![]()
📌 Tentang Artikel Ini: Film I Am Legend bukan sekadar cerita zombie. Di balik kisah virus yang berubah menjadi ancaman, tersimpan pelajaran tentang sulitnya mengembangkan obat baru, risiko uji klinis, dan harapan penggunaan virus onkolitik untuk melawan kanker. Artikel ini menghubungkan fiksi ilmiah dengan perkembangan nyata penelitian terapi kanker
📁 Kategori: Obat dan Terapi
📅 Ditulis pertama kali: 13 Agustus 2010
🔄 Direvisi terakhir: 24 Agustus 2026
📚 Referensi utama: I am Legend
🖼️ Gambar: Geofanny Sarah Adventia
Ketika Film Zombie Mengajarkan Betapa Sulitnya Menemukan Obat Baru
Emang gue hobi nonton, tiap libur pasti nonton deh, daripada hobi belanja, ngabisin duit tauuk wkwk. Nah, ini gue malah dapat pelajaran tentang riset obat dari film zombie.😂😂
I’m Legend, film tahun 2007, 19 tahun yang lalu ini bercerita tentang seorang ilmuwan “Dr. Krippin” yang memodifikasi materi genetik virus agar virus tersebut dapat menyerang sel kanker. Dia menggunakan fragmen genetik virus cacar dan setelah melalui serangkaian riset dan uji laboratorium, hewan dan uji pada manusia akhirnya berhasil menemukan “agent yang aslinya berasal dari virus cacar”, untuk menyembuhkan pasien kanker. Sesuai dengan nama penemunya Dr. Alice Krippin, virus ini dinamai VIRUS KRIPPIN(KV).
https://science.feedback.org/review/the-krippin-virus-in-i-am-legend-was-intended-as-a-cancer-cure-not-used-as-a-vaccine/

Realitanya, konsep memanfaatkan virus untuk membunuh sel kanker justru benar-benar ada di dunia medis. Sekarang dikenal terapi virus onkolitik (oncolytic virus), yaitu virus yang dimodifikasi agar lebih mudah menginfeksi dan menghancurkan sel kanker dibandingkan sel normal. Bahkan beberapa terapi sudah mendapat persetujuan untuk jenis kanker tertentu.
Jadi, ide dasar filmnya nggak mengada-ada.
Balik ke film ya, nah awalnya obat baru ini berhasil menyembuhkan 10.009 pasien waktu dilakukan uji klinik, kanker dalam tubuh pasien tidak berkembang dan bahkan mengecil dan menghilang……..sampai kemudian engingenggggg……
Obat yang notabene terbuat dari gen virus ini, yang awalnya tampak menjanjikan, kemudian mengalami mutasi menjadi strain virus yg mematikan(lethal) di dalam tubuh host/pasien, yang menimbulkan efek hiper-adrenalin pada pasien. Pasien tampak seperti orang yang terserang rabies dan akhirnya berubah bentuk menjadi seperti zombie eh vampir yang memiliki kekuatan super(film-film AS kan harus begitu wkwkwk), dan sedemikian lethalnya virus ini bahkan bisa ditularkan lewat darah, darat, laut dan udara…….lol.
Adalah Dr. Robert Neville, ilmuwan yang diperankan Will Smith, si ganteng yang mendapati dirinya kebal terhadap Virus Krippin ini sehingga dia merasa bertanggung jawab untuk membuat obat dengan memanfaatkan darahnya(RV). Dia memulai pengembangan obat dengan melakukan uji coba pada binatang coba dan akhirnya pada vampir eh zombie. Nah bagian ini keren nih, karena eikeh tukang potong jadi tau deh kalau mereka bikin film ini nggak sembarangan soal medis, mereka doing the research gitu…

Awalnya Dr. Neville melakukan uji coba pada tikus, tikus-tikus ini disuntik KV sampai tikus-tikus ini berubah jadi sakti, jadi ganas. Kemudian RV disuntikkan dan menunjukkan hasil yang berbeda pada seri obat yang berbeda. Ada sekelompok tikus yang sama sekali tidak menunjukkan hasil, ada kelompok tikus yang bahkan tewas, sampai akhirnya ditemukan 1 tikus yang menunjukkan hasil yang berbeda waktu menggunakan “RV- Compund-6” yang berasal dari darah Dr. Robert Neville. Reaksi yang diharapkan itu berupa perubahan agresifitas si tikus, makin cool gitu, pigmentasi kulit menjadi normal dan reaksi pupil mata terhadap cahaya bereaksi seperti tikus normal.
Dan karena hasil yang menjanjikan ini kemudian direncanakan uji klinik pada vampir eh zombie itu. Hasilnya persis seperti pada uji coba tikus, vampir eh zombie…..banyak yang akhirnya MATI BENERAN karena kegagalan waktu uji klinis, ada yang tidak menunjukkan reaksi sama sekali dan ada yang bahkan menunjukkan peningkatan agresifitas.
Sampai akhirnya setelah kerja yang bukan cuma melelahkan, tapi juga MENGERIKAN, la wong musti nangkepin zombie eh vampir itu HIDUP-HIDUP kan – untuk kemudian disuntik obat. Tau gak, bahkan vampir eh zombie yang berhasil ditangkap untuk masuk dalam peserta uji klinikpun harus melewati sejumlah tes, ampooon kan….padahal dah jelas-jelas mereka itu zombie eh vampir. Tapi sekali lagi film ini bener-bener doing the research, memang tiap orang(dalam dunia nyata ya) yang akan masuk dalam penelitian obat atau vaksin memang harus lolos dari kriteria/persyaratan tertentu. Nah untuk vampir eh zombie ini bisa masuk dalam kriteria penelitian untuk uji klinik melalui skrining tes kesensitifan kulit terhadap sinar ultra violet, dilakukan uji kulit dan juga diambil jaringan kulit untuk sampel pemeriksaan laboratorium, keren kan, gak di dunia nyata ajah rupanya yang begini….
……wkwkwk.
Dan setelah melewati riset dan uji klinik yang panjang, akhirnya Dr. Neville menemukan jika formula obat RV “GI series 391 compound-6”, menunjukkan hasil yang diharapkan, dimana terjadi perubahan pigmentasi kulit menjadi lebih tahan terhadap sinar ultra violet, detak jantung makin pelan mendekati detak jantung manusia normal, kecepatan pernafasan menurun, tidak terengah-engah lagi, agresifitas menurun, dan ini didapat setelah kerja panjang selama 1000 hari(3 tahun boook) dan sesudah memakan korban vampir eh zombie yang banyak….so sad wkwkwk

Keren kan, biar cuma pilem, dah lama pulak, 19 tahun yang lalu, tapi yang bikin film ini ngeh banget-banget kalau bikin obat/vaksin itu “PERLU WAKTU LAMA dan DENGAN ANGKA KEGAGALAN YANG TINGGI PULA”….jadi bersyukur banget kan penonton gak bisa nyinyir karena nungguin vaksin covid-19 eh obat gak jadi-jadi……yeyyy.
Kesimpulan: biarpun teknologi pembuatan vaksin atau obat makin canggih, tapi tidak ada obat yang tersedia dalam waktu singkat, selalu butuh uji coba mulai dari uji laboratorium, uji binatang, baru uji klinik pada sukarelawan. Dan tahu tidak kalau uji binatang juga dilakukan bertingkat mulai dari binatang yang kecil seperti tikus, jika berhasil baru diujikan pada kelinci, jika berhasil diujikan pada babi, jika berhasil diujikan pada monyet dan baru pada manusia.
Film ini memang fiksi.
Tetapi satu pesannya nyata. Ilmu pengetahuan tidak lahir dari satu percobaan yang langsung berhasil. Ia lahir dari ribuan kegagalan, bertahun-tahun penelitian, keberanian untuk mengulang lagi, dan kesabaran yang sering kali tidak terlihat oleh masyarakat.
Mungkin itulah pelajaran terbesar dari I Am Legend. Bukan tentang zombienya.
Melainkan tentang para peneliti yang tetap datang ke laboratorium setiap pagi… meski tahu kemungkinan gagal jauh lebih besar daripada berhasil.
Memang berat dan panjang perjalanan penemuan vaksin atau obat, gak percaya, nonton deh I’M LEGEND, HEHEHE

