TIONGKOK ITU KAPITALIS? — Otot Manufaktur yang Kuat, Mengapa Belum Cukup? Seri 4)

CHINA4

Loading

📌 Tentang Artikel Ini: Mengapa manufaktur China yang kuat belum cukup? Simak dampak Evergrande, Covid-19, dan lemahnya konsumsi domestik terhadap pertumbuhan ekonomi China.
📁 Kategori: Bloomberg Versi Medis
📅 Ditulis pertama kali: 20 September 2026
📚 Referensi utama: International Monetary Fund (IMF), China: 2025 Article IV Consultation, 2026. Sumber pendukung: National Bureau of Statistics of China dan World Bank.
🖼️ Ilustrasi AI

Otot Manufaktur yang Kuat, Mengapa Belum Cukup?

China telah membuktikan bahwa sebuah negara dapat mengubah nasib ekonominya melalui reformasi yang dilakukan secara bertahap. Dari pertanian, industri pedesaan, kawasan ekonomi khusus, hingga perdagangan internasional, China berhasil membangun salah satu kekuatan manufaktur terbesar di dunia.

Namun, keberhasilan tersebut menghadirkan tantangan baru.
Ketika kapasitas produksi terus meningkat, siapa yang akan membeli seluruh barang yang dihasilkan? Bagaimana jika rumah tangga justru semakin berhati-hati mengeluarkan uang? Dan apa yang terjadi ketika salah satu mesin pertumbuhan ekonomi, yaitu sektor properti, mulai kehilangan tenaga?

Untuk memahami persoalan tersebut, kita perlu melihat tiga peristiwa penting yang saling berhubungan.

1. Evergrande: ketika rumah menjadi mesin pertumbuhan ekonomi

Setelah reformasi ekonomi, pembangunan properti menjadi salah satu penggerak aktivitas ekonomi China. Apartemen, kawasan bisnis, jalan, dan infrastruktur baru dibangun untuk mendukung urbanisasi dan pertumbuhan industri. Pembangunan tersebut menggerakkan banyak sektor sekaligus: semen, baja, kaca, peralatan rumah tangga, konstruksi, perbankan, dan tenaga kerja.

    Bagi pemerintah daerah, penjualan hak penggunaan tanah juga menjadi sumber pendapatan penting. Namun, pembangunan properti semakin bergantung pada utang dan ekspektasi bahwa permintaan serta harga rumah akan terus meningkat.
    Salah satu perusahaan yang berkembang pesat melalui model tersebut adalah Evergrande.

    Perusahaan ini membiayai ekspansi besar-besaran melalui pinjaman, penjualan obligasi, serta pembayaran dari pembeli rumah yang bahkan belum selesai dibangun.
    Ketika pemerintah China memperketat pembiayaan perusahaan properti yang memiliki utang tinggi, model bisnis tersebut menghadapi tekanan besar. Evergrande mengalami gagal bayar pada 2021, memasuki proses likuidasi pada 2024, dan dikeluarkan dari pencatatan Bursa Hong Kong pada Agustus 2025.
    Namun, persoalan yang lebih besar bukanlah nasib satu perusahaan.

    EFEK BERANTAI KRISIS PROPERTI

    Pengembang mengalami kesulitan keuangan. Proyek perumahan tertunda, pembangunan baru berkurang, dan pembeli kehilangan kepastian. Pasar properti melemah. Harga rumah dan transaksi menurun. Kekayaan rumah tangga yang tersimpan dalam properti ikut tertekan. Konsumsi dan investasi tertahan. Rumah tangga lebih berhati-hati berbelanja, sementara aktivitas konstruksi dan industri terkait melemah. Pertumbuhan ekonomi kehilangan salah satu penopangnya. Pemerintah daerah juga menghadapi tekanan pendapatan akibat melemahnya penjualan tanah.

    Krisis tersebut belum selesai.
    Pada Agustus 2026, Reuters melaporkan bahwa jutaan rumah yang belum selesai dibangun masih menjadi persoalan. Di sejumlah kota kecil di pedalaman China, harga rumah bekas telah turun hampir seperempat dibandingkan tingkat pada 2020.
    Kondisi ini menjelaskan mengapa krisis properti dapat berdampak jauh melampaui sektor konstruksi.
    Ketika rumah tangga merasa kekayaannya berkurang dan prospek ekonominya tidak pasti, mereka cenderung menunda pembelian barang serta meningkatkan tabungan.
    China tetap mampu memproduksi barang dalam jumlah besar, tetapi kemampuan dan keinginan masyarakat untuk membelinya tidak otomatis ikut meningkat.

    2. Covid-19: ketika aktivitas ekonomi dan kepercayaan masyarakat terguncang.

    Pandemi Covid-19 memberikan tekanan tambahan terhadap perekonomian China. Pembatasan mobilitas dan penutupan wilayah mengganggu kegiatan industri, perdagangan, transportasi, dan sektor jasa. Pada 2022, berbagai pembatasan tersebut ikut menekan konsumsi dan aktivitas ekonomi. Setelah pembatasan dicabut, konsumsi sempat mengalami pemulihan pada awal 2023.

      Namun, pemulihan tersebut kehilangan momentum, sementara kepercayaan konsumen masih jauh di bawah tingkat sebelum pandemi. Mengapa masyarakat tidak langsung kembali berbelanja seperti sebelumnya?. Karena berakhirnya pembatasan tidak otomatis menghilangkan ketidakpastian mengenai pekerjaan, pendapatan, dan masa depan. Terlebih lagi, pandemi berlangsung ketika sektor properti juga sedang mengalami tekanan.

      Kedua peristiwa tersebut memperkuat kecenderungan rumah tangga untuk berhati-hati dalam mengeluarkan uang.

      Dalam laporan konsultasi ekonomi China yang diterbitkan pada 2026, IMF mencatat bahwa kepercayaan konsumen belum sepenuhnya pulih setelah penurunan tajam selama pembatasan Covid. Pelemahan pasar properti dan ketidakpastian pendapatan turut mendorong peningkatan tabungan rumah tangga.

      Di sinilah kita menemukan persoalan yang lebih mendasar.
      Menabung bukanlah kesalahan masyarakat. Jika seseorang merasa perlu menyiapkan dana untuk kesehatan, pendidikan anak, pensiun, atau menghadapi kemungkinan kehilangan pekerjaan, keputusan menyimpan uang merupakan bentuk perlindungan ekonomi yang masuk akal. Namun, ketika jutaan rumah tangga mengambil keputusan serupa secara bersamaan, konsumsi nasional dapat melemah. Akibatnya, perusahaan menghadapi permintaan yang lebih rendah, meskipun kemampuan produksinya tetap besar.

      3. GDP: ketika mesin produksi tumbuh lebih cepat daripada permintaan

      GDP atau Produk Domestik Bruto mengukur nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan suatu perekonomian dalam periode tertentu. Pertumbuhan GDP menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi, tetapi angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan bagaimana pendapatan dibagikan, bagaimana kondisi keuangan rumah tangga, atau seberapa berkelanjutan sumber pertumbuhannya.
      China masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup besar.
      Menurut IMF, GDP riil China tumbuh 5% pada 2025, didukung oleh ekspor yang kuat dan stimulus kebijakan pemerintah. Namun, permintaan domestik swasta tetap lemah.

      PERTUMBUHAN GDP CHINA

        Pertumbuhan yang melambat tidak berarti ekonomi China berhenti berkembang.
        Namun, setelah beberapa dekade mengandalkan investasi, pembangunan infrastruktur, properti, dan ekspor, China menghadapi tantangan untuk menciptakan sumber pertumbuhan yang lebih seimbang. Investasi besar-besaran dapat meningkatkan kapasitas produksi. Tetapi investasi yang terus bertambah tidak selalu menghasilkan keuntungan produktivitas sebesar sebelumnya.
        Jika kapasitas produksi meningkat lebih cepat daripada permintaan, perusahaan dapat menghadapi persaingan harga yang semakin ketat.

        Harga jual yang rendah dapat menguntungkan pembeli, tetapi apabila berlangsung luas dan berkepanjangan, kondisi tersebut dapat menekan keuntungan perusahaan, upah, serta kemampuan membayar utang.
        China juga tidak dapat terus mengandalkan pasar ekspor tanpa menghadapi keterbatasan.
        Negara-negara tujuan ekspor memiliki industri domestik, kepentingan ekonomi, dan kebijakan perdagangan masing-masing.

        Ketika ekspor China meningkat pesat, ketegangan perdagangan dapat bertambah, termasuk melalui tarif dan pembatasan impor. IMF mengidentifikasi lemahnya permintaan domestik, tingginya utang, penurunan hasil investasi, penuaan penduduk, dan ketegangan perdagangan sebagai tantangan bagi pertumbuhan China dalam jangka menengah.

        4. Tantangan berikutnya: dari kekuatan produksi menuju kekuatan konsumsi dan produktivitas

        Selama beberapa dekade, China berhasil menggerakkan tenaga kerja, modal, dan teknologi untuk membangun kemampuan produksi yang sangat besar.

          Namun, tahap pembangunan berikutnya membutuhkan keseimbangan yang berbeda. Kekuatan industri perlu diikuti oleh peningkatan pendapatan rumah tangga, perlindungan sosial, kesempatan kerja, serta lingkungan usaha yang memungkinkan perusahaan dan individu mengembangkan kegiatan ekonomi baru.

          Bank Dunia dalam laporan Juli 2026 menekankan bahwa penguatan jaminan sosial dapat membantu meningkatkan kepercayaan rumah tangga untuk berbelanja, alih-alih terus menambah tabungan sebagai perlindungan terhadap ketidakpastian. Persoalan ini juga berkaitan dengan peran negara dan sektor swasta. Kebijakan industri yang terkoordinasi dapat membantu pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, dan pembentukan industri strategis.

          Di sisi lain, inovasi dan kegiatan usaha juga memerlukan kepastian aturan, persaingan yang terbuka, akses pembiayaan, serta kesempatan bagi pelaku usaha untuk mengambil inisiatif.
          IMF merekomendasikan pengurangan hambatan regulasi, perbaikan persaingan antarperusahaan, penguatan sektor jasa, dan reformasi pasar tenaga kerja untuk meningkatkan produktivitas serta memperluas kesempatan kerja.
          Tantangannya bukan sekadar menghasilkan lebih banyak barang, melainkan memastikan bahwa peningkatan produktivitas juga memperkuat pendapatan, konsumsi, dan kesejahteraan masyarakat.

          Penutup: otot manufaktur yang kuat belum cukup

          China telah memperlihatkan bagaimana reformasi pertanian, pembangunan industri, investasi, dan keterbukaan perdagangan dapat mengubah struktur ekonomi sebuah negara. Namun, perjalanan pembangunan tidak berhenti ketika pabrik telah berdiri, teknologi telah dikuasai, dan barang telah berhasil memasuki pasar dunia. Kemampuan memproduksi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat menikmati hasil produksi tersebut.
          Di sinilah China menghadapi pekerjaan besar berikutnya: mengembangkan sumber pertumbuhan yang tidak hanya bergantung pada investasi dan ekspor, tetapi juga pada konsumsi rumah tangga, produktivitas, serta kegiatan ekonomi yang semakin beragam.
          Pelajaran dari China bukan hanya bagaimana sebuah negara membangun mesin ekonomi yang kuat, tetapi juga bagaimana menjaga agar kekuatan mesin tersebut terus menghasilkan manfaat bagi masyarakatnya.

          Tinggalkan Balasan

          Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *