USUS LENGKET, MLINTIR & KUSUT PASKA OPERASI PERUT

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 31
PoorBest 

intestine

 

Nahhh, ini dia salah satu contoh dari resiko paska operasi, dan ini bukan termasuk malpraktek. Kondisi ini makin parah terjadi pada perokok karena nikotin dapat meningkatkan resiko usus "mbulet" ini, gak percaya ya, boleh kok.

Hati-hati juga kalau terjadi perubahan pola makan secara mendadak, misal makan kebanyakan, keseringan, coba inget-inget kemaren pas lebaran, natalan atau tahun baru, kan aneka ragam makanan sangat-sangat membuat lapar mata tuh???. Di India sudah diamati oleh para pakar statistik kesehatan terjadinya kolik/nyeri abdomen dan strength intestine / perlengketan usus setiap kali masyarakat mengadakan festival / perayaan keagamaan, dan memang masakan "kare" India  dengan santan yang ampun-ampun itu dapat menjadi pencetus timbulnya gangguan kolik atau paling parah terjadi strength.

Saya lebih suka dan selalu saya katakan kepada semua pasien saya bahwa, jika sampai harus terpaksa menjalani operasi membuka perut karena sesuatu hal, berarti itu "cacat", tapi siapa yang mau sih?. Masalahnya, bagaimana jika terpaksa, atau malah cari penyakit?. Jadi saya nyengir ajahh melihat banyak orang bahkan artis yang minta di caesar pada tanggal 9 bulan 9 tahun 09 kemarin. Hehehe, yang saya tahu sih si Angelina Jolie atau Angelina sapa itu ya?

 

 

Apa saja akibat yang timbul setelah operasi laparotomy(membuka perut)?

ileus1Ket. Usus mendominasi isi rongga perut seperti tampak di gambar. Dalam kondisi normal usus selalu bergerak dan tidak saling melengket karena ada cairan perut yang membasahi diantaranya seperti foto disamping ini.

Yang paling sering dan menempati urutan teratas adalah perlengketan usus (biasa disebut strength ileus) sebanyak 93% kasus. Yang lainnya adalah: nyeri perut kronis, nyeri panggul, obstruksi usus (sumbatan) dan bahkan infertilitas (mandul), dijumpai pada sedikit kasus.

Akibat dari usus "mbundet" ini yang paling jelek adalah yaaa terpaksa perut dibuka untuk melepaskan perlengketan, plintiran dan merapikan usus yang kusut. Dan karena perut dibuka lagi maka besok-besok resiko ini bisa timbul lagi. Memang resiko ini dibilang tinggi, menurut data sampai 60% kejadian paska operasi perut/ laparotomy. Dan operasi jenis ini adalah operasi yang paling 'njengkelin' buat dokter bedah, karena harus sabar, telaten menangani usus yang "fragil".

 

Tapi jangan gara-gara tulisan ini kita jadi 'anti' terhadap prosedur operasi membuka perut. Banyak kasus yang tidak bisa dihindari selain memang harus operasi. Maksudnya adalah jika kasus/ penyakit itu mengancam jiwa jika tidak dilakukan operasi. Misalnya jika akibat kecelakaan mengakibatkan hati pecah atau limpa pecah, yang harus dilakukan sesegera mungkin operasi atau nyawa ancamannya. Kasus lain adalah kebocoran usus akibat luka tusuk, atau kebocoran usus yang disebabkan penyakit typhus dan akibat usus buntu pecah. Usus yang bocor sangat cepat menimbulkan infeksi perut yang segera menyebar ke seluruh tubuh, dan operasi juga harus sangat segera dilakukan karena angka kematian akibat infeksi perut tinggi yaitu 5%/ jam dan meningkat terus jika pasien terlambat di operasi.

 

Tapi kenapa sih usus maunya lengket terus setelah di operasi?

Begini lo, entah luka itu tampak di sekujur tubuh atau yang tidak tampak di dalam tubuh, proses terjadinya penyembuhan(healing process) sama saja, jadi jangan heboh karena jahitan yang tampak di kulit perut, justru yang terjadi di dalam perut lah yang lebih heboh. Dengan berjalannya proses penyembuhan, usus dapat saling melengket, kadang-kadang ada bentukan seperti "benang"/ fibrin yang melengketkan usus dengan dinding perut. Atau "benang" tadi menjerat usus sehingga usus melintir seperti yang tampak pada foto-foto dibawah, bandingkan dengan foto normal kondisi usus diatas.

 

ileus5 ileus6

Berdasarkan penelitian diketahui bahwa tahapan pertama terjadinya perlengketan adalah karena adanya proses eksudasi / pengeluaran fibrin melewati kapiler mesenterik yang permeabilitasnya meningkat.

Maksudnya begini, setelah proses penyembuhan, tubuh bereaksi dengan mengeluarkan fibrin dari pembuluh-pembuluh darah perut dimana pembuluh-pembuluh ini berubah sifatnya menjadi lebih mudah mengeluarkan fibrin. Fibrin inilah "oknum" yang akhirnya menyebabkan perlengketan usus.

Fibrin ini sebenarnya memang selalu ada di setiap proses penyembuhan luka di bagian tubuh manapun yang ada lukanya, fibrin bisa dikatakan "lem-nya luka" sehingga luka bisa menutup. Cuma resikonya ya itu tadi, usus-usus disekitar keluarnya fibrin itu ikut nempel deh.

 

Tadi saya menyebut perokok beresiko lebih besar? Buktinya?

ileus2 ileus3 ileus4

 

 

 

 

 

 

 

Sudah diteliti pada binatang coba tikus bahwa nikotin di dalam darah merangsang pengeluaran Vascular Endothelial Growth Factor(VEGF) atau Faktor Pertumbuhan Endotel Pembuluh darah. VEGF ini meningkatkan permeabilitas endotel pembuluh darah perut - yang akhirnya menyebabkan pengeluaran fibrin semakin cepat dan akhirnya menyebabkan terjadinya perlengketan usus.

 

Setelah 14 hari pemberian nikotin pada tikus kemudian perut tikus-tikus tadi dibedah lagi dan dilihat tingkat perlengketannya dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak diberi nikotin. Dan hasilnya? Secara statistik sangat bermakna bahwa perlengketan usus pada tikus yang diberi nikotin jauh ... jauh ... jauh lebih lengket dibandingkan yang tidak diberi nikotin.

Jadi, mengapa mau diperdaya oleh tikus, ehhhhh.....rokok?.

 

Sumber: World J. Surg'2004

Sumber Gambar: Internet(Labeled for reuse*) & Koleksi Pribadi

 

.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 

Add comment

ditunggu comment nya...