![]()
- Kategori Bloomberg versi Medis
- Tag Erdoganomics • inflasi • suku bunga • Turki • bank sentral • nilai tukar • lira Turki • kebijakan moneter • ekonomi • fiat money
- Ditulis pertama kali: 2 Agustus 2026
Ice breaker
Gara-gara minum Es Degan ini lo, entah bagaimana, aku jadi ingat seorang presiden yang punya teori ekonomi yang nggak lazim. Teori Suku Bunga Terbalik… sampai dapat sebutan Erdoganomics di kalangan ekonom. Aneh ajah dia percaya suku bunga tinggi justru bikin inflasi, padahal dunia bilang sebaliknya, sampai maksa turunin bunga meski inflasi sudah gila-gilaan dan akhirnya Lira ambruk, inflasi sempat tembus 85%. Beberapa tahun kemudian arah kebijakannya berubah, tapi kan rakyat jadi kelinci percobaan, ehmmm warga negara memang sering jadi korban penguasa.
Ya emang bener-bener aneh, ini kalau penyakit ya penyakitnya pengambil kebijakan. Bayangin aja ada pasien demam 40°C. Semua dokter sepakat kalau penyebabnya infeksi. Lalu datang seorang “dokter” bilang: “bukan infeksinya yang bikin demam tapi antibiotiknya” – bener-bener istimewa hihihi.
Kurang lebih begitulah dunia ekonomi memandang Erdoganomics.
————-
Selama puluhan tahun, hampir semua bank sentral di dunia memakai prinsip yang sama.
Kalau inflasi terlalu tinggi, suku bunga dinaikkan.
Tujuannya sederhana, yaitu supaya uang menjadi lebih mahal untuk dipinjam.
Belanja dan investasi yang terlalu panas mulai melambat, permintaan turun, sehingga harga akhirnya ikut mendingin.
Memang obatnya pahit – tetapi biasanya berhasil.
Lalu datang Presiden Turki, Recep Tayyip Erdoğan, dengan teori yang berlawanan.
Beliau percaya justru suku bunga tinggi adalah penyebab inflasi.
Karena itu, ketika inflasi mulai melonjak, suku bunga malah dipaksa turun.
Bank sentral kehilangan independensinya, sampai Gubernur bank sentral yang tidak sejalan
beberapa kali diganti.
Akibatnya?
Inflasi semakin sulit dikendalikan, nilai tukar Lira Turki terus melemah, harga-harga melonjak dan daya beli masyarakat jatuh. Puncaknya, inflasi tahunan Turki pernah mencapai sekitar 85% pada tahun 2022.
Dan yang menjadi korban selalu rakyat: harga roti naik, harga susu naik, tabungan mengecil nilainya setiap hari dan mereka yang gajinya tetap menjadi semakin miskin.
Ironisnya, beberapa tahun kemudian arah kebijakan mulai berubah.
Suku bunga justru dinaikkan sangat tinggi untuk mencoba mengendalikan inflasi.
Artinya….ujung-ujungnya tetap kembali kepada “obat” yang sejak awal sudah dikenal dunia.
Di dunia kedokteran ada pemahaman:
“Jangan memaksa penyakit mengikuti teori kita, tapi biarkan teori yang mengikuti penyakit.”
Ekonomi pun sama: data harus memimpin kebijakan – bukan ego.
Karena ketika eksperimen dilakukan terhadap satu negara, yang menjadi kelinci percobaan bukan tikus laboratorium – tetapi jutaan manusia.
Bayangkan ada pasien sepsis.
Dokter A bilang: “Pasien syok septik. Beri antibiotik, cairan, obat vasopresor kalau perlu.”
Dokter B bilang:”Ah… antibiotik justru penyebab infeksi. Jangan diberi antibiotik.”
Kalau akhirnya pasien meninggal…
Bukan berarti antibiotik salah – bisa juga diagnosis dan terapinya yang salah.
Di dunia ekonomi juga begitu.
Inflasi itu penyakit dan suku bunga adalah salah satu obat.
Obat yang benar tidak selalu langsung menyembuhkan, tetapi obat yang salah hampir pasti memperburuk penyakit.
Jadi masalahnya bukan antibiotiknya, tetapi keputusan untuk tidak memberikannya ketika memang diperlukan.
Di Dunia Medis, jika ada pasien INFEKSI terapinya ANTIBIOTIK dan diberikan dengan DOSIS YANG TEPAT, karena jika terlalu sedikit tidak mempan, terlalu banyak juga ada efek samping.
Di Dunia Ekonomi, jika terjadi INFLASI, terapinya SUKU BUNGA dan BESAR BUNGA HARUS TEPAT, karena jika terlalu rendah tidak manahan inflasi, terlalu tinggi bisa memicu resesi.
Nah ada pasien lagi nih hihihi….
Dia demam, sesak, tekanan darah turun…
Dokter tahu kalau diberi antibiotik belum tentu besok langsung sembuh, mungkin tetap kritis beberapa hari karena obat perlu waktu untuk bekerja.
Tetapi kalau antibiotiknya tidak diberikan sama sekali, peluang memburuk jauh lebih besar.
Ini persis ekonomi.
Naikkan bunga memang belum tentu inflasi langsung turun bulan depan.
Tetapi kalau inflasi 80% lalu bunganya malah diturunkan, ini ibarat pasien syok septik dikasih es sirup saja.
Di dunia kedokteran, satu pasien yang tidak membaik bukan berarti pedoman terapinya salah, karena ada pasien yang datang terlambat, ada penyakit yang terlalu berat dan datang sudah dengan komplikasi. Tetapi jika dokter justru membuang seluruh pedoman ilmiah, lalu mengganti dengan teori pribadinya – yang menjadi korban adalah pasien.
Dunia ekonomi juga sama saja.
Menaikkan suku bunga memang bukan obat ajaib. Kadang pasien ekonomi tetap demam. Tetapi membuang “obat” yang selama puluhan tahun terbukti membantu hanya karena yakin dengan teori sendiri – sama seperti melarang antibiotik pada pasien sepsis.
Terapi yang benar tidak selalu menjamin kesembuhan. Tetapi terapi yang keliru bisa memperbesar peluang kerusakan.
Memang dokter harus membuat diagnosis dulu, pahami patofisiologi, baru pilih terapi. Dan kalau terapi gagal, evaluasi lagi—bukan langsung menyimpulkan bahwa seluruh ilmu yang selama ini dipakai pasti salah.
Bedanya mungkin “rasa” dokter yang sulit ditiru orang ekonomi…hihihi

Dan keanehan Es Deganomicis sebenarnya bukan soal suku bunga saja, lihat saja:
1. Gonta-ganti Gubernur Bank Sentral, dalam 2 tahun, 3 gubernur bank sentral diganti.
2. Program “Kalau Rugi, Negara Bayarin”. Jadi kalau masyarakat simpan uang dalam deposito Lira terus nilai Lira jeblok, pemerintah yang nombokin. Maksudnya supaya rakyat tenang… tetapi dompet negara yang mulai berkeringat. Program ini akhirnya menghabiskan biaya puluhan miliar dolar sebelum dihentikan.
3. Cadangan Devisa Dibakar Saat Lira terus melemah, bank sentral menjual cadangan dolar untuk membeli Lira. Ini kayak ember bocor, airnya terus ditambah, sementara lubangnya tetap menganga di bawah.
4. Penunjukan anggota keluarga ke posisi strategis juga menuai kritik karena memunculkan kesan konflik kepentingan.
5. Selalu Ada Kambing Hitam Kalau inflasi naik. Selalu beralasan bukan karena kebijakan, tapi karena “lobi suku bunga”, spekulan asing, konspirasi, oposisi blablabla…
Padahal dalam ekonomi, menyalahkan orang lain tidak pernah membuat harga tomat turun.
Erdoganomics memang julukan untuk kebijakan ekonomi Presiden Recep Tayyip Erdoğan yang mempertahankan suku bunga rendah meski inflasi melonjak dan dikenal luas sebagai sebutan bagi kebijakan ekonomi Erdoğan yang tidak lazim dan banyak dibahas oleh media ekonomi internasional serta akademisi.
Perlu diingat, menaikkan suku bunga bukan satu-satunya cara mengendalikan inflasi. Inflasi juga dipengaruhi kondisi fiskal, nilai tukar, harga energi, rantai pasok, hingga kepercayaan pasar. Namun hampir semua bank sentral modern menganggap suku bunga sebagai salah satu instrumen utama untuk menjaga stabilitas harga.
Hehe… aku jadi suka nama Es Deganomics. Setiap baca judul itu, yang kebayang bukan grafik inflasi, tapi penjual es degan di pinggir jalan yang tiba-tiba disuruh menjelaskan kebijakan moneter.
