STRESSS BIKIN CEPET TUA, TELOMERE BIKIN MASALAH

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 1
PoorBest 

Hareee genee gak stresss? Gak mungkin lah yawww? Tapi cobalah lihat akibat-akibat yang bisa ditimbulkan oleh stres? Jadi, mengapa kita tidak coba berdamai dan berusaha “hidup”?.

Stres menyebabkan otak bereaksi dan akibatnya menimbulkan "1400 respon" tubuh kita…waduhhh, reaksi tubuh terhadap stres ini disebut “Syndrom Adaptasi Menyeluruh” atau "GAS (General Adaptation Syndrome)"

 

Ada 3 tahapan proses yang terjadi dalam tubuh jika kita stres;

stress1

Fase pertama disebut "Reaksi Alarm", dimana tubuh mengeluarkan adrenalin yang menyebabkan timbulnya reaksi seperti; jantung berdebar-debar, meningkatnya pernafasan, ketegangan otot, mata membelalak, perut mules, keringat dingin dst dst. Tapi sebenarnya reaksi ini untuk melindungi tubuh terhadap stres. Reaksi ini juga biasa disebut respon “fight and flight”. Setelah penyebab stres hilang kemudian tubuh akan kembali normal. Kalau anda dikejar anjing atau pak polisi dan tiba-tiba anda jadi bisa melompat pagar yang tinggiiiii…..nah, itu salah satu efek kerjaannya adrenalin.

Jika penyebab stres tidak hilang juga, maka GAS akan berlanjut ke fase kedua yang disebut "Adaptasi" dari tubuh. Ini adalah respon tubuh terhadap stres untuk pertahanan jangka lama. Tubuh akan mengeluarkan kortikosteroid yang mengakibatkan peningkatan gula darah yang walaupun sebenarnya berguna untuk mempertahankan energi, tetapi jika pada fase ini mekanisme pertahanan tubuh digunakan berlebihan, maka kita akhirnya akan jatuh sakit. dan jika fase adaptasi ini berlangsung untuk waktu yang lama tanpa adanya jeda istirahat untuk meng-counter respon stress, akan menyebabkan konsentrasi mudah hilang, keletihan, dan irritable.

Fase terakhir dari GAS disebut "Exhaustion", dimana pada fase ini tubuh mengeluarkan semua cadangan energi dan sistem immun, sehingga ketahanan mental, emosi dan fisik sangat terkuras. Tubuh menampakkan “kelaparan adrenal” yang menyebabkan penurunan kadar gula darah yang akhirnya berakibat pada turunnya toleransi tubuh terhadap stres.

 

Sistem apa yang mempertahankan tubuh dari stresss?

Rantai Hypothalamus-Pituitary-Adrenal(HPA) adalah sistem tubuh yang membuat manusia mampu menghadapi stres, tapi bagaimanapun jika penderitaannya(ya ampun…) berkepanjangan menyebabkan siklus ini akhirnya tidak berfungsi, yang menyebabkan hypothalamus memberikan sinyal pada kelenjar adrenal untuk menghasilkan kortisol. Meningkatnya produksi kortisol menyebabkan penekanan terhadap sistem immun sehingga menyebabkan tubuh rentan terhadap berbagai penyakit. Kenyataannya memang insidensi dari kasus-kasus penyakit serius termasuk kanker, secara statistik signifikan tinggi pada pasien depresi. Untungnya, proses supresi sistem immun ini dapat dikoreksi lewat psikhoterapi, obat-obatan, dan hal-hal positif lain yang bisa mengembalikan harapan penderita….asalkan kondisinya belum “kebacut”....alias terlambat.

 

Wah…stresss bepengaruh sampai ke tingkat sel…..looo

Tadi disebutkan, jika kortisol menetap tinggi dalam darah akan menyebabkan menurunnya sistem immun. Pengaruhnya bahkan sampai ke tingkat sel...looo.....begini, tubuh kita tersusun dari trilyun'nan sel, nahhh....di dalam nukleus(inti sel) ini berenang "para kromosom" yang tersusun dari protein dan yang bertanggung jawab terhadap"nasib kita" saat ini......ada yang keren abis, jaim, keriting, trondol, plontos, pemalu, malu-malu'in, sangar atau baik hati dan rajin menabung...hehe.

