Malpraktek dan resiko operasi, sama gak ya?

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 2
PoorBest 

Siapa yang mau dioperasi, duhhh jangan sampai deh ya? Mumet mikirinnya, apalagi ngadepin resiko/ sequele yang harus diterima sebagai akibatnya. Nah memang selalu ada akibat/ resiko setelah operasi, cuma kita harus jeli dan mampu memilah-milah mana yang malpraktek dan mana yang memang harus diterima(nasib deh, hehe) jika terpaksa menjalani operasi. Sehingga orang awam juga tidak mudah dihasut oleh orang-orang yang mau ambil keuntungan deh?.

Sebelum lupa, penjelasan sederhana untuk dua hal diatas seperti berikut. Resiko operasi adalah semua resiko termasuk timbulnya sequele/cacat akibat operasi yang pasti terjadi, bisa seketika misalnya adanya perdarahan selama operasi atau sesudahnya akibat proses fisiologi penyembuhan normal tubuh. Sedangkan malpraktek yang terkait operasi adalah segala akibat yang diterima pasien (akhirnya diterima oleh dokter juga) akibat suatu tindakan operasi yang tidak sesuai atau dibawah prosedur standar. Nanti akan dijelaskan bagaimana pasien juga menyumbang keberhasilan atau kegagalan operasi.

Yang paling sederhana misalnya, bekas irisan kulit paska operasi pastilah meninggalkan parut/ skar pada kulit berupa garis putih selebar rambut. Model operasi kosmetik apapun pasti meninggalkan bekas yang disebut parut. Apalagi jika punya bakat keloid dalam keluarga, ehmmm....akan timbul benjolan seperti kelabang di sepanjang luka bekas operasi. Orang dengan bakat keloid memang pantang mempunyai luka apalagi luka akibat operasi. Kalau ada banyak gosssip yang mengatakan operasi dengan jahitan kosmetik tidak meninggalkan bekas, wah.....bohong tuh.

Contoh lagi, kasus yang lebih sulit dan juga menjadi sumber komplain. Paska operasi di daerah-daerah spesial misalnya di ujung bibir, ujung mata, kelopak mata(atas dan bawah), di lipatan hidung-pipi akhirnya bisa menyebabkan wajah tidak simetris, nah salah siapa? Operasi pada daerah lipatan wajah membutuhkan fisioterapi paska operasi. Gunanya fisioterapi/latihan ini adalah untuk melawan tarikan/kontraksi akibat mengkerutnya daerah kulit yang menyembuh. Masalah ini tidak boleh dianggap sepele. Misalnya bekas luka operasi di kelopak mata bawah. Waktu luka mulai menyembuh otomatis juga mengkerut/kontraksi yang akhirnya bisa menarik kelopak mata bawah yang akhirnya bisa mengakibatkan kondisi mata terbuka terus. Nahhh...kalau sudah begini ditambah ada yang "mengkompori" anda, langsung deh dokter kena getahnya.

 

eyelid scar

Kenyataanya, emang pasien sering banget kalau sudah selesai operasi tidak pernah kontrol fisioterapi, karena menganggap masalah sudah selesai. Padahal justru fisioterapinya yang lebih memakan waktu lama untuk kontrol sampai proses penyembuhan kulit berhenti. Laaa, kalau kontrol ke dokter bedahnya kan paling 1 kali setelah operasi untuk angkat jahitan saja. Untuk luka di wajah paling-paling hari ke lima paska operasi, jahitan sudah dapat dilepas. Setelah itu pasti pasien dikirim ke bagian fisioterapi sampai jangka waktu tertentu dan setelah dianggap cukup oleh bagian fisioterapi dikirim kembali ke dokter bedah. Nah selama proses inilah pasien sering "drop-out" alias maburrrr, dan baru kembali setelah ujung bibirnya miring? Ujung matanya tertarik? Kelopak matanya tertarik? Senyumnya miring? Apalagi kalau lagi nyengir kan....sorry...dst dst dst.

 

Contoh lain adalah kebocoran luka paska operasi membuka perut(laparotomi), yang juga sering menjadi sumber komplain. Ada 3 hal yang menjadi penyebab. Pertama, faktor dokter-nya, bisa secara teknik operasi memang dibawah standar, atau kurang bersih waktu membilas di akhir operasi, atau lalai/ tidak sengaja dan tidak melihat jika jarum jahit sudah "mencubles" usus, atau tidak sengaja menjepit usus dsb dsb. Kedua, faktor pasien, misal pada kondisi pasien sangat kekurangan gizi/kurang protein tapi kondisi penyakit menuntut harus segera operasi. Misal jika usus harus dipotong karena membusuk dan disambung kembali padahal pasien dalam kondisi kekurangan protein hebat. Dapat dipastikan sambungan usus akan bocor dan akhirnya luka operasi di kulit juga bocor dan terbuka. Atau misal kondisi pasien baik termasuk kondisi gizi pasien/protein baik dan operasi berlangsung baik. Tapi kemudian waktu proses pemulihan pasien tidak mengkonsumsi gizi yang baik yang seringnya diakibatkan "budaya tarak". (Sudah dibahas dengan judul lain). Akibatnya juga sama, proses penyembuhan melambat dan bahkan bocor di luka jahitan. Ketiga, faktor keparahan penyakitnya. Kenyataan lo jika pasien sering baru berobat dan itu juga terpaksa karena penyakit sudah parah. Tapi semestinya untuk kasus yang satu ini tidaklah menjadi sumber komplain juga, karena kita kan sudah sama-sama mengerti kalau kasusnya sudah parah. Bagaimanapun tubuh ada batasnya, apalagi dokternya.

 

dokter

Memang karena kejadiannya ada di dalam perut(operasi laparotomi) jadi sulit diketahui jika dokternya teledor. Tapi pada prinsipnya begini. Terutama jika kondisi fisik anda secara keseluruhan optimum atau baik menjelang operasi, dan satu-satunya masalah adalah anda misalnya harus operasi hernia, tumor jinak payudara, tumor jinak gondok, usus buntu, tumor jinak usus, batu empedu, kehamilan(tanpa resiko), dst, dst....seharusnyalah hasil operasi baik-baik saja. Kemudian perlu anda tanyakan pada dokter anda bagaimana resiko operasi dan pembiusan apalagi kondisi umum anda baik. Jika anda belum puas dan anda juga tahu bahwa operasi tidak perlu dilakukan segera, coba tanyakan ke dokter lain(second opinion). Meskipun di Indonesia hal ini belum biasa, tapi mau tidak mau memang harus begitu, apalagi jika anda tidak mendapat keterangan yang memuaskan...lakukan saja, ini hak anda sebagai pasien.

 

Contoh lain, usus lengket atau "strength ileus" bahasa kerennya, bisa terjadi paska operasi perut termasuk operasi sectio caesarea/melahirkan(saya tulis di artikel lain). Makanya saya juga heran kenapa banyak wanita yang memilih operasi dibandingkan melahirkan dengan proses alami. Mestinya karena mereka belum tahu resikonya deh. Setelah suatu prosedur operasi membuka perut entah karena penyakit apapun, proses penyembuhan yang terjadi pada dasarnya sama. Jika di kulit proses penyembuhannya tampak oleh mata, tidak demikian jika di dalam perut. Jika di kulit setelah operasi terjadi proses-proses penyembuhan berupa: kemerahan, pembengkakan, adanya hematom/penggumpalan darah, sampai akhirnya melengket karena adanya fibrin("lem"), mengering dan mengkerut dan gatel, demikian juga terjadi di dalam rongga perut. Jika di kulit proses yang terjadi tadi bisa ditutupi verban kasa, tidak enaknya kalau di dalam perut proses penyembuhan tadi terpaksa "ditutupi" oleh organ-organ di dekatnya. Karena rongga perut ini sebagian besar ditempati oleh usus.....ya ususlah akhirnya yang menutupi alias menempel di tempat terjadinya proses penyembuhan tadi. Proses perlengketan ini berlangsung lama dan sering kali usus-usus yang melengket ini kemudian kusut dan "mbulet". Inilah yang disebut "strength ileus", bisa terjadi beberapa bulan setelah operasi atau bahkan sampai puluhan tahun paska operasi perut. Jadi....masih mau memilih melahirkan dengan operasi? Terus dokter harus bagaimana kalau sudah begini?

 

Kasus Prita duluuuu itu di suatu rumah sakit swasta Jakarta, sebenarnya sangat jelas. Jika kita mengabaikan praduga adanya masalah "intrik pemeriksaan laboratorium" ataupun "intrik hubungan RS dan lembaga hukum", masalahnya kan cuma satu saja. MIS-KOMUNIKASI SAJA. Mungkin dokternya terlalu jaim, terlalu banyak pasien dan bekerja di banyak rumah sakit, atau emang dokternya terlalu pemalu dan tidak banyak omong? Masalahnya sekarang ini memang pasien sudah banyak yang pintar dan mengerti haknya sebagai penderita.

 

Jadi deh mbak Prita-nya jengkel sehingga komunikasi jadi tambah ruwet.

Memang adalah hak setiap pasien untuk mendapat penjelasan yang sejelas-jelasnya. La wong kalau saya ke bengkel saja...saya ikut sampai mobil dibongkar dan saya tanya ini itu sampai mekaniknya "mangkel", tapi memang kita kan nggak mau ditipu, apalagi kalau urusan ke bengkel itu ujung-ujungnya duit gede.

Saya juga tahu kok "kejahilan" dokter. Misalnya, temen sebelah kamar kost saya yang seorang bos bank swasta, dia diharuskan operasi usus buntu oleh seorang dokter bedah. Padahal saya lihat deh kalau dia disuruh lari keliling dunia aja sanggup waktu itu, gitu kok dibilang usus buntu. Sekarang mbak itu mesem-mesem aja dan bersyukur perutnya tetap mulus, putih-bersih, karena tidak operasi dan memang tidak ada penyakitnya kok, dan bonusnya ya tak omelin aja dia kok bisa-bisanya ngaku bos waktu berobat, hehe.... dokter kan juga manusia?". Ibu saya yang berusia 75 tahun, masuk rumah sakit, yaaa karena memang penyakit tua. Ngamar 3 hari sampai habis 12 juta katanya emang obat-obat vitaminnya mahal. Saya cuma nyengir aja ndengernya (vitamin apa ya secanggih itu, apa saya ketinggalan jaman?), yahhh.....kita anak-anaknya jadi  urunan deh...cepek deh...ciyuuu



Info & Tips

darah RBC

Ini adalah gambar sel darah merah dan waktu masih di dalam pembuluh darah.

Waduh...ternyata ada 8 milyar sel darah dalam tubuh manusia yang mati tiap detiknya, tapi....langsung diganti kok dengan sel baru setiap detiknya juga.

 

Sumber Gambar: Internet

 

Add comment

ditunggu comment nya...