25082020 AFRIKA BEBAS POLIO – Perburuan Virus yang Belum Selesai

Loading

📌 Tentang Artikel Ini: Afrika dinyatakan bebas virus polio liar pada 2020. Namun perburuan polio belum selesai: Afghanistan dan Pakistan masih menjadi dua benteng terakhirnya.
📁 Kategori: Masalah Kesehatan & Hak Pasien
📅 Ditulis pertama kali: 11 September 2005
🔄 Direvisi terakhir: 15 September 2026
📚 Referensi utama: GPEI — Polio this week

Afrika Bebas Polio, tetapi Mengapa Polio Belum Punah?

25 Agustus 2020 menjadi hari bersejarah bagi Afrika. Setelah perjuangan selama puluhan tahun, WHO African Region yang terdiri dari 47 negara dinyatakan bebas dari wild poliovirus atau virus polio liar.
Untuk mendapatkan sertifikat itu tidak cukup hanya dengan tidak menemukan pasien. Afrika harus membuktikan selama empat tahun tidak terjadi penularan wild poliovirus, dengan sistem surveilans dan laboratorium yang mampu mendeteksi virus bila ia masih bersembunyi di masyarakat.

Pencapaian ini luar biasa, tapi ada satu catatan penting: Polio belum berhasil dieradikasi dari dunia.
Wild poliovirus masih bertahan di dua negara: Afghanistan dan Pakistan.
Perburuan belum selesai.

POLIO SUDAH ADA SEJAK RIBUAN TAHUN LALU

Sebuah relief Mesir kuno memperlihatkan seorang laki-laki dengan tungkai yang mengecil dan menggunakan tongkat. Gambaran itu sering dianggap sebagai salah satu bukti bahwa penyakit menyerupai polio telah dikenal manusia sejak ribuan tahun lalu.
Tetapi deskripsi medis polio baru muncul jauh kemudian. Tahun 1789, dokter Inggris Michael Underwood menulis tentang penyakit yang menyebabkan kelemahan anggota gerak pada anak-anak.

Relief Mesir kuno yang memperlihatkan seseorang dengan tungkai mengecil, sering dikaitkan dengan gambaran polio. Sumber: Wikimedia Commons, Public Domain. https://commons.wikimedia.org/wiki/File%3AAncient_Egyptian_polio.jpg

Lebih dari satu abad kemudian, pada tahun 1908, Karl Landsteiner dan Erwin Popper berhasil menunjukkan bahwa penyebab penyakit tersebut adalah virus.


Lalu pada 1949, John Enders, Thomas Weller dan Frederick Robbins berhasil menumbuhkan poliovirus dalam kultur jaringan. Penemuan ini membuka jalan bagi penelitian berikutnya dan mengantarkan mereka memperoleh Nobel Kedokteran tahun 1954.

KETIKA POLIO MENJADI MOMOK

Polio terutama menyerang anak-anak. Sebagian besar infeksi tidak menyebabkan kelumpuhan, tetapi bila virus mencapai sistem saraf pusat dan merusak motor neuron, akibatnya dapat menjadi permanen. Kelumpuhan tungkai adalah gambaran yang paling dikenal. Tetapi keadaan menjadi jauh lebih berbahaya bila otot-otot pernapasan ikut lumpuh.
Pada masa ketika ventilator modern belum tersedia, pasien seperti ini bisa meninggal karena tidak mampu bernapas.

MESIN PARU

Pada tahun 1928, Philip Drinker dan Louis Agassiz Shaw mengembangkan alat yang kemudian terkenal sebagai iron lung. Tubuh pasien dimasukkan ke dalam sebuah tabung besar sementara kepala berada di luar. Perubahan tekanan udara di dalam tabung membantu dada mengembang dan mengempis sehingga pasien yang otot pernapasannya lumpuh tetap dapat bernapas. Bayangkan hidup berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, di dalam sebuah tabung hanya supaya paru-paru tetap bergerak. Iron lung kemudian menjadi salah satu simbol mengerikan dari epidemi polio abad ke-20.

Pasien polio menggunakan iron lung saat epidemi polio Rhode Island, 1960. Sumber: CDC Public Health Image Library (Public Domain). https://wwwn.cdc.gov/phil/Details.aspx?pid=2624&utm

PRESIDEN PUN TIDAK LUPUT

Franklin Delano Roosevelt, Presiden Amerika Serikat ke-32, mengalami penyakit paralitik pada tahun 1921 yang saat itu didiagnosis sebagai polio. Ia kemudian mendirikan yayasan yang berkembang menjadi March of Dimes, organisasi yang ikut mendanai penelitian polio.

Pada foto kuitansi tahun 1926 ini terlihat pembelian penyangga kaki Roosevelt seharga US$135. Sebuah benda sederhana yang menjadi saksi masa ketika dunia belum mempunyai cara efektif untuk menghentikan penyakit yang dapat meninggalkan kelumpuhan seumur hidup.

Pesanan penyangga kaki Franklin D. Roosevelt dari Dr. Linder Inc., 5 Juli 1926. Sumber: Franklin D. Roosevelt Presidential Library & Museum. https://www.fdrlibrary.org/en_US/polio

SALK DAN SABIN MENGUBAH ARAH PERANG

Terobosan besar datang pada pertengahan abad ke-20.
Tim Jonas Salk mengembangkan vaksin polio inaktif yang mendapat lisensi pada 1955. Beberapa tahun kemudian vaksin polio oral yang dikembangkan tim Albert Sabin mulai digunakan.
Keduanya kemudian memungkinkan program imunisasi dalam skala yang sebelumnya tidak pernah mungkin dilakukan.

Jonas Salk tidak pernah mematenkan penemuannya sehingga jutaan manusia lebih mudah tertolong dari penyakit polio, akibatnya dia kehilangan US$7 billion, sekitar 100 ribu milyar rupiah.

Tetapi mempunyai vaksin ternyata belum sama dengan menghapus virus dari dunia.
Dan di sinilah cerita polio menjadi jauh lebih menarik.

DUNIA MULAI MEMBURU POLIO

Pada tahun 1988, polio masih melumpuhkan sekitar 350.000 orang setiap tahun dan masih endemik di lebih dari 125 negara. Pada tahun yang sama, World Health Assembly menetapkan target global untuk mengeradikasi polio dan lahirlah Global Polio Eradication Initiative (GPEI).
Sejak saat itu kasus polio akibat wild poliovirus turun lebih dari 99%.

Tetapi eradikasi mempunyai arti yang jauh lebih berat daripada sekadar menurunkan jumlah pasien.
Virus harus dicari sampai tempat persembunyiannya yang terakhir.

BAGAIMANA CARANYA MENCARI VIRUS YANG HAMPIR HILANG?

Petugas kesehatan tidak hanya menunggu seorang anak datang dengan kelumpuhan.
Kasus acute flaccid paralysis harus dicari dan diperiksa. Sampel tinja diperiksa untuk mengetahui apakah poliovirus masih beredar.
Bahkan itu belum cukup.
Di berbagai tempat, air limbah juga diperiksa melalui environmental surveillance. Dengan cara ini poliovirus dapat ditemukan di lingkungan bahkan ketika belum ada seorang pun pasien lumpuh yang terdeteksi. Jika virus ditemukan, dilakukan respons cepat di wilayah tersebut. Anak-anak yang belum terjangkau harus ditemukan, termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil, berpindah-pindah atau berada di wilayah konflik.
Inilah sebabnya mengeradikasi penyakit jauh lebih sulit daripada sekadar mempunyai obat atau vaksin.

SATU PER SATU WILAYAH DUNIA BEBAS DARI POLIO LIAR

Perlahan-lahan peta dunia berubah.
Amerika dinyatakan bebas dari indigenous wild poliovirus pada 1994. Kemudian wilayah-wilayah lain menyusul.
Wild poliovirus sendiri dahulu terdiri dari tiga tipe. WPV2 dinyatakan telah dieradikasi pada 2015 dan WPV3 pada 2019. Tinggal satu: WPV1.

Kemudian tibalah tanggal 25 Agustus 2020.
WHO African Region akhirnya dinyatakan bebas dari wild poliovirus setelah empat tahun tanpa satu kasus pun akibat virus polio liar. Lebih dari 90% penduduk dunia ketika itu telah tinggal di wilayah yang bebas wild poliovirus.
Namun itu belum berarti semua poliovirus telah hilang dari Afrika. Wabah akibat circulating vaccine-derived poliovirus (cVDPV) masih dapat terjadi terutama di populasi dengan cakupan imunisasi rendah. Jadi istilah yang tepat untuk pencapaian Afrika tahun 2020 adalah bebas wild poliovirus, bukan bebas dari semua poliovirus.

DUA BENTENG TERAKHIR: AFGHANISTAN DAN PAKISTAN

Kini wild poliovirus hanya endemik di Afghanistan dan Pakistan.
Mengapa dua negara ini begitu sulit?
Masalahnya bukan karena dunia tidak tahu bagaimana mencegah polio. Ada daerah yang sulit dijangkau, masalah keamanan, perpindahan penduduk dalam jumlah besar, anak-anak yang terlewat dalam program imunisasi serta wilayah perbatasan tempat manusia—dan virus—terus bergerak dari satu negara ke negara lainnya.

Karena itulah WHO bahkan memperlakukan Afghanistan dan Pakistan sebagai satu blok epidemiologis dalam upaya eradikasi polio.
Di Afghanistan, misalnya, vaksinasi dari rumah ke rumah tidak dilakukan lagi sejak Oktober 2024 karena masalah keamanan. Strategi pemberian vaksin di lokasi tertentu tidak selalu berhasil menjangkau semua anak, terutama anak-anak kecil.
Dan virus memanfaatkan setiap celah yang tersisa.

TAHUN 2026: VIRUS ITU MASIH ADA

Sampai 9 September 2026, Afghanistan telah melaporkan 23 kasus WPV1, sedangkan Pakistan melaporkan 3 kasus WPV1 sepanjang tahun ini.
Di Pakistan, WPV1 juga masih ditemukan melalui pemeriksaan sampel lingkungan.
Artinya, rantai penularan belum benar-benar putus.
Selama virus masih beredar di dua negara tersebut, seluruh dunia tetap mempunyai kepentingan untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Virus yang tinggal di satu tempat dapat kembali dibawa ke tempat lain.

TINGGAL BEBERAPA LANGKAH LAGI

Manusia pernah menghadapi polio ketika ratusan ribu orang lumpuh setiap tahun.
Kita membuat iron lung agar mereka tetap bernapas.
Kita menemukan virus penyebabnya.
Kita belajar menumbuhkannya di laboratorium.
Kita mengembangkan vaksin.
Kemudian kita melakukan sesuatu yang jauh lebih sulit: mencari virus itu dari negara ke negara dan memutus rantai penularannya satu demi satu.
Dari lebih dari 125 negara endemik pada tahun 1988, kini wild poliovirus tinggal bertahan di dua negara.
Cacar telah menjadi penyakit manusia pertama yang berhasil dieradikasi dari dunia.
Polio belum.
Tetapi setelah perjalanan lebih dari satu abad, manusia sekarang telah mengepung wild poliovirus sampai ke dua benteng terakhirnya.
Afghanistan dan Pakistan.
Dan sebelum virus terakhir itu berhenti beredar, perburuan belum boleh dihentikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *