![]()
π Tentang Artikel Ini: Tentang bagaimana sebuah negara komunis justru bisa menjadi salah satu pemain paling lihai dalam menggunakan mesin kapitalisme?. Tiongkok tetap dipimpin Partai Komunis, tetapi otot ekonominya memberi ruang besar bagi pasar, perusahaan swasta, investasi, laba dan persaingan. Bagaimana βotak sosialisβ membangun otot manufaktur yang kini menjadi terbesar di dunia?π
π Kategori: Bloomberg versi medis
π Ditulis pertama kali: 11 September 2026
π Referensi utama: UNIDO β International Yearbook of Industrial Statistics 2024β . https://stat.unido.org/publications/international-yearbook-industrial-statistics-2024
πΌοΈ Gambar: Deng & Carter di White House β Library of Congress. https://www.loc.gov/pictures/resource/ppmsca.56538/.
Kalau sebuah negara memiliki perusahaan swasta, miliarder, bursa saham, investasi asing, persaingan usaha, mencari laba dan akumulasi modal, kita akan menyebut sistem ekonominya apa?
Kapitalisme?
Ehm⦠tunggu dulu.
Negara yang kita bicarakan adalah Republik Rakyat Tiongkok, negara yang dipimpin oleh Partai Komunis Tiongkok.
Kedengarannya bertentangan, tapi justru di situlah cerita menariknya dimulai.
OTAKNYA TETAP SOSIALIS
Secara resmi, Tiongkok tidak pernah mengatakan dirinya negara kapitalis. Konstitusinya menyebut sistem yang dianut sebagai socialist market economy.
Negara tetap mempunyai kekuasaan yang sangat besar. Sektor-sektor strategis, perusahaan milik negara, sistem keuangan dan arah pembangunan nasional tidak dilepas begitu saja kepada pasar.
Dengan kata lain, otaknya tetap berada di Beijing.
Tetapi coba turun sedikit ke bawah.
Lihat ototnya.
OTOTNYA BEKERJA DENGAN PASAR
Seorang warga Tiongkok boleh mendirikan perusahaan. Perusahaan itu boleh mencari keuntungan, dan boleh bersaing dengan perusahaan lain, mempekerjakan pekerja, memperoleh investasi, menjual produknya ke luar negeri, memperoleh laba, lalu menanamkan kembali laba itu untuk memperbesar usahanya.
Investor asing pun masuk, ada Shanghai Stock Exchange dan Shenzhen Stock Exchange. Ada perusahaan swasta raksasa dan ada orang yang menjadi sangat kaya karena memiliki saham dan perusahaan. Pasar, modal, profit, kompetisi, investasi dan akumulasi kekayaan bekerja di dalamnya.
Kalau kita mengabaikan sebentar nama ideologinya dan hanya melihat mesin ekonominya, banyak bagian mesin itu tentu terasa sangat akrab dengan kapitalisme.
Trus kok bisa negara komunis bisa sampai di sini?
KUCING YANG BISA MENANGKAP TIKUS π
Jawabannya membawa kita kembali ke akhir 1970-an dan seorang lelaki bernama Deng Xiaoping.
Sebuah ungkapan terkenal dikaitkan dengan dia: βtidak penting apakah kucing itu hitam atau putih, selama bisa menangkap tikus, ia adalah kucing yang baik.β
Pesannya sederhana: hasil lebih penting daripada kemurnian label.
Sejak reformasi ekonomi dimulai pada 1978, ruang bagi mekanisme pasar perlahan dibuka. Investasi asing diundang. Special Economic Zones dibentuk, usaha non-negara berkembang, dan salah satu laboratorium terbesarnya bernama Shenzhenβ¦.

Setahun kemudian, pada Januari 1979, Deng Xiaoping terbang ke Amerika Serikat dan bertemu Presiden Jimmy Carter di Gedung Putih. Kunjungan itu terjadi hanya beberapa minggu setelah hubungan diplomatik resmi kedua negara dimulaiβsebuah pemandangan yang beberapa tahun sebelumnya sulit dibayangkan.
Tiongkok belum menjadi kapitalis. Tetapi pintu menuju modal, teknologi dan dunia bisnis Barat mulai dibuka. Dan kunjungan itu memang bukan acara diplomatik saja, Deng pergi ke Atlanta, Houston, dan Seattle, melihat fasilitas industri/teknologi Amerika.
LALU OTOT ITU MEMBESAR
Hasil akhirnya sulit disebut kecil.
Menurut data UNIDO, pada 1990 Tiongkok menyumbang sekitar 3% manufacturing value added dunia. Pada 2023: 31,8%, Amerika Serikat sekitar 15%. Artinya, berdasarkan ukuran tersebut, output manufaktur Tiongkok sudah lebih dari dua kali Amerika Serikat.
Negara yang beberapa dekade sebelumnya baru membuka pintu bagi modal dan teknologi asing kini menjadi pusat manufaktur terbesar dunia.

Jadi, apakah Tiongkok sebenarnya kapitalis?
Jawabannya lebih menarik daripada sekadar ya atau tidak. Tiongkok tidak membuang sosialisme lalu berubah menjadi negara kapitalis liberal seperti Amerika. Negara dan Partai tetap memegang kendali politik yang sangat kuat serta mempertahankan pengaruh besar pada sektor-sektor strategis. Tetapi Tiongkok juga tidak menjalankan ekonomi komando tertutup seperti pada masa Mao.
Yang mereka bangun adalah sesuatu yang lebih pragmatis: negara memegang kemudi dan pasar diberi otot untuk berlari – dan ternyata otot itu berlari sangat jauh.
Sampai akhirnya muncul pertanyaan yang lebih menggelitik:
Bagaimana sebuah negara komunis justru bisa menjadi salah satu pemain paling lihai dalam menggunakan mesin kapitalisme?
Untuk menjawabnya, kita harus kembali ke tahun 1978.
Dan mengikuti seekor kucing ke Xiaogang, TVE dan Shenzhen π¨π³
β Bersambung: Seri 2, Kucing Deng Turun ke Sawahπ
