4 KALI SEMAPUT, 2 KALI MAU KABUR – dan aku masih disini

Loading

📂 Kategori Cerita dari Kamar Operasi
🏷️ Tag dokter muda, mahasiswa kedokteran, semaput, sinkop, kamar operasi, trepanasi, IUFD, Jayapura, PPDS bedah, krisis moneter 1998, resign, pendidikan dokter spesialis, guru bedah, perjalanan menjadi dokter bedah
📅 Ditulis pertama kali 17 Agustus 2026
📚 Referensi: Pengalaman pribadi

Kalau sekarang ada yang melihatku berdiri berjam-jam di kamar operasi, mungkin mereka mengira sejak dulu aku memang gagah perkasa…….

Padahal?
Aku empat kali semaput dan bahkan mau resign…….

Semaput #1 Janin Kecil Itu Mengalahkanku ❤️

Aku masih mahasiswa kedokteran.
Hari itu aku melihat persalinan seorang ibu dengan janin yang sudah meninggal di dalam kandungan. Agar ibunya selamat dan tidak perlu operasi, dilakukan tindakan yang saat itu menjadi pilihan yang tersedia dan sekarang kelihatannya sudah tidak dilakukan lagi

Memang si ibu tidak merasakan apa-apa, tapi tindakan memutilasi janin supaya bisa dikeluarkan lewat vagina itu langsung membuat aku gelap…
Aku masih ingat…
Janin dikeluarkan sedikit demi sedikit, kakinya, tangannya…. kemudian potongan-potongan tubuh kecil itu disusun kembali dan dijahit satu per satu…..diselimuti sebelum akhirnya diserahkan kepada kedua orang tuanya.
Dunia langsung gelap….aku nggak ingat lagi gimana aku waktu itu.

Ruang bersalin memang bukan hanya tempat kehidupan dimulai.

Kadang di ruangan yang sama, ada keluarga yang harus belajar mengucapkan selamat tinggal kepada anak yang belum sempat mereka peluk.

Note: Embriotomi
Tindakan destruktif obstetri, yang pada masa lalu dilakukan hanya pada kondisi yang sangat terbatas, yaitu bila janin sudah meninggal (IUFD) atau persalinan pervaginam tidak mungkin berlangsung normal, misalnya karena letak bayi lintang yang tidak dapat dikoreksi, atau ada hambatan lain, dan tindakan itu dianggap lebih aman bagi ibu dibandingkan operasi pada situasi tertentu. Tujuan utamanya adalah menyelamatkan ibu, karena janin memang sudah tidak dapat diselamatkan.

Di era sekarang, tindakan seperti itu sudah sangat jarang dijumpai. Dengan akses operasi sesar yang lebih baik, antibiotik, anestesi, dan fasilitas rumah sakit yang lebih memadai, sebagian besar kasus akan ditangani dengan pendekatan yang berbeda.

Semaput #2 Pungsi Manubrium Sterni

Kalau yang pertama tadi aku ngeri membayangkan prosedur dan nggak tega kepada orang tua dan bayinya, yang ini karena membayangkan rasa nyeri waktu melihat pungsi manubrium sterni untuk diagnosis tifoid (pada masa ketika pemeriksaan itu masih digunakan), “Ya Tuhan… pasien ini pasti kesakitan sekali.”
Dan…dunia kembali gelap 🤭
Bayangin deh tulang dada dicubles pakai jarum besar untuk mengambil sampel…..tulang lo itu dan itu terjadi di depan mataku, aku ingat teman-temanku ngasih aku coklat dan teh manis….itu terjadi di zaal besar dan dingin di ruang Interne.

Semaput #3 Trepanasi

Aku berdiri sebagai asisten satu langsung karena waktu itu PPDS bedah saraf baru satu orang, jadi aku satu-satunya asisten……
Belum lama operasi berjalan…
Dunia mulai berputar. 😅
Dokter operator melihat wajahku mulai pucat: “hayo duduk dulu.”
Aku tetap steril, jadi tidak boleh sembarangan bergerak atau menyentuh apa pun.
Lalu mbak perawat membawakan segelas teh manis dengan sedotan. 🤭
Hihihi ditengah operasi trepanasi, ada asisten yang tetap steril, duduk di pojok, minum teh manis lewat sedotan supaya tidak roboh.

Gimana nggak gelap….. melihat pertama kali tengkorak terbuka…..
……dan diangkat dan bahkan aku pegang tulang tengkorak itu.
Beberapa menit kemudian…
Wajah kembali berwarna.
….dan dokter operator: “Ayo, berdiri lagi.”
Operasi pun lanjut seperti tidak pernah terjadi apa-apa 😂

Lucunya, bertahun-tahun kemudian aku mengebor tulang kepala sendiri…
Ternyata, dibandingkan laparotomi(buka perut) karena perdarahan akibat liver yang hancur misalnya, operasi kepala itu malah terasa lebih “tenang”.
Kasus liver pecah, perdarahannya bisa sangat deras, anatominya kompleks, dan keputusannya harus cepat, kasusnya memang lebih ruwet hihihi 🤣

Hidup memang pandai mengubah cara kita memandang sesuatu.

Semaput #4. Adik Papua kecil yang Tubuhnya Terbakar.

Di Jayapura.
Pasienku anak laki-laki berusia sekitar tiga tahun.
Usianya hampir sama dengan anakku di rumah.
Entah kenapa, yang kulihat bukan lagi pasien.
Yang muncul di kepalaku adalah wajah anakku sendiri.
Aku mulai limbung.
Tetapi kali itu aku sadar, tidak ada dokter lain.
Aku cepat-cepat duduk dan minta teh manis.
Menunggu dunia berhenti berputar – lalu berdiri lagi.
Dan kembali merawat adik kecil itu.

Mungkin ya, di titik itulah aku mulai belajar mengendalikan emosiku.

Aku kira ceritanya selesai…..
Ternyata belum.

Aku juga pernah dua kali menghadap profesor untuk resign.
Tahun 1998.
Krisis moneter.
Masalah rumah tangga.
Keuangan sedang berat.
Aku merasa tidak sanggup lagi melanjutkan PPDS.
Jadi aku menghadap untuk mengundurkan diri.

Misi resign #1. Menghadap Prof. SNT

Jadi aku masuk ke ruangan beliau dengan tekad bulat.
“Hari ini aku mau resign.”
Di kepalaku sudah ada pidato panjang, mau cerita soal rumah tangga, krisis moneter, hidup yang terasa berat……ehhhh…
Prof. SNT tetap menulis.
Tidak menoleh…..tidak melihat wajahku sama sekali.
“Ehm… ngapain kamu sampai mikir resign?”
Masih nulis.
“Kalau resign terus mau jadi apa?”
Masih nulis.

Padahal aku nyesek banget, sementara beliau…tidak memberi panggung untuk drama itu🤭

Tapi ya lucu juga kalau diingat-ingat. Waktu itu ruangan tempat beliau berkantor lumayan sempit, kalau kita-kita PPDS menghadap – posisi beliau itu nggak berhadap-hadapan dengan kita – jadi kita melihat wajah beliau dari samping.

Yang lucu itu gini – jadi di kalangan PPDS, Prof SNT ini termasuk dosen killer. Tapi kita-kita menandai, kalau kumis beliau bergerak naik turun, sebenarnya beliau itu nggak lagi marah dan itu yang aku lihat waktu menghadap, jelas sekali tampak samping😂

Bagi orang luar, kumis itu cuma kumis.
Bagi PPDS, itu sudah seperti alat monitor suasana hati profesor. 🤣

Jadi aku merasa misiku gagal dan aku ngacir keluar🤭, gak ada gunanya sedu sedanku, dicuekiiiinnnn, misi resign gagal total😂🤣😂 (yaaa… sekarang aku bisa menceritakan ini sambil ngakak sih…….kenangan manis).

Beberapa waktu kemudian aku mencoba lagi.

Misi resign #2. Kali ini menghadap Prof. PT

Aku baru membuka mulut.
Beliau langsung memotong.
“Nggak boleh resign.” Titik. Selesai. 😂
Bahkan aku tidak diberi kesempatan menjelaskan alasanku, semua alasan sudah dipotong sebelum keluar 🤣

Dua profesor.
Dua gaya yang sama sekali berbeda.
Yang satu pura-pura cuek.
Yang satu tegas tanpa banyak kata.
Tetapi hasilnya sama…..mereka tidak mengizinkanku menyerah…..

Dua gaya yang sangat berbeda, tetapi hasilnya sama: “Aku lanjut sekolah.”😂

Kalau dipikir-pikir sekarang, hidup memang aneh.
Mungkin memang jalanku tidak pernah lurus.
Tetapi sekarang, saat berdiri di kamar operasi, aku sering tersenyum kadang ngenes mengingat semuanya.

Ternyata…

Aku – kita-kita tidak selalu dilahirkan dengan keberanian.


Kadang-kadang, ia dibentuk oleh empat kali hampir pingsan, dua kali hampir menyerah, segelas teh manis, kumis profesor yang naik turun, dan seorang guru yang hanya berkata,
“Tidak boleh resign.” ❤️

Sebenarnya sejak awal aku nggak pernah bercita-cita jadi dokter, lulus dokter pun aku tidak langsung sekolah bedah. Jadi begitu lulus aku justru kerja kelililing dunia hihihi….nyari duit.

“Dan orang pasti mengira aku semaput karena tidak kuat melihat darah, mereka salah. Yang membuat aku jatuh justru karena aku terlalu kuat merasakan apa yang dirasakan pasien. Yang membuatku goyah adalah kesedihan, rasa nyeri, dan bayangan anakku sendiri……

Dan kalau aku ingat-ingat lagi, itu memang proses hidupku…..
Memang aku kewalahan dan kesulitan untuk belajar, bukan tidak suka belajar, tapi masalahnya bukan itu saja……
Karena hidup di luar rumah sakit sedang sangat berat.
Tahun 1998.
Krisis moneter.
Masalah rumah tangga.
Tekanan keuangan.
Musuh terberat seorang dokter yang sedang menempuh pendidikan sering kali bukan ruang operasi, melainkan kehidupan yang menunggu di luar rumah sakit……termasuk keluarga yang juga menjadi korban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *