Cerita PASIEN pengguna TERAPI ALTERNATIF

Loading

Hehe gara2 tampilan model dukun kale ye, ada ajah pasien yang minta gue “suwuk”, akhirnya deh keluarin tenaga dalam & tangan bergetar2 di muka pasien sambil ngempet ngakak, wakakakak true strory nih. Pasien2 itu lo ngomong, pokoke kalau dokter suwuk pasti sembuh. Haduh cuma  kurang nyembur ajah tuh, langsung praktek dukun deh.

*Agus terbang dari Sabang sampai Merauke nyari pengobatan alternatif untuk perutnya, habis 51 juta rupiah. Cowok ganteng ini punya perut besar seperti ibu hamil & segala bentuk pengobatan alternatif sudah dilakukan, mulai dari obat oles sampai “ketok magic”.

Tapi bukannya kempes, perutnya justru makin besar. Akhirnya tumor ginjal kirinya diangkat lewat operasi dengan biaya sekitar 15 juta rupiah & dia sudah kehabisan uang. Mas Agus ini memang sangat percaya dengan segala pengobatan yang berbau magic, sampai akhirnya dia nyerah & mau datang ke dokter.


*Evi, dia penyanyi dangdut. Dia cantik & mungil. Sudah memakai jasa 5 orang dukun yang katanya sanggup memindahkan penyakitnya ke ayam. Akhirnya saya angkat tumor usus besarnya(colon) yang membuat perutnya seperti ibu hamil, kontras dengan tubuhnya yang hanya tinggal tulang terbungkus kulit. Dan bayaran 5 bapak dukun itu lebih mahal dibanding bayaran saya. Sekarang dia sudah menyanyi lagi, berat badannya naik dari 37 kg menjadi 53 kg & saya sering dapat “oleh-oleh” kalau order nyanyinya laris.

*Adik ipar teman yang seorang dokter kebidanan mempunyai tumor kelenjar gondok. Uang tidak menjadi masalah bagi dia, tapi dia takut dengan pembedahan, jadi dia berobatlah dia ke alternatif.

Naaa begini ceritanya “operasi” dimulai ya, dia dimasukkan ke dalam ruangan gelap, dia mendengar suara pisau & peralatan lain yang digunakan untuk “membedah” lehernya & seperti layaknya operasi beneran, pasien kemudian keluar dengan leher tertutup bebat. Setelah lampu dinyalakan, dia ditunjukkan seonggok “daging” yang katanya “penyakitnya” & pulang dengan nasihat untuk tidak membuka bebat leher selama 2 minggu. Setelah menunggu deg-deg plas, 2 minggu kemudian balutan dibuka. Wah, betul-betul mulus kulitnya seperti tidak pernah tersentuh pisau, seperti operasi kosmetik yang tidak menimbulkan bekas?(padahal selama “operasi” mendengar suara pisau dll). Tapi gundukan tumor gondoknya ternyata juga mulus tidak tersentuh…hehehe, akhirnya operasi deh. 

*Bahkan pemilik rumah sakit tempat saya bekerja lebih mempercayakan dirinya pada terapi alternatif untuk mengobati borok di kakinya karena  kencing manis. Setelah jari-jari kakinya membusuk dan keluar belatung, nahhh baru deh ini bagian saya yang membereskannya berikut dengan belatung-belatungnya….capede.

*Seorang ibu datang dengan luka-luka di kedua betisnya seperti habis disayat pisau & tertutup daun binahong. Kakinya bengkak, nyeri, merah, infeksi, mengeluarkan nanah dari sela-sela sayatan. Rupanya ibu ini menderita tekanan darah tinggi, sakit jantung, sesak sampai kedua kakinya bengkak. Dia mendatangi terapi alternatif & untuk menurunkan tekanan darahnya dilakukan dengan cara mengeluarkan darah lewat beberapa sayatan di betis. Akhirnya kedua betis ibu ini infeksi akibat tindakan yang tidak steril. Ibu ini menderita penyakit jantung yang mendasari pembengkakan di kedua kaki. Akhirnya saya kirim ibu ini ke ahli jantung, saya hanya membersihkan kakinya saja.


*Yang paling ajaib ini dia…ada seorang bapak sudah berumur, datang dalam kondisi koma karena penyakit kencing manis. Kadar gula darahnya sangat tinggi. Selain itu tangan kirinya mulai membusuk & ada belatungnya. Setelah kondisi diperbaiki & kondisi umum baik & sadar kembali, saya mengumpulkan anak-anaknya 10 orang. Saya terangkan tentang lingkaran setan yang pasti terjadi yaitu, luka di tangan yang membusuk bisa menyebabkan kadar gula darah meningkat lagi, begitu juga kadar gula darah yang meningkat akan mengakibatkan luka makin memburuk. Jadi harus diambil tindakan untuk memutus lingkaran ini.

Ada 2 cara, pertama yang tampak sadis yaitu dengan mengamputasi lengannya, tapi menyelamatkan nyawanya, satu kali operasi, kemudian perawatan luka paska operasi seperti biasa. Cara kedua jika menolak amputasi, tiap minggu membersihkan luka  & membuang jaringan yang sudah mati dengan pembiusan umum di kamar operasi. Diselingi perawatan luka tiap hari. Dengan catatan keluarga harus mengerti tindakan ini memerlukan dana yang tidak sedikit. Dan yang lebih penting lagi adalah, dengan kondisi luka seperti itu persentase kegagalan tinggi & ujung-ujungnya bisa jatuh dalam amputasi juga.

Tau gak respon keluarga?. Anak yang paling bungsu, seorang wanita bicara: “Dok saya minta bapak saya tetap di infus cairan saja, tapi semua pengobatan di stop. Kami pakai pengobatan alternatif, jadi kami yang akan memberi obat-obatan yang akan diminum bapak dan juga rempah-rempah(bentuknya daun2an) untuk tangannya. Saya percaya dengan alternatif, tangan bapak gak perlu diamputasi dok. Wowwww?????, la trus ngapain dibawa ke rumah sakit ya?

Udah gak jengkel lagi siii, selalu saja ada cerita seperti ini. Memang tenaga kesehatan tidak masuk dalam golongan orang-orang pintar uhuk, jadi  sering kali tidak menjadi pilihan pertama untuk berobat, bahkan di jaman BPJS sekarang. 

Memang soal “percaya” itu menjadi pendorong untuk proses kesembuhan. Disini nih masalahnya, tenaga medis sering tidak punya cukup waktu untuk membangun rasa percaya itu, belum lagi masyarakat yang memang akrab dengan terapi alternatif. Sikap seperti ini bisa terjadi karena memang kurangnya sarana literatur medis untuk awam, atau literasi yang rendah. Tapi cara pandang kita terhadap “terapi alternatif” juga dibentuk oleh kebiasaan sejak kecil & menjadikannya suatu kebenaran.

Keputusan untuk dilakukan suatu tindakan medis adalah keputusan pasien disaksikan keluarga. Pada pasien anak menjadi tanggung jawab orang tua. Tentu setelah mendapat penjelasan yang “cukup” tentang penyakitnya oleh dokter. Jika pasien melek dengan penyakitnya tentu tidak akan terjadi hal seperti ini.


Yang terbalik dari cerita diatas & aneh menurut saya tapi sering saya jumpai yaitu pasien sering tidak tahu dulu itu dia sudah menjalani operasi apa. Aneh kan, bagaimana mungkin ada seseorang yang begitu pasrahnya “memberikan tubuhnya” dioperasi tanpa mengerti apa penyakitnya. Tapi itu kenyataan yang terjadi. Memang gap komunikasi antara dokter – pasien besar, dokter memang wajib menerangkan dengan bahasa yang dimengerti oleh awam, cuma ternyata ini tidak mudah….suer.

“Saya manut saja, terserah menurut dokter yang terbaik saya manut saja?”, ini kata-kata yang sering saya dengar yang bikin bengong. Seharusnya sebelum kita ke dokter, cari sebanyak mungkin informasi, buka internet. Tanya sebanyak mungkin pada dokter, adalah hak pasien untuk tahu penyakitnya. Tanyakan tindakan yang akan dilakukan, baik itu berupa pengobatan atau operasi. Kalau harus menjalani operasi, tanyakan prosedur singkat operasi, apa saja kemungkinan terburuk yang bisa terjadi selama operasi & pembiusan. Tanyakan risiko yang bisa terjadi kalau menolak operasi, kalau ragu dengan keterangan dokter, tanya ke dokter lain (2nd opinion), ini hak pasien.

Memang, apapun tindakan medis yang dilakukan pada diri sesorang tidak boleh karena paksaan, pasien & keluarga yang harus memutuskan. Dan cobalah untuk tidak berobat setelah penyakit dalam kondisi parah (pada kebanyakan kasus terjadi setelah mereka berkeliling ke terapi alternatif), ingat, dokter juga manusia, dan penyakit dengan kondisi lanjut juga susah & mungkin tidak bisa lagi diobati.

Jadi malprakteknya dimana kalau udah begini….capede

Gambar: Geofanny Sarah Adventia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *