAN JUMLAH KECIL(20-100) & UMUMNYA DIBAYAR. Obat diberikan dalam dosis yang makin meningkat untuk mengetahui "range" keamanan & efek samping. Aksi obat, metabolisme & distribusinya dalam tubuh akan tampak. Penelitian dengan placebo & berlangsung beberapa bulan.

Fase II

Fase ini untuk mengetahui keefektifan & keamanan obat dalam GRUP LEBIH BESAR (100-300). Sukarelawan harus betul-betul sehat sehingga efek samping obat dalam jangka pendek akan terlihat. Dikerjakan secara random & blind, BERLANGSUNG BEBERAPA BULAN SAMPAI 2 TAHUN.

Fase III

Penelitian dilakukan secara random dan blind/buta, dengan JUMLAH PASIEN BEBERAPA RATUS SAMPAI BEBERAPA RIBU, dilakukan oleh perusahaan farmasi dan FDA, diteliti keefektifan obat, keuntungan dan kemungkinan efek samping. FASE INI BERLANGSUNG BEBERAPA TAHUN & Jika fase ini dapat dilewati, perusahaan obat dapat meminta persetujuan FDA untuk memasarkan obat.

Fase IV

Sering disebut Penelitian Surveilans Paska Pemasaran, setelah obat dipasarkan. Keuntungannya adalah, dapat membandingkan khasiatnya dengan obat yang sudah ada di pasaran, dapat memonitor keefektifan obat dalam jangka lama, mengetahui cost-effectiveness dibanding obat tradisional lain. Efek samping yang jarang sering ditemukan pada fase ini. 

 

Kesimpulannya: biarpun teknologi pembuatan vaksin atau obat makin canggih, tapi tidak ada obat yang tersedia dalam waktu singkat, selalu butuh uji coba mulai dari uji laboratorium, uji binatang, baru uji klinik pada sukarelawan. Dan tau tidak kalau uji binatang ini juga bertingkat mulai dari binatang yang kecil seperti tikus, jika berhasil baru diujikan pada kelinci, jika berhasil diujikan pada babi, jika berhasil diujikan pada monyet & baru pada manusia.

Memang berat & panjang perjalanan penemuan vaksin atau obat, ga percaya, nonton deh I’M LEGEND , HEHEHE

 

Sumber:

http://www.trensehat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=97:perjalanan-obat&catid=40:obatracun&Itemid=62

Gambar: Geofanny Sarah Adventia

Add comment

ditunggu comment nya...