PERBEDAAN TES SKRINING & TES DIAGNOSTIK

Loading

Screening tests are not diagnostic tests

Dari ramenya pergelutan di dunia maya soal perlu tidaknya skrining test, soal rapid test covid-19 yang tidak tepat, soal PCR yang katanya nggak bisa bedakan virus mati dengan yang hidup wkwkwk…..sebenarnya desain dari masing-masing test memang dibuat dengan tujuan yang berbeda, jadi ya nggak bisa dibanding-banding’ke wkwkwk….

*Tujuan utama dari TES SKRINING adalah UNTUK MENDETEKSI PENYAKIT SEJAK DINI atau FAKTOR RISIKO pada sejumlah besar INDIVIDU YANG TAMPAKNYA SEHAT,  untuk menurunkan risiko terpapar. Tes skrining bukan diagnostik, tapi digunakan untuk mengidentifikasi subset populasi yang harus menjalani tes tambahan untuk menentukan ada atau tidak adanya penyakit.

Cut off diatur ke arah sensitivitas tinggi. Sebagai akibatnya banyak dari hasil positif adalah positif palsu. Hal ini dapat diterima terutama jika uji skrining tidak berbahaya & tidak mahal.

*Tujuan utama dari TES DIAGNOSTIK adalah untuk memastikan ada (atau tidak adanya) penyakit yang akan menjadi dasar dari terapi pada individu simptomatik atau yang positif pada tes skrining. Cut off diatur ke arah spesifisitas tinggi dengan bobot lebih diberikan pada presisi & akurasi diagnostik daripada penerimaan tes oleh pasien.

Untuk perbedaan TEST SKRINING & TEST DIAGNOSTIK berikutnya  lihat tabel dibawah:

*PENEMUAN KASUS adalah strategi untuk menargetkan sumber daya pada individu atau kelompok yang diduga berisiko terhadap penyakit tertentu. Melibatkan secara aktif, mencari secara sistematis orang-orang yang berisiko, daripada menunggu mereka datang dengan gejala atau tanda penyakit aktif. Penemuan kasus adalah strategi kunci pada manajemen wabah penyakit menular, tujuannya adalah untuk mengidentifikasi individu-individu yang berisiko.

Ada lagi cara lain, memakai “Pooled Testing”“ Surveillance Testing” dll, hihihi cape, baca sendiri di link dibawah ya. Jadi 2 cara test ini yang digunakan dalam menghadapi wabah termasuk untuk pandemi covid-19 & ini hanya sebagian contoh cara untuk menemukan kasus sedini mungkin dengan biaya yang sesuai.

Nah, pertanyaan berikutnya pasti soal “kepastian diagnostik” dari skrining test untuk kasus covid19 yang memakai RAPID TEST ANTIGEN(Ag) & RAPID TEST ANTIBODY(Ab)?. Mengapa memakai kedua test ini(terutama RT-Ag) & bukannya menggunakan PCR yang lebih pasti bahkan menjadi ”golden standard”.

Perhatikan tabel PERBEDAAN SKRINING & DIAGNOSTIK diatas, test skrining pada pandemi diterapkan pada populasi dalam jumlah besar, perhitungan presentasi jumlahnya disesuaikan dengan jumlah penduduk suatu negara yang ditetapkan oleh badan dunia WHO. Jadi bisa dibayangkan bagaimana jika skrining diterapkan pada misalnya 1 juta penduduk saja & menggunakan metoda PCR. Di awal pandemi di Indonesia kala itu, pemeriksaan PCR tidak mudah, alat PCR yang berharga sekitar 3 milyar itu hanya ada di kota-kota besar, saat itu untuk mendapatkan hasilnyapun bisa sampai sekitar 10 hari, belum lagi harganya di saat awal itu jutaan, termahal yang saya tahu sekitar 5 juta.

Apa jadinya coba jika skrining menggunakan PCR pada 1 juta populasi berisiko & setelah 10 hari baru keluar hasilnya & ternyata yang positif hanya 10 orang misalnya. Biaya yang dikeluarkan sangat luar biasa, hasilnya lama & yang paling penting adalah: “TIDAK BISA MENJAWAB KEBUTUHAN SKRINING ITU SENDIRI YANG SALAH SATUNYA ADALAH KECEPATAN PENEMUAN KASUS”. Ini mutlak diperlukan karena salah 1 tujuan skrining adalah mencegah penyebaran penyakit dengan melokalisir orang-orang yang terinfeksi yang tidak bergejala yang bisa menularkan penyakit & itu artinya bicara tentang kecepatan pemeriksaan laboratorium.

Lagipula metoda PCR itu peruntukannya untuk diagnostik, bukan skrining…..begityu. Dan jangan lupa, untuk sampai pada diagnostik, yang utama justru terletak pada anamnesa & pemeriksaan fisik. Pemeriksaan laboratorium & radiologi hanya penunjang saja.

Jadi begitu ya sodara-sodara, skrining tidak bermaksud mengejar orang-orang yang tidak sakit di pasar, mall dll hehehe, tapi untuk mencegah penyebaran wabah, karena jika tidak diisolasi ujung-ujungnya berdampak pada perekonomian negara, karena “resourch” yang dibutuhkan sangat besar jika isolasi ini gagal & kita tidak mau NKRI ini semafut kan?

Sumber:

Differences between screening and diagnostic tests and case finding

https://www.healthknowledge.org.uk/public-health-textbook/disease-causation-diagnostic/2c-diagnosis-screening/screening-diagnostic-case-finding

Diagnostic tests versus screening tests 

https://wiki.ecdc.europa.eu/fem/Pages/Diagnostic%20tests%20versus%20screening%20tests.aspx

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *