Ribut soal azythromycin(AZM), katanya kok antibiotik dipake untuk virus, kok begitu, bukannya antibiotik itu untuk membunuh bakteri, bukan untuk virus kan...

 

 AZY1

DI AWAL PANDEMI

Inget2 di awal pandemi yaa, waktu itu WHO baru mengumumkan pandemi tapiiiii….kan udah ada korban berjatuhan, sedangkan pasien harus segera ditangani, jadi gimana?. Apalagi sequence genome SARS-CoV-2 yang dilakukan di Wuhan baru selesai di pertengahan Februari’2020, bikin obat baru juga butuh waktu. Jadi di awal2 itu, pengobatan didasarkan pada homologi SARS-CoV-2 dengan coronavirus serupa(SARS), maksudnya terapi disamakan dengan terapi pada penyakit SARS yang mewabah di tahun 2002.

 

Beberapa target obat yang SUDAH ADA & potensial diidentifikasi & menjadi fokus penelitian laboratorium. Kemudian dilakukan trial pada hewan & dilanjutkan uji klinis. Data klinis yang muncul menunjukkan kalau  COVID-19 yang parah karena terjadinya RESPON INFLAMASI & adanya PROKOGULAN, ini berarti bahwa STRATEGI HARUS MELAMPAUI AGENT ANTI VIRUS.

 

GAMBARAN KLINIS COVID-19

SARS-CoV-2 menyebabkan penyakit saluran napas BAGIAN BAWAH, yang berpotensi menyebabkan pneumonia berat yang ditandai dengan replikasi virus yang cepat, peningkatan respon sitokin, kemokin, infiltrasi sel inflamasi & cedera paru akut. Faktor-faktor yang mempengaruhi keparahan yaitu jumlah paparan virus, usia & komorbiditas: diabetes, obesitas, gagal ginjal dll

Secara klinis terjadi 3 fase. Pada fase awal, terjadi replikasi virus yang cepat di dalam paru-paru, disertai demam, batuk & gejala lain yang dapat sembuh dalam beberapa hari jika sistem immun kuat. Pada fase kedua, demam tinggi & hipoksemia dapat berkembang menjadi gejala pneumonia & fase ketiga, terjadi pada 20% pasien meliputi sindrom akut respiratory distress & pasien sering tidak tertolong.

 

UJI KLINIS

Setelah obat2 diidentifikasi, maksudnya obat mana saja yang akan digunakan, kemudian dilakukan uji klinis di Wuhan, puluhan obat diuji, tapi kita fokus soal AZM yang lagi heboh saja ya.

Kita lihat cpntoh penelitian yang dilakukan dari jurnal ini: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7543691/ dilaporkan penggunaan obat2 pada pasien2  & ini salah 1 contoh kelompok pasien yang dimasukkan dalam penelitian dari banyaknya kelompok uji klinik di Wuhan. Kohorting dari 138 pasien COVID-19 dirawat di RS Zhongnan, Wuhan pada Januari 2020.  Dalam penelitian ini, rata-rata usia pasien adalah 56 tahun & 54,3% adalah laki-laki,  16% terjadi ARDS, tetapi lebih sedikit yang meninggal (4,3%). Pasien diberi terapi oseltamivir, moksifloksasin, seftriakson, AZM & glukokortikoid. Jumlah neutrofil rata-rata pada pasien yang dirawat di ICU (4,6 × 109 /L) secara signifikan lebih tinggi (p<0,001) dibandingkan dengan pasien non-ICU (2,7 × 109 /L).

 

PERTIMBANGAN AZYTHROMYCIN DIIKUTKAN DALAM PENELITIAN:

*EFEK ANTI VIRUS AZYTHROMYCIN (AZM)

AZM memiliki sifat antivirus yang signifikan dalam sel epitel bronkial. Selain SARS-CoV-2. AZM  juga untuk terapi influenza, rhinovirus, dengue, ebolavirus, virus parainfluenza, virus zika & enterovirus.

Cara kerja AZM dengan memanfaatkan afinitasnya pada pengikatan protein lonjakan dan ACE2, AZM secara kompetitif menghambat situs pengikatan kofaktor virus karena kemiripan molekulnya dengan GM1, gangliosida sel inang yang mengikat domain pengikatan gangliosida dari protein spike. Masih banyak cara kerja lain dari AZM dalam menghambat virus, tapi cukup ini saja ya, mumet neh.

 AZY2

*EEFEK ANTI INFLAMASI & IMMUNOMODULASI

AZM melemahkan fungsi neutrofil sehingga menurunkan regulasi chemoattractants & molekul adhesi dalam sel endotel vaskular yang diaktifkan dan membatasi pelepasan perangkap ekstraseluler neutrofil. Neutrofilia  berkontribusi terhadap hiperinflamasi dan hiperkoagulabilitas pada COVID-19 yang parah. AZM melemahkan diferensiasi myofibroblast yang diinduksi TGF-?, sekresi kolagen fibroblas dan remodeling matriks ekstraseluler. Hal ini terjadi melalui penurunan baik produksi MMP & pelepasan faktor pertumbuhan endotel vaskular. Akhirnya, ini membatasi efek merusak dari peradangan & fibrosis.

 

Karena infeksi SARS-CoV-2  menyebabkan kerusakan jaringan paru-paru interstitial  dalam kasus moderat sampai berat, menggunakan obat imunomodulasi sangat bermanfaat.

Sifat immunomodulasi AZM adalah alasan penggunaannya melawan inflamasi yang mengarah ke penyakit paru interstisial. Pasien dengan pneumonia berat menunjukkan sindrom hiperinflamasi sistemik yang disebut badai sitokin. Profil sitokin pasien dengan COVID-19 berat menunjukkan peningkatan signifikan pada beberapa sitokin pro-inflamasi seperti interleukin (IL)-1?, IL-2, IL-6, IL- 8, IL-10, IL-17, dan tumor necrosis factor-? dibandingkan pasien dengan COVID-19 sedang,

Jadi AZM ini punya efek ANTI VIRUS, ANTI INFLAMASI & IMMUNO MODULATOR, yang menjadi alasan utama AZM dipakai, meskipun AZM juga bisa membunuh banyak bakteri, tapi penggunaannya tidak diperuntukkan untuk itu karena meskipun koinfeksi bakteri awal memang telah menjadi sumber morbiditas dan mortalitas yang terkenal dalam sejarah pandemi influenza. Namun, pada COVID-19, data yang dikumpulkan menunjukkan risiko koinfeksi bakteri yang jauh lebih rendah.

 

APAKAH AZYTHROMYCIN MASIH DIGUNAKAN?

Akibat terjadinya gelombang kedua, sistem kesehatan menghadapi masalah di seluruh dunia. Eropa beralih dari pendekatan berbasis rumah sakit ke pendekatan berbasis keluarga dengan perawatan awal di rumah untuk mencegah rawat inap, kematian & perawatan jangka panjang. Keluarga dilibatkan & memainkan peran kunci dalam triase, deteksi  & pengobatan dini pasien dengan gejala ringan & sedang. 

Pengobatan yang dipakai AZM +/- Zn & vitamin, bertujuan preventif, ini didasarkan lebih karena sifat immuno modulasi dari AZM sehingga meningkatkan sistem immun. Tapi meskipun dilakukan di rumah, pencatatan tetap terukur & mereka menjadikan pola ini menjadi uji klinis paling inovatif tentang perawatan mandiri dengan menggunakan ponsel untuk tindak lanjut. Dalam studi kohort, AZM diberikan sebagai dosis tunggal: AZM 500 mg pada hari 1 + 250 mg selama 5 hari berikutnya.

Tapi sekali lagi, penggunaan AZM masih terus dalam koridor emergency & masuk dalam uji klinik meskipun dilakukan di rumah. Dengan banyaknya pilihan agent anti inflamasi, anti virus & immuno modulasi lain, penggunaan AZM hanya sesuai indikasi & klinisi yang berperan.

  ….apa masih mau bahas soal obat2 virus yang hoaxnya kebanyakan itu?

 AZY3

 

Sumber:

Gambar: Geofanny Sarah Adventia 

Pharmacological approaches to the treatment of COVID-19 patients https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7543691/

Azithromycin for covid19? https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7290142/

COVID-19: Can early home treatment with Azithromycin alone or with Zinc help prevent hospitalisation, death, and long-COVID-19? A review https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2020.12.29.20248975v1.full

https://derangedphysiology.com/main/cicm-primary-exam/required-reading/variability-drug-response/Chapter%20219/mechanisms-pharmacodynamic-drug-drug-interactions

Hits: 2015