![]()
Merawat apalagi “melayani” pasien bukan perkara gampang, apalagi banyak pasien juga yang njengkelin sih, belum lagi yang julid…hehehe.
Dan seseorang dengan penyakit depresi yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa justru bisa melihat kebutuhan ini. Patch Adams, setelah lama dirawat & tinggal bersama pasien-pasien depresi lainnya belajar banyak untuk bagaimana memberikan pelayanan yang terbaik untuk kesembuhan pasien. Pengalaman ini membuat Patch Adams terinspirasi & bertekad untuk bisa melanjutkan pendidikan di fakultas kedokteran demi bisa membantu orang lain.

Jadi ironi kala film(true story) ini diperankan oleh Robin Williams yang tanpa disangka mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, sedangkan Patch Adams yang dia perankan di layar lebar, bertekad untuk tidak berusaha bunuh diri…lagi
Ayah Patch adalah tentara yang ikut beperang di masa perang dunia II, kembali dari medan perang ayah Patch mengalami PTSD sehingga berakibat buruk pada hubungan orang tua anak & membuat Patch jatuh dalam kondisi depresi, setelah keluar masuk perawatan di rumah sakit jiwa, Patch bisa bangkit & menemukan keinginannya untuk melayani sesamanya melalui pengobatan dan membuat komitmen pada diri sendiri untuk tidak akan berusaha mengakhiri hidupnya…lagi.
Patch termasuk mahasiswa jenius yang bisa dengan cepat memahami materi yang diberikan para dosen. Selain itu, Patch juga memiliki pemahaman sendiri bahwa mengobati pasien tidak cukup hanya dengan pendekatan medis, tapi perlu pendekatan psikologis agar pasien merasa nyaman, kualitas hidupnya meningkat & lebih berani dalam menghadapi segala kemungkinan dalam hidupnya.

Patch berpendapat bahwa “A doctor’s mission shoud be not just to prevent death, but also to improve the quality of life”. Tujuan seorang dokter tidak hanya menyembuhkan pasien atau mencegah kematian, tapi juga untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Kekritisan Patch sebagai mahasiswa kedokteran seringkali membuat dokter-dokter pengajar merasa tidak nyaman & kebingungan, dan gayanya yang dianggap tidak biasa dalam melayani pasien akhirnya membuat Patch disidang untuk memutuskan apakah ia akan tetap diijinkan kuliah atau dikeluarkan.
Meskipun mendapat dukungan dari teman-temannya dan perawat rumah sakit, namun tidak demikian dengan pengajar yang merupakan dokter-dokter senior, berpengalaman dan bergelar profesor.
Akibatnya Adam sampai harus mengumpulkan teman-teman yang mendukungnya dan beberapa pasien yang kondisinya membaik bahkan sembuh berkat bantuannya untuk melakukan pembelaan diri & berakhir dengan sangat baik, dan tidak bisa dibantah oleh para dokter senior dan profesor yang tidak suka padanya.
Setelah lulus dan menjadi dokter, Adams dan teman-temannya yang memiliki ide yang sama mendirikan klinik “Gesundheit” untuk bisa melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan dengan pendekatan yang berbeda dari dokter-dokter dan rumah sakit lain pada umumnya. Pendekatannya pada kemanusiaan, komunikasi, empati namun tetap mengedepankan etika, profesionalisme dan kompetensi seorang dokter.

Gesundheit, berasal dari bahasa Jerman, secara harafiah berarti “kesehatan”, hampir sama artinya dengan ucapan dalam bahasa Inggris: God bless you, yang diucapkan waktu seseorang bersin. Awal berupa klinik, Gesundheit! Institute(Not-for-profit health care), didirikan oleh Patch Adam pada tahun 1971, di Hillsboro, West Virginia, U.S.
Klinik yang kemudian menjadi rumah sakit ini ternyata sukses besar dan menjadi buah bibir masyarakat karena pendekatan pelayanannya yang berbeda. Hal ini membuat dokter-dokter lain tertarik untuk bergabung dan belajar metode yang diterapkan Patch Adams dan rekan-rekannya. Para dokter yang ingin bergabung tersebut rela meninggalkan pekerjaannya yang sudah stabil di rumah sakit atau klinik terkenal untuk bergabung di Gesundheit. Gesundheti menjadi tempat perawatan favorit masyarakat dimana kesembuhan dan kualitas hidup bisa didapatkan secara bersama-sama karena dokter-dokter dan petugas kesehatannya mengerti bagaimana memberikan pelayanan yang manusiawi dan berempati.
“You treat a disease, you win, you loose. You treat a person, I guarantee you, youll win, no matter what the outcome.” Hunter Patch Adams.
…nyatanya pendekatan yang dilakukan Patch sudah menjadi minat para ilmuwan sejak lama diteliti karena pada dasarnya “pasien, manusia memang harus dipandang secara holistik”….begini ceritanya…..
PSYCHONEUROIMMUNOLOGY
Psikoneuroimunologi adalah bidang ilmiah transdisipliner yang berkaitan dengan interaksi antara otak (pikiran/perilaku) dan sistem kekebalan serta implikasi klinisnya, disebut sebagai psychoneuroimmunology atau “PNI”.
Psikolog Robert Ader mengenalkan istilah ini pada akhir tahun 1970-an, juga dikenal dengan istilah neuroimmunomodulation & neuroendocrinoimmunology atau imunologi perilaku. Aspek klinisnya berupa pemahaman tentang mekanisme biologis yang mendasari faktor psikososial pada onset dan perjalanan penyakit yang dimediasi secara imunologis hingga pemahaman tentang gejala psikiatri yang dipicu sistem immunologis.
Di era pra-modern Aristoteles pernah mengatakan “Psyche dan tubuh bereaksi secara simpatik satu sama lain, perubahan keadaan psyche menghasilkan perubahan struktur tubuh, dan sebaliknya, perubahan struktur tubuh menghasilkan perubahan jiwa.”
Sir Francis Bacon juga menyarankan, “Mari kita menyelidiki bagaimana dan seberapa jauh humor mempengaruhi tubuh dan pikiran, dan bagaimana ketakutan pikiran mengubah atau bekerja pada tubuh”.
PNI & PENYAKIT AUTOIMMUN
Sejak tahun 1940 banyak pengamatan psikosomatis dilakukan mengenai faktor emosional pada perjalanan penyakit autoimun, terutama artritis reumatoid, lupus eritematosis sistemik (SLE), penyakit Graves/tiroiditis dll. Ditemukan bahwa kerabat yang sehat secara fisik padahal memiliki karakteristik autoantibodi dari penyakit itu, faktor rheumatoid (anti-imunoglobulin G) dalam serum mereka, rata-rata lebih baik secara psikologis, dibandingkan mereka yang kekurangan faktor tersebut, menunjukkan bahwa kesejahteraan psikologis mungkin memiliki pengaruh protektif dalam menghadapi kerentanan genetik. Sebaliknya, setidaknya satu penyakit autoimun, SLE dapat menghasilkan gejala kejiwaan.
DASAR ILMIAH PSIKONEUROIMMUNOLOGI
Di akhir tahun 1950-an, percobaan pada hewan menemukan bahwa stres dapat memengaruhi imunitas humoral & seluler. Rasmussen, Marsh & Brill menemukan bahwa tikus yang mengalami stres lebih rentan terhadap infeksi virus herpes simpleks. Bukti eksperimental dari efek stres pada kekebalan adalah pengurangan respons antibodi terhadap antigen sebagai akibat dari stres perumahan kelompok pada hewan pengerat yang diamati oleh Vessey & Solomon.
Kira-kira pada waktu yang sama, Solomon, Levine & Kraft mendemonstrasikan bahwa pengalaman hidup awal (penanganan kekanak-kanakan) dapat memengaruhi respons antibodi pada kehidupan dewasa.
Cakupan imunologi yang lebih luas dimulai dengan penelitian Solomon & Fessel pada tingkat imunoglobulin abnormal dan antibodi otak-reaktif pada beberapa pasien skizofrenia. Penelitian awal mereka pada tahun 1963, melaporkan bahwa lesi destruktif di hipotalamus dorsal kelinci menyebabkan penekanan perkembangan antibodi & retensi antigen yang berkepanjangan di dalam darah.
Dengan demikian, mereka telah membuktikan bahwa otak terlibat dalam imunoregulasi, subjek spekulasi dalam makalah Solomon & Moos tahun 1964, Emotions, Immunity & Disease disebut sebagai penanda awal bidang tersebut. Sejumlah makalah sebelumnya diterbitkan pada 1960-an dan 1970-an oleh ahli imunologi BD Jankovic, dia menunjukkan kesamaan antigenik antara otak dan protein imunologi. Makalah yang paling kritis untuk membangun kredibilitas dan signifikansi komunikasi otak-imun, adalah dari Robert Ader & Nicholas Cohen pada tahun 1975 tentang imunosupresi.
Hubungan kritis antara sistem kekebalan dan otak pada sumbu neuroendokrin-imun ditunjukkan secara meyakinkan oleh Besedovsky & Sorkin pada akhir 1970-an. Mereka menunjukkan bahwa aktivasi kekebalan (stimulasi antigenik) memicu sumbu hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) dalam imunoregulasi.
Faktor emosional, keadaan psikologis, afek negatif & kegagalan koping berhubungan dengan derajat ketidakmampuan dan respon yang lebih buruk terhadap perawatan medis, khususnya artritis reumatoid. Sehubungan dengan alergi, area yang kurang dipelajari dengan baik, stres, kecemasan, dan depresi berhubungan dengan hipersensitifitas lambat (sel T) dan segera (sel B) serta dermatitis atopik dan asma.
Teori autoimun skizofrenia tetap menarik karena bukti bahwa penyakit autoimun lain memiliki faktor predisposisi dan eksaserbasi genetik dan psikologis.
