TUBUH KITA “BICARA”, DENGERIN DONG

Loading

Kategori: Masalah Kesehatan & Hak Pasien
Tag: tanda tubuh, gejala penyakit, deteksi dini, kanker payudara, benjolan payudara, kanker kolorektal, perubahan pola BAB, pemeriksaan kesehatan
Ditulis pertama kali: 18 November 2010
Direvisi terakhir: 10 Agustus 2026
Referensi utama: American Cancer Society — Signs and Symptoms of Cancer, Gambar: Geofanny Sarah Adventia

TUBUH KITA “BICARA”…..DENGERIN DONG

Tubuh ini sebenarnya “berbicara” banyak, cuma kita sering nggak mau dengerin. Atau nggak ngerti. Atau cuek. Bahkan kadang memforsir di luar batas kemampuan sampai akhirnya turun mesin.

“Bicara” itu maksudnya tubuh selalu memberi tanda atau peringatan tentang apa yang sedang terjadi. Dan dia juga memberi sinyal supaya kita berhenti, memperhatikan, atau mencari pertolongan.

Saya nggak tahu banyak tentang mobil, tapi cukup peka kalau ada sesuatu yang nggak beres. Beberapa hari lalu waktu nyetir dan injak gas rasanya aneh, mobil seperti mau mati tapi terus normal lagi. Kadang ndredet-ndredet, lalu baik lagi. Suara AC juga keras banget dan bunyinya mendesis. Saya diamkan beberapa hari, sampai akhirnya mobil mulai nggak dingin dan mogok total saat parkir di tempat kerja. Padahal beberapa hari sebelumnya saya sudah telepon bengkel karena curiga ada sesuatu yang “sakit”.

Akhirnya dibawa ke bengkel dan ketahuan ada korsleting. Karena mobil jarang dipakai dan anak malas memanaskan mobil, kabelnya digigit tikus. Korsletingnya ikut mengenai sistem AC..

Nah, tubuh kita juga seperti ini.

Saat badan mulai terasa nggak enak

Otot nyeri, ngilu, kepala berat, badan lemas—apalagi saat sedang terjadi perubahan cuaca—jangan langsung diabaikan. Istirahat yang cukup, makan bergizi, minum cukup, dan perhatikan apakah keluhan membaik. Kalau keluhan menetap, makin berat, atau muncul sesuatu yang tidak biasa, jangan terus dianggap “ah, paling kecapekan”. Tubuh mungkin sedang mengatakan ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Berat badan turun padahal tidak sedang diet juga perlu diperhatikan. Penyebabnya banyak dan tidak selalu kanker, tetapi penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas termasuk salah satu perubahan tubuh yang sebaiknya diperiksa.

Saya punya teman yang nggak bisa gemuk-gemuk biarpun makannya sebakul. Malahan dia makin kurus. Sebenarnya keren sih, kan langsing, cuma kok rambutnya mulai rontok, sering deg-degan dan makin sulit tidur. Ini gejala-gejala penyakit tiroid, dan setelah diperiksa ternyata kadar hormon tiroidnya memang berlebihan.

Kulit juga bisa “bicara”
Kalau melihat bercak atau tahi lalat di kulit, perhatikan apakah ada perubahan. Kita bisa memakai ABCDE sebagai pengingat sederhana: Asymmetry, Border, Color, Diameter, dan Evolving—artinya berubah.
Selain tahi lalat, luka yang tidak kunjung sembuh, mudah berdarah, atau benjolan kulit yang terus berubah juga jangan dibiarkan. Kanker kulit tidak selalu mempunyai satu bentuk khas, sehingga perubahan yang menetap perlu diperiksa.

Kaki juga bisa bercerita
Kaki bisa bercerita tentang kondisi sirkulasi dan saraf kita. Kesemutan, mati rasa, perubahan warna kulit, luka yang sulit sembuh, atau kaki yang terasa berbeda dari biasanya perlu diperhatikan—terutama pada penderita diabetes.
Pada penderita diabetes, luka kecil sekalipun jangan dianggap sepele karena gangguan saraf dapat membuat luka tidak terasa.

  • Ada perubahan pada payudara
  • Terabanya benjolan di payudara harus dianggap serius. Begitu juga kalau keluar cairan dari puting susu padahal sedang tidak menyusui atau terdapat perubahan bentuk puting dan kulit payudara.

 

Benjolan kanker payudara sering tidak menimbulkan rasa sakit, terutama pada awalnya. Karena merasa tidak sakit dan tetap bisa beraktivitas seperti biasa, sebagian orang menunda berobat sampai benjolan menjadi sangat besar, kulit berubah atau luka, bahkan pecah.

Jadi jangan menunggu sakit. Bila menemukan benjolan baru pada payudara, perubahan bentuk payudara atau puting, kulit tertarik ke dalam, atau keluar cairan dari puting padahal tidak sedang menyusui, periksakan. Di Indonesia, sekitar 7 dari 10 pasien kanker payudara baru datang berobat ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut. 

Bagaimana dengan bentuk tubuh?
Dulu kita sering membagi bentuk tubuh menjadi apple dan pear. Istilah ini boleh saja dipakai untuk mempermudah gambaran, tetapi yang lebih penting sebenarnya adalah penumpukan lemak di daerah perut. Lemak yang banyak berkumpul di perut berkaitan dengan meningkatnya risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan beberapa penyakit lainnya. Jadi bukan soal tubuh kita berbentuk apel atau pir, tetapi di mana lemak tubuh lebih banyak tersimpan.

  • Jadi bukan soal tubuh kita berbentuk apel atau pir, tetapi di mana lemak tubuh lebih banyak tersimpan
  • Jadi hati-hati jika tampilan sudah memiliki lemak perut berlebih, ingat bahwa apa yang tampak diluar juga menunjukkan daleman lo…xixixi.

Dan jangan abaikan perubahan pola BAB
Waktu di RS Dr. Soetomo saya pernah punya pasien wanita usia 29 tahun. Dia sarjana hukum, manajer perusahaan. Kurus, pucat, Hb hanya 2 g/dL, dan datang dengan keluhan diare kronis.
Waktu saya periksa, tercium bau khas yang membuat saya curiga. Ironisnya, sudah setengah tahun dia berobat diare ke dokter yang katanya profesor, uang sudah keluar banyak, tetapi sakitnya dianggap karena stres.

Saya bertanya, “Pernah diperiksa colok dubur?”
Belum pernah.
Perubahan pola buang air besar yang menetap—diare, konstipasi, bentuk tinja berubah, lendir atau darah pada tinja—memang bisa disebabkan banyak hal dan tidak berarti pasti kanker. Tetapi bila berlangsung terus, apalagi disertai anemia atau berat badan turun, jangan menunggu terlalu lama untuk memeriksakannya.

Dan ada satu pemeriksaan penting pada keluhan di daerah rektum dan anus: pemeriksaan colok dubur.

Begini. Kalau kita sakit polip hidung, dokter akan memeriksa hidung. Kalau sakit gigi, dokter memeriksa gigi. Kalau ada benjolan di leher, dokter meraba leher. Kalau ada benjolan di payudara, dokter meraba payudara.
Nah, kalau ada masalah di sekitar dubur, ya daerah itu juga perlu diperiksa.
Pemeriksaannya sederhana. Pada kondisi yang memang memerlukannya, dokter memasukkan satu jari bersarung tangan dan berpelumas ke dalam anus untuk meraba apakah ada kelainan. Setelah itu barulah ditentukan apakah diperlukan pemeriksaan lanjutan.

Jangan sampai kejadian seperti mbak di atas. Sedih rasanya. Senang bisa jadi tempat curhatnya, yang awalnya sangat marah sampai mau menuntut profesor itu, sampai akhirnya menerima penyakitnya.
Kanker rektumnya sudah stadium akhir. Di akhir hidupnya dia menelepon meminta dijemput ke rumah sakit. Saya jemput dengan ambulans dan langsung masuk ruang ICU RS Dr. Soetomo.
Sampai kapan pun saya nggak bisa lupa senyuman mbak itu, sangat tenang tapi membuat rasa bersalah.

Tubuh selalu memberi alarm untuk kita berhenti dan mendengarkan….
Tubuh kita sebenarnya cerewet. Kita saja yang kadang terlalu sibuk untuk mendengarnya.

https://www.indonesianjournalofcancer.or.id/e-journal/index.php/ijoc/article/view/920
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/breast-cancer
https://kemkes.go.id/id/tekan-angka-kematian-kanker-kemenkes-tempuh-strategi-ini
https://www.cancer.org/cancer/diagnosis-staging/signs-and-symptoms-of-cancer.html⁠

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *