{"id":1919,"date":"2022-11-18T07:20:38","date_gmt":"2022-11-18T07:20:38","guid":{"rendered":"https:\/\/neo.trensehat.com\/?p=1919"},"modified":"2022-12-11T01:52:20","modified_gmt":"2022-12-11T01:52:20","slug":"luka-biasa-bikin-tetanus","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/trensehat.com\/?p=1919","title":{"rendered":"LUKA BIASA bikin TETANUS?"},"content":{"rendered":"<div class=\"pvc_clear\"><\/div><p id=\"pvc_stats_1919\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"1919\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p><div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Luka kayak tergores bisa bikin tetanus loo, iyaa kalau lukanya tidak dirawat, apalagi punya sakit kencing manis, jadi klop deh.\u00a0 Di majalah\u00a0<em>Critical Care Nurse<\/em>&#8216;<em>\u00a0Juni 1998\u00a0<\/em>dikatakan luka goresan\u00a0 bisa menyebabkan 30% kasus tetanus, sisanya sebanyak 40% kasus akibat luka tusuk, 16% akibat luka kronis (akibat kencing manis, gigi busuk dll) dan bahkan akibat penyalah gunaan obat bisa menyebabkan 2% kasus tetanus karena tidak sterilnya jarum suntik yang digunakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut WHO ada \u00b1 800 kasus kematian (40% terjadi pada neonatus\/bayi baru lahir) tiap tahunnya yang diakibatkan tetanus. Kebanyakan kasus ini ada di negara berkembang. Di RS. Hasan Sadikin Bandung tercatat 156 kasus tetanus sejak tahun 1999 sampai tahun 2000 dimana 35,2% diantaranya meninggal. Ada 54 kasus tetanus tercatat di RS. Sanglah Bali sejak tahun 2003 sampai tahun 2004 dimana 47% kasus diantaranya meninggal. Di Amerika tercatat 1560 kasus tetanus pada tahun 1923. Tapi sejak dilakukan tindakan preventif dengan immunisasi &#8216;Tetanus Toksoid&#8217;, kasus tetanus menurun drastis menjadi 50 kasus pada tahun 1994. Sekarang di Amerika dan Eropa kasus ini sangat jarang sampai-sampai mereka menganggap aneh jika kasus ini masih ada. Bagaimana dengan Indonesia?<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text alignwide is-stacked-on-mobile\" style=\"grid-template-columns:36% auto\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"311\" height=\"250\" src=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus2.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1697 size-full\" srcset=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus2.jpg 311w, https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus2-300x241.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 311px) 100vw, 311px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kita sering mendengar tentang immunisasi, jadi kita seharusnya sudah mendapat immunisasi tetanus. Suntikan TT\u009d\/Tetanus Toxoid pada ibu hamil atau suntikan DPT\u009d\/Diphteri Pertusis Tetanus pada bayi adalah upaya pemberian suntikan immunisasi supaya kita terhindar dari tetanus. Tapi siapa yang tahu kalau immunisasi ini sebenarnya harus dilanjutkan setiap 10 tahun sekali sampai seumur hidup?, nggak tahu kan?\u00a0<\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text alignwide is-stacked-on-mobile\" style=\"grid-template-columns:28% auto\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"252\" height=\"282\" src=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus3.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1698 size-full\"\/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jadi kita harus lebih aktif melindungi diri. Mintalah suntikan anti-tetanus pada saat terkena luka, karena saat ini satu-satunya tindakan pencegahan tetanus pada usia dewasa adalah dengan memberikan suntikan anti-tetanus pada saat terluka. Tindakan ini bisa sangat menghemat, coba bandingkan biaya \u00b1 Rp. 200.000,-untuk anti-tetanus dengan biaya minim \u00b1 10 juta rupiah jika kita jatuh dalam kondisi tetanus berat yang memerlukan perawatan khusus.\u00a0<\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kondisi lain yang sering menyebabkan tetanus terutama pada usia lanjut adalah akar-akar gigi yang tanggal &amp; dibiarkan yang akhirnya membusuk. Akar gigi yang membusuk adalah tempat yang sangat ideal untuk kuman tetanus tumbuh, jadi coba perhatikan gigi geligi mbah-mbahnya ya.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-media-text alignwide is-stacked-on-mobile\" style=\"grid-template-columns:36% auto\"><figure class=\"wp-block-media-text__media\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"482\" height=\"365\" src=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus4.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1699 size-full\" srcset=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus4.jpg 482w, https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus4-300x227.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 482px) 100vw, 482px\" \/><\/figure><div class=\"wp-block-media-text__content\">\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kuman penyebab tetanus ini punya nama cantik yaitu&nbsp;<strong>Clostridia Tetani.<\/strong>&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tetapi penyakit yang ditimbulkannya tidak secantik namanya. Bentuknya aja seperti sperma hehehe, nggak tau tuh si kuman ini yang niru sperma atau sperma yang niru si kuman untuk kamuflase wakakakak. <\/p>\n<\/div><\/div>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu kuman ini suka hidup jorok, dia suka ngumpet di tempat-tempat luka yang dalam, seperti di dalam akar gigi yang membusuk di dalam, luka yang bernanah dan berbau, luka dimana terdapat banyak kerusakan jaringan. Pokoknya kuman ini tidak suka kena udara atau oksigen, sehingga karena ketakutannya akan udara ini membuat kita tahu bagaimana menangani kuman ini.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah masuk tubuh racunnya menyebar lewat sistem saraf sampai ke sistem saraf pusat. Spora tetanus dapat masuk tubuh bahkan hanya lewat luka garukan, meskipun kebanyakan memang masuk lewat luka yang dalam misalnya luka karena tertusuk tunggak kayu, luka tertusuk paku berkarat, gigi yang tidak terawat &amp; banyak sisa akar gigi(sering terjadi pada orang tua dimana gigi-geligi sudah mulai tanggal, tapi akar tetap tersisa), sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk kuman bertumbuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Spora tetanus sangat tahan terhadap proses perusakan, mereka terdapat di tanah, debu, tanaman dan kotoran binatang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gejala tetanus bervariasi dari ringan sampai berat. Gejalanya diakibatkan neurotoksin(racun) yang dilepaskan\u00a0 spora dan melalui aliran darah menyebar, dan tempat favoritnya adalah di &#8220;otot di bagian penghantar saraf&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itulah sebabnya gejala khas penyakit ini adalah kejang. Secara keseluruhan pasien tampak lemah, susah menelan, rahang kaku, ketegangan otot wajah, leher terasa kaku, kekakuan juga mengenai tangan dan kaki. Kemudian kekakuan otot itu akan menyebar ke otot dada, punggung dan perut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gejala yang paling sering dan mudah adalah jika pasien tidak bisa membuka mulut(akibat kekakuan otot rahang) dan wajah tampak menyeringai(karena kekakuan otot wajah), menyeringai looo, bukan tersenyum. Selain itu juga disertai sakit kepala dan panas badan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus1.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-1696\" width=\"531\" height=\"316\" srcset=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus1.jpg 383w, https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/uploads\/2022\/11\/tetanus1-300x179.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 531px) 100vw, 531px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tenaga medis perlu menerangkan pada pasien yang menolak suntikan ATS waktu mereka datang ke UGD. Apalagi sebenarnya permasalahannya tidak selalu karena biaya. Pernah suatu waktu menerima keluhan pasien yang akhirnya mengerti dan mengatakan tidak masalah dengan biaya sekian jika risiko menderita tetanus ternyata menghabiskan biaya berlipat kali.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Percayalah ini bukan masalah biaya, tapi sakit tetanus itu bener-bener bahaya, coba bayangkan kita kejang-kejang tapi tetap sadar, gimana sakitnya coba&#8230;..hati-hati, di Indonesia angka tetanus masih tinggi, jadi suntikan anti-tetanus itu penting&#8230;serius.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sumber:&nbsp;<em>Critical Care Nurse&#8217; June 1998<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Gambar: Koleksi Pribadi<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p id=\"pvc_stats_1919\" class=\"pvc_stats all  \" data-element-id=\"1919\" style=\"\"><i class=\"pvc-stats-icon medium\" aria-hidden=\"true\"><svg aria-hidden=\"true\" focusable=\"false\" data-prefix=\"far\" data-icon=\"chart-bar\" role=\"img\" xmlns=\"http:\/\/www.w3.org\/2000\/svg\" viewBox=\"0 0 512 512\" class=\"svg-inline--fa fa-chart-bar fa-w-16 fa-2x\"><path fill=\"currentColor\" d=\"M396.8 352h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V108.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v230.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm-192 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V140.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v198.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zm96 0h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8V204.8c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v134.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8zM496 400H48V80c0-8.84-7.16-16-16-16H16C7.16 64 0 71.16 0 80v336c0 17.67 14.33 32 32 32h464c8.84 0 16-7.16 16-16v-16c0-8.84-7.16-16-16-16zm-387.2-48h22.4c6.4 0 12.8-6.4 12.8-12.8v-70.4c0-6.4-6.4-12.8-12.8-12.8h-22.4c-6.4 0-12.8 6.4-12.8 12.8v70.4c0 6.4 6.4 12.8 12.8 12.8z\" class=\"\"><\/path><\/svg><\/i> <img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"16\" height=\"16\" alt=\"Loading\" src=\"https:\/\/trensehat.com\/wp-content\/plugins\/page-views-count\/ajax-loader-2x.gif\" border=0 \/><\/p>\n<div class=\"pvc_clear\"><\/div>\n<p>Luka kayak tergores bisa bikin tetanus loo, iyaa kalau lukanya tidak dirawat, apalagi punya sakit kencing manis, jadi klop deh.\u00a0 Di majalah\u00a0Critical Care Nurse&#8216;\u00a0Juni 1998\u00a0dikatakan luka goresan\u00a0 bisa menyebabkan 30% kasus tetanus, sisanya sebanyak 40% kasus akibat luka tusuk, 16% akibat luka kronis (akibat kencing manis, gigi busuk dll) dan bahkan akibat penyalah gunaan obat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1699,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1919","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-masalahkesehatan"],"a3_pvc":{"activated":true,"total_views":5,"today_views":0},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1919","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=1919"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1919\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2300,"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/1919\/revisions\/2300"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/1699"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=1919"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=1919"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/trensehat.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=1919"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}