![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Di sebuah benteng terpencil di Teluk Finlandia, para ilmuwan Rusia meneliti bakteri pes dan mengembangkan serum untuk melawan penyakit mematikan itu. Namun, penelitian tersebut menuntut pengorbanan. Dua dokter meninggal akibat infeksi laboratorium pada 1904 dan 1907. Inilah kisah Fort Alexander I, tempat ilmu pengetahuan, keberanian, dan bahaya bertemu.
📁 Kategori: Kisah yang Mengubah Dunia
📅 Ditulis pertama kali: 14 Oktober 2026
📚 Referensi utama: A. Melikishvili — Genesis of the Anti-Plague System: The Tsarist Period.
🖼️ Foto-foto: Public Domain, Link YouTube: Koleksi Pribadi
Fort Alexander I: Ketika Pemburu Pes Menjadi Korban
Prolog — Benteng di Tengah Laut
Teluk Finlandia, penghujung abad ke-19
Angin Baltik menyapu permukaan laut yang dingin dan kelabu. Di kejauhan, sebuah bangunan bata merah berdiri sendirian di atas pulau buatan, sengaja diasingkan dari dunia manusia?. Dindingnya tebal, jendela-jendelanya berderet dalam lengkungan yang hampir seragam. Dari laut, bangunan itu lebih menyerupai penjara daripada tempat pengetahuan.
Namanya Fort Alexander I
Benteng pertahanan yang dibangun Kekaisaran Rusia pada pertengahan abad ke-19 itu semula dirancang untuk menghadapi musuh yang datang menggunakan kapal perang. Tetapi menjelang pergantian abad, Rusia memutuskan bahwa benteng tersebut harus menghadapi musuh yang jauh lebih kecil. Musuh yang tidak perlu meriam, tidak punya seragam, dan bahkan tidak peduli pada kekuasaan seorang tsar hehehe….
Bakteri pes.
Di balik dinding benteng yang dingin itu, para dokter dan peneliti berusaha memahami penyakit yang selama berabad-abad telah membunuh jutaan manusia. Mereka membawa mikroskop, hewan percobaan, kultur bakteri, dan harapan bahwa ilmu pengetahuan akhirnya dapat mengalahkan salah satu pembunuh tertua dalam sejarah.

Alexander I Fort
This file is licensed under the Creative Commons Attribution-Share Alike 3.0 Unported license. https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Alexander_I_fort,_2013.jpg
Namun, ada satu persoalan.
Musuh yang mereka pelajari ternyata juga mampu membunuh orang yang mempelajarinya.
Dan beberapa tahun kemudian, benteng itu benar-benar kehilangan ilmuwannya sendiri.
1. Mengapa Laboratorium Pes Harus Berada di Tengah Laut?
Kalau kita membayangkan laboratorium mikrobiologi modern. Kita membayangkan ruang bertekanan negatif, kabinet biosafety, sistem ventilasi khusus, alat pelindung diri, serta prosedur ketat untuk menangani mikroorganisme berbahaya.
Tapi tunggu dulu – sekarang putar mesin waktu kembali ke tahun 1899.
Bakteri penyebab pes baru diidentifikasi tahun1894. Pengetahuan tentang cara penularan penyakit itu sedang berkembang, sementara teknologi keselamatan laboratorium masih jauh dari standar masa kini. Rusia membutuhkan tempat khusus untuk mempelajari pes dan mengembangkan upaya pencegahannya.
Pilihan jatuh pada Fort Alexander I, benteng laut di dekat Kronstadt, tidak jauh dari St. Petersburg. Lokasinya menawarkan keuntungan yang sangat penting: isolasi geografis.
Jika terjadi kecelakaan laboratorium, benteng yang terpisah dari permukiman dianggap dapat membantu membatasi risiko penyebaran penyakit. Bangunan itu sudah memiliki dinding kuat, ruang-ruang luas, dan akses yang dapat dikendalikan. Pada 1899, benteng ini mulai digunakan sebagai laboratorium khusus untuk penelitian pes dan pengembangan preparat antipes. Dalam sejarah Rusia, fasilitas tersebut kemudian terkenal dengan julukan: Plague Fort — Benteng Pes.
Tetapi laboratorium itu bukan bangunan yang tiba-tiba muncul dari kehampaan.
Di belakangnya terdapat jaringan ilmuwan, lembaga kedokteran, dan tradisi penelitian sejak masa Peter Agung dalam Seri I.
Dua abad pendidikan akhirnya menemukan salah satu medan uji yang paling berbahaya.
2. Dari Meriam ke Mikroskop
Benteng Alexander I selesai dibangun pada tahun 1845. Tapi ketika teknologi persenjataan berkembang, nilai militernya perlahan menurun. Pada akhir abad ke-19, bangunan tersebut mendapatkan kehidupan baru, tapi mengubah benteng menjadi laboratorium bukan pekerjaan sederhana. Lubang-lubang meriam harus diadaptasi menjadi jendela. Ruangan disiapkan untuk penelitian, pemeliharaan hewan, tempat tinggal staf, serta pembuangan bahan yang berpotensi menular. Bahkan ada kandang kuda dan fasilitas pembakaran limbah biologis.
Kuda?
Lho, kita sedang membicarakan pes. Kenapa mendadak ada kuda? 🤭
Karena sebelum antibiotik tersedia, salah satu harapan terbesar para ilmuwan adalah serum antipes.
Ini prinsip imunologi: hewan yang diimunisasi dapat menghasilkan antibodi terhadap antigen tertentu. Serum yang mengandung antibodi dapat dipelajari dan digunakan sebagai upaya pengobatan pasif. Kuda jadi pilihan karena ukuran tubuhnya memungkinkan pengambilan serum dalam jumlah besar.
Laboratorium ini tidak sekadar meneliti bakteri, tapi juga berfungsi sebagai tempat produksi preparat biologis. Dukungan finansial dan politik dari Pangeran Alexander Petrovich dari Oldenburg sangat menentukan. Dia merupakan tokoh penting di balik Imperial Institute of Experimental Medicine dan komisi Rusia untuk pencegahan pes. Bahkan, menurut Museum Sejarah Kedokteran Pauls Stradiņš, Oldenburg menyumbangkan seratus kuda dari kandang pribadinya, sedangkan serum awal untuk memulai pekerjaan didatangkan dari Institut Pasteur di Paris.
Di sinilah kita melihat sesuatu yang menarik.
Rusia memang memiliki ilmuwan dan lembaganya sendiri, tetapi tidak membangun penelitian pes dengan menutup pintu terhadap dunia. Ilmu pengetahuan bergerak melintasi perbatasan, bahkan ketika penyakit yang dipelajarinya juga melintasi perbatasan.
3. Siapa yang Menemukan Bakteri Pes?
Sebelum melanjutkan kisah benteng, kita perlu mundur sebentar ke Hong Kong.
Tahun 1894, wabah pes sedang berlangsung. Dua peneliti, Alexandre Yersin dan Kitasato Shibasaburō, melakukan penyelidikan terhadap bakteri penyebab penyakit tersebut. Yersin berhasil mengidentifikasi organisme yang kemudian dikenal sebagai Yersinia pestis.
Nama bakteri itu sendiri menjadi penghormatan kepada Yersin.
Penemuan tersebut mengubah arah penelitian pes.
Sebelumnya, dokter dapat mengenali gejala klinis dan pola wabah, tetapi belum memiliki pemahaman mikrobiologis yang memadai tentang penyebabnya. Sekarang mereka memiliki sasaran yang lebih jelas. Bakteri dapat diamati, dikultur, dipelajari sifatnya, dan digunakan dalam penelitian vaksin maupun serum.
Tetapi menemukan penyebab penyakit tidak sama dengan langsung mengetahui seluruh cara penularannya. Hubungan antara tikus, pinjal, dan manusia masih harus dibuktikan melalui penelitian epidemiologi dan eksperimen. Dan justru di sinilah seekor tikus mulai mendapatkan peran yang jauh lebih penting daripada sekadar menjadi penumpang gelap kereta Siberia.
4. Tikus, Pinjal, dan Penumpang Gelap
Dalam kisah fiksi pembuka di seri 1, seekor tikus bersembunyi di antara karung dalam gerbong kereta. Tetapi dalam epidemiologi pes, persoalannya jauh lebih rumit daripada sekadar tikus yang ikut bepergian. Yersinia pestis punya siklus alami pada berbagai populasi rodensia liar dan pinjal yang hidup sebagai parasitnya.
Salah satu jalur penularan yang paling dikenal, pinjal mengisap darah rodensia yang terinfeksi, lalu menularkan bakteri ketika menggigit inang lain, termasuk manusia. Jadi, tikus tidak selalu menjadi penular langsung. Sering kali justru pinjal yang menjadi penghubung antara hewan dan manusia. Hubungan tersebut mulai dipahami di akhir abad ke-19. Tahun 1898, Paul-Louis Simond menunjukkan peranan pinjal dalam penularan pes melalui penelitian di India.

Pinjal tikus (Xenopsylla cheopis)
Salah satu vektor utama bakteri Yersinia pestis penyebab pes. Foto mikroskopis: CDC/Dr. Pratt, Public Health Image Library, ID 2069 (1948). Public domain.
https://wwwn.cdc.gov/phil/Details.aspx?pid=2069
Tetapi kita perlu menghindari satu kesalahan yang sering muncul dalam cerita populer: tidak semua tikus membawa pes, dan tidak semua wabah pes berasal dari tikus rumah. Di berbagai wilayah dunia, bakteri tersebut dapat bertahan dalam ekosistem rodensia liar selama waktu yang panjang.
Itulah salah satu alasan mengapa pes begitu sulit dihilangkan sepenuhnya. Manusia bisa mengendalikan wabah. Kota dapat memperbaiki sanitasi. Perdagangan dapat diawasi.
Tapi kita tidak bisa begitu saja menghapus seluruh siklus ekologis bakteri yang berlangsung di alam.
Dan di wilayah Eurasia yang luas, pertanyaan itu menjadi semakin penting.
Di manakah bakteri bersembunyi ketika tidak ada wabah pada manusia?
Hewan apa yang mempertahankan keberadaannya?
Bagaimana sebuah infeksi dari kawasan terpencil dapat mencapai permukiman, kota perdagangan, atau jalur kereta?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang kelak membawa penelitian pes Rusia jauh melampaui dinding Fort Alexander I.
5. Tahun 1904 — Dokter yang Tidak Pernah Pulang
Benteng Alexander I memang terisolasi dari daratan.
Tetapi laut tidak dapat melindungi seseorang dari bakteri yang sudah berada di dalam laboratoriumnya sendiri. Pada 1904, Vladislav Turchinovich-Vyzhnikevich, dokter hewan dan kepala laboratorium antipes di benteng itu, tertular pes ketika bekerja. Ia meninggal akibat infeksi tersebut.
Seorang asisten laboratorium bernama S. Poplavsky juga terinfeksi, tetapi berhasil pulih.
Tiga tahun kemudian, tragedi serupa kembali terjadi.
Pada 1907, dokter Manuel F. Schreiber meninggal akibat pes setelah bekerja di fasilitas yang sama. Dokter Lev Padlevsky juga terinfeksi dalam kejadian tersebut, tetapi selamat.
Dengan demikian, menurut catatan Museum Sejarah Kedokteran Pauls Stradiņš, terdapat dua kematian dan dua orang yang pulih dalam kejadian infeksi laboratorium tersebut.
Sumber sejarah yang tersedia tidak cukup untuk memastikan mekanisme pajanan secara spesifik pada masing-masing kasus. Fakta bahwa para ilmuwan tersebut meninggal akibat infeksi yang mereka teliti sudah cukup mengerikan. Apalagi pada masa itu belum tersedia antibiotik efektif seperti yang digunakan untuk mengobati pes sekarang.
Kematian mereka memperlihatkan paradoks penelitian penyakit menular. Untuk melindungi masyarakat, ilmuwan harus mempelajari mikroorganisme yang berbahaya. Tetapi semakin dekat mereka bekerja dengan patogen, semakin penting pula perlindungan terhadap diri mereka sendiri. Karena pengetahuan dapat berkembang lebih cepat daripada teknologi keselamatan yang dibutuhkan.
6. Kapal Bernama Microbe
Ada detail sejarah yang rasanya terlalu menarik untuk dilewatkan.
Fort Alexander I tidak memiliki jalan darat menuju Kronstadt. Transportasi staf, makanan, dan kebutuhan laboratorium dilakukan melalui laut. Pada awalnya, hubungan itu dilayani kapal bernama Alexander I. Belakangan digunakan kapal uap kecil dengan nama yang sangat sesuai dengan pekerjaan para penumpangnya: Microbe.
Iya. Kapal bernama Mikroba! 😂
Pengiriman barang pun diatur untuk membatasi kontak. Bahan makanan dapat ditinggalkan di dermaga dan baru diambil oleh penghuni benteng setelah kapal pengantar pergi. Limbah manusia dan hewan juga ditangani dengan tindakan pencegahan khusus.
Bayangkan kehidupan para peneliti di sana.
Mereka bekerja dengan mikroorganisme berbahaya, jauh dari kehidupan kota, sementara hubungan dengan dunia luar bergantung pada kapal kecil yang melintasi perairan Baltik.
Tetapi benteng itu bukan hanya tempat orang bekerja dalam ketakutan. Dokumentasi sejarah memperlihatkan kehidupan ilmiah yang aktif: penelitian, pelatihan, kunjungan ilmuwan, dan produksi serum. Benteng tersebut juga menjadi salah satu simpul dalam jaringan penelitian pes Rusia yang lebih luas, termasuk ekspedisi ke kawasan Asia Tengah dan Transbaikalia.
Di sini, warisan Seri I kembali terlihat.
Sebuah sekolah kedokteran melahirkan dokter. Universitas melahirkan peneliti. Lembaga penelitian membangun keahlian. Lalu, ketika wabah mengancam, pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk membentuk jaringan yang bergerak melampaui satu kota.
7. Benteng Itu Akhirnya Ditinggalkan
Fort Alexander I beroperasi sebagai laboratorium antipes sejak 1899 hingga pergolakan revolusi Rusia pada 1917–1918. Ketika kegiatan laboratorium berakhir, pekerjaan dan sebagian sumber dayanya dialihkan ke lembaga lain, termasuk pusat penelitian di Saratov yang kemudian dikenal sebagai Institut Mikrob.
Benteng tersebut kehilangan fungsi ilmiahnya, tapi gagasan di belakangnya tidak ikut hilang. Rusia telah membangun tradisi penelitian pes yang mencakup pendidikan dokter, bakteriologi, penelitian lapangan, produksi preparat biologis, dan pengawasan penyakit di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat pemerintahan.
Kelak, jaringan antipes itu berkembang lebih jauh pada masa Soviet.
Memang sejarahnya tidak selalu lurus atau tanpa kesalahan. Ada korban, keterbatasan teknologi, perubahan politik, dan berbagai persoalan kelembagaan. Tetapi ada kesinambungan penting yang dapat kita lihat. Sebuah bangunan boleh berhenti digunakan. Pengetahuan dan manusia yang pernah bekerja di dalamnya dapat meneruskan pekerjaan itu ke tempat lain.
Epilog — Jejak di Rel Kereta
Kita kembali ke gerbong kereta yang melintasi Siberia.
Dug… dug… dug…
Roda besi menghantam sambungan rel. Di antara karung-karung yang bergoyang, seekor tikus bergerak mencari tempat berlindung. Ia tidak tahu bahwa manusia telah menemukan bakteri penyebab pes. Ia juga tidak tahu bahwa di sebuah benteng di Teluk Finlandia, para ilmuwan mempertaruhkan nyawa untuk mempelajari penyakit tersebut.
Namun ada sesuatu yang bahkan lebih menarik daripada seekor tikus di dalam gerbong.
Di padang rumput Mongolia dan kawasan Manchuria, hidup rodensia lain yang memiliki hubungan panjang dengan sejarah pes. Hewan itu bukan tikus rumah.
Ia adalah marmot tarbagan.
Dan ketika wabah pneumonia pes melanda Manchuria pada 1910–1911, jalur kereta, mobilitas manusia, perdagangan, dan pengetahuan epidemiologi akan bertemu dalam salah satu krisis kesehatan paling mengerikan pada awal abad ke-20.
Kali ini, penumpang yang paling berbahaya bukanlah tikus yang bersembunyi di antara karung. Melainkan manusia yang telah terinfeksi dan masih mampu menaiki kereta.
MURDER ON THE SIBERIAN EXPRESS
SERI III — THE MARMOT
Manchuria, 1910–1911: Ketika Wabah Menumpang Kereta

