![]()
Kategori Kisah dari Kamar Operasi
Tag kanker payudara, MRM, kemoterapi, radioterapi, survivor kanker, dukungan keluarga, perceraian, kesehatan mental, kisah pasien, RSUD Jombang, RS Dr. Soetomo, onkologi
Ditulis pertama kali 3 Juli 2026
Direvisi terakhir 7 Agustus 2026
Referensi utama NCCN Breast Cancer Guidelines, American Cancer Society
Ada yang pernah tahu perempuan yang ditinggal suami karena payudaranya diangkat?
Ada – perempuan-perempuan yang bukan kehilangan hidupnya karena kanker, tetapi kehilangan seseorang yang pernah berjanji akan menemani hidupnya.
Mbak ini salah satunya🖤
Empat tahun lalu, salah satu payudaranya diangkat di RSUD Jombang, paska operasi dia harus menjalani kemoterapi di Surabaya.
Jadi dia berangkat naik kereta api dari Jombang – sampai di Stasiun Gubeng – dia jalan kaki ke Rumah Sakit Dr. Soetomo, aku tahu itu sekitar jarak dua kilometer.
“Dua kilometer mungkin terasa dekat bagi orang sehat. Tapi bagi seorang perempuan yang baru kehilangan payudara, sedang menahan nyeri operasi, lalu harus menghadapi kemoterapi, dua kilometer itu adalah perjuangan.”
Tapi memang dia harus segera kemoterapi – dia nggak punya waktu banyak untuk pemulihan fisik paska operasi – dia harus cepat.
Setelah kemo selesai dia harus menjalani radiasi sebanyak 30 kali.
Dan kali ini si mbak menyewa kamar kecil dekat rumah sakit – 40 ribu rupiah semalam.
Di kamar itu, ia berbagi kamar dengan…
perempuan lain…
yang sedang menempuh perjuangan yang serupa.
Yaa dibalik statistik kanker payudara, ada perempuan-perempuan yang sedang berjuang dengan uang pas-pasan, tubuh yang masih nyeri, dan masa depan yang belum pasti.
Sering kali, perjuangan terbesar mereka bukan melawan sel kanker.
Melainkan mempertahankan harapan.
Lima hari dalam seminggu dia menjalani penyinaran, hari Sabtu dan Minggu pulang ke Jombang. Senin pagi, ia sudah kembali di Surabaya – dengan kereta yang sama,
dengan harapan yang tetap dijaga.

Kini 4 tahun berlalu….
Ia masih datang kontrol setiap enam bulan.
Ia memahami bahwa kanker bisa kembali kapan saja,
mengintip dalam diam,
mencari celah untuk merebut hidupnya.
Tapi dia tidak lagi hidup dalam ketakutan.
Ia telah berdamai dengan dirinya…..
Di rumah, dia menerima jahitan – dompet, tas makanan dan pekerjaan kecil lain.
Cukup untuk menghidupi 2 anaknya – satu sudah bekerja, satu masih SD.
Tentang suaminya, ia hanya berkata pelan: “Justru sekarang saya lebih bahagia tanpa dia.”
Sore kemarin, si mbak adalah pasien terakhirku……aku punya waktu banyak……
Tidak ada tindakan yang harus aku lakukan….jadi aku hanya duduk dan mendengarkan.
Empat tahun lalu kanker merenggut satu payudaranya. Tetapi kanker tidak berhasil merenggut harapannya. Yang justru pergi adalah seseorang yang pernah berjanji akan menemani hidupnya.
Kemarin sore, ketika ia bercerita…. sambil tersenyum, aku baru menyadari… mungkin yang benar-benar sembuh bukan tubuhnya. Tetapi hatinya.
Dokter sering mengangkat payudara demi menyelamatkan hidup seorang perempuan. Tetapi kami tidak pernah bisa mengangkat rasa takutnya kehilangan keluarga, pekerjaannya, atau orang yang dicintainya.
Luka operasi akan mengering. Luka yang ditinggalkan manusia kadang jauh lebih lama sembuhnya.
