![]()
Luka kayak tergores bisa bikin tetanus loo, iyaa kalau lukanya tidak dirawat, apalagi punya sakit kencing manis, jadi klop deh. Di majalah Critical Care Nurse‘ Juni 1998 dikatakan luka goresan bisa menyebabkan 30% kasus tetanus, sisanya sebanyak 40% kasus akibat luka tusuk, 16% akibat luka kronis (akibat kencing manis, gigi busuk dll) dan bahkan akibat penyalah gunaan obat bisa menyebabkan 2% kasus tetanus karena tidak sterilnya jarum suntik yang digunakan.
Menurut WHO ada ± 800 kasus kematian (40% terjadi pada neonatus/bayi baru lahir) tiap tahunnya yang diakibatkan tetanus. Kebanyakan kasus ini ada di negara berkembang. Di RS. Hasan Sadikin Bandung tercatat 156 kasus tetanus sejak tahun 1999 sampai tahun 2000 dimana 35,2% diantaranya meninggal. Ada 54 kasus tetanus tercatat di RS. Sanglah Bali sejak tahun 2003 sampai tahun 2004 dimana 47% kasus diantaranya meninggal. Di Amerika tercatat 1560 kasus tetanus pada tahun 1923. Tapi sejak dilakukan tindakan preventif dengan immunisasi ‘Tetanus Toksoid’, kasus tetanus menurun drastis menjadi 50 kasus pada tahun 1994. Sekarang di Amerika dan Eropa kasus ini sangat jarang sampai-sampai mereka menganggap aneh jika kasus ini masih ada. Bagaimana dengan Indonesia?

Kita sering mendengar tentang immunisasi, jadi kita seharusnya sudah mendapat immunisasi tetanus. Suntikan TT/Tetanus Toxoid pada ibu hamil atau suntikan DPT/Diphteri Pertusis Tetanus pada bayi adalah upaya pemberian suntikan immunisasi supaya kita terhindar dari tetanus. Tapi siapa yang tahu kalau immunisasi ini sebenarnya harus dilanjutkan setiap 10 tahun sekali sampai seumur hidup?, nggak tahu kan?

Jadi kita harus lebih aktif melindungi diri. Mintalah suntikan anti-tetanus pada saat terkena luka, karena saat ini satu-satunya tindakan pencegahan tetanus pada usia dewasa adalah dengan memberikan suntikan anti-tetanus pada saat terluka. Tindakan ini bisa sangat menghemat, coba bandingkan biaya ± Rp. 200.000,-untuk anti-tetanus dengan biaya minim ± 10 juta rupiah jika kita jatuh dalam kondisi tetanus berat yang memerlukan perawatan khusus.
Kondisi lain yang sering menyebabkan tetanus terutama pada usia lanjut adalah akar-akar gigi yang tanggal & dibiarkan yang akhirnya membusuk. Akar gigi yang membusuk adalah tempat yang sangat ideal untuk kuman tetanus tumbuh, jadi coba perhatikan gigi geligi mbah-mbahnya ya.

Kuman penyebab tetanus ini punya nama cantik yaitu Clostridia Tetani.
Tetapi penyakit yang ditimbulkannya tidak secantik namanya. Bentuknya aja seperti sperma hehehe, nggak tau tuh si kuman ini yang niru sperma atau sperma yang niru si kuman untuk kamuflase wakakakak.
Selain itu kuman ini suka hidup jorok, dia suka ngumpet di tempat-tempat luka yang dalam, seperti di dalam akar gigi yang membusuk di dalam, luka yang bernanah dan berbau, luka dimana terdapat banyak kerusakan jaringan. Pokoknya kuman ini tidak suka kena udara atau oksigen, sehingga karena ketakutannya akan udara ini membuat kita tahu bagaimana menangani kuman ini.
Setelah masuk tubuh racunnya menyebar lewat sistem saraf sampai ke sistem saraf pusat. Spora tetanus dapat masuk tubuh bahkan hanya lewat luka garukan, meskipun kebanyakan memang masuk lewat luka yang dalam misalnya luka karena tertusuk tunggak kayu, luka tertusuk paku berkarat, gigi yang tidak terawat & banyak sisa akar gigi(sering terjadi pada orang tua dimana gigi-geligi sudah mulai tanggal, tapi akar tetap tersisa), sehingga menjadi tempat yang nyaman untuk kuman bertumbuh.
Spora tetanus sangat tahan terhadap proses perusakan, mereka terdapat di tanah, debu, tanaman dan kotoran binatang.
Gejala tetanus bervariasi dari ringan sampai berat. Gejalanya diakibatkan neurotoksin(racun) yang dilepaskan spora dan melalui aliran darah menyebar, dan tempat favoritnya adalah di “otot di bagian penghantar saraf”.
Itulah sebabnya gejala khas penyakit ini adalah kejang. Secara keseluruhan pasien tampak lemah, susah menelan, rahang kaku, ketegangan otot wajah, leher terasa kaku, kekakuan juga mengenai tangan dan kaki. Kemudian kekakuan otot itu akan menyebar ke otot dada, punggung dan perut.
Gejala yang paling sering dan mudah adalah jika pasien tidak bisa membuka mulut(akibat kekakuan otot rahang) dan wajah tampak menyeringai(karena kekakuan otot wajah), menyeringai looo, bukan tersenyum. Selain itu juga disertai sakit kepala dan panas badan.

Tenaga medis perlu menerangkan pada pasien yang menolak suntikan ATS waktu mereka datang ke UGD. Apalagi sebenarnya permasalahannya tidak selalu karena biaya. Pernah suatu waktu menerima keluhan pasien yang akhirnya mengerti dan mengatakan tidak masalah dengan biaya sekian jika risiko menderita tetanus ternyata menghabiskan biaya berlipat kali.
Percayalah ini bukan masalah biaya, tapi sakit tetanus itu bener-bener bahaya, coba bayangkan kita kejang-kejang tapi tetap sadar, gimana sakitnya coba…..hati-hati, di Indonesia angka tetanus masih tinggi, jadi suntikan anti-tetanus itu penting…serius.
Sumber: Critical Care Nurse’ June 1998
Gambar: Koleksi Pribadi
