PEROKOK PASIF & KANKER

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 1
PoorBest 

Saya lupa kapan kejadiannya, duluuu sekali, saya pernah ngomel dengan orang yang duduk di sebelah saya di dalam angkot, yang lagi merokok, ehhh tau gak dia malah ngomel dan bilang gini. "Ya, mbak merokok aja biar risiko ditanggung bersama". Untung dulu itu saya masih polos(ckckck), coba sekarang ada yang ngomong seperti itu, ehmmm alamat tak bikin miskin tujuh turunan.

Atau mungkin ada yang pernah mendengar omongan seperti ini, yeee kan itu hak asasi, masing-masing orang kan berhak melakukan kesenangannya?". Hiiii, cepek deh.

Saya pernah mencoba merokok saking pengen tahu enaknya itu seperti apa?. Bolak balik saya coba, dan sampai saat ini saya bingung dan gak tahu nikmatnya merokok itu apa sehhh?.

 passive smoker

Asap rokok mengandung lebih dari 400 bahan kimia, dan 60 diantaranya diketahui sebagai penyebab kanker(karsinogenik). Dan menurut Cancer Research UK, perokok pasif beresiko 20-30 persen menderita kanker paru dibanding yang tidak terpapar. Dalam majalah BMJ 1997, Hackshaw dkk menganalisa 37 orang perokok pasif dan menemukan 24% kasus kanker paru meningkat pada perokok pasif. Bahkan Action on Smoking and Health (ASH) menemukan Tobacco Specific Carcinogens pada darah perokok pasif. Penelitian di St George's Medical School dan The Royal Free UCL Medical School di London, pada lebih dari 2000 pria usia 40 s/d 59 tahun menemukan konsentrasi nikotin dalam darah perokok pasif, dan terkait dengan 50-60% resiko penyakit jantung

Waktu rokok dibakar asapnya melepaskan nikotin 2 kali lipat, 60 kali lebih ammonia, dan 100 kali lebih bahan kimia yang menyebabkan kanker, dibanding yang dihisap perokok. Jadi sementara perokok menikmati kecanduan mereka, orang-orang di sekitarnya atau perokok pasif yang menerima akibat jeleknya.

Anak-anak dengan orang tua perokok akan menderita asthma, emfisema, dan pneumonia(infeksi paru) pada usia lebih dini. Kejadian pneumonia dan bronkhitis pada usia 1 tahun pertama hidupnya juga meningkat pada orang tua perokok. Penelitian yang dipublikasikan di Imperial College, London menduga keras bahwa salah satu penyebab 700 kematian bayi tiap tahun di UK adalah ibu dengan suami perokok.

Akibat paparan rokok bergejala memang hanya setelah bertahun-tahun kemudian, penelitian oleh Greece pada tahun 2000-2001 menemukan, resiko serangan jantung dan angina meningkat 15% setelah 5 tahun, tapi resiko naik dua kali lipat setelah 30 tahun terpapar. Yang perlu menjadi perhatian kita, apalagi baru akhir-akhir ini negara kita menerapkan area dilarang merokok di tempat-tempat umum, kematian akibat kanker diperkirakan 2 kali lipat terjadi di negara-negara berkembang pada 25 tahun mendatang, dan terutama disebabkan oleh rokok.

 

Coba sekarang kita belajar berhitung sebentar, temen-temen di sekitar saya mengaku mulai merokok di usia sekitar 13 tahun. Kalau 1 bungkus rokok seharga 10 ribu rupiah, dan rata-rata merokok 1 bungkus perhari, dan anggap saja merokok tiap hari(kan kecanduan?). Maka 1 bulan keluar uang 300 ribu, dan 1 tahun keluar uang 3,6 juta rupiah. Jadi sampai usia 30 tahun mereka-mereka para pecandu rokok sudah mengeluarkan uang sekitar 61 juta rupiah. Kenapa saya pakai umur 30 tahun?

Kata orang kan umur 30 tahun idealnya sudah punya rumah? Nah, jadi deh uang segitu bisa buat uang muka rumah kan? 

Coba kalau gak nabung, udah harus keluar 61 juta rupiah, terus sakit jantung, kanker paru dll, akhirnya keluar duit lagi deh. Dan kalau sudah sakit yang 2 macem tadi pasti keluar uang diatas 61 juta rupiah lo.

Saya jadi ingat suami dari sepupu saya, dia perokok berat sampai akhirnya sakit paru-paru dan akhirnya menderita kanker paru dan sekarang sudah meninggal. Saking tidak bisa lepas dari rokok, dengan teganya dia bilang sama istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil begini, aku tidak punya kesenangan lain, kesenanganku ya cuma merokok, masak bapak gak boleh merokok, bapak kan gak melakukan hal yang aneh-aneh, duhhh.

Melepas kebiasaan yang sudah melekat erat memang perlu perjuangan, tapi kalau kita menyadari hal tersebut untuk keluarga kita, tentunya buahnya akan terasa manis bukan, ciyeeee, see u.

 

Sumber: British Medical Journal(DOI: 10.1136/bmj.38146.427188.55), 1977

Sumber Gambar: Internet(Labeled for reuse*)

Flash: Koleksi Pribadi

Add comment

ditunggu comment nya...