![]()
📁 Kategori: Obat dan Terapi
🏷️ Tag: ganja, cannabis, THC, CBD, endocannabinoid, endocannabinoid systeml, CB1, CB2, anandamide, 2-AG, Raphael Mechoulam
📅 Ditulis pertama kali: 17 November 2010
🔄 Direvisi terakhir: 2 September 2026
📚 Referensi utama: Russo et al. — Phytochemical and genetic analyses of ancient cannabis from Central Asia; review sejarah cannabis dan endocannabinoid system
Tapi bukan ganja yang itu, tapiiii tubuh manusia memang punya sistem endocannabinoid, lengkap dengan molekul yang dapat berikatan dengan reseptor cannabinoid.
…….. kita mulai dari cerita ganja dulu dong.
DI SUATU MASA
Di dekat Pegunungan Flaming, di tempat wisata populer di wilayah otonomi Xinjiang-Uighur, Cina, seorang pria paruh baya berpenampilan Eropa ditemukan bersama setumpuk ganja. Analisis lebih lanjut terungkap kalau pria itu membawa hampir 800 gram ganja dengan kandungan molekul Δ9 – tetrahydrocannabinol (9-THC) yang tinggi.

Hehehe ini lo bukan tentang turis yang ketangkep membawa ganja dan bakal menghadapi hukuman penjara, tapi laporan arkeologi tentang penggalian makam seorang pria berusia 45 tahun dengan status sosial tinggi, mungkin seorang dukun, yang dimakamkan sekitar 750 SM. Makam ini diduga terkait budaya Tocharian, populasi nomaden yang berbicara dalam bahasa Indo-Eropa yang sekarang sudah punah, digambarkan bermata biru dan berambut pirang, terdapat dalam catatan Tiongkok kuno.
Dalam literatur-literatur kuno, Cina tercatat paling awal menggunakan ganja untuk obat dan terapi ganja dikaitkan dengan Shén Nóng, dari mitologi Tiongkok, seorang kaisar yang namanya berarti Petani Ilahi (2000 SM).
Nama umum untuk ganja di Cina adalah Má yang berarti mati rasa atau anestesi, yang memiliki arti & penggunaan yang sama dalam bahasa Jepang Huà Tuó. Seorang ahli bedah Cina dari dinasti Han, dikatakan telah melakukan operasi dengan anestesi umum menggunakan campuran anggur & ekstrak herbal, yang mungkin mengandung ganja.
Cannabis memang mempunyai sejarah panjang bersama manusia…..dasar manusia…. 😂 Penggunaannya kemudian tercatat di berbagai wilayah Asia, India, Timur Tengah, dan Eropa, baik sebagai serat maupun untuk tujuan pengobatan dan psikoaktif
Bagaimana dengan Mesir Kuno?

Beberapa literatur menghubungkan tanaman yang disebut shemshemet dalam papirus Mesir dengan cannabis dan menyebut penggunaannya dalam ramuan pengobatan. Tetapi identifikasi itu rupanya masih diperdebatkan, sehingga kita nggak bisa begitu saja mengatakan bahwa gambar atau hieroglif Mesir Kuno merupakan bukti pasti penggunaan ganja.
DARI OBAT KUNO KE PENGOBATAN BARAT
Cannabis juga dikenal dalam pengobatan Yunani-Romawi. Dioscorides memasukkannya dalam De Materia Medica, sementara Galen kemudian menulis tentang penggunaannya.
Pada abad ke-19, cannabis mulai mendapat perhatian dalam kedokteran Barat. Salah satu tokoh pentingnya adalah dokter Irlandia William Brooke O’Shaughnessy, yang membawa pengalaman penggunaan cannabis dari India ke dunia kedokteran Eropa.
Namun kandungan bahan aktif tanaman ini belum diketahui. Potensi setiap sediaan pun sulit dipastikan.

Barulah pada 1964, Raphael Mechoulam, seorang Professor Israel dan Yechiel Gaoni berhasil mengisolasi dan menentukan struktur Δ9-tetrahydrocannabinol (THC), komponen utama yang menimbulkan efek psikoaktif cannabis.
Dan dari sinilah ceritanya menjadi jauh lebih menarik.
TERNYATA TUBUH KITA PUNYA SISTEMNYA
Penelitian terhadap THC kemudian membawa ilmuwan menemukan reseptor cannabinoid CB1 dan CB2. Lalu muncul kejutan berikutnya: kalau tubuh mempunyai reseptornya, apakah tubuh juga membuat molekulnya sendiri?
Ternyata iya.
Ditemukanlah anandamide (AEA) dan 2-arachidonoylglycerol (2-AG), dua endocannabinoid utama yang dibuat oleh tubuh kita sendiri.
THC berasal dari tanaman sehingga disebut phytocannabinoid. Sedangkan AEA dan 2-AG berasal dari tubuh sehingga disebut endocannabinoid.
Keseluruhan sistem ini disebut endocannabinoid system (ECS).
CB1 banyak terdapat di sistem saraf pusat dan berperan antara lain dalam pengaturan transmisi saraf. CB2 terutama berkaitan dengan sel dan jaringan sistem imun, walaupun pembagian keduanya tidaklah mutlak.
ECS ikut berperan dalam berbagai fungsi tubuh, antara lain nyeri, nafsu makan, memori, respons stres, dan regulasi imun.
Jadi tulisan di pembuka tadi aku nggak ngawur deh: tubuh kita memang membuat molekul yang bekerja pada sistem reseptor yang sama dengan cannabinoid dari tanaman.
CLOSING
Di sinilah ganja menjadi menarik sekaligus rumit.
THC bersifat psikoaktif, sementara cannabis juga mengandung banyak cannabinoid lain, termasuk CBD, yang mempunyai sifat farmakologis berbeda. Kandungan THC pada produk cannabis pun sangat bervariasi.
Karena itu pembicaraan mengenai ganja untuk pengobatan tidak sesederhana “ganja itu obat” atau “ganja itu racun”.
Yang jauh lebih menarik secara ilmiah justru perjalanan panjangnya: manusia mengenal tanaman ini selama ribuan tahun, tetapi penelitian terhadapnya akhirnya membawa kita menemukan sebuah sistem yang memang sudah ada di dalam tubuh manusia sendiri — endocannabinoid system.
Hehehe… ternyata.. mangkanya hubungannya lengket, nempel kayak perangko 😂 😂
Sumber utama:
- Mechoulam R, Parker LA. Literatur fisiologi dan farmakologi mengenai cannabinoid receptors, anandamide, dan 2-AG.
- Hiroooooo/Wikimedia Commons — CC BY-SA 4.0. Dipotong (cropped) dari gambar asli.
- “Ebers Papyrus, naskah medis Mesir Kuno sekitar 1550 SM. Hubungan cannabis dengan pengobatan Mesir Kuno masih diperdebatkan.”

