Banyak Jalan untuk Mengajari Sistem Imun: Jenis-Jenis Vaksin dan Cara Kerjanya

BANYAK JALAN

Loading

📂 Kategori: Obat dan Terapi
🏷️ Tag: vaksin, vaksinasi, jenis vaksin, live attenuated vaccine, inactivated vaccine, subunit vaccine, recombinant vaccine, toxoid vaccine, conjugate vaccine, viral vector vaccine, mRNA vaccine, antigen, imunisasi
📅 Ditulis pertama kali: 27 Agustus 2026
🔄 Direvisi terakhir: 27 Agustus 2026
📚 Referensi utama: World Health Organization (WHO) • Centers for Disease Control and Prevention (CDC) • Children’s Hospital of Philadelphia — Vaccine Education Center

Kalau mendengar kata vaksin, kita mungkin membayangkan suntikan yang berisi virus atau bakteri yang sudah dilemahkan.

Gambaran itu tidak salah sih, tapi juga tidak lengkap.

Vaksin modern ternyata mempunyai banyak cara untuk memperkenalkan “suatu ancaman” kepada sistem pertahanan tubuh. Ada yang membawa mikroorganisme hidup yang sudah dilemahkan, ada yang membawa mikroorganisme yang sudah dimatikan, ada yang hanya membawa sebagian kecil dari mikroorganisme, bahkan ada yang hanya membawa instruksi sementara agar tubuh membuat contoh antigen sendiri.

Tujuannya mirip: tubuh diperkenalkan terlebih dahulu kepada sesuatu yang perlu dikenali, sebelum suatu hari bertemu dengan ancaman yang sebenarnya. Yang berbeda adalah cara perkenalannya, anggap saja ada beberapa cara memperkenalkan seorang buronan kepada petugas keamanan.

  1. Live attenuated vaccine: “Nih buronannya, tapi sudah dilumpuhkan”
    Vaksin jenis ini menggunakan mikroorganisme yang masih hidup, tetapi sudah dilemahkan sehingga pada orang dengan sistem imun normal umumnya tidak mampu menimbulkan penyakit seperti mikroorganisme aslinya.

Karena masih hidup, ia dapat meniru sebagian proses infeksi alami. Itulah sebabnya vaksin hidup yang dilemahkan sering dapat menghasilkan respons imun yang kuat dan bertahan lama.
Contohnya: vaksin MMR untuk campak, gondongan dan rubella, vaksin varicella untuk cacar air, serta vaksin yellow fever.

Tetapi justru karena mikroorganismenya masih hidup, jenis vaksin ini tidak cocok untuk semua orang. Pada kondisi tertentu, terutama gangguan sistem imun berat, penggunaannya memerlukan perhatian khusus atau bisa dikontraindikasikan.

Jadi: musuhnya masih ada, tetapi kemampuannya membuat penyakit sudah dilumpuhkan.

  1. Inactivated vaccine: “Buronannya sudah mati”
    Kalau vaksin hidup masih menggunakan mikroorganisme yang dilemahkan, vaksin inactivated menggunakan virus atau bakteri yang telah dibuat tidak aktif sehingga tidak dapat bereplikasi.

Tubuh tetap dapat mengenali bagian-bagiannya, tetapi mikroorganisme tersebut tidak dapat berkembang biak dan menyebabkan infeksi seperti organisme hidup.
Contohnya adalah vaksin hepatitis A, beberapa vaksin influenza, dan inactivated polio vaccine (IPV).

Karena tidak bereplikasi, respons yang dihasilkan dapat berbeda dari vaksin hidup dan beberapa vaksin jenis ini memerlukan beberapa dosis atau booster untuk mempertahankan perlindungan.
Kalau memakai analogi buronan: orangnya sudah tidak bisa melakukan apa-apa, tetapi wajah dan ciri-cirinya masih dapat dipelajari.

  1. Subunit, recombinant, dan protein vaccine: “Buronannya nggak usah dibawa, fotonya saja.”
    Ternyata untuk mengenali suatu ancaman tidak selalu membutuhkan seluruh mikroorganisme. Kadang cukup diberikan bagian tertentu yang dapat dikenali oleh sistem imun.

Itulah prinsip vaksin subunit.
Bagian tersebut dapat berupa protein, gula tertentu pada permukaan mikroorganisme, atau komponen lain yang dipilih sebagai antigen. Karena hanya menggunakan bagian tertentu, tidak ada mikroorganisme utuh yang dapat menyebabkan infeksi.

Vaksin hepatitis B, misalnya, menggunakan protein permukaan virus hepatitis B yang dibuat dengan teknologi rekombinan. Beberapa vaksin HPV juga dibuat dari protein virus yang kemudian membentuk partikel menyerupai virus, tetapi tidak membawa materi genetik virus yang dapat menyebabkan infeksi.

