![]()
Ehm, masih tentang covid-19 sih, tapi kita selalu bisa memilih untuk tetap bersikap positif, meskipun judulnya sedih kayak gini HIHIHI…..
Apa ada yang nggak tahu kalau angka-angka akibat infeksi di Indonesia masih menempati 5 terbesar penyebab kematian?.

Ambil contoh Tuberkulosis, di Indonesia menempati urutan ke 4 penyebab kematian sedangkan di dunia di urutan ke 9, di negara-negara maju bahkan sudah tidak menjadi ancaman, lihat tabel-tabel di samping. Memang angka kematian akibat TBC lebih tinggi dibanding covid-19, masalahnya apa bisa kita membandingkan masalah “angka” ini dengan angka kesakitan & kematian akibat covid-19?, nggak gitu dong. https://koran.tempo.co/read/gaya-hidup/372946/stroke-penyebab-kematian-tertinggi-di-indonesia
Paling jelas kalau dilihat dari sisi psikologi, coba lihat apa yang terjadi di sekitar. Misal dalam keluarga atau saudara atau tetangga ada yang sakit kanker atau stroke sampai bertahun-tahun, perhatikan suasana psikologis pada keluarga & orang-orang sekitarnya. Kemudian bandingkan kondisi psikologis ini pada keluarga yang meghadapi kejadian kecelakaan…..atau kondisi emergensi lain…..nah beda kan.
Jadi meskipun “Siklus Kesedihan & Kemalangan” ini umum dan dialami setiap orang di dalam hidup & di semua budaya, tetapi berat & lama dari siklus ini bervariasi pada tiap orang.
Dan siklus ini juga tidak selalu terjadi berurutan karena memang kepedihan yang terjadi pada individu itu sangat berbeda, ada yang reaktif & emosional, tapi ada yang hanya menyimpan kepedihannya di hati…so don’t judge book by its cover….
1. DENIAL & ISOLASI DIRI: menolak kenyataan yang terjadi. “ah, ini tidak terjadi, ini tidak mungkin terjadi”. Ini adalah mekanisme pertahanan umum kita menghadapi kehilangan yang mendadak. Kemudian kita merasa hidup ini tidak berarti lagi & sia-sia. Yah, ini mekanisme yang sangat umum terjadi jika kita menghadapi “kesakitan”.
2. MARAH: meskipun aneh, kita sering menyalahkan orang yang meninggalkan kita & marah, karena menjadi penyebab luka di hati. Dokter yang mendiagnosa penyakit & kemudian tidak dapat menyembuhkan sering menjadi sasaran kemarahan. Memang dokter menghadapi kematian di banyak hari-harinya, tapi itu tidak membuat mereka mati rasa….suer
3. BARGAINING: reaksi ini timbul karena kita merasa sudah tidak bisa tertolong lagi, sering menyalahkan diri karena berpikir seharusnya kita dapat berbuat lebih. Ini mekanisme pertahanan terlemah dari siklus kesedihan ini.
4. DEPRESI: fase ini sering kali tidak terlihat, ini adalah waktu persiapan yang tenang dari masing-masing kita menghadapi perpisahan dengan orang yang terkasih.
5. MENERIMA: tidak semua orang bisa sampai pada tahap ini. Mengatasi kehilangan pada akhirnya merupakan pengalaman yang sangat pribadi, tidak ada seorangpun yang dapat menolongmu melalui ini dengan mudah atau mengerti semua emosi yang kamu alami. Tetapi orang lain ada untuk membuat kamu merasa nyaman melalui semua ini. Hal yang paling baik adalah mengijinkan dirimu menerima kesedihan ini, menolaknya justru akan memperpanjang proses penyembuhan dari rasa sakit.
Yah siklus kesedihan memang menyakitkan….
Cerita lain…..yakin siapapun pernah dengar soal ini..….saya sering menerima pasien-pasien dengan sakit kanker stadium 4 yang ditinggal keluarganya & kakak beradik bertengkar untuk masalah “siapa yang harus menunggu orang tuanya” di rumah sakit. Alasannya selalu klasik, mereka harus bekerja. Tapi memang sakit kronis yang diderita salah 1 keluarga sebenarnya membuat seluruh keluarga “sakit”. Dan pada banyak kasus malah bisa dikatakan kalau mereka mengharapkan orang tuanya cepat dipanggil Tuhan, banyak kan kasus seperti ini di lingkungan kita. Sakit kronis membuat keluarga punya waktu cukup sehingga lebih bisa & bahkan merelakan orang yang dikasihinya meninggalkan mereka…..

Kesimpulannya: “Covid-19 = KECELAKAAN”, karena keluarga dipaksa menerima kondisi emergensi ini tanpa ada jeda waktu adaptasi secara psikologi. Emang tidak mudah, reaktif tidak menyelesaikan masalah. Membuat covid-19 seolah-olah hanya halusinasi atau konspirasi justru memperparah kondisi, sebaliknya menganggap covid-19 seperti kiamat juga sama buruknya.
Saling membantu menguatkan yang sedang tertimpa musibah, mengulurkan tangan, mengajak mereka keluar dari lingkaran kesedihan setelah beberapa waktu, mau mendengarkan keluh kesah mereka sering kali sangat membantu. Back to tradisi kita, gotong royong di masa covid-19 ini adalah obat…..
Sumber:
