![]()
Usus lengket adalah salah satu risiko paska operasi & yang pasti ini nggak termasuk malpraktek. Pada perokok kondisi ini terjadi lebih parah karena nikotin dapat meningkatkan risiko terjadinya usus “mbulet”, gak percaya ya….lanjut dulu.

Keterangan: Usus mendominasi isi rongga perut seperti tampak di gambar. Dalam kondisi normal usus selalu bergerak dan tidak saling melengket karena ada cairan perut yang membasahi diantaranya.
Hati-hati pada perubahan pola makan, misal makan kebanyakan, keaseman, kepahitan hehehe…coba ingat-ingat waktu lebaran, natal atau tahun baru, kan aneka ragam makanan sangat-sangat membuat lapar mata tuh?. Di India sudah diamati oleh para pakar statistik kesehatan terjadinya kolik/nyeri abdomen dan perlengketan usus setiap kali acara festival / perayaan keagamaan.
Saya lebih suka & selalu saya katakan kepada semua pasien saya bahwa, kalau terpaksa menjalani operasi membuka perut, ya berarti itu “cacat”, kenapa?…..lanjut dulu ya, mangkanya jangan cari penyakit, jadi siapa hayo yang minta caesar pada tanggal 09 bulan 09 tahun 09 kemarin hehehehe.
APA SAJA AKIBAT YANG TIMBUL SETELAH LAPAROTOMI (MEMBUKA PERUT)?
Yang paling sering terjadi adalah perlengketan usus (strength ileus/Adhesive Small Bowel Obstruction/ASBO) sebanyak 93% kasus. Yang lain adalah: nyeri perut kronis, nyeri panggul, obstruksi usus (sumbatan) & infertilitas (mandul), dijumpai pada sedikit kasus.

Akibat dari usus “mbulet” ini yang paling jelek adalah terpaksa perut dibuka lagi untuk melepaskan perlengketan & merapikan usus yang kusut. Dan karena perut dibuka lagi maka risiko ini bisa timbul lagi. Memang risiko ini dibilang tinggi, menurut data sampai 60% kejadian paska operasi perut/ laparotomy. Dan operasi model gini ‘njengkelin’ buat dokter bedah, karena harus sabar, telaten menangani usus yang “fragil”.
Tapi jangan jadi ‘anti’ operasi perut gegara tulisan ini lo, banyak kasus yang tidak bisa dihindari selain memang harus operasi, misal pada kasus-kasus yang mengancam jiwa.
Contoh akibat kecelakaan yang mengakibatkan liver atau limpa pecah. Operasi harus dilakukan sesegera mungkin atau nyawa taruhannya. Kasus lain adalah kebocoran usus akibat luka tusuk, akibat penyakit typhus, akibat usus buntu pecah dll. Usus yang bocor sangat cepat menimbulkan infeksi & dapat menyebar ke seluruh tubuh.

Bagaimana gak menyebar, la wong kalau usus buntu pecah, usus bocor itu menghasilkan nanah yang sangat infeksius & menyebar sistemik ke seluruh tubuh karena ada selaput perut yang melindungi organ-organ daleman & kaya pembuluh darah. Operasi harus segera dilakukan karena angka kematian akibat infeksi perut tinggi jika terlambat.
APAKAH SEMUA STRENGTH ILEUS/ASBO BERAKHIR DI MEJA OPERASI?
Tidak dong, yang jadi masalah itu kebanyakan pasien datang sudah terlambat, ada yang dipijet dulu, ada yang pake alternatif dll dll. Akhirnya mereka datang terlambat & dalam kondisi sudah jelek. Kalau ASBO ditangani sejak dini, pada umumnya berhasil tanpa harus operasi membuka perut….. lagiiii.

Jadi siapapun yang pernah operasi laparotomi kemudian timbul KOLIK BERULANG, MUAL s/d MUNTAH, TIDAK BISA FLATUS & BAB, KEMBUNG & bahkan DIARE, pikirkan saja dulu kemungkinan strength ini SAMPAI TERBUKTI BUKAN.

Karena kalau terlambat….. urusan usus yang terpuntir & busuk ini panjang ceritanya, singkatnya urusan usus busuk itu deket2 nyawa deh karena mudah terjadi sepsis(infeksi berat).
Penanganan awal jika ASBO ditemukan dini sangat sederhana, yaitu dengan memuasakan pasien, dekompresi (memasang selang di hidung sampai lambung) yang berfungsi mengistirahatkan fungsi pencernaan, rehidrasi yaitu memberi cairan yang cukup dan pemberian medikamentosa. Jika ini dikerjakan dini, pada umumnya dalam 2 s/d 3 x24 jam akan membaik, jadi kuncinya ya jangan terlambat & harus datang ke rumah sakit yang ada dokter bedahnya ya….iya dong.
TAPI KENAPA SIH USUS MAUNYA LENGKET TERUS SETELAH OPERASI?
Begini lo, entah luka itu tampak di sekujur tubuh atau yang tidak tampak di dalam tubuh, proses terjadinya penyembuhan(healing process) sama saja, jadi jangan heboh karena jahitan yang tampak di kulit, justru yang terjadi di dalam perut itu yang heboh.

Dengan berjalannya proses penyembuhan, usus dapat saling melengket, kadang-kadang ada bentukan seperti “benang”/ fibrin yang melengketkan usus dengan dinding perut. Atau “benang” tadi menjerat usus sehingga usus melintir seperti yang tampak pada foto-foto, bandingkan dengan foto normal.
Berdasarkan penelitian diketahui bahwa tahapan pertama terjadinya perlengketan adalah karena adanya proses eksudasi / pengeluaran fibrin melewati kapiler mesenterik yang permeabilitasnya meningkat.
Maksudnya begini, setelah proses penyembuhan, tubuh bereaksi dengan mengeluarkan fibrin dari pembuluh-pembuluh darah perut dimana pembuluh-pembuluh ini berubah sifatnya menjadi lebih mudah mengeluarkan fibrin. Fibrin inilah “oknum” yang menyebabkan perlengketan usus.
Fibrin ini sebenarnya memang selalu ada di setiap proses penyembuhan luka di bagian tubuh manapun yang ada lukanya, fibrin bisa dikatakan “lem-nya luka” sehingga luka bisa menutup. Cuma risikonya ya itu tadi, usus-usus disekitar keluarnya fibrin itu ikut nempel deh.
PEROKOK BERISIKO LEBIH BESAR? BUKTINYA?
Sudah diteliti pada hewan coba tikus kalau nikotin di dalam darah merangsang pengeluaran Vascular Endothelial Growth Factor(VEGF) atau Faktor Pertumbuhan Endotel Pembuluh darah. VEGF ini meningkatkan permeabilitas endotel pembuluh darah perut – yang akhirnya menyebabkan pengeluaran fibrin semakin cepat dan akhirnya menyebabkan terjadinya perlengketan usus.
Setelah 14 hari pemberian nikotin pada penelitian hewan coba tikus, kemudian perut tikus-tikus tadi dibedah lagi dan dilihat tingkat perlengketannya dibandingkan dengan tikus-tikus yang tidak diberi nikotin. Dan hasilnya? Secara statistik sangat bermakna bahwa perlengketan usus pada tikus yang diberi nikotin jauh … jauh … jauh lebih lengket dibandingkan yang tidak diberi nikotin.
Jadi, mengapa mau diperdaya oleh tikus, ehhhhh…..rokok?.
Sumber:
World J. Surg’2004
Foto: Koleksi Pribadi