Jadi kali ini buronannya tidak perlu datang., cukup tunjukkan ciri penting yang perlu dikenali.

  1. Toxoid vaccine: “Yang berbahaya ternyata racunnya, bukan buronannya”
    Ada bakteri yang menyebabkan penyakit terutama karena toksin yang mereka hasilkan. Jadi, sasaran vaksin tidak harus bakterinya. Toksinnya dapat dibuat tidak berbahaya terlebih dahulu menjadi toxoid, tetapi bentuknya masih cukup dikenali sehingga tubuh dapat belajar menghadapi toksin yang sebenarnya.

Contoh klasiknya adalah vaksin tetanus dan diphtheria.
Jadi yang diperkenalkan bukan sang penjahat. Senjatanya yang sudah dibuat tidak berbahaya.

  1. Conjugate vaccine: “Buronannya kurang menarik perhatian, kita gandengkan dengan yang lebih mencolok”
    Beberapa bakteri mempunyai lapisan luar berupa gula kompleks atau polisakarida. Masalahnya, terutama pada bayi dan anak kecil, polisakarida tertentu sendirian tidak selalu menghasilkan respons imun yang cukup baik.

Maka ilmuwan menggunakan trik cerdas: polisakarida tersebut digandengkan dengan sebuah protein pembawa. Gabungan inilah yang disebut conjugate vaccine.
Contohnya: beberapa vaksin pneumokokus dan vaksin meningokokus konjugat.

Bayangkan seseorang yang wajahnya terlalu samar untuk diperhatikan petugas keamanan. Maka ia ditempelkan pada papan besar berwarna mencolok:
“WOI, YANG INI PERLU DIINGAT.”
Kira-kira begitu. 😄

  1. Viral vector vaccine: “Kita kirim kurir membawa petunjuk”
    Nah, mulai di sini caranya berbeda.

Kita tidak memberikan mikroorganisme penyebab penyakit yang sedang menjadi sasaran. Sebagai gantinya digunakan virus lain sebagai pembawa atau vector. Virus pembawa tersebut telah direkayasa untuk membawa informasi genetik yang membuat sel tubuh menghasilkan antigen tertentu dari target penyakit. Setelah antigen itu dibuat, sistem imun dapat mengenalinya.

Teknologi ini digunakan, misalnya, pada beberapa vaksin COVID-19, termasuk vaksin Oxford–AstraZeneca dan Johnson & Johnson.

Jadi kalau sebelumnya kita membawa foto buronan, sekarang kita menggunakan kurir yang membawa instruksi tentang ciri buronan. Kurirnya bukan buronan yang sedang dicari.

  1. mRNA vaccine: “Kurirnya pun tidak perlu. Kirim resepnya saja.”
    Vaksin mRNA mengambil langkah lain lagi.
    Tidak ada virus penyebab penyakit yang utuh di dalam vaksin. Tidak pula diperlukan virus lain sebagai vector.

Yang diberikan adalah messenger RNA (mRNA)—instruksi genetik sementara yang dapat dibaca sel untuk membuat sebuah antigen tertentu. Pada vaksin mRNA COVID-19, misalnya, instruksi tersebut membuat sel menghasilkan antigen berupa protein spike SARS-CoV-2. Sistem imun kemudian dapat mengenalinya. Bahkan mRNA tidak perlu masuk ke inti sel tempat DNA kita berada. Setelah instruksinya digunakan, mRNA tersebut akan dipecah oleh proses normal sel.

Jadi kali ini: tidak perlu membawa penjahat, tidak perlu membawa fotonya, cukup kirim resep sementara untuk membuat contoh cirinya, tubuh mengerjakan sisanya.

Banyak cara, satu tujuan:

…… dari mikroorganisme hidup yang dilemahkan sampai secarik instruksi molekuler, teknologi vaksin ternyata sangat beragam.
Caranya bermacam-macam, seperti: “kenali musuh yang sudah dilemahkan ini”, atau “kenali bagian tubuhnya”, atau “kenali racunnya” dll, tapi semuanya mempunyai gagasan dasar yang sama: memberi kesempatan kepada sistem pertahanan tubuh untuk berkenalan terlebih dahulu dengan suatu ancaman tanpa harus membayar harga berupa penyakit berat akibat pertemuan pertama.

Lalu bagaimana tubuh bisa menyimpan hasil “perkenalan” itu?
Mengapa perlindungan sebagian vaksin dapat bertahan sangat lama, sementara yang lain memerlukan booster?
Dan mengapa keberhasilan vaksin ternyata tidak sesederhana hanya menghitung antibodi?

Nah.
Yang itu kita simpan untuk cerita berikutnya.😄


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *