![]()
Agnodice, lahir dari keluarga Athena kaya di Abad 4 SM. Rupanya dia perempuan yang peka terhadap kejadian di sekelilingnya, terutama tentang masalah-masalah sosial & salah satu kejadian yang mengejutkan Agnodice adalah tingginya angka kematian bayi dan ibu saat melahirkan.

Kejadian ini akhirnya mengilhami dia untuk belajar kedokteran, sayangnya dia dilahirkan di masa dimana wanita dilarang mempelajari atau mempraktikkan kedokteran — bahkan di masa itu dianggap sebagai kejahatan yang dapat dihukum mati.
Sebenarnya angka kematian ibu & bayi yang tinggi masih menjadi masalah sampai saat ini (2000 tahun setelah Agnodice lo) di negara-negara berkembang, miskin & bahkan Indonesia mendapat sorotan WHO karena tingginya angka kematian ini, ke tiga di Asean, setelah Myanmar & Laos.
Sejak jaman dahulu rupanya wanita telah memonopoli perawatan medis untuk kaum wanita. Persalinan diawasi oleh kerabat dekat wanita, perempuan yang memiliki keahlian khusus. Praktek ini diterima secara luas dan semakin berkembang sampai saat ini & bersamaan dengan berjalannya waktu, posisi ini akhirnya dikenal sebagai bidan.
Karena kenginan yang besar Agnodice untuk bisa mendalami kedokteran, tapi kondisi di masa itu tidak memungkinkan, dia menyamarkan dirinya dengan memotong rambutnya, mengenakan pakaian pria, dan pergi ke Alexandria untuk belajar kedokteran.

Di bawah bimbingan Herophilos dari Chalcedon (335-280 SM), yang merupakan pengikut Hippocrates(bapak Bedah modern), dia belajar ilmu kedokteran. Setelah selesai Agnodice kemudian kembali ke Athena.
Jalan hidup seseorang memang sering tidak bisa dimengerti, seperti disuatu sore saat Agnodice berjalan-jalan dia mendengar jeritan kesakitan seorang wanita yang sedang melahirkan & ketika dia bergegas untuk membantu, Agnodice diusir keluar karena memang tampilannya yang seperti laki-laki. Sehingga Agnodice melepas jubahnya dan mengungkapkan kalau dirinya seorang wanita, dan dia akhirnya berhasil menolong persalinan wanita muda itu.
Berita tentang Agnodice ini kemudian tersebar luas diantara komunitas perempuan & keahliannya makin diminati. Karena praktek yang makin menjamur ini, akhirnya menimbulkan kecemburuan dokter-dokter pria & Agnodice dibawa ke pengadilan untuk suatu masalah yang tidak masuk di akal.
Singkat kata, di pengadilan itu Agnodice harus membuktikan kalau dia perempuan dengan membuka bajunya & kenyataan ini makin membuat marah para juri yang notabene laki-laki – karena seorang wanita telah mempraktikkan pengobatan secara terbuka, tepat di bawah hidung mereka, mereka memutuskan untuk menghukum mati Agnodice.
Berita tentang putusan hukuman mati ini segera tersebar, sekelompok besar wanita Athena (termasuk beberapa istri bangsawan dari pria yang menginginkan kematian Agnodice) melakukan demonstrasi menuntut agar Agnodice dibebaskan.
Dihadapkan dengan kemarahan istri mereka, para pria bangsawan ini mengalah dan memutuskan untuk mengubah hukuman itu. Berkat Agnodice, wanita dapat belajar praktik kedokteran secara legal sampai saat ini.
Tapiii….
Cerita simpang siur tentang Agnodice ini berkelebat dibanyak tulisan soal apakah Agnodice ini sosok yang nyata ada atau hanya legenda…..

….tapi nyatanya catatan tentangnya ada & ditulis oleh Gaius Julius Hyginus (64 SM—17 M), berupa dua teks singkat dalam “Fabulae dan Astronomi” yang menyoal tentang kisah “cross-dressing dan praktik medis Agnodice”.
Tapi lagi, kalaupun cerita Agnodice ini hanya legenda yang ceritanya berkembang di tengah masyarakat luas, bisa ditarik kesimpulan bahwa:
- Betapa inginnya wanita memiliki pendidikan tinggi itu sudah ada sejak jaman itu,,,
- Betapa wanita sejak jaman kuda gigit besi selau menjadi warga negara kelas dua…
- Betapa wanita merasa nyaman jika diperiksa oleh dokter sesama jenis…
Closing, mitos atau bukan, banyak yang bisa dipelajari dari cerita ini. Agnodice seorang diri tidak akan pernah bisa mengubah hukum di Athena—hanya dengan bantuan dan dukungan dari komunitasnya dia dapat benar-benar melakukan perubahan & menjadi inspirasi.
Perubahan besar memang membutuhkan sekelompok besar “orang waras” untuk melawan “orang-orang yang merasa benar” padahal sesungguhnya kelompok yang merasa benar ini hanya memuaskan egonya & juga karena mereka melihat perempuan tidak mungkin akan melawan…..
Hehehehe …..tinggal tunggu tanggal mainnya Ferguso wkwkwk…..
Sumber:
