![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Tahun 1910, wabah pes pneumonik melanda Manchuria dan menewaskan puluhan ribu orang. Perdagangan bulu marmot, mobilitas pekerja, dan jaringan kereta api menjadi bagian dari kisah penyebarannya. Di tengah tragedi tersebut, dokter Wu Lien-teh memimpin upaya pengendalian melalui isolasi, karantina, dan penggunaan masker. Inilah kisah tentang wabah yang ikut mengubah sejarah kesehatan masyarakat Asia.
📁 Kategori: Kisah Yang Mengubah Dunia
📅 Ditulis pertama kali: 17 Oktober 2026
📚 Referensi utama: The Manchurian pandemic of pneumonic plague (1910–1911)
🖼️ Foto-foto: Public Domain, Ilustrasi AI
Manchuria, 1910–1911: Ketika Kematian Menumpang Kereta
Prolog — Pemburu di Padang Rumput
Manchuria, musim gugur 1910.
Angin dingin menyapu padang rumput yang mulai menguning.
Di kejauhan, seorang pemburu berjalan sambil mengamati tanah. Sesekali ia berhenti di dekat lubang yang tampak seperti pintu kecil menuju dunia bawah tanah….hiii
Di sanalah tarbagan tinggal.

Marmot bertubuh gemuk, lucu dengan bulu cokelat keemasan itu sudah lama dikenal masyarakat Mongolia dan kawasan sekitarnya. Mereka hidup berkoloni, menggali liang, dan menghabiskan sebagian hidupnya bersembunyi dari cuaca serta predator.
Tarbagan Mongolia (Marmota sibirica), salah satu rodensia liar yang berperan dalam ekologi alami penyakit pes di Asia Tengah. Foto: stevestevens / iNaturalist, Altanbulag, Mongolia (2025). Wikimedia Commons, CC0 1.0. Cropped.
Tapi pada awal abad ke-20, tarbagan bukan sekadar penghuni padang rumput, bulunya menjadi barang dagangan. Permintaan internasional terhadap bulu marmot mendorong aktivitas perburuan, termasuk oleh pendatang yang belum tentu memahami kebiasaan hewan itu ataupun bahaya penyakit yang dibawanya, sebagian bisa saja terinfeksi bakteri Yersinia pestis. Dan waktu manusia mulai berhubungan dekat dengan hewan-hewan itu, jalur penularan berbahaya terbuka.
Kita tidak tahu siapa manusia pertama yang terinfeksi waktu wabah Manchuria 1910. Kita juga tidak bisa memastikan satu pemburu tertentu memulai seluruh bencana. Tetapi yang diketahui sejarah jauh lebih mengerikan. Menjelang akhir 1910, penyakit yang mula-mula muncul di kawasan timur laut Asia itu berkembang menjadi wabah pes pneumonik yang menewaskan puluhan ribu orang.
Dan jalur kereta api membantu membawanya dari satu kota ke kota lain.
Dug… dug… dug…
Kali ini, kita tidak perlu mencari tikus di antara karung.
Penumpang yang membawa penyakit bisa duduk di sebelah manusia lain.
1. Bulu Marmot yang Menjadi Barang Mewah
Tarbagan (Marmota sibirica) adalah anggota keluarga tupai yang hidup di padang rumput Mongolia dan kawasan Asia utara. Penampilannya menggemaskan, tubuhnya gemuk, kaki pendek, dan ketika berdiri dengan dua kaki belakang, kelihatannya ia seperti sedang mengawasi tetangganya hihihi. Tetapi di balik penampilan lucu itu terdapat hubungan ekologis yang telah berlangsung lama antara marmot, pinjal, dan bakteri pes.
Tarbagan merupakan salah satu rodensia yang bisa terinfeksi Yersinia pestis di alam. Selama beberapa generasi, masyarakat setempat mengenal bahaya menangani marmot yang sakit. Pengetahuan tradisional itu tidak menjadikan mereka kebal terhadap penyakit, tetapi membantu mereka mengenali hewan yang sebaiknya dihindari.
Lalu datanglah perubahan ekonomi.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, perdagangan bulu internasional berkembang pesat. Bulu marmot dapat diolah dan diwarnai sehingga menyerupai bulu hewan lain yang lebih mahal. Permintaan tersebut menarik pemburu-pemburu ke kawasan Mongolia dan Manchuria. Sebagian datang dari wilayah Tiongkok yang lebih padat penduduk. Mereka mengejar penghasilan dari perdagangan bulu, tetapi tidak selalu memiliki pengalaman masyarakat setempat dalam mengenali marmot yang sakit.
Aktivitas berburu, menguliti, dan menangani bangkai membuat manusia terpapar bakteri. Di pondok-pondok pemburu, manusia tinggal berdekatan, terutama ketika cuaca mulai membeku. Kondisi ini jadi salah satu penjelasan historis mengenai bagaimana infeksi pes dapat berpindah dari lingkungan hewan liar menuju manusia. Namun, jalur pasti yang memulai wabah besar 1910 tidak pernah dapat direkonstruksi secara lengkap.
Dan di sinilah persoalannya berubah.
Selama bakteri berada dalam siklus rodensia dan pinjal, penularannya terutama berkaitan dengan ekologi hewan. Tapi waktu manusia mengalami pes pneumonik dan menularkannya kepada manusia lain melalui droplet pernapasan, penyakit itu memasuki babak yang jauh lebih berbahaya.
Marmot mungkin menjadi pintu masuk, tapi manusia kemudian menjadi penggerak utama wabah.
2. Ketika Pes Tidak Lagi Membutuhkan Pinjal
Kita sudah mengenal pes bubonik, bentuk penyakit yang biasanya ditandai pembengkakan kelenjar getah bening yang nyeri, disebut bubo. Tapi pes tidak selalu muncul sebagai penyakit kelenjar. Bakteri Yersinia pestis juga dapat menyerang paru-paru.
Ini yang disebut pes pneumonik.
Secara klinis, pes pneumonik muncul sebagai infeksi paru primer setelah seseorang menghirup droplet infeksius, atau sebagai komplikasi penyebaran infeksi dari bagian tubuh lain melalui aliran darah. Pada pes pneumonik primer, penularan bisa langsung dari penderita kepada orang lain melalui droplet pernapasan dalam kontak dekat, jadi pinjal tidak lagi diperlukan untuk setiap mata rantai penularan. Ini mengingatkan kita bahwa penyakit pernapasan memperoleh keuntungan besar dari mobilitas manusia.
Pada tahun 1910, pes pneumonik hampir selalu berakhir dengan kematian. Antibiotik efektif belum tersedia, dan perjalanan klinisnya bisa berlangsung sangat cepat. Demam tinggi, sesak napas, batuk berdarah, dan kemunduran kondisi pasien bisa terjadi hanya dalam beberapa hari. Wabah Manchuria menjadi sangat mematikan karena penularan antar manusia berlangsung ketika para dokter masih berusaha memahami pola epidemiologinya.
Perubahan pola penularan inilah yang membuat Manchuria begitu penting dalam sejarah epidemiologi. Para dokter tidak cukup hanya mencari tikus atau memeriksa pinjal. Mereka harus memperhatikan siapa yang sakit, siapa yang pernah berdekatan dengan pasien, dan ke mana orang-orang itu bepergian.
Dan pada awal abad ke-20, salah satu jawabannya adalah: kereta api.
3. Kereta Api yang Memperpendek Jarak, Mempercepat Wabah
Pada awal abad ke-20, Manchuria merupakan wilayah dengan kepentingan ekonomi dan politik yang saling bertemu. Tiongkok masih berada di bawah Dinasti Qing. Rusia telah membangun jaringan kereta yang menghubungkan wilayahnya dengan Manchuria, sedangkan Jepang memperkuat pengaruhnya setelah Perang Rusia–Jepang 1904–1905.
Jaringan Chinese Eastern Railway dan South Manchuria Railway mengubah mobilitas kawasan tersebut. Barang dagangan, pekerja, tentara, dan penumpang dapat bergerak melintasi jarak yang sebelumnya membutuhkan perjalanan jauh lebih lama.
Kereta api adalah lambang kemajuan
Tetapi kemajuan transportasi juga mengubah geografi penyakit. Pada Oktober 1910, kasus pes pneumonik mulai dikenali di kawasan Manzhouli, dekat perbatasan Siberia. Penyakit itu kemudian menjangkau Harbin dan kota-kota lain yang terhubung oleh jaringan kereta.
Para pekerja migran yang pulang menjelang perayaan Tahun Baru Imlek ikut memperbesar mobilitas penduduk di tengah wabah. Kereta api tidak menciptakan bakteri pes. Namun kereta menyediakan kesempatan bagi orang yang telah terinfeksi untuk berpindah tempat sebelum penyakitnya dikenali atau sebelum perjalanan klinisnya berakhir.

Di sinilah judul serial ini menemukan makna yang sesungguhnya.
Murder on the Siberian Express.
Bukan karena ada seekor tikus pembunuh yang sengaja menyusup ke gerbong, tapi karena perjalanan manusia dapat mengubah wabah setempat menjadi ancaman bagi banyak kota.
Dan persoalannya tidak hanya medis.
Ketika penyakit mengikuti rel yang dikelola oleh kekuatan politik berbeda, keputusan karantina dan pembatasan perjalanan harus berhadapan dengan kepentingan perdagangan, pemerintahan, serta hubungan internasional.
4. Seorang Dokter Bernama Wu Lien-teh
Pada akhir tahun 1910, pemerintah Qing mengirim seorang dokter bernama Wu Lien-teh untuk menyelidiki wabah di Harbin.

Wu lahir tahun 1879 di Penang, ketika wilayah tersebut masih menjadi bagian dari British Straits Settlements. Ia menempuh pendidikan kedokteran di Cambridge dan memperoleh pengalaman ilmiah di Eropa. Ia baru berusia sekitar 31 tahun ketika menghadapi salah satu wabah paling mematikan pada zamannya.
Dr. Wu Lien-teh (1879–1960), dokter yang memimpin upaya pengendalian wabah pes pneumonik di Manchuria pada 1910–1911. Foto: Bain News Service, sekitar 1910–1915. Library of Congress, George Grantham Bain Collection. No known restrictions on publication. Cropped.
Tugasnya bukan pekerjaan yang mudah.
Manchuria sedang mengalami ketegangan politik. Infrastruktur kesehatan tidak merata. Para dokter dari berbagai negara membawa pengalaman dan pandangan yang belum tentu sama. Di tengah situasi itu, Wu harus menentukan jenis penyakit yang sedang dihadapinya.
Salah satu langkah pentingnya adalah melakukan pemeriksaan jenazah dan mengidentifikasi bakteri pes pada jaringan paru. Temuan tersebut mendukung diagnosis pes pneumonik. Artinya, tindakan pengendalian tidak boleh hanya diarahkan kepada rodensia dan pinjal. Pasien yang terinfeksi juga harus dipisahkan dari orang sehat. Wu kemudian memperkuat penerapan isolasi, karantina, penggunaan masker, pengawasan perjalanan, dan pengelolaan jenazah.
Ia tidak bekerja sendirian. Keberhasilan pengendalian wabah melibatkan petugas kesehatan, pemerintah, tenaga lokal, serta kerja sama dan negosiasi dengan pihak Rusia dan Jepang.
Namun kepemimpinannya menjadi salah satu unsur penting yang membuat respons tersebut lebih terorganisasi.
5. Masker yang Mengubah Sejarah
Bagi kita yang hidup setelah pandemi COVID-19, masker mungkin tampak sebagai benda yang sangat biasa. Tetapi pada 1910, penggunaannya untuk menghadapi wabah pes pneumonik merupakan bagian dari perkembangan penting dalam perlindungan tenaga kesehatan.
Wu mengembangkan dan mempromosikan penggunaan masker berbahan kain kasa dan kapas yang dirancang menutupi hidung serta mulut. Masker tersebut kemudian dikenal luas sebagai masker Wu. Tentu masker itu tidak sama dengan respirator modern yang telah melalui pengujian filtrasi dan kesesuaian pemakaian. Namun prinsip yang mendasarinya sangat penting: ketika penyakit dapat ditularkan melalui droplet pernapasan, perlindungan pada hidung dan mulut menjadi salah satu tindakan pencegahan yang masuk akal.

Cara pemakaian masker kasa-kapas yang dipromosikan Wu Lien-teh dalam pengendalian wabah pes Manchuria. Sumber: Wellcome Collection / Wikimedia Commons. Public domain. https://commons.wikimedia.org/wiki/File%3AHow_the_gauze-cotton_mask_should_be_worn.jpg
Ada kisah terkenal mengenai seorang dokter Prancis, Gérald Mesny, yang meragukan perlunya perlindungan tersebut. Ia kemudian tertular pes pneumonik dan meninggal setelah menangani pasien tanpa perlindungan pernapasan yang memadai. Peristiwa itu menjadi salah satu ilustrasi tragis tentang bahaya meremehkan penularan antarmanusia.
Kita tidak perlu menganggap masker Wu sebagai penemuan tunggal yang menyelesaikan seluruh wabah. Yang lebih penting adalah memahami bahwa masker menjadi bagian dari sebuah sistem.
Sebab masker saja tidak cukup ketika pasien yang sakit tetap bercampur dengan orang sehat, jenazah menumpuk, dan perjalanan antarkota terus berlangsung tanpa pengawasan.
6. Karantina, Jenazah, dan Keputusan yang Tidak Populer
Harbin, musim dingin 1910–1911
Suhu sangat rendah. Korban terus bertambah. Pemakaman tidak mampu mengikuti laju kematian. Jenazah-jenazah menumpuk, sementara sebagian keluarga menghadapi larangan dan perubahan mendadak dalam tata cara pemakaman.
Wu menghadapi persoalan yang bukan hanya medis, tetapi juga sosial dan budaya. Kremasi jenazah bertentangan dengan kebiasaan banyak masyarakat Tiongkok pada masa itu. Namun penanganan jenazah korban pes harus dilakukan secara aman, khususnya karena kontak dengan jaringan dan cairan tubuh yang terinfeksi dapat membahayakan orang yang menanganinya.
Dengan dukungan pemerintah, kremasi massal akhirnya dilaksanakan. Keputusan tersebut tidak mudah diterima, tetapi menjadi salah satu bagian dari pengendalian wabah. Pada saat yang sama, rumah sakit isolasi, pengawasan kontak, karantina, serta pembatasan perjalanan membantu memutus rantai penularan. Ini bukan kemenangan satu tindakan ajaib. Wabah dikendalikan melalui banyak keputusan yang saling mendukung. Sebagian keputusan bersifat ilmiah. Sebagian membutuhkan administrasi yang tertib. Sebagian lagi menuntut keberanian politik untuk menjalankan kebijakan yang tidak populer.
Dan di sinilah kisah Manchuria mulai terhubung kembali dengan perjalanan panjang yang kita ikuti sejak Seri I. Sekolah kedokteran dan laboratorium memang penting. Tetapi ketika penyakit keluar dari laboratorium dan masuk ke masyarakat, negara juga membutuhkan sistem kesehatan yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan.
7. Enam Puluh Ribu Korban, dan Sebuah Pertemuan Internasional
Menjelang musim semi 1911, wabah mulai mereda.
Berbagai catatan sejarah memperkirakan sekitar 60.000 orang meninggal, meskipun angka pasti berbeda menurut sumber dan metode pencatatan. Itu merupakan kehilangan manusia yang luar biasa besar dalam waktu hanya beberapa bulan. Namun Manchuria juga menjadi tempat berlangsungnya sesuatu yang penting bagi perkembangan kesehatan masyarakat internasional.
Pada April 1911, para dokter dan ilmuwan dari berbagai negara berkumpul dalam International Plague Conference di Mukden, sekarang dikenal sebagai Shenyang. Konferensi tersebut membahas penyebab wabah, cara penularan, epidemiologi, pemeriksaan bakteriologis, serta langkah pengendalian. Para peserta berasal dari negara-negara yang memiliki kepentingan ilmiah maupun politik berbeda, termasuk Tiongkok, Rusia, Jepang, Amerika Serikat, dan sejumlah negara Eropa.
Mereka tidak selalu sepakat.
Bahkan persoalan mengenai sumber alami pes dan jalur penularannya menjadi bahan perdebatan ilmiah. Namun konferensi tersebut memperlihatkan bahwa wabah yang melintasi batas wilayah tidak dapat dipahami hanya melalui sudut pandang satu negara. Hasilnya ikut mendorong pembentukan North Manchurian Plague Prevention Service pada 1912, sebuah lembaga kesehatan masyarakat yang berperan dalam penelitian dan pengendalian pes di kawasan tersebut.

Para delegasi International Plague Conference, Mukden, April 1911. Wikimedia Commons, public domain
Ini merupakan warisan penting dari krisis Manchuria.
Ketika wabah berakhir, pekerjaan ilmiah tidak boleh ikut berhenti.
Pengalaman lapangan perlu diubah menjadi pengetahuan yang dapat digunakan ketika ancaman berikutnya datang.
8. Rusia, Tiongkok, Jepang, dan Ilmu Pengetahuan yang Melintasi Perbatasan
Sekarang kita kembali sebentar ke Fort Alexander I.
Disana, para ilmuwan Rusia telah mempelajari pes, mengembangkan serum, dan menghadapi bahaya infeksi laboratorium. Di wilayah Siberia dan Asia Tengah, para peneliti Rusia juga telah melakukan penyelidikan terhadap pes pada rodensia liar, termasuk tarbagan, jauh sebelum wabah Manchuria mencapai puncaknya. Penelitian tersebut membantu membangun pengetahuan mengenai hubungan antara hewan liar dan keberadaan pes di alam.
Tetapi keberhasilan mengendalikan wabah Manchuria bukan karena Rusia saja. Wu Lien-teh dan rekan-rekannya memainkan peran sentral dalam respons kesehatan masyarakat di Tiongkok. Para peneliti Jepang dan ilmuwan dari negara lain juga terlibat dalam penyelidikan, meskipun hubungan antar mereka tidak terlepas dari persaingan politik dan perbedaan pendapat ilmiah.
Justru di sinilah pelajaran sejarahnya menjadi menarik.
Satu negara dapat membangun laboratorium. Negara lain dapat menghasilkan dokter yang mampu memimpin pengendalian wabah. Para ilmuwan dapat berdebat mengenai sumber penyakit, tetapi bukti-bukti yang mereka kumpulkan tetap dapat memperkaya pemahaman bersama.
Kemajuan ilmu pengetahuan tidak selalu lahir dari keadaan yang harmonis.
Kadang-kadang ia berkembang di tengah persaingan, ketakutan, keterbatasan, bahkan tragedi.
Namun pengetahuan yang diperoleh hanya menjadi warisan berharga apabila manusia bersedia memeliharanya, mengujinya, dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.
Epilog — Penumpang Terakhir
Dug… dug… dug…
Kereta bergerak perlahan menembus malam Manchuria.
Wabah telah merenggut puluhan ribu nyawa. Namun dari tragedi itu lahir pemahaman baru tentang penularan penyakit, pentingnya kesehatan masyarakat, dan kerja sama ilmiah lintas negara.
Pada 1911, manusia belajar menghentikan pes sebelum menjangkau korban berikutnya. Beberapa dekade kemudian, manusia akhirnya memiliki obat untuk menyelamatkan mereka yang sudah terinfeksi.
Manusia mungkin tidak dapat memilih kapan sebuah malapetaka datang. Tetapi manusia dapat memilih apa yang dibangun setelahnya.

Dug… dug… dug…
Dan di padang rumput yang jauh, seekor marmot kembali menghilang ke dalam liangnya.
TAMAT

