DOKTER DIKIT-DIKIT BILANG KANKER

Loading

Benarkah Dokter Terlalu Mudah Memvonis Kanker Payudara?(seri 1)

📂 Kategori Genetik
🏷️ Tag kanker, pengobatan kanker, kemoterapi, radioterapi, operasi kanker, terapi kanker, imunoterapi, hormon terapi
📅 Ditulis pertama kali 2 Agustus 2026
🔄 Direvisi terakhir 17 Agustus 2026
📚 Referensi utama American Cancer Society — Treatment Types

Sebelum benjolan payudara disebut kanker, sebenarnya ada perjalanan diagnosis yang harus dilalui dari ruang periksa ke Radiologi sampai Laboratorium Patologi Anatomi
Nggak cukup hanya diraba, dilihat, lalu dokter bilang: “Waduh Ini kanker.”

Bagaimana kanker sebenarnya didiagnosis. ☕

  1. Diagnosis dimulai bahkan sebelum dokter menyentuh benjolan, belum memeriksa pasien, lo?😁
    Waktu pasien datang karena mengeluh ada benjolan di payudaranya, pemeriksaan pertama bukan USG, mammografi, apalagi biopsi.
    Dokter akan bertanya terlebih dahulu. Sejak kapan benjolan muncul? Apakah membesar? Apakah ada perubahan di kulit atau puting payudara? Keluar cairan dari puting? Apakah pernah mengalami kelainan payudara sebelumnya?

Dan ada satu pertanyaan yang kadang dianggap sepele:
“Ada nggak anggota keluarga yang menderita kanker payudara atau kanker lainnya?”
Pasien perlu mengetahui riwayat penyakit keluarganya. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi karena informasi ini dapat membantu dokter memperkirakan risiko.
Riwayat keluarga tidak berarti seseorang otomatis atau pasti akan terkena kanker, ini terkait genetika.

Apa otomatis kita kena sakit kanker jika ada keluarga yang kena kanker?

Tubuh kita tersusun atas triliunan sel. Di dalam sel terdapat DNA yang membawa instruksi bagaimana sel bekerja, membelah, memperbaiki kerusakan, atau berhenti membelah.
Perubahan pada DNA tertentu dapat berperan dalam terbentuknya kanker. Sebagian besar perubahan tersebut terjadi selama kehidupan seseorang, tetapi sebagian kecil dapat diwariskan dari orang tua. Contohnya adalah perubahan atau mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2, dua gen ini sebenarnya justru berfungsi untuk memperbaiki DNA kita, yang tidak lagi bisa memperbaiki DNA karena mengalami mutasi.

Tapi kanker payudara jenis ini hanya sebagian kecil dari seluruh kanker payudara. Jadi biarpun ibu, kakak, adik, atau anggota keluarga dengan kanker payudara bukan berarti kita pasti akan mengalami penyakit yang sama.

Yang diwariskan adalah peningkatan risiko, bukan “kankernya”.

  1. Tangan dokter masih punya pekerjaan 😁
    Setelah anamnesis, barulah dilakukan pemeriksaan fisik.
    Dokter akan menilai benjolan: ukurannya, batasnya, konsistensinya, apakah mudah digerakkan atau melekat pada jaringan di bawahnya.
    Kulit dan puting juga diperiksa, apakah puting mengeluarkan cairan.
    Kemudian pemeriksaan tidak berhenti pada payudara.
    Kelenjar getah bening di ketiak dan sekitarnya, juga perlu dinilai. Ini untuk tahu apakah kanker sudah menyebar ke kelenjar getah bening atau belum.
    Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, dokter dapat mempunyai kecurigaan klinis.
    Perhatikan kata kecurigaan, curiga kanker belum sama dengan diagnosis pasti kanker.
  2. Lalu “melihat” lebih dalam lagi…
    Tahap berikutnya adalah pemeriksaan mammografi dan/atau USG payudara.
    Keduanya bukan pemeriksaan yang persis sama.

Apa yang dilihat USG?

USG sangat berguna untuk menilai apakah benjolan itu padat atau berisi cairan, dan melihat berbagai karakteristik lesi. Pada beberapa perempuan —termasuk perempuan muda dengan jaringan payudara yang lebih padat—USG berperan penting.
USG berguna sebagai pemeriksaan awal, tetapi USG dan mammografi tidak selalu dapat saling menggantikan, karena informasi yang diberikan keduanya berbeda.

Apa yang dilihat mammografi?

Mammografi mempunyai kemampuan berbeda, mammografi dapat memperlihatkan mikrokalsifikasi yang sulit dinilai dengan USG. Mikrokalsifikasi adalah bintik kalsium sangat kecil di payudara yang hanya terlihat di mammogram.

Dokter melihat bentuk, ukuran, jumlah dan pola sebaran dari mikrokalsifikasi ini:

  • Kalau rapi, bulat, dan tersebar: biasanya jinak
  • Kalau berkelompok, bentuknya tidak beraturan atau seperti garis-garis: perlu diperiksa lebih lanjut, karena bisa menjadi tanda awal kanker.

Dokter memilih pemeriksaan berdasarkan usia, kondisi klinis, karakteristik payudara, temuan sebelumnya, serta fasilitas yang tersedia.
Dan sebisa mungkin imaging dilakukan sebelum tindakan biopsi yang invasif. Pengambilan jaringan bisa menimbulkan perdarahan atau hematoma yang dapat memengaruhi gambaran imaging.

  1. Kalau imaging mencurigakan, apakah itu berarti kanker?
    Belum tentu.
    USG dan mammografi bisa menunjukkan sebuah lesi/benjolan yang mencurigakan, tetapi untuk mengetahui apa sebenarnya sel atau jaringan tersebut – diperlukan sampel untuk diperiksa.
    Di sinilah pemeriksaan seperti FNAB atau core needle biopsy berperan.

FNAB (Fine Needle Aspiration Biopsy)

FNAB menggunakan jarum halus untuk mengambil sel dari benjolan. Pemeriksaannya relatif sederhana dan minimal invasif. Tetapi FNAB mempunyai keterbatasan.
Karena yang diperoleh adalah kumpulan sel, arsitektur jaringan tidak dapat dinilai selengkap core biopsy dan kadang sampel juga tidak cukup representatif.

CORE NEEDLE BIOPSY

Pada core needle biopsy, jarum mengambil potongan kecil jaringan. Patolog dapat melihat bukan hanya bentuk sel, tetapi juga bagaimana sel-sel tersebut tersusun di dalam jaringan.

PEMERIKSAAN IHC(IMMUNOHISTOCHEMISTRY)

Jaringan yang diambil lewat core biopsy selanjutnya juga dapat digunakan untuk pemeriksaan yang sangat penting bagi pemilihan terapi, seperti reseptor estrogen (ER), progesteron (PR), HER2, dan biomarker lain sesuai indikasi.

  1. Jadi siapa sebenarnya yang “memvonis” kanker?
    Perjalanan diagnosis kanker payudara pada dasarnya menggabungkan beberapa informasi:
    Temuan klinis → imaging → pemeriksaan jaringan.
    Dalam praktiknya, perjalanan ini melibatkan dokter yang memeriksa pasien, dokter radiologi yang membaca imaging, dan dokter spesialis Patologi Anatomi yang memeriksa sel atau jaringan.

Karena itu diagnosis kanker bukan sekadar seorang dokter meraba benjolan lalu bilang:
“Saya curiga ini keganasan.”
Kecurigaan itu memang penting. Bahkan semakin kuat kecurigaannya, semakin cepat pemeriksaan lanjutan perlu dilakukan. Tetapi curiga kanker dan diagnosis definitif kanker adalah dua hal yang berbeda. Pemeriksaan jaringanlah yang memberi jawaban mengenai apa sebenarnya lesi itu.

Bagaimana kalau hasil pemeriksaan tidak cocok? ☕🤭 😂😁

Bagaimana kalau hasil pemeriksaan tidak cocok? ☕🤭 😂😁

Ini juga bisa terjadi.
Misalnya pemeriksaan fisik dan imaging sangat mencurigakan kalau benjolan itu kanker, tetapi FNAB kok memberikan hasil jinak atau sampelnya tidak memadai.
Apakah kemudian semua pemeriksaan lain harus diabaikan?: ooo tentu tidak. 😁
Dokter harus menilai apakah hasil klinis, radiologi, dan patologi sesuai satu sama lain. Bila tidak sesuai (discordant), evaluasi tidak boleh berhenti begitu saja. Pemeriksaan dapat diulang atau dilanjutkan dengan metode pengambilan jaringan yang lebih representatif.
Justru di sinilah pentingnya seluruh rangkaian pemeriksaan tersebut.

Pasien boleh bertanya—bahkan seharusnya bertanya karena kata “kanker” pasti menakutkan.

  • Apa yang membuat dokter mencurigai kanker?
  • Apa hasil USG atau mammografi saya?
  • Apakah sudah ada pemeriksaan jaringan?
  • Apa hasil Patologi Anatominya?
  • Dan kalau masih ragu, pasien tentu berhak mencari second opinion.

Tetapi sebelum menyimpulkan bahwa dokter terlalu mudah “memvonis kanker”, ada satu pertanyaan yang jauh lebih berguna: diagnosis itu ditegakkan berdasarkan apa?
Karena dalam kedokteran, terutama dalam diagnosis kanker, sebuah kata(kanker) yang sangat berat seharusnya tidak berdiri hanya di atas pendapat satu orang.
Ia dibangun dari cerita pasien, pemeriksaan tubuh, gambar yang dapat dilihat, dan akhirnya sel atau jaringan yang dapat DILIHAT, DIPEGANG & kemudian diperiksa.

Dan setelah kanker benar-benar terbukti, muncul ketakutan berikutnya:

Apakah payudara selalu harus dibuang? Apakah semua pasien harus kemoterapi? Benarkah kemoterapi justru membunuh pasien? Kapan radioterapi diperlukan? Kok hasil USG ukuran 5 cm tapi hasil operasi 6 cm, apakah dokter salah?
….lanjut seri kedua

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *