2"nd-OPINION

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 

2'nd opinion belum jadi budaya di negara kita, tapi kapan lagi mulai kalau gak sekarang kan?. Sering masyarakat sungkan atau bahkan mereka tidak tahu kalau ini hak mereka. Banyak dokter juga tidak cukup terbuka sih. Tapi sebenarnya ini gak perlu terjadi kalau kita sama-sama sepakat kalau 2nd opinion adalah hak pasien & juga menguntungkan kedua pihak(dokter dan pasien).

Sebelum keterusan, istilah "second opinion" maksudnya adalah hak pasien untuk mencari pendapat dari dokter lainnya perihal kejelasan penyakitnya dan pilihan terapinya. Sudah pasti tujuannya adalah supaya pasien lebih banyak menerima informasi dan akhirnya bisa mempertimbangkan dan memutuskan terapi yang terbaik buat dirinya.

Kita para praktisi melihat masalah ini dari sudut yang sama yaitu, pertama dan yang terpenting adalah bagaimana penderita mendapatkan pelayanan secara holistik dan tentu maksudnya sembuh. Kedua, biarpun profesi kita dokter yang oleh sebagian orang masih dianggap profesi spesial, tapi pasti kita tidak sempurna, diskusi atau konsultasi dengan teman sejawat sering kali membantu.

Sama seperti bentuk hubungan lainnya, hubungan dokter dengan pasien diawali dengan anamnesa, diskusi di ruang periksa. Kemudian dilengkapi dengan pemeriksaan fisik dan jika masih diperlukan dilakukan pemeriksaan penunjang, berupa pemeriksaan laboratorium dan rontgen. Dari beberapa pertemuan ini terbentuk rasa saling percaya, apakah pasien bisa mempercayai dokter atau apakah dokter bisa mempercayai keterangan pasien.

Adalah hak pasien untuk bertanya sejelas mungkin tentang penyakitnya. Tidak perlu sungkan atau takut terhadap dokter. Saya sering kali memeriksa pasien dengan bekas luka operasi di daerah perut tapi "hebatnya" si pasien tidak tahu operasi "apa" yang telah dijalaninya, dia tidak tahu apakah usus buntu nya diambil, atau myoma/tumor jinak kandungan telah diambil. Aneh kan, bagaimana bisa seseorang membiarkan dokter "meng-edel-edel" perutnya tanpa tahu sakit apa. Pasrah sih pasrah tapi gak gitu juga yah, tapi ini kenyataan lo. Tanyakan prosedur operasi, apa risikonya. Pasien harus mengerti mereka sakit apa & akan diapakan, karena jika pasien mengerti memudahkan kerja sama untuk kesembuhan.

2NDOPINION

Dari sisi pasien saya menemukan kebiasaan yang merugikan. Karena budaya atau karena kondisi ekonomi, sarana kesehatan sering menjadi tujuan akhir setelah penderita berkeliling dan tidak ada kesembuhan. Mereka banyak pergi ke alternatif, mencoba jamu-jamuan, mengobati sendiri, memijat bagian yang sakit, memboboki dsb. Karena itu sering kali pasien berbohong tentang lamanya menderita suatu penyakit. Perlu diketahui riwayat penyakit seperti: lamanya sakit, jenis sakitnya, lamanya panas badan, bagaimana jenis sakit perutnya dst, dst, yang selalu ditanyakan dokter sangat menentukan diagnosa suatu penyakit sampai 80%. Ini yang disebut anamnesa atau tanya jawab waktu pertama kali kontak antara dokter dan pasien. Jadi berbohong jelas merugikan diri sendiri.

Saya punya pengalaman njengkelin tapi lucu juga. Pernah ada pasien yang meskipun sudah lama saya tangani, saya menangkap keinginannya untuk konsultasi ke sub-spesialis, meskipun dia sungkan mengutarakannya. Jadi saya langsung menanggapinya sebelum ego saya menguasai, saya langsung tawarkan untuk konsultasi ke dokter lain. Dannnn................ akhirnya selanjutnya saya senyum-senyum sendiri. Dia kembali kontrol ke saya sambil ngomel-ngomel tentang sikap dokter sub-spesialis tsb, hehehe. Kebetulan memang kasusnya tidak perlu ditangani oleh yang lebih ahli. Pengalaman ini baik buat saya, jadi saya tahu bagaimana saya harus bersikap lain kali. 

Layaknya hubungan lain, kadang-kala hubungan dokter-pasien juga tidak berjalan mulus. Dan hubungan yang buruk kadang kala perlu "orang ketiga" untuk menjernihkan, nah tawarkan saja "2'nd opinion", itung-itung menguji diri sendiri kan hehehe. 

 

Gambar: Geofanny Sarah Adventia

Add comment

ditunggu comment nya...