Pengaruh tarak dalam proses penyembuhan paska operasi.

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 3
PoorBest 

 "Tarak" atau "berpantang" dalam budaya kita ternyata berarti membatasi diri dalam hal makanan. Apakah asal muasalnya dari budaya "tirakat"?. Mungkin saya salah ya, sepengetahuan saya tirakat adalah usaha untuk menahan diri dari hal-hal buruk dan melatih tubuh supaya tidak hanya mengenyangkan diri dengan hal-hal duniawi saja. Sehingga kita punya tenggang rasa terhadap orang-orang yang tidak seberuntung kita. Jadi, jika memang demikian, tirakat adalah "action" yang baik....jeng jeng...seriuzz banget seh.

Tapi kalau tarak juga dilakukan pasien setelah suatu prosedur pembedahan, ini sudah "kebacut" yang berakibat buruk dalam proses penyembuhan penyakit dan pemulihan fisik.

 

 

 

 

 

Gampangannya itu begini lo.....orang yang sakit itu ya butuh gizi lebih untuk sembuh dibanding kita yang sehat-sehat ini. Contohnya, jika seseorang mengalami patah tulang dan kemudian dipasang "plat". Supaya tulangnya cepat nyambung sehingga "plat" nya bisa dilepas, dia membutuhkan asupan gizi lebih, terutama makanan yang mengandung kadar kalsium tinggi seperti susu dan ikan laut....nah...kan kompsisi tulang terutama terdiri dari kalsium kan.

 

Tapi kenyataannya 1000 % pasien yang saya temui selalu dan selalu tarak paska operasi...hadehhh, padahal sampe monyong deh nasehatin pasien. Nih ya, harus diketahui, salah satu penyebab kegagalan operasi selain faktor dokter yang "error", faktor penyakit yang memang berat, ya tentunya karena faktor pasiennya sendiri. Setelah saya perhatikan ada kebiasaan menghindari makanan tertentu dengan alasan tertentu yang hampir merata di budaya kita. Dan budaya ini tidak mengenal tingkat pendidikan, orang kaya atau tidak mampu, di kota dan desa sama saja. Juga tidak mengenal usia (karena anak-anak dan kaum muda menerima doktrin dari yang lebih tua). Permasalahannya, jika ini menyangkut budaya, bagaimana rantai ini dapat diputus?. Melibatkan berapa generasi? Kok serius gene sihhhh....

 

"Jangan minum banyak-banyak jika habis operasi, nanti lukanya basah terus". Wah masak tubuh kita seperti selang bocor ya?. "Jangan makan telor nanti gatel". "Jangan makan ikan atau teri nanti lukanya amis(dikasih jeruk nipis deh biar gak amis ..hehehe) dan tidak cepat kering". "Jangan makan ayam, nanti lukanya belang". Pokoke penderita hanya boleh minum air putih(sedikit), nasi putih, kerupuk putih oleh keluarga penderita. Nantinya jadi putih-putih kayak melati dong alias pucat karena kurang gizi...ehmmmm

 

Pernah datang seorang wanita paska melahirkan seminggu. Tubuhnya bengkak mulai dari wajah sampai ke kedua kakinya. Dia datang karena ambeien parah yang sudah diluar lubang anus dan menuntut operasi segera karena sangat kesakitan. Saya menduga dan saya bertanya dan ternyata benar, untuk ibu hamil dan paska melahirkan ternyata "keharusan bertarak", benar-benar mengerikan. Kadar protein tubuhnya cuma 1,2 gr/dl(orang normal ± 4 gr/dl), sehingga selain air memenuhi kakinya sehingga bengkak, air juga memenuhi paru-parunya sehingga mbak ini sangat sesak. Pernah melihat tayangan TV anak-anak kurang gizi yang bengkak seluruh tubuhnya? Pembengkakan itu disebabkan kurang protein. Akibatnya ibu tadi tidak bisa segera di operasi, harus di optimalkan dulu kondisinya supaya operasi berlangsung aman.....la wong paru-parunya penuh cairan sampai sesak begitu, padahal si ibu sudah sangat kesakitan, jadi serba salah kan kita2 dokter ini?. Kalau operasi dipaksakan segera, yang jelas sangat beresiko dan penyembuhan luka operasi pada pasien yang kekurangan gizi / protein juga sangat buruk.

 

Kalau seseorang itu sudah kegemukan bolehlah dia "tarak", kalau tidak ya kebangetan kan.... Penderita gangguan asam urat harus membatasi kacang-kacangan, melinjo, jeroan. Penderita diabetes mellitus harus menghitung jumlah kalori yang masuk. Penderita hipertensi mengurangi makanan bergaram. Penderita hiper-kolesterol harus menghilangkan semua lemak-lemak jahat dari meja makannya. Penderita gagal ginjal harus hati-hati mengkonsumsi makanan dengan kadar protein tinggi. Jadi pada dasarnya, hanya jika seseorang itu sudah diketahui menderita suatu penyakit, baru dia diharuskan menghindari suatu makanan tertentu, ini juga dikarenakan tubuhnya yang tidak mampu mencerna makanan tsb dan "bukannya makanan itu yang menyebabkan si pasien sakit". Selalu didasari oleh kelainan/penyakit yang memang sudah ada pada penderita tsb dan bukan sebaliknya. Kasihan loo bangsa kita, karena salah kaprah ini juga menjadi salah satu penyebab bangsa kita tidak cepat "besar"kan?, alias imyut-imyuuuut...

 

Saya masih ingat dalam salah satu episode  "Oprah Winfrey" dengan bintang tamu Dr.Oz. Ada seorang nenek-nenek dengan penyakit penyempitan dan trombus(sumbatan) di pembuluh darah jantungnya. Dr.Oz tidak mau langsung mengoperasi nenek tsb, dia menelusuri terlebih dahulu kebiasaan dan pola makannya. Ternyata nenek-nenek tsb perokok berat juga peminum. Dr.Oz membongkar isi lemari es nenek tsb dan ketahuan deh pola makan nenek tsb. Semua jenis makanan yang mengandung lemak jahat langsung dibuang, Dr.Oz bahkan mengajari cara memasak makanan yang tepat sehingga kandungan gizi dalam makanan tidak rusak akibat proses pemasakan yang salah. Dr.Oz menuntut perubahan total dari pola makan, menyetop kebiasaan merokok dan minum-minum, juga diharuskan olah raga yang tepat untuk usia dan penyakitnya. Setelah 3 bulan Dr.Oz memantau, barulah kemudian dia mau mengoperasi nenek tsb.

 

Kenapa ya kok Dr.Oz menuntut demikian. Pertama, dari sisi pasien, jika dia belum dapat mengubah pola makan dan kebiasaannya yang menjadi salah satu penyebab sumbatan pembuluh darahnya selain faktor usia. Kita akan langsung mengerti bahwa kebiasaan yang keliru tsb akan membuat penyakitnya kambuh lagi paska operasi. Kalau kemudian operasi-operasi lagi tentunya akan menambah tebal kantong dokter. Tapi apa betul demikian?

Nah, jadi kita sampai di masalah kedua yaitu dari sisi dokter. Bagaimana kalau kemudian dokternya malah dianggap "gak gape" operasinya karena kok penyakitnya kambuh lagi? Walah bangkrut deh dokternya dituntut bolak-balik. Jadi jelas dong jika pasien harus mengambil tanggung jawab yang menjadi bagiannya untuk keberhasilan suatu tindakan medis. Pola makan yang keliru akan mempengaruhi proses kesembuhan dari suatu penyakit. Syalom.

 

Flash: Koleksi Pribadi

Add comment

ditunggu comment nya...