![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Ini tentang seorang pasien yang mengalami abses perianal berulang hingga akhirnya ditemukan tuberkulosis pada jaringan dinding perutnya. Artikel ini membahas TB ekstrapulmoner, faktor risiko, pengobatan, serta hubungan kemiskinan dengan tingginya beban TB di Indonesia.
📁 Kategori: Masalah Kesehatan & Hak Pasien, Genetika, Dari Meja Operasi
📅 Ditulis pertama kali: 28 September 2026
📚 Referensi utama: Global Tuberculosis Report 2025; World Bank – Poverty & Equity Brief: Indonesia. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis. https://www.kemkes.go.id/id/47510
🖼️ Gambar: Ilustrasi AI
Seorang laki-laki usia sekitar 52 tahun datang dengan kondisi berat, demam, denyut nadi tinggi, dan penurunan kesadaran karena gula darah yang tinggi. Pemeriksaan darah menunjukkan elektrolit yang rendah yang membuat pasien makin tidak sadar. Pemeriksaan lain juga menunjukkan kadar albumin rendah dan infeksi hebat (sepsis). Wajahnya membulat mirip moon face, jadi kita-kita curiga kemungkinan pasien sering minum obat pegel linu atau jamu setelan yang isinya steroid.
Bapak ini dirawat dokter penyakit dalam, tapi karena pasien juga menderita abses perianal, yaitu kumpulan nanah di sekitar anus – aku juga kebagian dong xixixi.
Waktu operasi, aku menemukan selain abses perianal, rupanya ada terowongan (disebut fistula) dengan lubang yang besar dan dalam, terowongan berjalan masuk ke anus, mirip lubang tikus itu.

Fistula perianal adalah saluran abnormal yang menghubungkan bagian dalam saluran anus dengan kulit di sekitar anus. Saluran ini bisa menjadi tempat berkumpulnya bakteri dan menyebabkan abses berulang.
Jadi aku lakukan debridement untuk membersihkan jaringan yang terinfeksi dan bonus tindakan laser untuk fistulanya. Kondisi pasien selama operasi tidak stabil, tensi naik turun, saturasi naik turun – tapi kadang kala memang kita terpaksa melakukan operasi meskipun risikonya tinggi karena masalah sepsis sulit dibereskan kalau nanah tidak di drainage keluar, padahal terapi antibiotik sudah diberikan.
Setelah perawatan dan kondisi membaik, si bapak bisa pulang. Waktu kontrol, pasien yang sebelumnya harus pakai kursi roda perlahan bisa berjalan sendiri tanpa dipapah. Dan saya bolak balik mengingatkan kalau fistula sebesar itu risiko kambuhnya besar kalau gula darah tidak dijaga stabil dan kebersihan daerah sekitar anus tidak diperhatikan. Jadi pasien harus melakukan perawatan luka dan sitz bath(rendam pantat dengan antiseptik) secara teratur.
Eeee bener – pas satu bulan kemudian, abses perianalnya kambuh….ya saya operasi lagi.
Kondisi penyakit sama, saya menemukan kumpulan nanah, tanpa jaringan yang membuat saya curiga kalau penyebabnya TBC.
Pemeriksaan kultur dan histopatologi belum dilakukan karena keterbatasan biaya.
Setelah kondisi membaik, pasien pulang dan kontrol untuk rawat luka.
Abses raksasa di dinding perut
Sekitar satu bulan kemudian, eeeee si bapak datang lagi dengan masalah yang mirip tapi kali ini lokasi lain yang dipilih hihihi, abses di dinding perut besar, diameter sekitar 20 sentimeter…..rasanya baru kali itu saya melihat abses sebesar itu. (Note: abses itu bahasa awamnya bisul ya).
Akhirnya operasi lagi, dan ternyata kerusakan jaringannya luas. Kulit, jaringan lemak bawah kulit, sampai otot dinding perut destruksi/ rusak. Fascia terekspos, tapi infeksi belum menembus rongga peritoneum. Nah kali ini saya melihat jaringan kaseosa, yaitu jaringan nekrotik dengan tampilan seperti keju yang bisa ditemukan pada infeksi TB – saya ambil sedikit jaringan untuk pemeriksaan histopatologi.
Jadi deh si bapak operasi sampai tiga bulan berturut-turut, tapi biarpun banyak jaringan kulit dan jaringan dibawahnya dibuang, kulit perut yang cukup longgar masih memungkinkan dilakukan penjahitan meskipun situasi.
Hasil pemeriksaan PA jadi beberapa hari kemudian hasilnya: Granulomatous TB.
Pasien kemudian mendapat terapi antituberkulosis oleh dokter spesialis paru.
Luka dinding perutnya memang tidak sembuh secara primer, karena kulit yang dibuang cukup banyak, tetapi berangsur membaik meskipun tidak sempurna. Fistula perianalnya juga menunjukkan perbaikan selama pengobatan TB.
Miris sebenernya ya, pasien yang awalnya datang dengan kondisi kritis, mengalami abses berulang dan kerusakan jaringan yang luas, akhirnya terlihat perkembangannya baik……dan biang keroknya: TB…..penyakit yang sebenernya sangat bisa dicegah.
Nah jadi memang tuberkulosis ternyata tidak selalu menyerang paru-paru.
TBC bukan hanya penyakit paru-paru
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis.
Bakteri ini terutama menular melalui udara ketika seseorang menghirup partikel infeksius yang dikeluarkan oleh penderita TB paru atau TB laring yang menular.
Setelah masuk tubuh, bakteri bisa menetap tanpa menimbulkan penyakit aktif. Tapi waktu pertahanan tubuh tidak mampu mengendalikan infeksi, bakteri bisa berkembang biak dan menyebabkan kerusakan jaringan.
Pada sebagian penderita, TB juga dapat menyebar melalui aliran darah atau sistem limfatik menuju organ lain. Inilah yang disebut TB ekstrapulmoner, yaitu tuberkulosis yang menyerang organ atau jaringan di luar paru-paru.
Banyak organ yang bisa diserang TB:

Kelenjar getah bening
Dapat menimbulkan pembengkakan, terutama di leher, yang kadang berkembang menjadi abses atau fistula.

Pleura
Dapat menyebabkan penumpukan cairan di rongga pleura dan keluhan sesak napas

Tulang dan sendi
Termasuk tulang belakang, yang dapat mengalami kerusakan dan menimbulkan gangguan saraf.

Otak dan selaput otak
TB meningitis merupakan salah satu bentuk TB yang berbahaya dan membutuhkan penanganan segera.

Usus dan peritoneum
Dapat menyebabkan nyeri perut, gangguan saluran cerna, atau penumpukan cairan di rongga perut.

Ginjal dan saluran kemih
Dapat menimbulkan gangguan berkemih dan kerusakan jaringan ginjal.

Kulit dan jaringan lunak
Dapat menimbulkan nodul, abses, ulkus, fistula, serta kerusakan jaringan seperti yang ditemukan pada pasien dalam kisah ini.
TB dapat menyerang hampir semua organ dan jaringan tubuh, meskipun TB paru merupakan bentuk yang paling sering ditemukan.
Mengapa seseorang bisa mengalami TB berat?
Tidak semua orang yang terinfeksi bakteri TB akan mengalami penyakit aktif. Kemampuan tubuh mengendalikan infeksi sangat menentukan perjalanan penyakit.
Beberapa keadaan yang bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami TB aktif atau memperberat penyakitnya, antara lain diabetes yang tidak terkontrol, kekurangan gizi, infeksi HIV, penggunaan obat imunosupresif, merokok, dan penggunaan alkohol.
Pada pasien ini, ada beberapa kondisi yang berat: hiperglikemia berat, hipoalbuminemia, hiponatremia dan kemungkinan penggunaan steroid kronis.
Faktor lain selain kondisi medis yaitu: lingkungan tempat tinggal, keadaan ekonomi, serta akses terhadap pelayanan kesehatan.
Indonesia dan beban TB dunia
Menurut Global Tuberculosis Report 2025 dari WHO, diperkirakan terdapat 10,7 juta kasus TB baru di dunia sepanjang tahun 2024. Indonesia menyumbang sekitar 10% kasus tersebut, menempati urutan kedua berdasarkan jumlah kasus baru setelah India.
Indonesia juga menghadapi kesenjangan penemuan kasus. WHO memperkirakan Indonesia menyumbang sekitar 10% dari kesenjangan global antara jumlah kasus TB baru dan kasus yang berhasil didiagnosis serta dilaporkan pada 2024.
Artinya, persoalan TB tidak hanya menyangkut pengobatan pasien yang sudah diketahui menderita TB, tetapi juga menemukan mereka yang belum terdiagnosis.
Obat TB gratis, tetapi bagaimana dengan kehidupan pasien?
Indonesia menyediakan obat antituberkulosis (OAT) secara gratis melalui program penanggulangan TB. Pengobatan yang tepat dan diselesaikan sesuai ketentuan dapat menyembuhkan TB. Tapi, menyediakan obat saja tidak cukup untuk mengatasi seluruh persoalan yang menyebabkan seseorang rentan terhadap penyakit ini.
Seorang pasien bisa memperoleh obat tanpa biaya, tapi tetap harus memikirkan ongkos transportasi, makan sehari-hari, dan penghasilan yang hilang selama sakit. Apalagi untuk penderita TB yang juga mengalami kekurangan gizi, persoalannya lebih rumit. Tubuh perlu nutrisi yang memadai untuk mempertahankan fungsi kekebalan dan mendukung pemulihan.
WHO menekankan pentingnya penilaian status gizi dan intervensi nutrisi bagi pasien TB yang mengalami kekurangan gizi. Pengobatan TB perlu disertai penanganan penyakit penyerta, perbaikan status gizi, pencegahan penularan, serta dukungan sosial yang memungkinkan pasien menjalani pengobatan sampai selesai.
Kemiskinan: persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan obat
Bank Dunia memperkirakan pada 2025, sekitar 64,1% penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan internasional, sedangkan untuk kemiskinan ekstrem estimasi Bank Dunia untuk Indonesia pada 2025 adalah 3,7%.
Kemiskinan berkaitan dengan TB karena hunian yang padat dan ventilasi buruk dapat meningkatkan risiko penularan. Kekurangan gizi dapat meningkatkan kerentanan terhadap TB aktif. Keterbatasan biaya dan kehilangan penghasilan juga dapat menghambat diagnosis serta keberlanjutan pengobatan.
Jadi ini benar-benar lingkaran yang harus diputus karena kemiskinan meningkatkan kerentanan terhadap TB, sementara penyakit TB dapat menyebabkan pasien kehilangan pekerjaan atau penghasilan dan memperburuk keadaan ekonomi keluarganya.
Karena itu, upaya pengendalian TB tidak cukup hanya dilakukan di fasilitas kesehatan. Dukungan nutrisi, perlindungan sosial, perbaikan lingkungan tempat tinggal, dan akses diagnosis yang terjangkau berperan penting.

Penutup: Pelajaran dari meja operasi
Perjalanan bapak ini membuat kita makin sadar kalau gejala TB tidak cuma batuk berkepanjangan. Penyakit ini bisa menyerang jaringan di luar paru dan menimbulkan kerusakan yang berat.
Di sisi lain, keberhasilan pengobatan juga bukan hanya soal tersedianya obat. Pasien juga membutuhkan kondisi tubuh, lingkungan, dan dukungan kehidupan yang memungkinkan mereka menjalani pengobatan serta memulihkan kesehatannya.
Obat dapat membunuh bakteri TB. Namun, untuk mengurangi beban TB di masyarakat, kita juga perlu mengatasi keadaan yang membuat manusia rentan terhadap penyakit tersebut.
Tapi cerita bakteri TB belum selesai.
Mycobacterium tuberculosis juga membawa DNA. Ketika bakteri memperbanyak diri, perubahan atau mutasi dapat terjadi pada DNA-nya. Sebagian perubahan itu mungkin mengenai bagian yang menentukan kepekaan bakteri terhadap obat. Bila kemudian bakteri yang masih mampu bertahan mendapat kesempatan berkembang biak, pengobatan yang tadinya ampuh dapat kehilangan kekuatannya.
Dari sinilah kita masuk ke cerita lain: TB yang kebal obat—MDR-TB dan XDR-TB.
Dan rupanya, setelah mengikuti TB dari paru sampai “memakan” jaringan tubuh pasien ini, perjalanan berikutnya justru membawa kita masuk lebih kecil lagi: ke dalam DNA bakterinya