Kromosom berbentuk seperti huruf "X" dimana pada ujung-ujung tangkainya ditutupi telomere, yang disebut juga sebagai topi pelindung dari kromosom. Setiap kali sel membelah, telomere ikut memendek, dan kondisi ini mencolok terdapat pada penyakit seperti HIV, penyakit jantung, osteoporosis, proses penuaan dan depresi berat. Penelitian menunjukkan bahwa enzim telomerase dalam sel menjaga sel tetap muda dengan cara mempertahankan panjang telomere. Dan peneliti di UCLA menemukan bahwa kortisol menekan kemampuan sel-sel immun mengaktifkan telomerase. Hal ini yang menerangkan mengapa sel-sel tubuh orang yang mengalami stress kronis memiliki “telomer yang pendek”, sehingga sel cepet tuek…dan otomatis tubuh pemilik sel tsb juga deh.

Gambar ini menerangkan apa itu sel, nukleus, kromosom, telomere...

 


 

Bagaimana sel bisa mati?

Proses kehidupan dalam sel membutuhkan atmosfer spesial, dan dipertahankan berkat pertolongan enzim-enzim oksidatif(superoxide desmutases, catalases, glutathione peroxidases dan peroxiredoxins) dalam jumlah banyak. Beberapa molekul antioksidan juga berperan seperti asam askorbat(vitamin C), tocopherol(vitamin E) dan glutathione. Kedengarannya abstrak ya, tetapi hal-hal tadi ada di sekitar kita kok, buktinya, coba ingat waktu kita menggigit apel, warnanya cepat berubah menjadi coklat kan, ini disebabkan oksigen(sebagai akseptor hydrogen) di udara bereaksi dengan komponen fenol dalam apel yang notabene merupakan zat antioksidan. So what.....banyak-banyak makan antioksidan dong, supaya sel tidak cepat mati.

ROS(Reactive Oxygen Species) adalah radikal-radikal bebas, merupakan molekul-molekul yang sangat kecil yang terdiri dari ion oksigen dan peroksida, bisa organik dan anorganik. Mereka sangat reaktif terhadap elektron-elektron yang tidak berpasangan....seperti cerita apel tadi. Sebenarnya ROS adalah produk metabolisme normal dalam sel dan berperan penting pada ”sinyal sel”. Tapi pada kondisi (misal stres, kondisi sangat panas, paparan radiasi) jumlah ROS dapat meningkat secara dramatis, yang menyebabkan kerusakan struktur sel. Penumpukan ROS inilah yang disebut kondisi stres oksidatif. Memang ROS berperan pada proses apoptosis(program kematian sel), tapi ROS juga punya efek positif yaitu merangsang mekanisme pertahanan tubuh bekerja. Tapi jika terjadi penumpukan ROS dalam jumlah banyak dalam sel dapat menyebabkan penyakit degeneratif, seperti arteriosklerosis, diabetes, stroke, Alzheimer’s dan Parkinson’s, dll, dimana semua ini terkait dengan proses penuaan sel-sel tubuh karena ROS merusak DNA dan RNA.

 

Penelitian pada pasien-pasien dengan melihat perfusi jaringan otak, maksudnya aliran darah pada otak pasien-pasien depresi, ditemukan kondisi aliran darah yang menurun pada daerah kortikal pada area-area otak tertentu. Dan pada penderita schizophrenia aliran darah ini secara signifikan sangat menurun. Daerah korteks prefrontal otak sisi dorsolateral dikenal sebagai area “intelegensi superior”, dan pada pasien-pasien depresi yang mengalami “serangan stres” area ini bisa “tidak berfungsi sementara”, dimana seharusnya pada orang normal perfusi ke area ini justru meningkat.

Jadi jika kekhawatiran dan stress membuat kita terpuruk........lebih baik bikin orang lain stres aja deh.....sederhana kan...tapi vital...hehehe

 

Sumber:www.zhengshuntyre. \n This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

www.alasbimnjournal.cl/revistas/3/pradoia.htm: COMPARATIVE FUNCTIONAL STUDY OF TWO PSYCHIATRIC PATHOLOGIES BY MEANS OF BRAINSPECT TC 99 HMPAO: MAJOR DEPRESSION AND BORDERLINE PERSONALITY DISORDER.

 


 

Add comment

ditunggu comment nya...