![]()
Kategori Cerita Dari Meja Operasi
Tag kanker tiroid, kanker tiroid metastase, radioiodine, terapi nuklir, yodium 131, informed consent, operasi tiroid, terapi nuklir
Ditulis pertama kali 28 Juli 2026
Referensi utama: American Thyroid Association (ATA) Guideline, IAEA – Radioiodine Therapy, Pengalaman klinis penulis, Foto Pribadi(edit AI)
Soal ini nggak becanda deh – ini beneran dan salah 1 nya pasienku dan dia bener-bener minum zat radioaktif alias nuklir itu.
Namanya Iodium-131.
Lima tahun lalu dia datang ke UGD dengan kondisi yang nggak mungkin aku lupain. Cowok dengan body besar, lumayan tinggi, datang dengan perdarahan hebat dari dalam rongga mulut – banjir darah pokoknya – jadi kita lakukan resusitasi, transfusi darah, menghentikan perdarahan sebisanya, setelah memungkinkan/ pasien kondisi stabil baru dirujuk ke RS Dr. Soetomo.
Saat itu dugaanku masih tumor rahang, karena rahang kirinya memang membesar dan benjolan tumor di dalam mulutnya juga tumbuh dari rahang sisi dalam.
Belakangan aku baru mengetahui kenyataan yang jauh lebih mengejutkan.
Bukan tumor rahang.
Bukan kanker mulut.
Tapi kanker tiroid/gondok tipe follicular yang telah berjalan jauh, meninggalkan rumahnya di leher dan bermetastasis/menyebar ke tulang rahang.
Di Surabaya, ia menjalani perjalanan yang panjang, dari satu ruang operasi ke ruang operasi berikutnya.
* Total tiroidektomi(tiroid/gondok dibuang seluruhnya karena kanker berasal dari kelenjar tiroid). Namun, sebelum sempat benar-benar terkendali, sel-sel kankernya sudah lebih dulu menyebar berlari ke berbagai tempat.
* Hemimandibulektomi kiri, yaitu sebagian rahang kiri diangkat dan diganti dengan plate logam. Kekurangan jaringan karena rahang dan kulit dibuang kemudian ditutup menggunakan otot dan kulit dari dada (PMMC flap).
* Bahkan sebelum operasi rahang itu, ternyata kanker juga sudah berlari jauh/metastase ke tulang paha kiri. Sebagian besar tulang paha harus diangkat (wide resection) dan diganti dengan prostesis panjang (bipolar long stem).

Sebagian besar orang mungkin mengira perjalanan itu sudah berakhir….
Ternyata belum…..
Dia harus menjalani terapi yang bagi orang awam terdengar seperti cerita film fiksi ilmiah.
Minum nuklir….iya beneran.
Bukan sekali.
Tapi lima kali.
Kemarin di klinik si mas cerita sambil ngakak-ngakak.
“Tiga hari saya diisolasi, Dok”, saya cuma bisa meringkuk karena sakitnya luar biasa dan saya diberi tahu dokter untuk sedapat mungkin tidak muntah selama 10 jam. Sayang mas, obat ini 1x minum hampir 100 juta harganya dan bersyukur nuklir yang ini bisa ditanggung BPJS.
Ya memang cuma beberapa gram, cuma seujung jari dan itu mahal.
Dan kalau metastasis tulangnya aktif menyerap I-131, pasien memang bisa merasa sangat nyeri beberapa hari karena kerja obat/nuklirnya.
Istrinya bahkan tidak boleh mendekat atau harus pakai tameng baja hehehe, ini karena tubuh si mas sementara masih memancarkan radiasi setelah menelan Iodium-131.
Jadi bukan karena tubuhnya berubah menjadi “bom atom” lo. Tapi karena tubuhnya sementara menjadi sumber radiasi gamma, sehingga kontak dengan orang lain perlu dibatasi sampai aktivitas radionuklidnya turun dan sebagian besar I-131 dikeluarkan lewat urin.
Lucu sih yaa…
Di satu sisi, kita pasti takut dengar kata radiasi/nuklir.
Tetapi di sisi lain, justru radiasi itulah yang sedang berusaha menyelamatkan hidupnya.
Sebenernya kenapa harus nuklir?
Di dalam tubuhnya, sel-sel kanker tiroid masih “rakus” mengambil yodium. Sel-sel tiroid memang punya kemampuan menyerap yodium. Untungnya, sebagian besar sel kanker tiroid berdiferensiasi masih mempertahankan kemampuan itu.
Nah kebiasaan itu dimanfaatkan dokter dengan “menipu” sel kanker, dengan memberikan yodium yang bersifat radioaktif.
Sel kanker menyerapnya, sel kanker ketipu, kemudian radiasi bekerja dari dalam, merusak sel-sel kanker tiroid itu.
Kadang, senjata terbaik memang berasal dari kelemahan musuhnya sendiri.
Lima tahun berlalu…
Si mas datang lagi…pasien terakhir sore kemaren.
Bukan dengan wajah nelongso, tapi makin sangar dengan dagunya yang agak miring. Tapi si mas sehat dan berat badannya naik.
Si mas malah nyindir aku;
“Dok, saya sekarang ke gereja di desa njenengan lho… tapi dokter kok nggak pernah kelihatan.”
Wakakakkaak….rupanya sekarang dia jadi tetanggaku.
Dan mendengar ucapan si mas: “Wah dok… dokter-dokter Indonesia itu hebat. Saya tidak akan selamat kalau bukan karena mereka.”
Aku mesem ajah karena aku tahu, di balik satu kalimat itu ada ahli penyakit dalam, ahli jantung, ahli radiologi, dokter kedokteran nuklir, ahli patologi anatomi, perawat, analis laboratorium, radiografer, apoteker, petugas administrasi, dan banyak orang lain yang bekerja diam-diam agar seorang pasien bisa pulang ke rumah.
Seorang dokter memang terlihat di depan. Tetapi yang menyelamatkan pasien hampir selalu adalah sebuah tim.
Dan pasti utamanya bagaimana pasien menghadapi penyakitnya, seorang pejuang memang beda. Kalau hanya melihat wajahnya, mungkin orang tidak akan pernah menyangka kalau dia sudah kehilangan sebagian rahang, sebagian tulang paha, seluruh kelenjar gondok dan sekarang ada lagi yang lain….apa coba?
Sel-sel kanker itu rupanya begitu gigih mau merebut jiwanya dan sekarang sel-sel kanker itu berada di rongga kepalanya – di otaknya.
Tapi si mas memang luar biasa, tidak ada gejala- gejala akibat tumor yang sekarang bercokol di otaknya, padahal pada umumnya dramatis gejalanya.
Setahuku dan banyak yang bilang, diantara kanker-kanker yang lain: “Kanker tiroid itu kanker yang baik.” Tapi setelah melihat mas ini, kata yang lebih tepat rupanya bukan “baik” tapi……
Kanker tiroid berdiferensiasi sering kali memberi waktu:
– Waktu untuk berobat.
– Waktu untuk melihat anak tumbuh besar.
– Waktu untuk tetap tertawa bersama istri.
– Waktu untuk masih bisa menyindir dokter yang dulu pernah merujuknya dalam keadaan bersimbah darah.
Jadi sekarang aku belajar lagi dan lagi dari pasien, bahwa ‘harapan tidak selalu berarti sembuh.’
Kadang…
Harapan berarti masih bisa berjalan.
Masih bisa makan.
Masih bisa tersenyum.
Masih bisa pulang bersama orang yang kita cintai
Dan kadang…
Harapan datang dalam bentuk yang paling tidak pernah kita bayangkan.
Segelas air… yang berisi nuklir. ????
