OBAT-OBAT EMERGENSI UNTUK PANDEMI?

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

User Rating: / 0
PoorBest 

PANDEMI…begitu mendengar kata “PANDEMI”...ini artinya NEGARA harus menyiapkan sesegera mungkin terutamanya aspek kesehatan & ini berarti banyak negara bahkan seluruh dunia melakukan hal yang seragam. Pandemi juga sekaligus menguji SISTEM KESEHATAN suatu negara, bagaimana infrastrukturnya: fisik, tenaga kesehatan, ketersediaan alat-alat kesehatan, obat-obatan secara cepat & dalam jumlah banyak. Karena pandemi juga artinya bicara tentang KORBAN YANG TIDAK SEDIKIT yang disebabkan paparan yang cepat & masif.

 

Begitu WHO mengumumkan pandemi di awal tahun lalu, peneliti-peneliti dunia berkumpul di Wuhan untuk merumuskan & mengidentifikasi obat apa aja(yg sudah ada) yang bisa dimasukkan dalam uji klinis. Disebut “repositioning drug for covid-19”, karena kalau harus MEMBUAT OBAT BARU BUTUH WAKTU LAMA. Uji klinik dikerjakan di Wuhan karena awal korban ada di Wuhan, tapi kemudian uji klinik dilakukan di banyak negara karena covid-19 melintas antar negara.

 

Puluhan obat masuk dalam uji klinik yang mengacu pada SARS-CoV, karena secara homologi virus ini serupa. Ingat, hanya MENGACU PADA TERAPI SARS-CoV, ingat juga SARS-CoV & SARS-CoV-2 tidak identik, jadi bisa saja di ujung penelitian obat-obatan yang masuk dalam uji klinik tidak bermanfaat atau bermanfaat. Yang tidak bermanfaat pasti dikeluarkan dari daftar obat untuk covid-19, & obat lain yang teridentifikasi lebih potensial masuk dalam daftar uji klinik.

 

Identifikasi obat didasarkan juga pada data klinis dari pasien-pasien covid-19 yang parah disebabkan adanya RESPON INFLAMASI yang meningkat & adanya PROKOGULAN, ini berarti bahwa STRATEGI HARUS MELAMPAUI AGENT ANTI VIRUS. Akhirnya beberapa target obat yang SUDAH ADA & potensial diidentifikasi & menjadi fokus penyelidikan laboratorium & klinis. Kemudian dilakukan trial pada hewan & dilanjutkan uji klinis.

 

 

INI DAFTAR OBAT-OBATAN LAMA YANG MASUK DALAM UJI KLINIK UNTUK COVID-19

1. CLOROQUINE, ditemukan tahun 1934 oleh Hans Andersag, mulai dipakai sejak tahun 1940 untuk anti malaria & autoimmun selama bertahun-tahun, karena bersifat imunomodulator obat ini diusulkan untuk masuk dalam uji klinik.

https://www.britannica.com/science/chloroquine

 

2. AVIGAN (favipiravir), diproduksi & dipasarkan di Jepang sejak tahun 2014 sebagai obat flu kuat sehingga masuk dalam uji klinik.

https://www.precisionvaccinations.com/vaccines/avigan-antiviral-medication

 

3. REMDESIVIR (GS-5734), dibuat oleh Gilead Sciences, USA, awal peruntukannya untuk Ebola Virus yang merebak di tahun 2014, merupakan obat antivirus spektrum luas yang  menunjukkan aktivitas melawan virus asam ribonukleat (RNA) dari beberapa keluarga, termasuk Coronaviridae (seperti SARS-CoV, MERS-CoV), Paramyxoviridae & Filoviridae.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7202249//

 

4. HYDROXYCHLOROQUINE, dipakai  sejak tahun 1950 untuk obat anti malaria, bersifat anti inflamasi & immunomodulator sehingga juga dipakai untuk terapi rhematik, lupus dll, sehingga masuk dalam uji klinik.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7543820/

 

5. OSELTAMIVIR(tamiflu), buatan Roche, mulai dipakai tahun 1999, mengobati influenza A & B, pneumonia atipikal yang disebabkan oleh SARS-CoV yang mewabah di Guangzhou, Cina, pada tahun 2003.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7463036/

 CT1 CT2

 

 

6. AZITHROMYCIN, dibuat di Pliva, Rusia tahun 1981, broad spectrum anti-bacterial, anti-virus, anti inflamasi & immunomodulator

https://www.researchgate.net/publication/286136408_The_Story_of_Azithromycin

 

7. ARBIDOL(umifenovir), buatan Pharmstandard Rusia, broad-spectrum anti-viral(RNA & DNA) & profilaksis terhadap flu, dipakai di Russia sejak tahun 1993 & juga di China sejak 2006, juga sebagai anti virus pada Hepatitis B,C, DHF, Enchephalitis, Ebola, Zicca & Gastroenteritis

https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33317461/

 

8. BEVACIZUMAB(Avastin), produksi Genentech-Roche pada tahun 2004, untuk terapi kanker & bersifat anti-VEGF antibody.

https://www.drugs.com/history/avastin.html

 

9. TCM (Traditional Chinesse Medicine), Human Immunoglobulin, Plasma Konvalesen, Methyl Prednisolone,  VIT C, D, Zinc, Bromhexine Hydrochloride, obat-obat ini juga masuk dalam uji klinik….dll obat, lihat tabel.

 

 CT3 CT4

 

 

Setelah 1 1/2 tahun pandemi & uji klinis berlalu, obat-obat yang menunjukkan perbaikan klinis pasien teridentifikasi sehingga beberapa kandidat obat dikeluarkan & kandidat obat lain ditambahkan. 

Obat-obatan ini kemudian dipakai oleh masyarakat tapi tetap dengan kaidah emergensi atas rekomendasi WHO, tapi masyarakat yang tidak tahu dunia penelitian berpikir kalau “manusia kok dijadikan percobaan”?. Nah, justru memang obat yang ada di dunia ini selalu lewat "coba-coba" alias uji klinik. Justru karena pakai uji klinik inilah pembuatan obat perlu waktu lama.  

Tentang tahapan pembuatan obat/vaksin bisa dibaca disini, memang buth waktu lama karena ini bicara tentang kepastian fungsi & keamanannya. http://www.trensehat.com/index.php?option=com_content&view=article&id=97:perjalanan-obat&catid=40:obatracun&Itemid=62 

 

Pernah dengar tentang uji klinik pada relawan di UK yang dibayar 60 juta?, memang seperti ini dunia penelitian, uji klinik ini diperlukan dalam rangka produksi obat, tapi uji dilakukan dengan INFORMED CONCENT KETAT.

Jadi logis kalau kita mendengar tentang beberapa obat seperti chloroquine, azithromycin & oseltamivir kemudian diberi catatan khusus tentang penggunaannya, yaitu harus dengan indikasi kuat & hanya boleh digunakan dengan resep dokter. Ini disimpulkan dari hasil pengamatan & pemeriksaan penunjang(radiologi, laboratorium) pada pasien-pasien selama penelitian dalam uji klinik.

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7105280/


 

 

 

Add comment

ditunggu comment nya...