YOLD—YOUNG OLD VS YOUNG—Ketika Generasi Tua Belum Mau Minggir(Seri 1)

YOLD1

Loading

📌 Tentang Artikel Ini: Penduduk dunia menua, tetapi jutaan orang usia 60–70 tahun belum berhenti bekerja. Singapore, Jepang dan Korea Selatan bahkan membangun kebijakan agar pekerja senior tetap produktif. Apakah YOLD justru menjadi pesaing baru generasi muda? – harus hati-hati hihihi😈😂
📁 Kategori: FISIOLOGI – apa yang terjadi?
📅 Ditulis pertama kali: 10 September 2026
📚 Referensi utama: Can We Get Through the Demographic Crunch?
🖼️ Gambar: Geofanny Sarah Adventia.

Aging is a privilege.

Dulu pernah nulis artikel tentang YOLD ini pada tahun 2022, waktu istilah Young Old terdengar menarik karena menggambarkan manusia usia sekitar 60–75 tahun yang menolak mengikuti gambaran klasik tentang usia tua – alias menolak tua. 😈😂🤣😂

Empat tahun kemudian, aku kembali melihat mereka dan diriku sendiri hihihi. Ternyata mereka bukan menghilang. Malah tambah banyak. Dan beberapa negara mulai menyiapkan kursinya – bukan kursi goyang tapi kursi kerja. 😂

WHO memperkirakan jumlah manusia berusia 60 tahun ke atas yang sekitar 1 miliar pada 2019 akan menjadi 1,4 miliar pada 2030 dan 2,1 miliar pada 2050. Ini bukan lagi perubahan kecil pada struktur penduduk dunia – dan nggak bisa disepelekan deh. 🤣

Dan sesuatu yang menarik sedang terjadi.

Banyak manusia yang memasuki usia 60-an ternyata masih sehat, masih produktif, masih ingin bekerja, masih ingin belajar dan masih ingin mempunyai peran dalam masyarakat.
WHO bahkan tidak lagi melihat healthy ageing sekadar sebagai keadaan “tidak mempunyai penyakit”. Ukurannya adalah functional ability: apakah seseorang masih mampu bergerak, belajar, mengambil keputusan, membangun hubungan dan berkontribusi kepada masyarakat. Seseorang boleh mempunyai penyakit kronis yang terkontrol dan tetap mengalami healthy ageing.

Jadi pertanyaannya berubah.
Bukan lagi: “Bagaimana kita menanggung begitu banyak orang tua?”
Tetapi juga:“Bagaimana kalau orang-orang ini sebenarnya masih bisa berkontribusi?”
Beberapa negara Asia rupanya sudah menjawabnya.

SINGAPORE

Tidak hanya menyuruh YOLD bekerja, tapi membuat sistem supaya mereka bisa bekerja dan Singapore adalah contoh yang mungkin paling rapi.
Mulai 1 Juli 2026, usia pensiun minimum resmi menjadi 64 tahun. Tetapi itu bukan berarti pada ulang tahun ke-64 seseorang menerima kue, jam kenang-kenangan lalu disuruh pulang. Untuk pekerja yang memenuhi syarat, perusahaan wajib menawarkan re-employment sampai usia 69 tahun. Kontrak dapat dibuat sekurang-kurangnya satu tahun dan diperbarui hingga batas usia tersebut. Kalau perusahaan tidak mampu menyediakan pekerjaan yang sesuai, ada aturan mengenai pemindahan kewajiban re-employment ke perusahaan lain atau Employment Assistance Payment.

Jadi ini bukan sekadar kampanye: Senior citizens are valuable.
Ada undang-undangnya, dan pemerintah ikut menaruh uang di meja. Melalui Senior Employment Credit, pemerintah memberikan wage offset hingga 7% kepada perusahaan yang mempekerjakan pekerja Singapore berusia ≥60 tahun dengan penghasilan sampai S$4.000 per bulan. Program ini diperpanjang sampai akhir 2027.

Pesannya sangat pragmatis:
Kalau perusahaan merasa pekerja senior menjadi lebih mahal, negara membantu menanggung transisinya. Singapore tidak sedang romantis terhadap orang tua, tapi mereka sedang melakukan manajemen tenaga kerja. Pengalaman puluhan tahun tidak perlu dibuang hanya karena angka umur berubah.

JEPANG

Di Jepang ternyata umur 65 belum selesai, target berikutnya: 70.
Kalau Singapore menarik, Jepang lebih ekstrem lagi, dan alasannya mudah dimengerti dan semua orang tahu: Jepang kekurangan manusia usia kerja.
Menurut OECD, populasi usia kerja Jepang turun dari 87,3 juta pada 1995 menjadi 73,7 juta pada 2024—penurunan sekitar 16%. OECD memperkirakan populasi usia kerja itu masih dapat menyusut sekitar 31% antara 2023–2060.

Jadi membuang pekerja hanya karena mereka berulang tahun ke-60 bukan strategi yang pintar. Undang-undang Jepang mewajibkan perusahaan memastikan kesempatan kerja sampai 65 tahun, melalui peningkatan usia pensiun, penghapusan pensiun wajib, atau sistem continued employment.

Lalu Jepang bergerak lebih jauh.
Perusahaan juga diminta berupaya menyediakan kesempatan bekerja sampai 70 tahun. Bentuknya bahkan tidak harus pekerjaan konvensional; sistemnya dapat mencakup pekerjaan berkelanjutan maupun beberapa bentuk kontrak dan kegiatan sosial tertentu.

Nah, ini yang menarik.
Apakah perusahaan benar-benar patuh?
Kementerian Tenaga Kerja Jepang mempunyai data 2025 dari 237.739 perusahaan, hasilnya:
99,9% sudah mempunyai mekanisme mempertahankan kesempatan kerja sampai usia 65.
Dan 34,8% sudah mempunyai langkah untuk menyediakan kesempatan bekerja sampai usia 70

Dan pemerintah Jepang belum puas.
Target nasional untuk 2029 adalah sedikitnya 40% perusahaan mempunyai mekanisme tersebut. Jepang juga menargetkan employment rate usia 60–64 mencapai ≥79% dan usia 65–69 mencapai ≥57%. Sebagai perbandingan, angka aktual 2024 masing-masing sudah 74,3% dan 53,6%.

Nah ini bukan lagi soal: “Kasihan orang tua, ayo diberi pekerjaan.”. Tapi justru: “Kami membutuhkan mereka tetap berada di angkatan kerja.”

KOREA SELATAN
Yang ini malah bikin Gen Z mulai keringetan 😂

Korea Selatan mempunyai persoalan demografi yang bahkan lebih brutal.
OECD memperkirakan pada 2050 akan terdapat sekitar 80 orang berusia ≥65 untuk setiap 100 orang usia 20–64. Populasi usia 20–64 bahkan diproyeksikan menjadi sekitar separuhnya pada 2064.

Tetapi lihat angka berikut.
Pada 2024, sekitar: 57% orang Korea usia 65–69 MASIH BEKERJA, sedangkan untuk kelompok umur 55–64, employment rate Korea mencapai 69,9% pada 2024.

Dan pemerintah Korea sekarang mempunyai program continued-employment subsidy untuk membantu perusahaan mempertahankan atau mempekerjakan kembali pekerja senior; Kementerian Tenaga Kerja Korea masih menerbitkan panduan resminya untuk 2026.

Tetapi memang kebijakan YOLD yang baik bukan cuma:“Pokoknya kerja sampai tua.” Tetapi: “Bagaimana manusia yang masih mampu bekerja dapat tetap produktif dengan pekerjaan yang layak?”. Itu jauh lebih manusiawi.

TIGA NEGARA, TIGA CARA MENGHADAPI YOLD

Singapore membangun perlindungan hukum + re-employment + insentif kepada perusahaan.
Jepang membangun jalur kerja yang semakin panjang, dari 65 menuju 70 tahun.
Korea Selatan mempunyai partisipasi kerja senior yang luar biasa tinggi + kebijakan continued employment, tapi juga memperlihatkan bahayanya kalau kualitas pekerjaan senior tidak ikut dijaga.

Mereka mempunyai persoalan demografi yang berbeda-beda.
Tetapi jawabannya mempunyai satu kesamaan: Jangan buru-buru membuang manusia hanya karena umurnya bertambah. Dan WHO sebenarnya menyediakan kerangka yang indah untuk menjelaskannya. Healthy ageing bukan berarti membuat seorang berusia 70 tahun kembali menjadi 30 tahun. Yang ingin dipertahankan adalah kemampuan untuk melakukan hal-hal yang dianggap bernilai oleh manusia itu sendiri—termasuk belajar, mengambil keputusan dan berkontribusi.

Maka YOLD bukan manusia tua yang pura-pura muda.
Mereka memang tua.

Tetapi tua secara kronologis ternyata tidak selalu sama dengan selesai secara fungsional.
LALU… YOUNG-NYA GIMANA? 🍓😈
Dan bagaimana kalau yang tua hidup lebih lama, lebih sehat, tetap bekerja, terus belajar—dan pemerintah justru membantu mereka supaya bertahan?

Lebih parah lagi…
Bagaimana kalau mereka mulai menggunakan teknologi dan AI yang selama ini dianggap sebagai wilayah kekuasaan generasi muda?
Seorang YOLD mungkin kalah cepat menguasai aplikasi baru.
Tetapi dia membawa 30–40 tahun pengalaman, jejaring, judgement dan pattern recognition.
Seorang berusia 25 tahun membawa sesuatu yang tidak kalah hebat: energi, kecepatan belajar, teknologi, kreativitas dan puluhan tahun masa depan.
Maka sebenarnya pertandingannya sangat menarik, bukan tua melawan muda.
Tetapi: pengalaman + kemampuan terus belajar VS kemudaan + kemampuan terus belajar.
Dan tiba-tiba satu-satunya kelompok yang benar-benar berada dalam bahaya bukan Gen Z.
Melainkan…
GENERASI MANA PUN YANG BERHENTI BELAJAR.😈😂🤣😂😭🤭

WHEN I’M SIXTY-FOUR…

Pada 1967 The Beatles merilis “When I’m Sixty-Four”, lagu Paul McCartney yang membayangkan kehidupan ketika seseorang kelak berusia 64 tahun. Ada kegelisahan kecil yang lucu di dalamnya: ketika rambut mulai menipis dan usia bertambah, apakah seseorang masih akan dibutuhkan?

Foto: Jack de Nijs / Anefo, Nationaal Archief — The Beatles — Wikimedia Commons, CC0

Paul bahkan sudah mulai menulis lagu itu ketika masih sangat muda. Umur 64 tentu terasa seperti sebuah negeri nun jauh di masa depan.

Tetapi lihat apa yang terjadi hampir enam dekade kemudian.
Di Singapore tahun 2026, 64 justru menjadi usia pensiun minimum. Pekerja yang memenuhi syarat bahkan dapat melanjutkan re-employment sampai usia 69. Jepang membuka jalan bekerja sampai 70. Di Korea Selatan, lebih dari separuh penduduk usia 65–69 masih bekerja.

Maka pertanyaan Paul McCartney yang dahulu terdengar seperti kegelisahan seseorang tentang masa tua mendapat jawaban yang tidak terduga.
“Will you still need me… when I’m sixty-four?”
Rupanya beberapa negara menjawab: Yes. We still need you.
Besok masuk kerja lagi. 😂🤣😂

Dan mungkin persoalan generasi muda bukan lagi kapan YOLD akan pensiun, tetapi berapa lama mereka sanggup menunggu kursinya kosong – dan semoga gen Z tidak sampai gemetar menunggu.😈 🍓😂😋😑😂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *