KETIKA PANDEMI DATANG, BAGAIMANA DUNIA MENCARI OBAT DALAM WAKTU SINGKAT?

Solidarity trial

Loading

📌Tentang Artikel Ini: Ketika pandemi muncul, dunia tidak punya waktu bertahun-tahun untuk membuat obat baru. COVID-19 menunjukkan bagaimana WHO, pemerintah, rumah sakit dan peneliti dari berbagai negara bekerja bersama untuk menguji obat yang sudah ada dengan cepat—tetapi tetap melalui penelitian klinis yang terkontrol.
📁 Kategori: Obat & Terapi
📅 Ditulis pertama kali: 11 September 2020
🔄 Direvisi terakhir: 22 September 2026
🖼️ Gambar: Geofanny Sarah Adventia, Ilustrasi AI

Ketika virus baru muncul dan obat belum ada

Ketika sebuah penyakit baru muncul dan menyebar dengan cepat ke berbagai negara, masalahnya bukan hanya bagaimana mencegah penularannya.
Dokter juga harus menghadapi pasien yang sudah terlanjur sakit.
Lalu pertanyaannya sederhana: Obatnya apa?
Pada awal pandemi COVID-19, jawabannya belum ada.

SARS-CoV-2 adalah virus baru. Belum ada obat yang terbukti efektif khusus untuk penyakit tersebut, sementara jumlah pasien terus bertambah. Membuat sebuah obat baru dari awal membutuhkan proses panjang. Peneliti harus menemukan target obat, mencari senyawa yang mungkin bekerja, melakukan penelitian laboratorium dan preklinik, kemudian melewati berbagai tahap uji klinis sebelum akhirnya suatu obat dapat digunakan secara luas.

Pandemi tidak mempunyai kesabaran sepanjang itu. Karena itu para peneliti dunia melakukan dua pekerjaan sekaligus. Di satu sisi, penelitian untuk membuat obat dan vaksin baru tetap berjalan. Di sisi lain, mereka membuka kembali “lemari obat” yang sudah ada.

OBAT LAMA UNTUK PENYAKIT BARU

Strategi ini disebut drug repurposing atau drug repositioning.
Artinya, obat yang sebelumnya dibuat atau digunakan untuk penyakit lain diperiksa kembali: apakah obat tersebut juga bermanfaat untuk penyakit yang baru muncul?
Keuntungannya cukup besar.
Sebagian obat tersebut sudah pernah diberikan kepada manusia sehingga profil farmakologi, dosis dan efek sampingnya sudah banyak diketahui dibandingkan molekul yang benar-benar baru.

Tetapi tentu saja ada satu masalah.

Pernah aman digunakan tidak berarti otomatis efektif terhadap COVID-19, karena itulah obat-obat tersebut tetap harus diuji.
Pada awal COVID-19 muncul berbagai kandidat. Ada remdesivir yang sebelumnya dikembangkan sebagai antivirus, lopinavir/ritonavir yang digunakan pada HIV, hydroxychloroquine yang telah lama digunakan untuk malaria dan beberapa penyakit autoimun, interferon, favipiravir dan berbagai kandidat lainnya. Sebagian mempunyai alasan biologis yang menarik. Sebagian menunjukkan aktivitas di laboratorium atau memiliki data awal dari penyakit virus lainnya. Tetapi hasil di laboratorium belum tentu sama dengan hasil pada manusia.

Pertanyaan berikutnya menjadi jauh lebih sulit: bagaimana menguji begitu banyak kemungkinan obat dengan cepat, ketika hampir seluruh dunia sedang menghadapi pandemi pada saat yang sama?

WHO MULAI MENGUMPULKAN PARA PENELITI DUNIA

WHO sebenarnya sudah mempunyai kerangka bernama R&D Blueprint, yang dirancang agar penelitian dapat dipercepat ketika terjadi epidemi penyakit baru.
Ketika COVID-19 muncul, sistem ini diaktifkan.

Pada 11–12 Februari 2020, WHO mempertemukan ratusan ilmuwan, tenaga kesehatan, lembaga penelitian dan penyandang dana dari berbagai negara di Jenewa.
Mereka tidak hanya membicarakan obat, tapi juga soal bagaimana virus menular, bagaimana mendiagnosa, bagaimana melindungi tenaga kesehatan, bagaimana merawat pasien, obat apa yang mungkin digunakan, dan bagaimana membuat vaksin.

Tujuannya adalah agar dunia tidak melakukan penelitian sendiri-sendiri tanpa arah.
Pertanyaan penelitian yang paling penting dipetakan, prioritas ditentukan, dan para peneliti dapat menggunakan kerangka penelitian yang dapat dibandingkan satu sama lain. Dari sinilah salah satu eksperimen klinis internasional terbesar selama pandemi kemudian lahir: SOLIDARITY TRIAL

SOLIDARITY TRIAL

Pada Maret 2020 WHO meluncurkan Solidarity Trial, sebuah randomized clinical trial internasional untuk menguji beberapa kandidat pengobatan COVID-19 pada pasien yang dirawat di rumah sakit.
Idenya sebenarnya sederhana. Daripada puluhan negara melakukan penelitian kecil dengan protokol berbeda-beda, mengapa tidak membuat sebuah penelitian besar yang dilakukan bersama-sama?.

Pasien yang memenuhi syarat dan memberikan informed consent kemudian dirandomisasi untuk menerima standard of care setempat saja atau standard of care ditambah salah satu obat penelitian yang tersedia. Hasilnya kemudian dibandingkan.
Outcome yang diamati pun dibuat praktis dan penting secara klinis, termasuk kematian selama perawatan, kebutuhan ventilasi, dan lamanya pasien dirawat.
Dengan cara ini, ribuan pasien dari berbagai negara dapat membantu menjawab pertanyaan penelitian yang sama.

BAGAIMANA WHO BISA MENGATUR PENELITIAN DI BANYAK NEGARA?

Ini bagian yang menarik.
WHO tidak datang ke setiap rumah sakit lalu mengambil alih penelitian.
Setiap negara mempunyai national coordinator. Koordinator nasional membantu memilih rumah sakit peserta, mengurus persetujuan etik dan regulasi, menyediakan atau mengatur obat penelitian, serta mengoordinasikan pelaksanaan penelitian di negaranya.
WHO menyediakan core protocol yang dapat digunakan bersama.
Prosedurnya sengaja dibuat sederhana karena penelitian dilakukan di tengah rumah sakit yang sedang sibuk menangani pandemi. Setelah informed consent diperoleh, beberapa data penting pasien dimasukkan ke sistem elektronik. Sistem kemudian melakukan randomisasi dan menentukan kelompok terapi pasien.

WHO juga membantu negara dalam proses persetujuan etik dan regulasi, identifikasi rumah sakit peserta, pelatihan klinisi menggunakan sistem randomisasi berbasis web, dan pengiriman obat penelitian bila diperlukan. Dengan kata lain, penelitian tidak lagi berupa puluhan percobaan kecil yang berdiri sendiri.
Negara-negara yang terpisah ribuan kilometer dapat mengerjakan satu pertanyaan ilmiah bersama-sama.

INDONESIA TERNYATA IKUT DI DALAMNYA

Indonesia bukan sekadar penonton dalam penelitian ini.
Pada 23 April 2020, Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Tenggara WHO yang memulai Solidarity Trial. Balitbangkes Kementerian Kesehatan menjadi koordinator nasional, bekerja bersama WHO, universitas dan rumah sakit. Pada tahap awal, 22 rumah sakit di Indonesia direncanakan berpartisipasi. Pasien pertama di kawasan Asia Tenggara juga direkrut di Indonesia pada hari peluncuran tersebut.

Empat strategi terapi yang saat itu dibandingkan dengan standard of care adalah:
hydroxychloroquine, remdesivir, lopinavir/ritonavir ditambah interferon.
Jadi pasien-pasien yang masuk penelitian di Indonesia sebenarnya ikut menyumbangkan data ke sebuah pertanyaan yang sedang dijawab bersama oleh dunia.

LALU APA YANG MEMBUAT RISET PANDEMI BISA JAUH LEBIH CEPAT?

Cepat bukan berarti tahapan ilmiahnya dibuang.
Yang dipangkas terutama adalah waktu tunggu dan pekerjaan yang dapat dilakukan bersamaan.
Untuk obat yang sudah pernah digunakan pada manusia, peneliti juga tidak selalu harus memulai seluruh perjalanan pengembangan obat dari titik nol. Data farmakologi dan keamanan yang sudah tersedia dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai penggunaannya pada indikasi baru.

Kemudian penelitian dilakukan dalam jaringan besar.
Daripada satu rumah sakit menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan cukup pasien, ratusan rumah sakit dapat merekrut pasien pada waktu bersamaan. Protokol Solidarity juga disederhanakan agar rumah sakit yang sedang kewalahan tetap dapat berpartisipasi tanpa menghilangkan prinsip dasar randomized clinical trial. WHO menyebut prosedurnya minimal tetapi tetap ketat.

Secara sederhana, jalurnya menjadi seperti ini:

Penyakit baru muncul

Cari obat yang secara biologis paling mungkin bermanfaat

Gunakan data laboratorium, pengalaman sebelumnya dan data keamanan yang sudah tersedia

Masukkan kandidat ke uji klinis terkontrol

Banyak rumah sakit dan negara merekrut pasien bersamaan

Pasien dirandomisasi

Data dianalisis

Tidak bermanfaat → dihentikan
Menjanjikan → diteliti lebih lanjut

Solidarity bahkan dirancang sebagai penelitian yang adaptif.
Artinya, penelitian tidak harus berhenti dan dibuat ulang dari awal setiap kali pengetahuan berubah. Kandidat yang tidak menjanjikan dapat dihentikan, sementara terapi lain dapat dipertimbangkan untuk masuk ke platform penelitian.

CEPAT BUKAN BERARTI MANUSIA DIJADIKAN KELINCI PERCOBAAN

Pada masa pandemi sering muncul pertanyaan: “Kok obatnya dicoba-coba kepada manusia?”
Justru di sinilah pentingnya uji klinis.
Dokter memang mempunyai alasan biologis mengapa suatu obat mungkin bekerja. Tetapi keyakinan dokter, hasil laboratorium, atau beberapa pasien yang terlihat membaik belum cukup untuk membuktikan bahwa obat tersebut benar-benar bermanfaat. Pasien harus memenuhi kriteria penelitian, memberikan informed consent, kemudian terapi dibandingkan secara sistematis.

Randomisasi sangat penting karena pasien COVID-19 mempunyai perjalanan penyakit yang berbeda-beda. Ada yang membaik sendiri, ada yang memburuk, ada yang mempunyai penyakit penyerta, dan ada yang sejak awal sudah sangat berat.
Tanpa kelompok pembanding yang baik, kita gampang menyimpulkan: “pasien diberi obat X lalu sembuh, berarti obat X bekerja.” Padahal pasien mungkin memang bisa sembuh tanpa obat X.
Itulah sebabnya keadaan darurat tidak menghilangkan metode ilmiah. Justru ketika ribuan nyawa dipertaruhkan, keputusan terapi harus secepat mungkin dipisahkan antara yang tampaknya bekerja dan yang benar-benar terbukti bekerja.

DAN TERNYATA BANYAK OBAT YANG DIHARAPKAN BEKERJA… TIDAK BEKERJA

Inilah salah satu pelajaran paling menarik dari Solidarity Trial.
Pada analisis awal, 11.330 pasien dewasa di 405 rumah sakit dari 30 negara telah menjalani randomisasi. Hasilnya tidak menghasilkan kemenangan besar bagi kandidat-kandidat awal tersebut.
Remdesivir, hydroxychloroquine, lopinavir/ritonavir dan interferon menunjukkan sedikit atau tidak ada pengaruh terhadap mortalitas keseluruhan, kebutuhan ventilasi maupun lama rawat pada pasien COVID-19 yang dirawat di rumah sakit dalam penelitian tersebut.

Apakah itu berarti penelitian tersebut gagal?

Tidak. Menemukan obat yang bekerja adalah hasil penelitian.
Tetapi menemukan dengan cukup cepat bahwa obat yang tampaknya menjanjikan ternyata tidak memberikan manfaat yang diharapkan juga merupakan hasil penelitian yang sangat penting.
Tanpa penelitian terkontrol, obat yang sebenarnya tidak bermanfaat dapat terus digunakan pada ribuan atau bahkan jutaan pasien hanya karena secara teori terlihat masuk akal atau karena pengalaman beberapa dokter tampak menjanjikan.

PANDEMI MENUNJUKKAN BAHWA ILMU PENGETAHUAN JUGA BISA BEKERJA SECARA GOTONG ROYONG

Virus tidak mengenal batas negara.
Data penelitian juga tidak seharusnya berhenti di perbatasan.
COVID-19 memperlihatkan bagaimana badan kesehatan dunia, pemerintah, regulator, universitas, perusahaan farmasi, rumah sakit, dokter, peneliti dan pasien dari berbagai negara dapat bekerja pada pertanyaan yang sama dalam waktu bersamaan.

WHO membantu membuat kerangkanya. Negara mengatur pelaksanaannya. Rumah sakit merekrut pasien. Dokter menjalankan protokol. Peneliti mengumpulkan dan menganalisis data.
Dan pasien yang bersedia mengikuti penelitian memberikan sesuatu yang tidak kalah penting: data klinis manusia yang akhirnya dapat digunakan untuk merawat manusia lainnya.
Indonesia pun menjadi salah satu bagian dari pekerjaan besar itu.

Jadi ketika pandemi berikutnya suatu hari muncul, dunia tidak selalu harus memulai semuanya dari halaman kosong. Pengalaman COVID-19 telah meninggalkan sebuah model: jangan menunggu satu negara menemukan jawabannya sendirian.

Bagikan pertanyaannya, satukan protokolnya, kumpulkan pasien bersama-sama, lalu biarkan data yang menjawab. 🤭

📚 Referensi utama:

  • WHO — R&D Blueprint and COVID – WHO mengoordinasikan prioritas penelitian global sejak awal wabah.
  • WHO Indonesia — Solidarity Trial resmi dimulai di Indonesia, Indonesia pertama di kawasan Asia Tenggara WHO, Balitbangkes, dan 22 RS awal.
  • WHO — Solidarity Trial: design dan interim results – prosedur yang disederhanakan, jumlah RS/negara/pasien dan hasil obat-obat awal.
  • NEJM — Solidarity Trial – Randomized Trial: 11.330 pasien, 405 RS, 30 negara.
  • NEJM — Repurposed Antiviral Drugs for Covid-19, WHO Solidarity Trial⁠

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *