Nenek moyang kita "berbulu lebat?"

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 1
PoorBest 
darwin1 monyet darwin

Saya tidak tahu apakah teori evolusinya Om Darwin pernah heboh disini. Tapi mungkin juga kita cuek-cuek aja karena kita punya banyak masalah yang lebih ruwet, jadi ngapain mikirin teori evolusinya Om Darwin kan?.

Di Barat pertengkaran akibat teori ini seru sekali. Masing-masing bersikeras dengan teorinya dan bukti-bukti yang tidak terbukti dechhh.

 

Yang pro Darwin cukup banyak. Mulai dari ilmuwan terkemuka, ...Crick yang menemukan DNA, bersama Leslie Ogel menyatakan bahwa spora-spora kehidupan berasal dari luar angkasa, dimana spora-spora ini akhirnya menjadi cikal-bakal adanya kehidupan?. Ilmuwan lain Hoyle dan N.C Wickramasinghe malahan berani berspekulasi bahwa partikel-partikel berukuran sel yang hidup yang berasal dari kehidupan lain dapat mencapai bumi kemudian memulai adanya kehidupan. Teori lain yang cukup dikenal adalah teori ”Kebetulan Acak(Random Chance)”. Dikatakan kehidupan berasal dari atom karbon yang bereaksi secara kebetulan acak, yang bertautan untuk membentuk asam amino dan akhirnya membentuk satu molekul protein, yang merupakan dasar kehidupan. Belum lagi teori ”Lubang Angin di Samudra”. Adalah Jack Corliss, seorang ilmuwan biologi kelautan yang menemukan lubang angin hidrothermal di dasar laut dimana di dekatnya hidup bakteri, cacing-cacing laut, kerang dsb. Dan lalu dia menyimpulkan kemungkinannya sebagai tempat asal-usul kehidupan.

 

Tidak akan selesai dan dijamin anda bosan membaca pendapat ilmuwan yang satu ”geng” dengan Darwin. Dimana semua pembelaan itu berusaha membuktikan bahwa ”umat manusia muncul dari sesuatu yang sama dengan nenek moyang yang sama dengan monyet”. Bahkan argumen mereka tetap tidak berkurang...bahkan waktu Om Darwin pun sudah mengakui bahwa ada banyak kurangnya bukti fosil(missing link) yang merupakan transisi antara berbagai jenis hewan selama proses evolusi itu.” Dan dengan percaya dirinya mereka meramalkan bahwa penemuan-penemuan fosil di masa mendatang akan membuktikan.

 

Dan kenyataannya?

 

Pada tahun 1979 David M.Raup, kurator dari The Field Museum of Natural History Chicago, mengatakan: Kita sekarang berada 120 tahun sesudah zaman Darwin, dan pengetahuan tentang catatan fosil telah sangat berkembang. Sekarang kami memiliki ¼ juta spesies fosil, tetapi situasinya belum banyak berubah.....bahkan kita menemukan semakin sedikit contoh-contoh dari transisi evolusi, daripada yang kita temukan pada zaman Darwin.......nah looo.

 

Supaya fair, kita dengar juga argumen dari pihak oposannya Darwin.

 

Michael Denton, ahli biologi molekul mengatakan: Seperti pada zaman Darwin, Teori Darwin masih merupakan hipotesa yang sangat spekulatif, yang sama sekali tidak ditunjang oleh dukungan faktual, dan sangat jauh dari aksioma yang membuktikan dirinya sendiri.

 

Majalah Time lebih jauh menulis begini: Charles Darwin bukan ingin membunuh Allah, seperti yang pernah dikatakannya; tetapi dalam kenyataannya, itulah yang dilakukannya.

 

Kalau pendapat saya bagaimana?. Saya boleh juga kan berpendapat, kalau saya begini:

1. Saya sering melihat ”organ-organ dalaman” tubuh manusia yang mengagumkan...apalagi melihat usaha organ-organ ini menyembuhkan dirinya sendiri...dan kesimpulan yang bisa dibuat cuma satu....itu merujuk pada Pencipta kita.

2. Pada diri masing-masing kita telah ditanamkan oleh Pencipta kita kesadaran bahwa ” Allah ada”.....sehingga kita ada. Buktinya berceceran disepanjang sejarah kehidupan manusia. Lihat adanya Animisme, Dinamisme. Belum lagi ada banyak dewa-dewi yang disembah seperti dewi Sri, dewa Zeus, dewa Perang dst ..dst. Peradaban manusia menunjukkan bahwa manusia butuh ”oknum” untuk disembah.

3. Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Bagaimana mungkin manusia yang luar biasa ini(baca ”Manusia Jenius”) terjadi secara kebetulan?.

4. Mengapa saya tidak ber-evolusi lagi...menjadi dewa-dewi misalnya. Ini menyalahi definisi kata evolusi itu sendiri dong.

Saya menunggu pendapat anda.

 

 

eker

Kata Emas

Pikiran kita menentukan perasaan kita. Perasaan kita menentukan tindakan kita. Tindakan kita menentukan hasil yang kita capai.

T. Hary Eker

 

 

 

 

 

Add comment

ditunggu comment nya...