HAK-HAK PASIEN

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 2
PoorBest 

Sebenarnya soal hak-hak pasien sudah sering kita dengar, bukan saja hak-hak sebagai pasien, tapi hak-hak sebagai konsumen juga bikin puyeng dan sakit hati kalau dibicarakan.

 

Saya baru beli TV umur 3 hari tapi sudah tidak bisa dinyalakan, setelah saya komplain akhirnya tetep saja harus keluar uang dan akhirnya TV rusak sama sekali. Beli handphone merek terkenal, eh baru 2 bulan sudah turun mesin. Memang sampai beres tidak keluar uang, tapi kan nomor serinya jadi berbeda. Dan jadi jatuh harganya waktu saya jual. Beli mesin cuci juga merek terkenal, umur 3 bulan mogok, waktu dibetulkan ternyata ada beberapa peralatan yang perlu diganti. Memang servis tidak bayar, tapi masak onderdil mesin cuci merek terkenal cuma kuat 3 bulan sih, musti bayar lagi untuk onderdil ini?. Sebenarnya kan logikanya barang-barang itu seharusnya termasuk yang cacat pabrik dan mustinya tidak dijual?. Ya ini sekedar saya keluar unek unek juga kalau kita berada pada posisi yang "tidak berdaya" emang gak enak, dan kesannya yaaa harus terima saja.

Tidak bermaksud membandingkan permasalahan komplain-komplain diatas, emang bener sih dunia kesehatan memang sudah waktunya berbenah.

 

Pada dasarnya hak-hak pasien dapat dibagi dalam beberapa hal berikut ini:

 

1. Pasien berhak merasa nyaman selama dalam lingkup rumah sakit

Mulai dari loket pendaftaran yang harus antri, disini sering pasien atau keluarga gerah karena masalah menunggu, antri, belum lagi malpraktek2menghadapi petugas di loket?. Kemudian stres lagi menunggu dokter datang?. Iya kalau bisa ketemu dokter?. Banyak lo pasien yang sudah di-operasi tapi tidak pernah kenal dan lihat dokternya, nah?. Belum lagi melihat suasana di UGD yang mengerikan buat awam?. Kalau dirawat juga harus menghadapi dokter dan perawat yang tidak ramah?. Dan terakhir waktu membayar di kasir harus deg-degan menunggu petugas menghitung biaya berobat, jangan-jangan duit gak cukup?. Saya sering menunggu di kasir bengkel, sambil deg-deg plas takut duit di dompet gak cukup. Rasanya gak enak banget, apalagi pasien-pasien yang terpaksa sakit dan terpaksa keluar uang?

 

 

2. Pasien harus mengerti tentang penyakitnya

Masyarakat pada umumnya tidak mengerti tentang penyakit, parahnya lagi masyarakat kita belum terbiasa untuk membaca tentang penyakitnya, padahal sarana untuk itu sudah ada. Sebenarnya budaya untuk membaca ini sangat menolong untuk pasien dan juga nanti waktu berdiskusi dengan dokter jadi mudah. Gap komunikasi ini sangat sulit diatasi. Disini tugasnya dokter(bisa dibantu paramedis) untuk menerangkan pada pasien dan atau keluarga sampai mereka mengerti. Ini tidak mudah buat dokter apalagi buat pasien dan keluarga. Saya pernah kerja di RS.Pulomas Jakarta yang pasiennya banyak orang Korea dan juga pernah di RS.Bontang Kalimantan yang banyak bulenya, mereka selalu sudah mencari info tentang penyakitnya, sehingga diskusi jadi mudah. Ini penting karena jika pasien mengerti tentang penyakit membuat kerjasama dokter dan pasien mudah untuk menuju kesembuhan.

 

3. Pasien harus mengerti tentang pemeriksaan yang dilakukan terhadap dirinya.

Kalau saya bawa mobil ke bengkel dan tahu-tahu mereka membongkar mobil saya tanpa menerangkan apa-apa pada saya, sudah pasti mekanik-mekanik itu saya iris tipis-tipis hehehe. Begitu juga untuk pemeriksaan terhadap tubuh pasien, pemeriksaan darah, urin dan kotoran, pemeriksaan radiologi, atau pengambilan contoh jaringan tubuh.

Contohnya masalah mbak Prita. Salah satu keluhan Prita adalah mengenai pemeriksaan laboratorium darah, yaitu pemeriksaan trombosit untuk mendukung dugaan demam berdarah. Waktu dokter mulai menanyai riwayat keluhan panas dsb, sampai pemeriksaan fisik, dokter sudah bisa mulai menerangkan kepada pasien bahwa berdasarkan anamnesa(tanya-jawab) sampai pemeriksaan fisik diduga mbak Prita menderita demam berdarah(artikel tentang demam kok berdarah di bagian lain). Untuk mengecek kebenaran dugaan dokter kemudian dilakukan pemeriksaan darah. Hasil pemeriksaan kemudian diterangkan pada mbak Prita, disitu bisa ditunjukkan level kadar trombosit yang normal, karena di lembar pemeriksaan akan tertera kadar normalnya. Ini hak pasien, bahkan pasien seharusnya diberikan copy lembaran pemeriksaan sebagai dokumen pribadi tentang riwayat penyakit dalam hidupnya.

 

4. Pasien harus mengerti dan setuju tentang pengobatan dan tindakan terhadap dirinya, baru dokter boleh bertindak.

Tapi kalau ceritanya begini menurut anda bagaimana?. Once upon a time, ada seorang pasien yang sedang berobat, kemudian dokternya mengatakan akan memberi suntikan, nah kemudian si pasien tanpa ba-bi-bu lagi dan gak bilang setuju juga tapi langsung memelorotkan celananya dan langsung nungging alias pasrah untuk disuntik. La yang begini ini termasuk setuju kan ya biarpun dia gak ngomong setuju?.

Tapi banyak juga cerita pasien dimana pasien masih bingung dengan perlakuan yang diterimanya baik itu untuk pemeriksaan sampai tindakan operasi dan kesan yang saya tangkap mereka ini berada pada posisi dimana mereka tidak punya pilihan sehingga terpaksa menerima saja apapun yang akan dokter lakukan terhadap dirinya.

Karena posisi dan pengetahuannya, bagaimanapun dokter berkewajiban untuk membuat pasiennya mengerti tentang penyakitnya, tindakan dan segala konsekuensinya. Juga membantu pasien untuk bisa mengerti dan mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya sendiri atau keluarganya.

 

Jika intervensi medis sudah tidak bisa diharapkan karena kondisi penyakit sudah parah, pasien dan keluarga harus mendapat penjelasan.

Masalahnya memang dokter tidak boleh memberi harapan kosong, memang caranya harus bijak. Disini harus hati-hati kepada siapa dokter harus menerangkan kondisi penyakit penderita yang sudah parah. Dokter punya kewajiban untuk menerangkan kondisi penyakit hanya pada keluarga inti, hal ini terkait dengan hak-hak pasien atau kita para dokter malah bisa dianggap menyebarkan kondisi sakit pasien.

Saya lebih suka bicara yang sesungguhnya tentang kondisi pasien, walaupun hal itu sangat tidak enak dihadapi. Jika keluarga setuju baru kemudian saya bicara pada pasien, bahkan pada kebanyakan kasus, keluarga justru minta tolong saya untuk bicara pada penderita.

 

Saya pernah mengikuti seminar tentang mal-praktek, waktu itu bos-nya dari Lembaga Konsumen mengatakan bahwa keluhan dari pasien terhadap dokter hampir 90 persen adalah masalah komunikasi, dokter tidak cukup adequat bahkan tidak mengkomunikasikan tentang penyakit, obat-obatan dan tindakan yang akan dilakukan.

 

malpraktek1Kalau sudah begini, ingatan saya langsung pada masalah pelayanan di bidang lain juga dimana selalu saja masalah antara konsumen dan pemberi jasa banyak kusutnya dan ujung-ujungnya penyebabnya adalah masalah komunikasi ini. Atau memang kita perlu menambahkan mata pelajaran baru sejak sekolah dasar tentang komunikasi?. Karena memang seperti yang kita-kita semua sering alami dimanapun, kenapa ya kalau pelayanan itu menyangkut masalah komunikasi, di negeri ini kok banyak sekali masalahnya ya?. Apa memang bangsa kita tidak pintar berkomunikasi? Padahal problem komunikasi itu sebenarnya menunjukkan kita smart atau tidak lo, dan juga menunjukkan karakter kita. Jadi siapa yang salah?. Masak sih ini sisa-sisa mental jelek akibat penjajahan....no komeng deeeh.

 

Sumber Gambar: Internet

Add comment

ditunggu comment nya...