![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Global warming bukan hanya soal bumi yang makin panas. Perubahan iklim ikut memengaruhi tubuh manusia—dari heat stress, penyakit jantung dan pernapasan, hingga penyakit infeksi. Artikel ini membahas bagaimana gas rumah kaca, aktivitas manusia, dan perubahan lingkungan akhirnya bermuara pada masalah kesehatan.
📁 Kategori: Genetika
📅 Ditulis pertama kali: 15 November 2020
🔄 Direvisi terakhir: 24 Agustus 2026
📚 Referensi utama: WHO — Climate change and health
🖼️ Ilustrasi: Koleksi Pribadi, tidak ada sapi yang dirugikan dalam pembuatan artikel ini🤣
MAKIN BANYAK MANUSIA, MAKIN BERAT BEBAN BUMI?
Jumlah manusia terus bertambah. Artinya kebutuhan akan makanan, rumah, kendaraan, energi dan lahan juga ikut bertambah.
Tetapi masalahnya bukan sekadar berapa banyak manusia yang hidup di bumi. Yang menentukan adalah bagaimana kita hidup: dari mana energi kita berasal, berapa banyak bahan bakar fosil yang kita bakar, bagaimana kita menggunakan lahan, dan berapa banyak limbah yang kita hasilkan.
Menurut WHO urbanisasi, energi, transportasi, polusi udara, perubahan iklim, dan kesehatan; kota menggunakan >2/3 energi dunia dan menghasilkan >60% emisi gas rumah kaca.
Disini jumlah penduduk bertemu dengan global warming.
DARI MANA PANAS ITU DATANG?
Beberapa gas di atmosfer menahan panas sehingga bumi tetap cukup hangat untuk dihuni. Masalah muncul ketika aktivitas manusia membuat konsentrasi gas-gas tersebut meningkat terlalu banyak, seperti:

Karbondioksida (CO₂)
Terutama meningkat akibat pembakaran batu bara, minyak dan gas, serta penggunaan lahan.
METHANA (CH₄) dihasilkan oleh mikroorganisme pengurai, atau alami saat pembusukan bio-massa di rawa-rawa sehingga disebut juga “gas rawa”. Methana mudah terbakar dan menghasilkan karbon dioksida sebagai hasil sampingan. Kegiatan manusia meningkatkan jumlah methana yang dilepaskan ke atmosfer. Sawah merupakan kondisi ideal bagi pembentukannya, tangkai padi bertindak sebagai saluran methana ke atmosfer.
Selain itu methana juga dihasilkan dari peternakan, tempat pembuangan sampah, serta produksi bahan bakar fosil.

Meningkatnya jumlah ternak sapi, kerbau dan sejenisnya merupakan sumber lain yang berarti, karena methana dihasilkan dalam perut mereka dan dikeluarkan ketika mereka bersendawa & kentut….hihihi
CHLOROFLUOROCARBON(CFC) adalah gas buatan. CFC yang paling banyak digunakan mempunyai nama dagang Freon, digunakan dalam proses pengembangan busa di dalam peralatan pendingin ruangan, lemari es, alat pendorong pada hairspray, minyak wangi dll. Gas CFC dapat bergerak naik dengan perlahan ke dalam stratosfeer. Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan sinar UV dan membebaskan atom klorin. Atom klorin ini merusak ozon dan menghasilkan lubang ozon. Penipisan lapisan ozon menyebabkan lebih banyak sinar UV memasuki bumi. Akibatnya kita tahu, kanker kulit meningkat, katarak, kerusakan genetik, matinya ikan & tumbuhan laut akibat paparan sinar matahari yang menyinari bumi bebas tanpa saringan ozon.

CFC (chlorofluorocarbon)
Dulu banyak digunakan pada pendingin dan aerosol. Selain merupakan gas rumah kaca yang kuat, CFC juga merusak lapisan ozon. Penggunaannya kemudian dibatasi melalui Montreal Protocol.
Jadi AC, kendaraan, listrik, industri, peternakan sampai sampah yang kita hasilkan sebenarnya berada dalam satu cerita besar:
…..”cara hidup manusia meninggalkan jejak di atmosfer”
TERUS, APA HUBUNGANNYA DENGAN TUBUH KITA?
Pembakaran bahan bakar fosil bukan hanya menghasilkan gas rumah kaca. Proses yang sama juga menghasilkan polusi udara yang kita hirup. Artinya apa yang kita lepaskan ke lingkungan pada akhirnya bisa kembali ke manusia.
Udara yang tercemar masuk paru-paru. Partikel dan berbagai zat pencemar dapat memengaruhi sistem pernapasan, pembuluh darah dan organ lain. Sementara perubahan iklim meningkatkan risiko gelombang panas, gangguan ketersediaan pangan dan air, serta berbagai penyakit yang sensitif terhadap perubahan iklim.
Jadi polusi bumi dan polusi tubuh sebenarnya bukan dua cerita yang terpisah.
Bumi menerima sisa aktivitas manusia.
Dan tubuh kita hidup di dalam bumi yang sama.
KETIKA POLUSI SAMPAI KE DNA
Dampak polusi ternyata bisa masuk lebih dalam dan tidask hanya mengganggu paru-paru atau pembuluh darah. Beberapa polutan dapat memicu reactive oxygen species (ROS) dan stres oksidatif di dalam sel. ROS yang berlebihan dapat merusak DNA dan bahkan menyebabkan putusnya rantai DNA.
Tubuh sebenarnya mempunyai sistem perbaikan DNA. Tetapi bila kerusakan terjadi terus-menerus atau lolos dari proses perbaikan, perubahan dapat menetap sebagai mutasi. Bila mutasi mengenai gen yang mengatur pertumbuhan, pembelahan, atau kematian sel, risiko terjadinya kanker dapat meningkat.
Polutan tertentu juga dapat memengaruhi epigenetik—bukan mengubah urutan huruf DNA, tetapi mengubah cara suatu gen diaktifkan atau dimatikan. Jadi perjalanan polusi bisa sangat panjang: lingkungan → tubuh → sel → DNA dan pengaturan gen.
Itulah sebabnya cerita tentang pencemaran lingkungan ternyata juga merupakan cerita tentang genetika dan kesehatan manusia.

