PLASMA KONVALESEN: MEMINJAM ANTIBODI ORANG YANG SUDAH SEMBUH

PLASMA KON

Loading

📂 Kategori: Obat & Terapi
🏷️ Tag: plasma konvalesen, antibodi, imunitas pasif, COVID-19, SARS-CoV-2, terapi infeksi, transfusi plasma
📅 Ditulis pertama kali: 10 Oktober 2020
🔄 Direvisi terakhir: 2 September 2026
📚 Referensi utama: WHO — Therapeutics and COVID-19: Living Guideline

Apa itu plasma konvalesen?

Plasma konvalesen adalah plasma darah yang berasal dari seseorang yang telah sembuh dari suatu infeksi dan mengandung antibodi terhadap penyebab infeksi tersebut. Plasma itu kemudian diberikan kepada pasien yang sedang mengalami infeksi yang sama, dengan harapan antibodi donor membantu tubuh pasien melawan penyakit.

Ini merupakan bentuk imunitas pasif: pasien menerima antibodi yang sudah terbentuk, bukan menunggu tubuhnya membuat antibodi sendiri.

Ternyata sudah dipakai lebih dari 100 tahun.

Idenya bukan lahir saat pandemi COVID-19.
Terapi antibodi pasif sudah berkembang sejak akhir abad ke-19, ketika Emil von Behring dan Shibasaburo Kitasato menunjukkan bahwa serum yang mengandung antibodi dapat digunakan untuk melawan difteri dan tetanus.

Dalam perjalanan berikutnya, serum atau plasma konvalesen pernah digunakan pada berbagai wabah, antara lain influenza 1918, SARS, MERS, Ebola, dan akhirnya COVID-19.

Tetapi hasil pada satu penyakit tidak otomatis berlaku pada penyakit lainnya.
Jadi semua penyakit infeksi bisa diterapi dengan plasma orang yang sudah sembuh?. Oh tentu tidak😂, antibodi harus sesuai dengan patogen yang menyebabkan penyakit, kadarnya harus memadai, dan antibodi tersebut harus mempunyai aktivitas yang bermanfaat. Waktu pemberian juga berpengaruh.

Jadi tidak bisa: kalau seseorang pernah sakit → sembuh → ambil plasma → masukkan ke pasien → beres. 😂 Setiap penyakit tetap harus diteliti sendiri. Dan justru COVID-19 memberi contoh menarik tentang bagaimana ilmu kedokteran bekerja.

Apa yang terjadi pada COVID-19?

Pada awal pandemi tahun 2020, belum tersedia terapi spesifik yang terbukti efektif. Karena plasma orang yang sembuh dari COVID-19 mengandung antibodi terhadap SARS-CoV-2, plasma konvalesen menjadi salah satu terapi yang masuk akal untuk dicoba. Di Indonesia pun penggunaannya dilakukan dalam koridor penelitian dan pengawasan, bukan sekadar karena “pernah berhasil dicoba pada penyakit lain.”

Waktu artikel ini pertama ditulis, hasil penelitian masih sedikit dan harapan terhadap terapi plasma konvalesen cukup besar. Kemudian penelitian yang lebih besar datang.

Ternyata plasma konvalesen tidak memberikan manfaat klinis yang cukup untuk digunakan secara rutin pada kebanyakan pasien COVID-19. WHO kemudian merekomendasikan agar terapi ini tidak digunakan secara rutin, sementara penelitian berikutnya malah menunjukkan kemungkinan manfaat yang terbatas pada kondisi pasien dengan gangguan sistem imun contohnya.

Justru inilah pelajaran terpentingnya
Dulu aku menulis:
“Di zaman COVID-19 ini kita bisa belajar dunia penelitian medis itu seperti apa.”
Enam tahun kemudian – sekarang – kalimat itu terasa semakin tepat. 😁
Sebuah terapi memang harus memiliki dasar teori yang masuk akal. Setelah penelitian awal memberi harapan, kemudian dilakukan penelitian yang lebih besar. Data bertambah, kesimpulan berubah, dan akhirnya kita mengetahui untuk siapa terapi itu mungkin berguna—dan kepada siapa tidak.

Begitulah ilmu kedokteran seharusnya bekerja. Bukan mempertahankan pendapat pertama mati-matian. Tetapi mengubah keputusan ketika bukti yang lebih baik datang.🥰😭

Sumber Gambar:

  • Plasma konvalesen yang dikumpulkan selama pandemi COVID-19. Foto: Whoisjohngalt/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
  • Pedoman BPOM tentang pemanfaatan dan penjaminan mutu plasma konvalesen COVID-19, 2020. Sumber: Badan POM RI.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *