TARAK(BERPANTANG) PASKA OPERASI: : Mitos yang Bisa Memperlambat Penyembuhan Luka

Loading

đź“‚ Kategori: Masalah Kesehatan & Hak Pasien
🏷️ Tag pantang makan setelah operasi, tarak, penyembuhan luka, nutrisi pasca operasi, mitos kesehatan, protein, infeksi luka, edukasi pasien, hak pasien, pemulihan pasca operasi
đź“… Ditulis pertama kali 16 Juli 2010
🔄 Direvisi terakhir 24 Juli 2026
📚 Referensi utama: WHO – Nutrition for health and recovery, ESPEN Guidelines on Clinical Nutrition in Surgery, Gambar: Geofanny Sarah Adventia

Update 2026
Enam belas tahun berlalu sejak artikel ini ditulis. Anehnya, sampai hari ini gue masih sering menemui pasien yang setelah operasi hanya makan nasi putih, kerupuk putih dan air putih, hihihi. Padahal ilmu kedokteran justru menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak energi dan protein paska operasi untuk memperbaiki jaringan yang rusak.

“Tarak” dalam budaya kita itu ternyata maksudnya berpantang soal makanan dan katanya berasal dari budaya “tirakat”?. Setahu gue tirakat itu usaha untuk menahan diri dari hal-hal yang buruk dan melatih diri untuk tidak hanya mengenyangkan diri dengan hal-hal duniawi aja, ciecie, maksudnya supaya kita punya tenggang rasa terhadap orang-orang yang tidak seberuntung kita. Bener gak nih, jadi, bagus dong kalau begini.

Tapi kalau tarak(berpantang) dilakukan paska operasi, kebangetan deh, karena akibatnya buruk dalam proses penyembuhan luka dan pemulihan fisik. Akibat terburuk bisa menyebabkan luka operasi infeksi dan luka operasi memburuk.
Bayangkan tubuh kita sedang membangun rumah yang rusak akibat operasi. Batu batanya adalah protein. Tukangnya adalah sel-sel penyembuh luka. Semennya adalah kolagen. Kalau batu batanya tidak dikirim, bagaimana rumah itu bisa selesai dibangun?

Orang sakit butuh gizi lebih untuk sembuh dibanding kita yang sehat. Contohnya, seseorang yang mengalami patah tulang dan dipasang “plat”. Supaya tulangnya cepat menyambung dan “plat” cepat dilepas, dia perlu asupan gizi lebih, terutama makanan yang mengandung kalsium tinggi seperti susu dan ikan karena komposisi tulang terutama terdiri dari kalsium kan.


Bahkan kalsium saja tidak cukup, agar patahan tulang cepat menyambung tubuh juga membutuhkan protein, vitamin D, vitamin C, fosfor, magnesium, dan berbagai mineral lainnya.

Pada akhirnya luka operasi ditutup oleh jaringan kolagen. Kolagen dibuat dari asam amino yang berasal dari protein makanan. Jadi kalau pasien justru berhenti makan telur, ikan, daging, tahu, tempe, atau susu tanpa alasan medis, bahan baku penyembuhan lukanya ikut berkurang.


Tapi nyatanya 1000 % pasien yang gue temui selalu dan selalu tarak paska operasi, haduh, padahal sampe monyong deh nasehatin. Nih ya, harus diketahui, salah satu penyebab kegagalan operasi selain faktor dokter yang “error”, faktor penyakit yang memang berat, juga karena faktor pasiennya sendiri. Setelah gue perhatiin ada kebiasaan berpantang makanan dengan alasan yang hampir sama di budaya kita. Dan budaya ini tidak mengenal tingkat pendidikan, orang kaya atau tidak mampu, di kota, di desa sami mawon. Juga tidak mengenal usia (karena anak-anak dan kaum muda menerima doktrin dari yang lebih tua). Nahhh kalau ini soal budaya, gimana caranya rantai ini bisa diputus?, harus berapa generasi lagi, wkwkwk.

“Jangan minum banyak-banyak habis operasi, nanti lukanya basah terus”. Wah masak badan ini kayak selang bocor?. “Jangan makan telor nanti gatel”. “Jangan makan teri nanti lukanya amis & lama keringnya”. “Jangan makan ayam, nanti lukanya belang”. Pokoke penderita hanya boleh minum air putih(sedikit), nasi putih, kerupuk putih oleh keluarga. 

Pernah datang pasien paska melahirkan seminggu. Tubuhnya bengkak mulai dari wajah sampai ke kedua kakinya. Dia datang karena ambeien parah yang sudah njebrot keluar anus & memaksa operasi segera karena sangat kesakitan.

Gue menduga & bertanya & benar, untuk ibu hamil & paska melahirkan ternyata “keharusan berpantang”, benar-benar mengerikan & sampai sekarang masih terjadi di masyarakat. Kadar proteinnya cuma 1,2 gr/dl (normal ± 4 gr/dl), yang menyebabkan kakinya bengkak, air juga memenuhi paru-parunya sehingga mbak ini sangat sesak. Pembengkakan terjadi karena kurang protein. 

Akibatnya si mbak tidak bisa segera operasi, harus di optimalkan dulu kondisinya supaya operasi berlangsung aman, la wong paru-parunya penuh cairan sampai sesak begitu, padahal si mbak sudah sangat kesakitan, jadi serba salah kan kita2 dokter ini?. Kalau operasi dipaksakan segera jelas sangat berisiko & penyembuhan luka operasi pada pasien yang kekurangan gizi/protein juga buruk.  

Kalau sampeyan gemuk bolehlah “tarak”, kalau tidak ya kebangetannnn!!!!. Penderita gangguan asam urat harus membatasi kacang-kacangan, melinjo, jeroan. Penderita diabetes mellitus harus menghitung jumlah kalori yang masuk. Penderita hipertensi mengurangi makanan bergaram. Penderita hiper-kolesterol harus membuang semua lemak jahat dari meja makannya. Penderita gagal ginjal harus hati-hati mengkonsumsi makanan dengan kadar protein tinggi.

Jadi karena seseorang itu memang sudah menderita suatu penyakit, baru dia diharuskan menghindari suatu makanan tertentu, ini karena tubuhnya tidak mampu mencerna makanan tsb & “bukannya makanan itu yang menyebabkan sakit”. Selalu didasari oleh penyakit yang memang sudah ada & bukan sebaliknya. Kasihan loo bangsa ini, salah kaprah ini jadi salah satu penyebab bangsa kita imut-imut…wekkk.

Saat ini bahkan banyak rumah sakit di dunia menerapkan konsep Enhanced Recovery After Surgery (ERAS). Salah satu prinsipnya adalah pasien justru diupayakan makan dan minum lebih cepat setelah operasi bila kondisinya memungkinkan, karena terbukti mempercepat pemulihan.

Masih ingat di satu episode “Oprah Winfrey”Âť dengan bintang tamu Dr.Oz. ada pasien nenek-nenek dengan penyakit penyempitan & trombus(sumbatan) pembuluh darah jantung. Dr.Oz tidak mau langsung mengoperasi nenek ini, dia menelusuri kebiasaan & pola makannya. Ternyata si nenek perokok berat & peminum. Dr.Oz datang ke rumahnya & membongkar isi lemari es & ketahuan deh pola makan si nenek. Semua jenis makanan yang notabene lemak jahat langsung dibuang & dr. OZ malah mengajari cara memasak makanan yang tepat supaya kandungan gizi dalam makanan tidak rusak karena proses memasak yang salah. Dr.Oz mengharuskan perubahan total dari pola makan, menyetop kebiasaan merokok & minum & harus olah raga. Setelah 3 bulan dipantau, barulah dia mau mengoperasi si nenek.

Kenapa Dr.Oz begitu?.

Kalau pasien belum bisa mengubah pola makan padahal kebiasaannya ini menjadi salah satu penyebab sumbatan pembuluh darah, terbayang kan kalau penyakitnya bisa kambuh lagi paska operasi. Nggak enaknya kalau pasien nggak ngerti soal ini dan menganggap dokter gak ciamik karena kok penyakitnya kambuh, wah bangkrut deh dokter dituntut bolak-balik. Jadi jelas dong pasien harus mengambil tanggung jawab yang menjadi bagiannya untuk keberhasilan suatu tindakan medis. So ini jadi tanggung jawab bersama untuk mencapai kesembuhan, jangan buru-buru teriak malpraktek dong hehe….


Jadi jangan biarkan operasi yang sudah berjalan baik menjadi sia-sia hanya karena tubuh tidak diberi bahan baku untuk sembuh. Dokter menjahit lukanya, tetapi tubuh Andalah yang menyelesaikan pekerjaannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *