![]()
Kategori: Masalah Kesehatan & Hak Pasien
Tag: kanker payudara, benjolan payudara, gejala kanker payudara, SADARI, pemeriksaan payudara, deteksi dini kanker payudara
Ditulis pertama kali: 18 November 2010
Direvisi terakhir: 12 Agustus 2026
Referensi utama: American Cancer Society — Signs and Symptoms of Breast Cancer; Breast Cancer Now — Touch Look Check. Gambar: Geofanny Sarah Adventia
Pasien-pasien kanker payudara yang datang dengan kondisi telat paling sering ngomong gini: “habis dok benjolannya nggak nyeri, jadi saya pikir nggak apa-apa”, “ini sejak masih segede kelereng sampe segini nggak nyeri, ini nyeri setelah pecah dan bau, dulu nggak nyeri, trus meletus baru nyeri.
Padahal, benjolan kanker payudara justru sering tidak menimbulkan nyeri, terutama pada tahap awal. Karena itu, jangan menunggu sakit untuk memeriksakan benjolan di payudara.
Cerita kayak gini ini kenyataan sehari-hari pasien di klinik, kalau benjolan itu bisul sudah pasti nyeri sampai kepala cemot-cemot dan badan panas dingin. Pada ibu-ibu yang sedang menyusui tapi air susu tidak lancar keluar sehingga payudara membengkak, sudah pasti pada meringis kesakitan, orang Jawa menyebutnya ngrangsemi.
Jadi jangan salah, benjolan tumor ganas payudara jarang menimbulkan rasa nyeri, banyak yang keliru selama ini. Benjolan yang nyeri pada umumnya disebabkan infeksi payudara yang bisa berkembang jadi abses/bisul yang jika tidak diobati bisa saja meletus sehingga nyerinya hebat. Benjolan akibat infeksi atau abses terasa nyeri karena proses peradangan. Sebaliknya, benjolan tumor ganas dapat tumbuh tanpa rasa sakit. Inilah yang kadang membuat seseorang terlambat memeriksakan diri..
Apa saja gejala tumor ganas(kanker) payudara?

Selain benjolan, gejala lainnya ini: keluar cairan dari puting susu. Kulit payudara diatas benjolan tumor seperti kulit jeruk(peau de orange) atau puting tampak tertarik mengkerut kedalam (retracted).
Jika ada riwayat penyakit tumor ganas dalam keluarga, maka harus lebih berhati-hati dan periksakan lebih dini. Lakukanlah screening, katakan saja pada dokter jika ada riwayat kanker dalam keluarga, walaupun waktu memeriksakan diri belum tentu ada keluhan seperti diatas. Dokter akan memilihkan pemeriksaan yang tepat. Tetapi bukan berarti kalau ada anggota keluarga yang sakit kanker payudara otomatis anak cucu juga akan menderita kanker, cukup bersikap hati-hati saja dan melakukan pemeriksaan dini.
Jika memang teraba benjolan jangan menunda-nunda apalagi dengan alasan benjolan tidak nyeri, makin dini pemeriksaan makin baik hasilnya. Usahakan anda sudah dalam penanganan dokter waktu ukuran tumor masih dibawah 1 cm, supaya dokter masih bisa menyelamatkan payudara, jadi peran aktif kita untuk SADARI (perikSA payuDAra sendiRI) sangat penting.
Kenali payudara sendiri.
Biasakan mengenali bagaimana bentuk dan rasa payudara kita. Kita dapat melihatnya di depan cermin dan meraba seluruh bagian payudara serta ketiak sehingga lebih mudah menyadari bila suatu saat muncul perubahan.

- Berdiri menghadap kaca, buka baju dong. Terus perhatikan apakah ukuran payudara berbeda jauh antara kiri & kanan?. Angkat kedua tangan, apakah ada bagian payudara yang mengkerut atau tertarik waktu tangan diangkat.

2. Kemudian dengan salah satu tangan sementara tangan yang lain diangkat. Mulailah melakukan perabaan secara sistematis mulai dari tepi luar payudara sampai ke sentral. Gunakan 3 jari sehingga perabaan lebih mudah & tidak ada bagian yang terlewati. Meraba dengan menggunakan 3 jari menghindari penekanan pada 1 area.

3. Kemudian diulangi dengan meraba dari arah atas ke bawah. Terakhir “pencet” puting susu dan perhatikan apakah ada cairan keluar dari puting.
Mengenali payudara sendiri membantu kita menyadari adanya perubahan, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan dokter atau skrining mammografi bila memang sudah dianjurkan.
Sebagian besar perubahan pada payudara tidak selalu berarti kanker. Tetapi bila menemukan benjolan baru atau perubahan yang menetap, periksakan. Jangan menunggu sampai terasa sakit. Semakin dini kanker payudara ditemukan, semakin baik peluang penanganannya
Mengenal konsep Breast Self-Awareness
Breast self-awareness (BSA) itu konsep yang lebih luas: perempuan kenal kondisi normal payudaranya sendiri—bagaimana tampilan dan rasanya—sehingga sadar kalau ada perubahan dan kemudian mencari evaluasi medis.
Di dalam praktiknya tentu boleh dan bisa melihat serta meraba sendiri. Bahkan self-exam dapat membantu seseorang mengenali tampilan dan rasa normal payudaranya.
ACOG malah membedakannya secara eksplisit: BSA tidak mengharuskan pemeriksaan sistematis atau rutin, sedangkan traditional breast self-examination memang merupakan inspeksi/palpasi yang dilakukan secara teratur dan berulang. Alasannya, BSE rutin pada perempuan average-risk tidak terbukti menurunkan kematian akibat kanker payudara dan dapat meningkatkan false positive/intervensi yang tidak perlu.
https://www.acog.org/womens-health/experts-and-stories/ask-acog/monthly-self-exams-of-breasts
Breast self-awareness itu lebih luas daripada “mencari benjolan”. Intinya perempuan mengenal baseline payudaranya sendiri—bentuk, kontur, kulit, puting, dan terutama feel/tekstur jaringan.
Jadi suatu saat dia bisa menangkap: “Lho, bagian ini kok rasanya beda dari biasanya?”
Belum tentu berupa nodul yang tegas. Bisa terasa lebih keras/firmer, menebal, fullness yang baru, tekstur berbeda, atau perubahan yang asimetris dan menetap. ACOG sendiri mendefinisikan self-awareness sebagai mengetahui tampilan dan rasa normal payudara sehingga perubahan kecil sekalipun dapat dikenali.
SADARI adalah cara praktis untuk membangun breast self-awareness.
Artinya tujuan meraba bukan hanya, “ada benjolan atau tidak?”, tetapi belajar mengenali payudara sendiri sehingga tahu kalau ada sesuatu yang berubah.
Di Indonesia SADARI memang masih diajarkan secara berkala dan dikaitkan dengan siklus menstruasi. Kemenkes saat ini masih menganjurkan SADARI setiap bulan pada hari ke-7 sampai ke-10 dihitung dari hari pertama haid; setelah menopause, pilih tanggal yang sama setiap bulan. https://www.kemkes.go.id/id/cegah-kanker-payudara-dengan-sadari-dan-sadanis
Alasan dilakukan setelah menstruasi karena pengaruh hormonal terhadap payudara lebih rendah dibanding menjelang/saat haid, sehingga payudara cenderung tidak terlalu tegang, nyeri, atau nodular dan baseline jaringan lebih gampang dikenali.
Maksud SADARI adalah supaya perempuan “mengenal keadaan payudaranya sendiri”, sehingga bisa menemukan kelainan lebih dini.
Sumber:
https://breastcancernow.org/about-breast-cancer/touch-look-check
https://www.nationalbreastcancer.org/breast-self-exam/
