"BRAHU"...maHu taHu?

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 

 

brahu2

 

Candi Brahu terletak di desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Terletak diatas ketinggian 32.79 meter diatas permukaan laut. Tinggi candi yang masih tersisa hingga sekarang sekitar 25 meter, bangunan candi berbentuk segi empat berukuran 18 x 22.5 meter. Di bagian atap candi terdapat sisa profil berbentuk lingkaran yang diduga sebagai bentuk stupa. Bangunan candi sudah mengalami pemugaran, awalnya dilakukan oleh Belanda pada tahun 1920, dan dilanjutkan pada tahun 1990 s/d 1995, dikerjakan oleh Proyek Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan Daerah Mojokerto.

 

Tinggi juga candi ini, keinginan hati ingin mendaki, tapi apa daya, lain kali aja deh. Mungkin kalau saya lagi senewen dan mau ngumpet di bilik candi yang terletak di sisi timur bangunan boleh juga. Di bilik ini masih ada altar tempat sesaji dan atmosfer di dalamnya cocok untuk yang lagi stresss, hehe cuma emang lagi males naik-naik nich. Padahal biasanya aye suka naik turun bolak-balik, kan sambil jalan-jalan, sambil cuci mata, sambil membuang kalori, juga sambil membentuk betis indah, duilee. Tapi bener kok, kalau anda membiasakan berjalan cepat di tempat kerja anda, juga dimanapun kala anda refreshing jalan cepat loo, bukan jalan aras-arasen, ini sama saja dengan aerobik bukan.


brahu1

Candi Brahu berdiri sejak abad 10 M, dan menurut cerita rakyat candi ini berfungsi sebagai perabuan atau tempat pembakaran mayat, tetapi tidak pernah ditemukan bukti arkeologis yang mendukung cerita rakyat itu.

 

Dahulu, di sekitar kompleks candi ditemukan benda-benda kuno, yaitu benda-benda dari bahan emas dan perak. Benda-benda tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta, juga ditemukan empat lempeng prasasti dari zaman Raja Sindok (Abad 10M), dan kini disimpan di Balai Penyelamat Area.

Coba kita hidup di jaman raja-raja dulu, asyik juga, kok kayaknya pada jaman dahulu itu emas bertebaran dimana-mana ya? Tapi di jaman sekarang kita juga punya mas Bambang, mas Tole, mas Didik, mas Budi dst, cukup deh hihihi.

 

brahu3

Kalau anda keluar dari kompleks candi ini, di daerah Trowulan di sepanjang pinggiran jalan raya, anda bisa memuaskan mata dengan banyakmya kerajinan patung yang dibuat oleh rakyat setempat. Melihat dari kehalusan buatannya, mungkin mereka-mereka ini masih punya hubungan kekerabatan dengan "mbah buyut" mereka yang hidup di jaman kerajaan itu. Kalau saja mereka menata lokasinya sehingga bisa menjadi galeri yang menarik, wah ini bisa menjadi tempat wisatawan "cangkrukan". Kan mumpung Dirjen Pariwisata lagi giat-giatnya mengembangkan daerah-daerah wisata bukan.

 

Foto-foto: Koleksi Pribadi

 

 

 

 

 

 

Add comment

ditunggu comment nya...