Gejala kejiwaan, selain cacat kognitif, mungkin juga diinduksi sitokin, juga terjadi bersamaan dengan infeksi HIV otak termasuk sikap apatis, penarikan diri, psikosis, dan perilaku regresif.
PNI KANKER
Psikoneuroimunologi kanker adalah bidang yang mendapat perhatian lebih. Antigenisitas neoplasma bervariasi dan dengan demikian pula dengan kemampuan sistem kekebalan sehingga imunoterapi mendapatkan perhatian, terutama untuk pengobatan melanoma, limfoma, dan kanker payudara, yang memiliki beberapa kemanjuran sebelum munculnya kemoterapi.
Sel pembunuh alami (NK), limfosit non-B, non-T, memiliki aktivitas sitotoksik yang non-spesifik dan non-histocompatibility locus antigen (HLA) yang terbatas. Banyak penelitian eksperimental dan klinis pada manusia dan hewan telah menunjukkan jenis sel ini sensitif terhadap pengaruh jumlah dan aktivitas stresor dan faktor psikososial. Sel NK dapat memainkan peran dalam pengawasan kekebalan terhadap sel-sel neoplastik yang baru muncul tetapi jelas diketahui memainkan peran penting dalam pencegahan penyebaran kanker metastatik. Stres meningkatkan penyebaran karsinoma mammae pada tikus melalui penekanan sitotoksisitas sel NK. Psiko-onkologi, berkaitan dengan kualitas serta durasi hidup pasien kanker. Psikoneuroimunologi menunjukkan bahwa keduanya terkait. Pada saat ini, hanya satu studi intervensi psikoterapi yang memasukkan variabel hasil imunologis dan klinis, yaitu Fawzy dkk. Bila dibandingkan dengan kontrol, pasien dengan melanoma maligna yang menjalani intervensi kelompok psikiatri terstruktur pada follow-up 6 bulan menunjukkan koping yang lebih efektif, lebih sedikit distres, dan stimulasi sel NK yang lebih besar. Pasien intervensi menunjukkan lebih sedikit kekambuhan dan kelangsungan hidup lebih besar 6 tahun kemudian.
PNI, STRES & INFEKSI
Psikoneuroimunologi, stres dan infeksi, merupakan topik pengamatan yang sudah lama dan eksperimental awal yang dikerjakan para ilmuwan & sekarang menjadi fokus penelitian yang ketat. Uji klinik dilakukan dengan memberikan berbagai virus penyebab flu secara intranasal. Kemudian pasien diperiksa kadar antibodinya & dibandingkan antara pasien dengan derajat stres psikologis yang berbeda.
Stres kehidupan manusia yang terjadi secara alami berdampak buruk pada sistem kekebalan, mempengaruhi fungsi sel T, aktivitas sel NK, respons antibodi terhadap imunisasi, fungsi makrofag. Hormon stres, kortikosteroid adrenal dan katekolamin, memiliki segudang efek dari berbagai aspek respons imun baik dalam pengaturan turun maupun naik.
OLAHRAGA
Olahraga dapat memengaruhi kekebalan secara positif atau negatif, latihan aerobik akut meningkatkan jumlah dan aktivitas sel NK. Beberapa penelitian melaporkan hubungan antara aktivitas fisik dan risiko kanker usus besar, dan percobaan tumourigensis pada hewan cenderung menunjukkan bahwa olahraga teratur mengurangi beban tumor.
CLOSING
Kesehatan dapat dilihat sebagai kapasitas organisme untuk mengatur perilaku dan fisiologinya sendiri dan menghasilkan pola respons terkoordinasi terhadap tantangan. Dua sistem yang memediasi interaksi dengan lingkungan, sistem saraf pusat dan sistem kekebalan, berkomunikasi satu sama lain dan, seperti yang dinyatakan, dapat dianggap sebagai satu sistem terintegrasi untuk adaptasi dan pertahanan. Psikoneuroimunologi melarutkan dualisme pikiran-tubuh, tubuh-lingkungan, dan individu-populasi. Menyadari bahwa keadaan tubuh medis berkorelasi dengan makna yang dialami tubuh individu, filsuf David Levin mengungkapkan harapan bahwa pasien akan mengalami tubuh mereka dan diri mereka sendiri dengan cara baru.
Pasien mungkin menyadari bahwa tubuh yang dia hadirkan untuk perawatan adalah tubuh kesadaran mental/somatik yang terintegrasi, pengalaman yang bermakna, dan dipengaruhi oleh kepekaannya sendiri.

Psikoneuroimunologi (PNI) seharusnya tidak hanya membantu untuk memahami patofisiologi dan psikofisiologi penyakit dengan cara yang lebih berorientasi teori, tetapi juga untuk menilai hubungan dokter-pasien dan peran pasien sendiri dalam pemulihan dari penyakit dan pemeliharaan kesehatan. Dengan demikian, psikoneuroimunologi memberikan dasar ilmiah untuk praktik kedokteran humanistik.
Sumber:
