![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Luka di lehernya menganga lebar – trakeanya putus total – dan aku bukan dokter bedah tapi harus berhadapan dengan kasus ekstrim pertama tanpa ada kakak kelas atau senior yang mem-backup aku🥺
📂 Kategori Cerita dari Meja Operasi
📅 Ditulis pertama kali: 30 Juli 2026
🔄 Direvisi terakhir: 7 September 2026
📚 Referensi utama: pengalaman pribadi
🖼️ Foto: Koleksi Pribadi
Aku masih dokter umum waktu itu.
Tahun 1994 – tahun 1997, aku bertugas di RS Dok II. Jayapura. Di Irian Jaya saat itu, dokter bedah terbatas, jadi aku…kami belajar sambil bekerja, karena pasien tidak bisa menunggu sampai ahlinya datang.
Suatu hari, seorang pria bernama Paulus datang.
Beberapa jam sebelumnya ia membunuh ibu mertuanya dengan parang.
Setelah itu, ia menggorok lehernya sendiri.
Ketika tiba di IGD, dia tidak bisa berbaring, dia hanya bisa duduk dengan sedikit membungkukkan badan ke depan.
Belakangan aku sadar, itu bukan kebetulan.
Dengan posisi itu, darah tidak terlalu banyak mengalir ke saluran napas yang akan menyebabkan jalan nafasnya tertutup darah, dengan posisi sedikit membungkuk justru potongan trakeanya tetap terbuka sehingga ia masih bisa bernapas.
Luka di lehernya menganga lebar.
Trakeanya putus total, tapi ajaibnya, pembuluh darah besar di kanan kiri lehernya masih utuh(coba deh gugling Arteri Karotis yang besar banget di kanan kiri leher yang bisa menyebabkan kematian beberapa menit saja kalau cedera). Sedikit saja arah parang bergeser, dia sudah meninggal sebelum sempat sampai di rumah sakit.
Kesulitan terbesar kami adalah mengamankan jalan napas paten sehingga oksigen tetap bisa masuk. Padahal kami harus membius dia, temen- temen tahu kan dokter anesthesi kalau memasukkan selang ke jalan nafas posisi pasien terlentang kan.
Tapi justru dalam posisi telentang, darah bisa membanjiri saluran napas. Obat anestesi juga terbatas. Akhirnya kami memberikan obat penenang secukupnya, dan dengan pasien tetap duduk, kami memasukkan pipa napas melalui trakea yang terbuka. Dan tahu tidak, di tahun itu, disana belum ada dokter Anesthesi.

Jadi aku ditemani Bapak Amir Simanungkalit dan Bapak Sergius Swabra – mereka berdua yang akhirnya mengajariku melakukan intubasi, yaitu memasukkan selang nafas ke jalan nafas untuk membius pasien. Mereka bukan dokter anestesi, mereka penata anestesi. Tetapi keterampilan mereka luar biasa. Banyak ilmu praktis yang justru aku pelajari dari mereka.
Setelah jalan napas aman, barulah dia dibaringkan dan dilakukan intubasi definitif yang sesuai sebelum operasi dimulai.
Dan aku bukan dokter bedah
….aku lupa dokter bedah waktu itu dimana, mungkin sedang dinas di RS. Freeport, karena memang waktu itu dokter bedah terbatas dan harus keliling ke kabupaten-kabupaten.
Nah, aku tuh nggak hafal anatomi leher secara rinci. Jadi aku cuma melihat setiap lapisan jaringan dengan teliti. Otot yang strukturnya kelihatan sama dan berasal dari sisi atas aku pasangkan dengan otot yang tampak sama dari sisi bawah.
Satu demi satu.
Pelan-pelan.
Dengan harapan tubuhnya akan melakukan perbaikan sisanya.
Operasi selesai.
Paulus dirawat di ICU dengan selang nafas yang masih terpasang, di ICU dirawat dokter jantung yang sekaligus menjabat Direktur Rumah Sakit. Dan setelah pasien membaik dan beliau tanya “kapan selang nafas akan dicabut”…..aku inget betul waktu itu cuma bisa bengong…… ya karena nggak ngerti😂
Beberapa hari kemudian dia pulang dan waktu kontrol…eng ing eeeenggg dia mengeluh sering cegukan dan aku bingung……lagiiii🤭, apa aku salah mencocokkan dan menyambung urat-urat di leher yang simpang siur kayak kabel PLN itu ya🤭
Saat itu aku sama sekali nggak ngerti penyebabnya, bertahun-tahun kemudian, setelah aku jadi dokter bedah dan ngerti anatomi leher lebih dalam, aku menyadari kalau trauma atau proses penyembuhan di sekitar saraf-saraf leher mungkin berperan jadi penyebab cegukan. Beberapa kali dia kontrol diantar Pak Polisi, keluhan membaik sampai akhirnya dia sulit kontrol karena statusnya….
Tapi…..
Itu bukan bagian yang paling aku ingat.
Yang tidak pernah aku lupakan adalah wajah Paulus.
Ia berkali-kali mengucapkan syukur dan bilang kalau Tuhan masih memberinya kesempatan hidup. Masih memberinya kesempatan untuk bertobat.
Aku cuma bisa diam, tercekat dan masih kaget. Mungkin itu kasus dramatis pertama yang aku harus hadapi sendiri tanpa ada seseorang yang membackup aku – beda banget dengan waktu aku masih sekolah – tanggung jawab itu ada di pundak kakak-kakak kelas dan seniorku.
Aku nggak akan pernah lupa dia sekaligus aku dapet sesuatu yang tidak pernah diajarkan di fakultas kedokteran.
Aku memang diajarin menjahit luka tubuh tetapi kesempatan untuk mengubah hidup…
……sering kali datang dari tempat yang sama sekali tidak kita duga.
Yahhhh….selama puluhan tahun menjadi dokter, aku sudah bertemu ribuan pasien dan sebagian besar aku lupa namanya.
Tetapi ada beberapa yang tetap tinggal di hati.
Paulus adalah salah satunya. Ia mengajarkan bahwa kadang-kadang, operasi yang paling berhasil bukanlah ketika luka sembuh sempurna, melainkan ketika seseorang menemukan alasan untuk TETAP HIDUP🥺

