EMBOLI, apa itu?

Loading

Dokter yang tidak empati pasti bikin mangkel, apalagi malpraktek, pasti heboh. Tapi memang komunikasi itu nggak gampang & problem komunikasi inilah yang paling sering menyebabkan hubungan dokter & pasien memburuk, dan ujung-ujungnya bisa sampai ke pengadilan.

Tapi sekarang kita tidak sedang membahas malpraktek dan yang jelas kasus emboli tidak termasuk malpraktek, karena kasus ini sulit diprediksi, terjadi mendadak dan sering kali tidak bilang-bilang, maksudnya tanpa tanda-tanda awal, yahhh kayak gunung meletus gitu kira-kira, kan susah memprediksinya…

Karena emboli ini makin sering terjadi sebagai penyebab serangan jantung dan stroke, jadi kita harus banyak belajar, karena sebenarnya kita-kita dokter ini senang kalau pasiennya mengerti sehingga enak komunikasinya & “informed-consent” tidak salah.

Emboli artinya adanya “masa” berupa jaringan padat(solid), gas atau cairan yang menyumbat total atau parsial/sebagian aliran darah, dimana embolus ini pada umumnya berasal dari bagian tubuh yang jauh letaknya dari lokasi serangan.

Banyak penyakit yang disebabkan emboli, misalnya serangan stroke, serangan jantung, henti nafas mendadak ataupun sumbatan aliran darah yang menyebabkan jari-jari menghitam dll. Oh ya, bahkan pada kasus patah tulang panjang juga berisiko terjadi emboli karena sumsum tulang dan debris yang terlepas dari tempat patahan tulang dan masuk dalam aliran darah. Tapi kali ini kita bahas kasus emboli terkait kehamilan, dikenal dengan “emboli air ketuban“.

Pada gambar (kelihatan kan) jalannya emboli air ketuban akibat robekan plasenta yang masuk ke dalam aliran darah. Nah, bulatan merah yang bergerak/berjalan itu adalah emboli yang terlepas waktu plasenta keluar dari rahim, dan emboli yang biasanya berisi air ketuban ini bergerak mengikuti aliran darah ibu dan dapat menyumbat pembuluh darah dengan ukuran diameter(lumen) kecil, misal pada pembuluh darah jantung, paru sehingga menimbulkan serangan mendadak.

Emboli ada bermacam-macam yaitu: emboli lemak, emboli sel kanker, emboli udara, emboli plaque(yang lepas), tromboemboli(gumpalan darah), emboli cairan ketuban, emboli parasit, emboli lemak sumsum tulang dan emboli benda asing. 

Kejadian emboli air ketuban memang hanya 1 kasus dari 50.000 sampai 100 000 kelahiran spontan, terjadi selama atau segera setelah kelahiran, tetapi gejalanya begitu hebat & tanpa tanda-tanda peringatan. Pernafasan dangkal sampai gagal nafas, sianosis(kebiruan), jantung berdetak cepat, tekanan darah mendadak turun/syok sampai kegagalan sirkulasi dan sangat cepat jatuh dalam kondisi fatal berupa kejang & koma.

Bayi dalam kandungan sangat berisiko/gawat jika ibu berada dalam kondisi ini, dalam dunia medis disebut “fetal distress”, ditandai dengan melemahnya denyut jantung bayi. Dan jika ini terjadi, bayi harus segera dilahirkan atau akan tidak tertolong.

Yang berikut ini meningkatkan risiko terjadinya emboli air ketuban:

  • Umur ibu hamil diatas 35 tahun
  • Plasenta previa, terutama pada ibu hamil gizi kurang & usia hamil diatas 35 tahun
  • Preeklamsia pada kehamilan, gizi berperan pada kejadian preeklamsia.
  • Prosedur persalinan seperti seksio dan penggunaan forsep atau vakum
  • Genetik: banyak ahli mengatakan bahwa faktor keturunan juga berperan.

Jadi walaupun kehamilan itu tampaknya fisiologis, tapi mutlak ibu hamil harus sehat, sebelum hamil harus mempunyai berat badan ideal, kenaikan berat badan selama kehamilan juga menjadi indikator sehat tidaknya ibu dan janin dalam kandungan.

Kelihatannya anjuran ini lumrah dan biasa-biasa aja ya?. Tapi coba perhatikan lingkungan sekitar, hadehhh, hayo pasti pada tahu deh kalau di masyarakat kita terbiasa mengharuskan seorang ibu hamil berpantang segala macam makanan? Gimana nasib bayi yang dilahirkan nanti, kurang gizi pada ibu hamil adalah masalah yang sangat serius untuk ibu hamil & bayi dalam kandungan & berlanjut sampai kelahiran & menyusui.

Sehat tidaknya kita menjadi tanggung jawab kita, apalagi kalau ibu hamil harus operasi nantinya, kondisi sebelum operasi sangat berpengaruh terhadap proses penyembuhan, jadi jangan dipake dong budaya yang keliru ini dan ibu-ibu hamil wajib makan yang bergizi, tahu kan kalau pada tri-semester awal kehamilan tuh terjadi perkembangan sistem saraf otak bayi, jadi kalau ibu hamil kekurangan gizi, bisa dibayangkan deh bagaimana nasib bayi itu kelak, bisa gak 100% deh, ekekekekekek.  

Salam.

Sumber:

http://www.mayoclinic.com/health/amniotic-fluid-embolism/DS01207

Indian J Crit Care Med. 2009 Jul-Sep; 13(3): 129-135.

Gambar: Geofanny Sarah Adventia

Flash: Koleksi Pribadi 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *