![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Mengapa obat TBC yang semula ampuh dapat kehilangan daya kerjanya? Perubahan kecil pada DNA Mycobacterium tuberculosis dapat mengubah cara bakteri merespons obat seperti rifampisin dan isoniazid, hingga muncul TBC resisten seperti MDR-TB dan XDR-TB.
📁 Kategori: Genetika
📅 Ditulis pertama kali: 30 September 2026
📚 Referensi utama: WHO Global Tuberculosis Report 2025 — Drug-resistant TB. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2025/tb-disease-burden/1-3-drug-resistant-tb
WHO Catalogue of mutations in M. tuberculosis associated with drug resistance. https://www.who.int/publications/i/item/9789240082410
🖼️ Gambar: Ilustrasi AI
KETIKA OBAT KEHILANGAN TARING
Pada seri pertama saya bercerita tentang seorang pasien yang tubuhnya perlahan “dimakan” tuberkulosis. Tiga kali dia masuk meja operasi.
Tetapi ada cerita lain tentang TBC yang nggak kalah mengerikan – yaitu obat yang seharusnya membunuh kuman TBC, suatu saat bisa tidak lagi mempan.
Dan ini bukan masalah kecil.
Pada tahun 2024, WHO memperkirakan sekitar 390.000 orang di dunia mengalami MDR/RR-TB, yaitu TBC yang resisten terhadap obat TBC: rifampisin atau sekaligus terhadap rifampisin dan isoniazid. Sekitar 150.000 orang meninggal akibat MDR/RR-TB di tahun itu.
Bagaimana bakteri sekecil Mycobacterium tuberculosis bisa melawan obat yang sengaja dibuat untuk membunuhnya?, apakah kumannya belajar?, kok bisa smart banget?, apa karena bolak balik ketemu obat jadi kebal? 😄
Ternyata tidak.
Penyebabnya bisa bermula dari sesuatu yang jauh lebih kecil.
Satu huruf.
MURID DNA SALAH MENULIS HURUF
Masih ingat alfabet DNA?: A — T — C — G.
Mycobacterium tuberculosis juga mempunyai DNA, dan DNA-nya ditulis menggunakan empat huruf yang sama – serupa dengan manusia
“Lho, bakteri juga punya DNA?” – ya punya. 😄
DNA bukan hanya milik manusia. Bakteri juga menyimpan informasi genetiknya di dalam DNA. (Jangan-jangan manusia evolusi dari bakteri?, eittt… jangan belok dulu, kita lagi ngomongin TBC😂)
Ketika bakteri memperbanyak diri, DNA itu harus disalin agar bakteri baru mendapatkan informasi genetiknya. Bayangkan panjang tulisan yang harus disalin.
DNA manusia mempunyai sekitar 3 miliar pasangan huruf. Genom bakteri TBC memang jauh lebih ringkas, tetapi tetap masih berisi sekitar 4,4 juta pasangan huruf.
Empat koma empat juta huruf tetap harus disalin. Dan seperti orang menyalin tulisan yang sangat panjang, sesekali bisa terjadi salah salin….make sense…
Misalnya: semula “… T — C — G …”
kemudian menjadi “… T — T — G …”
↑
satu huruf berubah
Muridnya salah menulis satu huruf. Sayangnya, yang dibuat kacau bukan cuma nilai si murid. 😄
Kesalahan kecil dalam DNA seperti ini disebut mutasi. Untungnya, tidak setiap mutasi membuat bakteri kebal terhadap obat. Banyak perubahan tidak berpengaruh terhadap kepekaan obat.
Tapi masalah muncul ketika perubahan itu terjadi di tempat yang penting. Sebab DNA membawa instruksi untuk membuat protein, jadi kalau satu huruf DNA berubah → instruksi dapat berubah → protein yang dihasilkan bisa ikut berubah.
Dan di sinilah dunia persilatan mulai kacau.

KUNCI YANG TADINYA PAS
Bayangkan sebuah obat sebagai kunci. Obat dibuat untuk bekerja pada sasaran tertentu di dalam bakteri, seperti sebuah kunci yang cocok dengan lubangnya: KLIK!
Rifampisin, salah satu obat utama TBC, bekerja pada mesin penting milik bakteri yang disebut RNA polymerase. Mesin ini diperlukan bakteri untuk membaca informasi genetiknya sendiri. Salah satu bagian RNA polymerase dibuat berdasarkan sebuah gen bernama rpoB.
Gen rpoB adalah gen yang mengkode subunit beta (β) dari enzim RNA polymerase pada bakteri, termasuk Mycobacterium tuberculosis. Pada bakteri yang masih sensitif, rifampisin dapat menempel pada sasarannya. Tetapi sekarang bayangkan – terjadi mutasi pada rpoB.
Salah satu mutasi yang terkenal disebut S450L.
Pada bagian tertentu DNA, perubahan itu bisa terlihat sesederhana ini: TCG → TTG. Hanya satu huruf yang berubah, tapi akibatnya kode itu membuat asam amino yang berbeda: Serine → Leucine
Bagian protein tempat rifampisin berinteraksi ikut berubah, kuncinya masih sama, lubang kuncinya yang tidak persis sama lagi.
Rifampisin datang membawa kuncinya: 🔑“Lho… kok sekarang tidak pas?”
Ikatan rifampisin dengan sasarannya menjadi jauh berkurang. Bakteri yang seharusnya mati dapat bertahan.
Satu huruf. Dampaknya bisa sebesar itu.
TETAPI ISONIAZID PUNYA CERITA LAIN
Tidak semua obat kehilangan taring dengan cara yang sama. Isoniazid atau INH justru mempunyai cerita yang menarik. Obat ini masuk dalam keadaan yang belum sepenuhnya aktif, butuh bantuan enzim milik bakteri untuk diaktifkan. Salah satu pemain pentingnya bernama KatG. Jadi kali ini analoginya bukan kunci yang tidak lagi cocok.
KatG adalah gen yang mengkode enzim katalase-peroksidase, terutama pada bakteri seperti Mycobacterium tuberculosis. Fungsinya mengaktivasi obat – enzim ini mengubah obat tuberkulosis isoniazid (INH) menjadi bentuk aktif untuk melawan bakteri.
Bayangkan INH sebagai senjata yang harus diaktifkan terlebih dahulu: INH masuk, KatG membantu mengaktifkannya, sehingga senjata siap bekerja. Tetapi mutasi pada gen katG mengganggu proses tersebut. Akibatnya, INH tidak diaktifkan sebagaimana mestinya. Senjatanya ada. Targetnya ada. Tetapi senjatanya gagal diaktifkan dengan baik.
Bakteri kembali mendapat kesempatan untuk bertahan.

KETIKA SATU OBAT TAK LAGI CUKUP
Jadi jelas kan kenapa pengobatan TBC menggunakan kombinasi beberapa obat, karena kalau populasi bakterinya sangat banyak, mungkin ada sebagian kecil bakteri yang kebetulan membawa mutasi yang membuat bakteri tahan terhadap satu obat. Kalau bakteri diserang dari beberapa arah sekaligus, peluang satu bakteri mempunyai jalan keluar jadi lebih kecil.
Tetapi masalahnya berat ketika resistensi terhadap beberapa obat terkumpul dan istilahnya:
RR-TB: TBC yang resisten terhadap rifampisin.
MDR-TB: TBC yang resisten setidaknya terhadap dua obat utama: rifampisin dan isoniazid.
Pre-XDR-TB: MDR/RR-TB yang ditambah resistensi terhadap fluoroquinolone.
Dan XDR-TB lebih jauh lagi: resistensi terhadap rifampisin, fluoroquinolone, serta setidaknya salah satu obat penting lain yaitu bedaquiline atau linezolid.
Semakin banyak senjata yang kehilangan sasaran, semakin rumit pilihan terapi yang tersisa.
Pada 2024, WHO memperkirakan sekitar 18% kasus MDR/RR-TB sudah termasuk pre-XDR-TB.
SAYA PERNAH MELIHAT BETAPA BERAT TERAPINYA
Saya pernah mempunyai pasien TBC yang pengobatannya sampai menggunakan obat suntik. Saya tidak menangani terapi TBC resistennya sendiri, tapi saya kirim ke dokter paru.
Tapi pengalaman itu membekas karena menunjukkan satu hal: mengobati TBC yang sudah resisten bukan sekadar mengganti satu antibiotik dengan antibiotik lain.
Dulu, regimen untuk MDR/RR-TB memang bisa melibatkan obat suntik dalam waktu lama, padahal obat-obat itu menambah beban pengobatan dan mempunyai efek samping yang tidak ringan.
Untungnya, pengobatan terus berkembang. Sejak 2018 WHO mulai memprioritaskan regimen all-oral, dan saat ini untuk banyak pasien MDR/RR-TB tersedia regimen oral yang jauh lebih singkat dibandingkan regimen lama. Tapi pada keadaan tertentu memang masih diperlukan regimen lebih panjang dan individual.
DAN SEMUANYA BISA BERMULA DARI SATU HURUF
Dari luar, Mycobacterium tuberculosis hanyalah bakteri yang ukurannya bahkan tidak dapat kita lihat dengan mata telanjang.
Tetapi di dalamnya tersimpan sekitar 4,4 juta pasangan huruf DNA.
Kadang satu huruf berubah.
Sebagian tidak berarti apa-apa.
Tetapi bila perubahan itu terjadi pada tempat yang menentukan bagaimana suatu obat bekerja, akibatnya dapat menjalar jauh:
DNA berubah.
↓
Protein berubah.
↓
Obat kehilangan sasaran atau gagal diaktifkan.
↓
Bakteri bertahan hidup.
↓
Terapi menjadi semakin sulit.
Jadi kalau suatu hari kita mendengar istilah MDR-TB atau XDR-TB, di balik sederet singkatan yang terdengar rumit itu sebenarnya ada cerita yang sangat kecil.
Kadang…
hanya satu huruf yang salah ditulis.
Dan murid yang seharusnya cuma remidi itu ternyata bisa membuat dunia persilatan kacau 😄

