![]()
Sebenarnya rumor yang menakutkan tentang antibiotika bukanlah masalah harganya yang selangit, biarpun antibiotika memang termasuk obat yang harganya melangit & Alexander Fleming sudah menduga hal ini. Dia bilang begini “BIARPUN PENICILLIN MENYELAMATKAN BANYAK NYAWA (PADA PERANG DUNIA II), TAPI AKAN DATANG MASANYA DIMANA ERA PRA-BIOTIK AKAN KEMBALI”, maksudnya era dimana antibiotika belum ditemukan.
Ini kata WHO; mortalitas (kematian) AKIBAT INFEKSI pada tahun 2013 sudah mencapai 700.000/tahun di seluruh dunia, akan mencapai angka 10.000.000/ tahun pada tahun 2050, dan 4,5 juta diantaranya terjadi di ASIA.

Antibiotika Penicillin ditemukan Alexander Fleming pada tahun 1929, tapi pada tahun 1950 diketahui hanya 15% dari bakteri Staphylococcus Aureus yang masih sensitif terhadap Penicillin, dan saat ini diperkirakan tinggal 5 % yang masih sensitif.
Rasanya seperti baru saja dunia kesehatan happy dengan banyaknya nyawa yang bisa diselamatkan karena antibiotik, tapi rupanya era yang dimaksud pak Fleming itu mulai kelihatan di depan mata. Ada apa?
Kalau sudah begini, si kuman kok jauh lebih sadis dari Hitler ya?. Yaaa kematian sebanyak ini disebabkan infeksi, karena mikroba sangat pintar merubah diri/mutasi sehingga resisten/kebal terhadap antibiotik.
Apakah kita akan kembali ke era kelabu itu…
dimana banyakkk kasus kematian yang mengharu biru…
karena duluuu antibiotik memang belum ketemu… hanya bakteri yang tahu, uhukz…
Nyatanya memang penemuan antibiotik sangat sulit, tidak mampu mengimbangi kemunculan mikroba-mikroba baru. Kita menjadi penyumbang timbulnya mikroba yang ganas, gak percaya?. Apa penyebabnya?
- Pasti banyak dari kita kalau sakit gigi dikit2 minum ampisilin, bener kan? Pasti minumnya gak sesuai dosis. Orang awam pada umumnya keliru karena berpikir ampicillin itu obat nyeri. Trus mereka bilang kalau nyerinya hilang dengan ampisilin. Weee ya iyalah, la wong ada kuman yang nongkrong di gigi busuknya itu, jadi mati kan kumannya kena ampicillin.
- Kalau lagi flu, pasti pada minum antibiotik, hayo ngaku, padahal flu itu disebabkan virus yang gak ngefek blazzz pake antibiotik, antibiotik hanya bisa membunuh kuman/ bakteri, tidak bisa membunuh virus. Virus itu beda dengan bakteri lo saudara-saudara.
- Kalau ada luka kecil saja, yang seharusnya gak perlu minum antibiotik karena daya tahan tubuh mampu melawan infeksi, tapi langsung saja kan pada minum amoxicillin dsb dsb

Dunia medis juga berkontribusi soal ini:
- Kalangan medis; seharusnya tidak masuk dalam daftar karena pakem pemberian antibiotik jelas.
- Paramedis; seharusnya juga tidak boleh memberikan obat-obatan apalagi antibiotik. Tapi banyak pasien berobat ke paramedis karena alasan berobat ke dokter mahal.
- Farmasist; setahu saya farmasi memberikan obat hanya jika ada resep dari dokter, apa saya salah?.
- Penjualan bebas dari bermacam-macam antibibiotik?
Akibat kebiasaan yang salah ini, mikroba jadi akrab dengan antibiotik, kalau kita mengkonsumsi dalam dosis yang tidak benar atau bahkan sebenarnya tidak perlu antibiotik, mikroba ini jadi pinter melawan antibiotik, sehingga kalau jenis antibiotik yang sama diminum lagi suatu hari nanti, sudah tidak mempan lagi.
APA ITU TES KULTUR & SENSITIVITAS?
Tes sensitivitas adalah tes kepekaan mikroba terhadap antibiotik. Ini salah 1 cara mengurangi pemakaian antibiotik yang tidak tepat, pemeriksaan ini seharusnya wajib dikerjakan setelah pemberian antibiotik empiris. Tes ini membantu dokter mengobati infeksi sesuai jenis bakteri sekaligus tau apakah bakteri-bakteri tsb resisten terhadap antibiotika, sehingga tidak terjadi pengobatan yang lama, tidak perlu & tidak efisien.
Karena jika kuman resisten terhadap antibiotik, tidak ada gunanya pemberian antibiotik berlama-lama, selain memang tidak berefek apapun, yang gawat, bakteri makin pintar dan tahu caranya membuat “tameng” & bisa membentuk strain yang lebih ganas.
Analisa sensitivitas dimulai dengan mengambil “sample”, diambil dengan cara “swab”(dari lokasi), atau dari darah, urin, jaringan, sputum, nanah & di laboratorium dibiakkan dalam media pertumbuhan. Bakteri yang bertumbuh & bermultiplikasi membentuk koloni(kawanan) bakteri dalam media khusus inilah yang disebut “kultur”.
APA YANG DIKERJAKAN DI LABORATORIUM?
Di laboratorium, teknisi akan meletakkan sampel ke dalam glass petri yang berisi nutrisi (seperti agar-agar), tempat pertumbuhan bakteri. Setelah bakteri tumbuh dalam populasi koloni yang cukup, kemudian dikerjakan:

1. Identifikasi bakteri: dikerjakan dengan beberapa teknik: pemeriksaan karakteristik bakteri (warna, tekstur, pola pertumbuhan bakteri dll), gram-staining & pemeriksaan mikroskop.

2. Menentukan sensitifitas populasi bakteri terhadap antibiotik: setelah bakteri hidup di dalam petri glass berisi agar(lihat gambar), sepotong kecil “filter paper” yang berisi beberapa jenis antibiotik “diletakkan” ke dalam petri glass. Kemudian bakteri di inkubasi 1 – 2 hari & petri glass diperiksa untuk melihat apakah pertumbuhan bakteri dihambat atau tidak oleh antibiotik.
KAPAN HARUS DIKERJAKAN TES KULTUR DAN SENSITIVITAS
Memang tidak semua infeksi perlu pemeriksaan ini, karena secara empiris antibiotik yang diperlukan sudah diketahui, ini hasil riset, misalnya kebanyakan penyebab infeksi tenggorokan adalah streptokokus, sehingga dapat langsung diberikan penicillin, tetapi jika ada dugaan(dari klinis) kalau bakteri ini kebal terhadap penicillin, baru kemudian dilakukan tes sensitifitas. Contoh lain pada “luka infeksi kronis”, umumnya tidak hanya 1 jenis bakteri yang didapatkan pada luka.
Jika ada indikasi, lakukan sesegera mungkin sebelum dimulai terapi antibiotik. Memang pemeriksaan ini tidak langsung didapatkan hasilnya, karena pertumbuhan bakteri perlu waktu. Tapi jika ada indikasi untuk melakukan pemeriksaan kultur & sensitivitas, lakukan segera sehingga tubuh tidak lama terpapar oleh antibiotik yang tidak tepat.
Trus gimana ceritanya kita-kita berkontribusi dalam menciptakan bakteri……to be continued….
