![]()
š Kategori Genetik
š·ļø Tag c
š Ditulis pertama kali 2 Agustus 2026
š Direvisi terakhir 18 Agustus 2026
š Referensi utama American Cancer Society ā Treatment Types
Misal diagnosis kanker payudara sudah ditegakkanā¦..sudah pasti maksudnya ya..
Lalu apakah payudara harus dibuang? Apakah harus kemoterapi? Apakah perlu radiasi? Dan yang paling menakutkan: apakah pengobatannya justru akan membuat saya semakin sakit?
Pada seri satu kita sudah tahu perjalanan sebuah benjolan sampai akhirnya dapat dipastikan apakah benar kanker atau bukan. Anggap itu kanker atau tumor ganas, terus apa yang terjadi selanjutnya?
Jawabannya ternyata tidak sama untuk setiap pasien.
Kanker payudara bukan satu penyakit dengan satu resep
Dua orang perempuan sama-sama sakit kanker payudara, tetapi pengobatannya berbeda.
Mengapa?
Karena memang harus dirumuskan dari beberapa temuan yang pasti berbeda antara 1 pasien dengan lainnya seperti: seberapa besar tumornya, apakah kelenjar getah bening kena, apakah penyakit sudah menyebar ke organ lain, bagaimana karakter sel kankernya, bagaimana status hormon, HER2 dan bagaimana kondisi pasien apakah masih kuat atau sudah ambruk?
Jadiiiiā¦ā¦ setelah tahu āoh ini kankerā, pekerjaan belum selesai.
Dokter harus tahu kanker yang bagaimana dan sudah menyebar kemana.
Itulah sebabnya terapi kanker tidak bisa disamaratakan antara satu pasien dengan pasien lain.
Apakah semua kanker payudara harus dibuang seluruh payudaranya?
Tidak.
Pada kanker payudara stadium dini, sebagian besar payudara dapat diselamatkan. Tumor dan jaringan sehat di sekitarnya diangkat dengan batas yang memadai. Tindakan ini disebut breast-conserving surgery, dan biasanya juga dilakukan radioterapi.
Tetapi ada keadaan dimana mastektomi, yaitu pengangkatan seluruh payudara memang lebih tepat dilakukan. Pertimbangannya melihat ukuran, luas dan lokasi tumor, ukuran tumor dibandingkan ukuran payudara, sudah ada penyebaran ke ketiak, riwayat terapi sebelumnya, kondisi pasien, serta berbagai pertimbangan klinis lainnya.
Jadi mastektomi bukan hukuman karena seseorang didiagnosis kanker.
Mastektomi adalah salah satu pilihan terapi. Tapi NKRI memang punya masalah unikā¦.

Masalah kita: banyak pasien datang terlambat
Di sinilah persoalan kanker di Indonesia menjadi rumit.
Data dari beberapa rumah sakit pendidikan di Indonesia menunjukkan sekitar 68ā73% pasien kanker payudara datang ketika penyakit sudah berada pada stadium IIIāIV, artinya payudara sudah tidak bisa diselamatkan dan bahkan operasipun sudah hampiiir tidak mungkin dilakukan.
Banyak dokter tidak bertemu pasien waktu tumornya masih kecil dan pilihan terapinya masih luas.
Kalau kanker payudaranya sudah lokal lanjut operasi memang tidak bisa langsung dilakukan, pasien perlu kemoterapi dahulu untuk mengendalikan dan mengecilkan tumor sebelum kemungkinan operasi dinilai kembali.
Dan pada kanker yang sudah bermetastasis(berjalan-jalan jauh), tujuan terapi pun berbeda. Pengobatan terutama ditujukan untuk mengendalikan penyakit, memperpanjang kehidupan, mempertahankan kualitas hidup, serta mengurangi keluhan. Akhirnya operasi payudara tidak menjadi pilihan utama.
Jadi kenapa masyarakat curiga dokter bilang kanker terus payudara dibuang?
Ini sebenarnya terbalik kalau melihat data Kemenkes, bukan dokter terlalu mudah membuang payudara, tapi pasien yang datang dalam keadaan yang membuat pilihan pengobatan terbatas.
Semakin dini kanker ditemukan, semakin banyak pula pilihan yang mungkin tersedia
āJangan kemoterapi – nanti meninggal.ā
Nah, ini sering saya dengar sendiri dari pasien, kalimat seperti ini cepat berpindah dari satu rumah ke rumah lainā¦ā¦tanpa butuh internet bahkan heheheā¦.
Bayangkanā¦..kalau ada tetangga yang menderita kanker dan setelah kemoterapi kondisi pasien makin lemah, muntah-muntah, nggak bisa makan minum, rambutnya rontok, beberapa bulan kemudian meninggal.
Kesimpulan pun lahir: āDia meninggal gara-gara kemoterapi.ā
Padahal ada satu informasi besar yang sering hilang dari cerita itu:
Bagaimana keadaan kankernya ketika pengobatan dimulai?
Pasien dengan penyakit yang sudah sangat lanjut memang dapat meninggal meskipun sudah mendapatkan pengobatan terbaik. Sehingga tidak ada pilihan pengobatan lain, padahal kondisi pasien sudah sangat burukā¦..sebenarnya dokter juga menghadapi pilihan yang nggak mudah.
Sebenarnya apa itu kemoterapi?
Kemoterapi adalah pengobatan menggunakan obat yang bekerja secara sistemikāobat beredar melalui pembuluh darah untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan sel kanker- obat mengejar sel-sel kanker ke seluruh tubuh.
Karena itulah kemoterapi bisa mempunyai efek samping.
Pasien bisa mual, muntah, lelah, rambut rontok, sariawan, sel darah putih menurun, anemia, atau efek lainnya, tergantung obat yang digunakan.
Beberapa efek samping bisa ringan dan sementara, ada yang serius sehingga perlu ditangani.
Dan dokter tahu risiko ini.
Karena itu sebelum dan selama kemoterapi, kondisi pasien diperiksa dan dipantau. Pemeriksaan darah, fungsi organ tertentu, kondisi umum pasien, jenis obat dan dosis semuanya menjadi bagian dari pertimbangan.
Semua obat memang punya efek samping
Coba ambil obat yang sangat biasa dari lemari obat, obat batuk misalnya, tertulis di etiketnya dapat menyebabkan kantuk kan?.
Apakah karena ada efek samping obat tidak boleh digunakan?
Nggak gitu kanā¦
Prinsip yang sama berlaku untuk kemoterapi. Bedanya, penyakit yang sedang dihadapi jauh lebih berat, otomatis obatnya juga berat sehingga risiko yang harus dipertimbangkan juga berbeda.
Kemoterapi bukan air vitamin tetapi juga bukan racun yang diberikan dokter tanpa perhitungan. Kemoterapi adalah alat untuk melawan kanker, digunakan ketika manfaat yang diharapkan dinilai lebih besar daripada risikonya.

Apakah semua pasien kanker payudara harus kemoterapi?
Juga tidak.
Terapi kanker payudara sekarang sangat bergantung pada karakter biologis tumornya.
Ada kanker yang sensitif terhadap hormon sehingga terapi endokrin/hormon berperan penting, tapi ada juga pasien yang karakteristik tumornya tidak memerlukan kemoterapi.
Ini salah satu alasan pemeriksaan jaringan tidak berhenti pada kalimat: āWah ada sel kanker.ā
Kita harus mengenal musuh lebih jauh agar pengobatan dapat dipilih lebih tepat.
Lalu apakah semua perlu radiasi?
Tidak juga
Radioterapi menggunakan radiasi berenergi tinggi yang diarahkan dan bekerja ke daerah tertentu untuk merusak sel kanker dan menurunkan risiko kekambuhan lokal.
Setelah mastektomi, kebutuhan radioterapi bergantung pada risiko kekambuhanāmisalnya berdasarkan ukuran dan luas tumor, apakah tumor menyebar ke kelenjar getah bening, faktor klinis dan patologis lainnya.
Efek sampingnya juga banyak, kulit kemerahan atau iritasi, pasien bisa merasa lelah, dan jaringan di daerah yang diradiasi dapat mengalami perubahan.
Ada kemungkinan efek jangka panjang tertentu, sehingga lokasi, luas lapangan, dosis, dan teknik radioterapi direncanakan dengan hati-hati untuk memberikan terapi pada sasaran sambil sebisa mungkin melindungi jaringan sehat.
Pengobatan kanker memang tidak ringan, kadang memang berat.
Tetapi pertanyaan pasien seharusnya bukan cuma: āApakah terapi ini ada efek sampingnya?ā
Melainkan:
āApa yang terjadi bila kanker ini tidak diobati?ā
Kedua risiko ini yang harus dibandingkan.
Pasien berhak mengetahui mengapa operasi tertentu dipilih.
Pasien berhak bertanya mengapa ia perlu atau tidak perlu kemoterapi.
Pasien berhak mengetahui tujuan radioterapi.
Pasien juga berhak bertanya mengenai efek samping, alternatif pengobatan, kemungkinan keberhasilan, dan apa yang dapat terjadi bila terapi tidak dilakukan.
Bahkan bila masih ragu, pasien berhak mencari second opinion.
Keputusan pengobatan seharusnya lahir dari komunikasi antara pasien dan tim yang merawatnya, berdasarkan keadaan penyakit pasienābukan berdasarkan pengalaman penyakit tetangga.
Karena kanker tetangga belum tentu sama dengan kanker kita.
Stadiumnya bisa berbeda, biologi tumor bisa berbeda.
Kondisi tubuh pasiennya berbeda juga.
Dan karena itu pengobatannya pun bisa berbeda.
Yang perlu ditakuti bukanlah sebuah kata bernama ākemoterapiā, āoperasiā, atau āradiasiā.
Yang perlu kita pahami adalah penyakit apa yang sedang kita hadapi, sudah sejauh apa penyakit itu berjalan, dan apa pilihan terbaik yang masih dimiliki.
Semakin awal kita mencari tahu, semakin banyak pilihan yang tersedia āā šŖ
ā¦ā¦lanjut ke seri ke 3
